- Pemegang asuransi swasta tambahan di Swiss punya peluang 7 persen lebih tinggi menjalani operasi perut.
- Menurut hitungan peneliti, ada 793 operasi perut tambahan setiap tahun pada pemegang asuransi swasta tambahan.
- Di bawah 60 tahun peserta asuransi dasar lebih sering dioperasi, di atas 60 tahun giliran peserta asuransi tambahan.
- Kematian di rumah sakit tercatat 0,1 persen pada peserta asuransi dasar dan 0,1 persen pada peserta asuransi tambahan.
- Penelitian ini memakai data masa lalu sehingga tidak dapat menarik kesimpulan sebab-akibat.
Daftar Isi
Kamar rawat berisi satu ranjang dan operasi pengangkatan kantong empedu tampak tidak punya urusan satu sama lain. Yang pertama soal kenyamanan menginap, yang kedua soal keputusan dokter. Di Swiss, keduanya bertemu pada selembar polis: orang yang membeli asuransi swasta tambahan, yang antara lain memberi hak atas kamar semacam itu, juga lebih sering menjalani operasi perut.
Pertemuan dua hal itu dicatat Kris Rafaisz, Flurina Suter, Sabine Rohrmann, Beat Mueller, Philipp Schuetz, Christian Andreas Nebiker, Alexander Kutz, dan Tristan Struja dalam artikel Association between health care insurance type and rates of visceral surgical procedures in Switzerland. A population-based weighted retrospective cohort study. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026. Rafaisz bekerja di University Hospital Zurich dan Kantonsspital Aarau, rumah sakit yang juga menjadi tempat kerja sebagian besar rekannya.
Bahan mereka adalah 1.954.119 rawat inap bedah orang dewasa di seluruh Swiss sepanjang 2012 sampai 2020, semuanya tindakan yang tidak darurat. Hasil utamanya ringkas. Pemegang asuransi swasta tambahan punya peluang 7 persen lebih tinggi menjalani operasi perut dibanding orang yang hanya memegang asuransi dasar.
Asuransi Dasar, Pintu yang Terbuka bagi Semua
Swiss, tulis Rafaisz dan rekan-rekannya, membelanjakan 11,8 persen produk domestik brutonya untuk kesehatan pada 2020. Angka itu menempatkannya di puncak Eropa, di atas negara-negara Uni Eropa yang pada tahun yang sama mengalokasikan 10,9 persen. Ciri utama sistemnya adalah asuransi kesehatan dasar yang berlaku untuk semua penduduk.
Pada asuransi dasar, perusahaan asuransi wajib menerima setiap permohonan. Rumah sakit yang merawat inap pesertanya dibayar per kasus menurut sistem bernama SwissDRG, dengan besaran yang dirundingkan secara nasional setiap tahun. Dari seluruh rawat inap yang diteliti, 70,5 persen adalah milik orang yang hanya memegang asuransi dasar ini.
Kelompok itu berjumlah 1.378.276 rawat inap. Usia tengah pasiennya 61 tahun, dan 18,3 persen di antaranya bukan warga negara Swiss. Dari seluruh pasien yang diteliti, 53,3 persen laki-laki. Peserta asuransi dasar lebih banyak dirawat di rumah sakit universitas, yakni 14,2 persen, sedangkan pada kelompok asuransi tambahan angkanya 7,6 persen.
Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan
Asuransi Tambahan, Pintu yang Boleh Ditutup
Di sisi lain, penduduk Swiss boleh membeli asuransi swasta tambahan di atas perlindungan dasar itu. Manfaatnya, menurut para penulis, mencakup hak memilih dokter di rumah sakit, kamar berisi dua ranjang atau satu ranjang selama dirawat, perawatan di klinik swasta, dan sejumlah fasilitas lain. Dalam penelitian ini, polis semiprivat dan privat digabung menjadi satu kelompok.
Pintu masuknya berbeda. Pemohon asuransi tambahan harus mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatannya, dan bila ia sudah punya penyakit penyerta, perusahaan asuransi boleh menolaknya tanpa penjelasan. Rafaisz dan rekan-rekannya menulis bahwa aturan ini agaknya membuat orang yang lebih sehat lebih mungkin memperoleh asuransi tambahan.
Kelompok ini menyumbang 575.843 rawat inap. Usia tengah pasiennya 67 tahun, lebih tua daripada kelompok asuransi dasar, dan hanya 8,1 persen yang bukan warga negara Swiss. Di luar usia dan kewarganegaraan, tulis para peneliti, ciri kedua kelompok sudah seimbang setelah datanya disetarakan.
Cara pembayarannya pun berbeda. Di luar SwissDRG, ada kontrak terpisah antara penyedia layanan dan asuransi swasta untuk manfaat yang tidak tercakup sistem itu. Dahulu dokter di rumah sakit publik menerima royalti yang besar ketika merawat pasien berasuransi tambahan. Sebagian besar rumah sakit publik sudah menghapus bagi hasil itu, tetapi banyak penyedia layanan di klinik swasta masih menerima royalti per tindakan.
Yang Berbeda: Seberapa Sering Pasien Dioperasi
Delapan jenis operasi diperiksa: pengangkatan kantong empedu, fundoplikasi, sigmoidektomi, rektopeksi, operasi wasir, serta operasi hernia inguinalis, femoralis, dan umbilikalis. Sebagai tindakan utama, peserta asuransi dasar menjalani 181.238 operasi, sedangkan peserta asuransi tambahan 67.284 operasi.
Setelah kedua kelompok disetarakan, selisihnya muncul di semua jenis. Rasio angka kejadian pada peserta asuransi tambahan tercatat 1,06 untuk pengangkatan kantong empedu, 1,09 untuk fundoplikasi, dan 1,10 untuk sigmoidektomi. Pada rektopeksi angkanya 1,05, pada operasi wasir 1,04, dan pada operasi hernia 1,07. Gabungan semuanya juga 1,07.
Operasi hernia inguinalis adalah yang paling sering. Pada peserta asuransi dasar tercatat 306,30 operasi per 100.000 orang-tahun, pada peserta asuransi tambahan 329,46. Yang paling jarang adalah operasi hernia femoralis: 6,10 berbanding 6,56 per 100.000 orang-tahun. Pengangkatan kantong empedu menempati urutan kedua tersering.
Selisih itu diterjemahkan para peneliti menjadi jumlah operasi. Menurut hitungan mereka, ada 793 operasi perut tambahan setiap tahun di Swiss pada pemegang asuransi swasta tambahan. Rentangnya lebar, dari 8 rektopeksi tambahan sampai 479 operasi hernia inguinalis tambahan. Hitungan itu mengandaikan 6,88 juta penduduk dewasa, dengan 30 persen di antaranya memegang asuransi tambahan.
Usia membelah gambaran itu menjadi dua. Di bawah 60 tahun, peserta asuransi dasar justru lebih sering dioperasi. Di atas 60 tahun, giliran peserta asuransi tambahan yang angkanya lebih tinggi. Sepanjang masa penelitian, angka operasi kedua kelompok stabil, lalu sama-sama menurun mulai 2017 ketika aturan baru mengarahkan operasi hernia inguinalis dan operasi wasir ke layanan rawat jalan. Sejumlah jenis operasi juga turun, terutama pada 2020 semasa pandemi COVID-19.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Yang Sama: Keselamatan Sesudah Operasi
Pada hal kedua, yakni apa yang terjadi sesudah operasi, perbedaan itu hampir lenyap. Kematian di rumah sakit tercatat 0,1 persen pada peserta asuransi dasar dan 0,1 persen pada peserta asuransi tambahan. Rawat ulang dalam 30 hari karena sebab apa pun terjadi pada 2,0 persen kelompok pertama dan 2,2 persen kelompok kedua.
Deretan angka lain bergerak sama rapatnya. Pasien yang masuk unit perawatan intensif 1,7 persen berbanding 1,8 persen. Perdarahan 2,0 persen berbanding 1,9 persen, dan infeksi luka operasi 0,6 persen berbanding 0,5 persen. Para peneliti menyatakan tidak menemukan perbedaan yang nyata dan bermakna secara klinis di antara dua golongan asuransi itu.
Temuan ini mereka sambut dengan lega. “Melegakan bahwa data kami tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam hal keselamatan selama di rumah sakit, yang mendukung mutu perawatan bagi pasien rawat inap dengan operasi perut nondarurat, apa pun status asuransinya,” tulis Rafaisz dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Angka kejadian tak diinginkan itu, menurut mereka, serupa dengan data internasional.
Penjelasan Pertama: Uang di Balik Rawat Inap
Mengapa selisih itu ada, naskah ini menawarkan dua kemungkinan. Yang pertama adalah uang. Royalti dari asuransi swasta tambahan hanya berlaku untuk rawat inap, sehingga penyedia layanan bisa saja terdorong merawat inap pasien berasuransi tambahan demi pendapatan. Dugaan serupa, catat mereka, pernah diajukan pada operasi meniskus lutut di Swiss.
Operasi hernia memberi contohnya. Para penulis mengutip sebuah analisis yang menemukan bahwa operasi hernia satu sisi pada pasien berasuransi dasar menimbulkan rugi bersih sekitar 844 euro per kasus. Tindakan yang sama pada pasien berasuransi tambahan menghasilkan pendapatan sekitar 1.119 euro per kasus. Namun kode tindakan digabung pada 2017, sehingga mereka menyatakan tidak dapat memberi bukti apa pun tentang hal itu.
Pola yang sama pernah mereka temukan di bidang lain. Dalam penelitian nasional sebelumnya, pemegang asuransi swasta tambahan 11 persen lebih mungkin menerima tindakan jantung dan pembuluh darah yang tidak darurat. Naskah ini juga merujuk penelitian lain di Swiss yang mengaitkan asuransi tambahan dengan angka penggantian sendi panggul yang lebih tinggi. Dari Florida, Amerika Serikat, mereka mengutip penelitian atas 103.183 kasus yang menempatkan asuransi swasta, disusul pendapatan, di antara faktor teratas yang terkait dengan operasi hernia inguinalis.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Penjelasan Kedua: Perilaku Pemegang Polis
Di sisi lain ada pasien itu sendiri. Data kantor statistik federal Swiss, tulis para peneliti, menunjukkan bahwa pemegang asuransi tambahan lebih sehat, berpendidikan lebih tinggi, berpendapatan lebih besar, dan lebih sering berkonsultasi ke dokter. “Masih diperdebatkan apakah orang yang berinvestasi lebih banyak pada asuransi kesehatan juga ingin mengoptimalkan imbal hasilnya dengan mencari lebih banyak perawatan,” tulis mereka.
Para penulis tidak menetapkan mana di antara keduanya yang berlaku. Penelitian ini memakai data masa lalu, yang menurut para penulis menutup kemungkinan menarik kesimpulan sebab-akibat. Data tagihan rumah sakit juga tidak memuat pendidikan, pendapatan rumah tangga, kepemilikan rumah sakit, atau senioritas dokter.
Ada batas lain yang mereka akui. Swiss tidak punya basis data federal untuk tindakan rawat jalan, sehingga hanya rawat inap yang terlihat. Salah pengodean di rumah sakit tidak bisa disingkirkan sepenuhnya. Sebagian operasi mungkin tetap dilakukan dalam keadaan darurat, dan itu bisa menggelembungkan perkiraan mereka. Sebaliknya, karena rumah sakit swasta terutama melayani pasien berasuransi tambahan, akses kelompok ini ke operasi terencana kemungkinan berkurang selama pandemi, sehingga temuan itu mungkin justru konservatif.
Simpulan Rafaisz dan rekan-rekannya menimbang kedua sisi itu sekaligus. Karena hubungan tersebut tampak tidak bergantung pada penyakit penyerta, mereka menulis bahwa perilaku yang lebih sadar kesehatan pada pemegang asuransi tambahan, di samping insentif keuangan, bisa menjadi pendorongnya. Peran insentif keuangan dalam tindakan bedah, kata mereka, masih belum jelas.
Satu ranjang di kamar rawat dan satu operasi kantong empedu dalam naskah ini tetap dua hal yang berhubungan, dengan sebab yang belum diketahui. “Idealnya, sistem layanan kesehatan dipandu semata-mata oleh mutu perawatan dan bukan oleh struktur pembayaran,” tulis para peneliti. Mereka berharap naskah ini mendorong pembuat kebijakan beralih ke insentif bagi mutu perawatan.















