- Murid yang berketerampilan baik tercatat 78,5 persen di jenjang rendah dan 78,9 persen di jenjang atas, masing-masing 692 anak.
- Murid yang bersikap positif terhadap pendidikan seksual tercatat 39,8 persen di jenjang rendah dan 41,4 persen di jenjang atas, selisih yang tipis saja.
- Anak-anak kemudian menyerap keraguan itu, dan keraguan tersebut menjelma menjadi tingginya angka sikap netral atau pasif yang terekam dalam survei.
- Karena itu, para penulis meminta temuan mereka ditafsirkan dalam konteks studi ini dan tidak digeneralisasi ke populasi yang lebih luas.
Daftar Isi
Murid sekolah dasar negeri di Malaysia cukup tahu dan terampil menjaga diri dari pelecehan seksual, tetapi yang bersikap positif terhadap pendidikan seksual tidak sampai separuh. Gambaran itu muncul dari sebuah survei terhadap murid kelas dua dan kelas empat di lima wilayah negeri tersebut, yang menakar pengetahuan, sikap terhadap pendidikan seksual, dan keterampilan mencegah pelecehan seksual pada setiap anak.
Survei itu dikerjakan Mohamad Najib Mat Pa, Mohd Noor Norhayati, Zaharah Sulaiman, Nik Hazlina Nik Hussain, Azizah Othman, dan Azliana Aziz dari School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia, di Kubang Kerian, Kelantan. Hasilnya mereka tulis dalam artikel Prevalence of knowledge, attitudes toward sexual education, and sexual abuse prevention skills among primary school children in Malaysia, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026, dengan melibatkan 1.758 murid di lima wilayah negeri itu.
Anak-anak tersebut terbagi ke dalam dua kelompok yang hampir sama besar, yakni 881 murid jenjang rendah, yang di Malaysia mencakup usia tujuh sampai sembilan tahun, dan 877 murid jenjang atas, yang mencakup usia sepuluh sampai dua belas tahun. Jumlah anak laki-laki dan perempuan nyaris berimbang di kedua kelompok, dan sebagian besar di antaranya beretnis Melayu, yaitu 95,1 persen di jenjang rendah serta 93,0 persen di jenjang atas.
Mereka datang dari wilayah Utara, Tengah, Selatan, Pantai Timur, dan Malaysia Timur yang meliputi Sabah serta Sarawak, dengan tiap wilayah menyumbang kira-kira seperlima peserta. Para penulis menyebut data dasar semacam ini masih terbatas di Malaysia, padahal pelecehan seksual terhadap anak mereka gambarkan sebagai persoalan kesehatan masyarakat global yang meninggalkan dampak fisik, psikologis, dan sosial yang panjang bagi anak yang mengalaminya.
Tiga hal yang ditakar dari seorang anak
Ada tiga hal yang ditakar dari setiap anak, yaitu pengetahuan, sikap terhadap pendidikan seksual, dan keterampilan mencegah pelecehan seksual, dan ketiganya dipilah ke dalam tiga tingkat. Anak yang skornya melampaui 80 persen digolongkan berpengetahuan tinggi, bersikap positif, atau berketerampilan baik, sedangkan skor antara 60 dan 80 persen berarti pengetahuan sedang, sikap netral, atau keterampilan sedang. Skor di bawah 60 persen dibaca sebagai pengetahuan rendah, sikap negatif, atau keterampilan buruk.
Pertanyaan untuk murid jenjang rendah berkisar pada hal-hal dasar, antara lain pengetahuan tentang tubuh, pengenalan organ seksual, pemahaman mengenai sentuhan yang tidak aman dan persetujuan, privasi, serta cara melaporkan sentuhan yang tidak aman. Untuk murid jenjang atas cakupannya lebih luas, sebab di dalamnya masuk pula pubertas, kebersihan dan kesehatan menstruasi, kesadaran akan grooming, salah paham seputar kesehatan reproduksi, citra tubuh, serta batas sosial dan fisik yang pantas.
Pengetahuan yang bertambah di jenjang atas
Pada ranah pengetahuan, hampir tidak ada anak yang tergolong berpengetahuan rendah. Di jenjang rendah, 48,1 persen murid berpengetahuan tinggi dan 50,2 persen berpengetahuan sedang, sementara yang berpengetahuan rendah hanya 15 anak atau 1,7 persen. Di jenjang atas, kelompok berpengetahuan tinggi membesar menjadi 59,9 persen, kelompok sedang menyusut ke 38,9 persen, dan yang berpengetahuan rendah tinggal 11 anak atau 1,3 persen.
Para penulis membaca pengetahuan dasar yang sedang hingga tinggi itu sebagai cerminan jangkauan upaya Kementerian Pendidikan Malaysia, yang telah memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi dan sosial ke dalam kurikulum nasional. Mereka juga mencatat bahwa perkembangan kognitif tetap menjadi pembatas, sebab anak yang lebih muda bisa saja memiliki pengetahuan pencegahan yang lebih rendah daripada anak yang lebih tua, sebagaimana teramati pada murid sekolah dasar di Iran yang mereka rujuk.
Namun, naskah itu tidak berhenti pada kabar baik, karena menurut para penulis pelaksanaan di sekolah-sekolah Malaysia tidak merata. Jaringan sekolah di perkotaan kerap terbantu oleh kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat dan pembagian alat digital tambahan, sedangkan sekolah di perdesaan atau yang kekurangan dana sering bergantung pada guru nonspesialis yang kewalahan. Kesenjangan itulah, tulis mereka, yang menjelaskan mengapa banyak murid hanya menyimpan pengetahuan sedang dan terpecah-pecah, terutama soal istilah anatomi dan tata cara melapor.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Sikap yang tidak ikut menanjak
Justru sebaliknya yang terjadi pada ranah sikap, sebab di sini kenaikan pengetahuan tidak diikuti kenaikan yang sepadan. Murid yang bersikap positif terhadap pendidikan seksual tercatat 39,8 persen di jenjang rendah dan 41,4 persen di jenjang atas, selisih yang tipis saja. Yang berubah banyak adalah dua kelompok lainnya, karena sikap negatif turun dari 23,2 persen menjadi 7,3 persen, sedangkan sikap netral naik dari 37,0 persen menjadi 51,3 persen dan menjadi kelompok terbanyak di jenjang atas.
Para penulis menyebut sebaran sikap itu lebih rumit daripada sebaran pengetahuan, dan mereka menautkannya dengan literatur yang menunjukkan bahwa pengetahuan tinggi tidak otomatis menjelma menjadi sikap yang positif atau proaktif. “Proporsi yang besar dari murid menunjukkan tingkat pengetahuan tinggi hingga sedang mengenai pendidikan seksual, sementara kurang dari separuh memiliki sikap positif terhadapnya,” tulis Mohamad Najib Mat Pa dan kelima rekannya dalam simpulan naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Sebagai pembanding, mereka mengutip beberapa studi dari negeri lain yang hasilnya juga beragam. Di Lagos, Nigeria, 57,5 persen siswa sekolah menengah bersikap positif, sedangkan di Mizoram, India, 39,5 persen siswa sekolah menengah dilaporkan bersikap negatif terhadap pendidikan seks. Di Kota Pontianak, Indonesia, 55,8 persen anak bersikap negatif terhadap pencegahan pelecehan seksual, dan di Vietnam sebagian besar siswa, yakni 59,2 persen, bersikap netral karena norma budaya yang tidak mendorong pembicaraan terbuka tentang seks.
Tabu di rumah yang terbawa ke kelas
Di situlah persoalannya, sebab pola di Vietnam itu, menurut para penulis, sangat mencerminkan keadaan sosial budaya Malaysia masa kini, tempat pembicaraan terbuka tentang seksualitas, kepemilikan atas tubuh, dan pelecehan masih sangat dibatasi oleh tabu budaya dan konsep kesopanan tradisional. Di banyak rumah tangga Malaysia, tulis mereka, pendidikan seksual tanpa sengaja disamakan dengan dorongan untuk melakukan aktivitas seksual sebelum waktunya, sehingga orang tua menolak atau merasa tidak nyaman.
Anak-anak kemudian menyerap keraguan itu, dan keraguan tersebut menjelma menjadi tingginya angka sikap netral atau pasif yang terekam dalam survei. “Anak-anak mungkin memiliki pengetahuan abstrak bahwa pelecehan itu salah, tetapi keengganan yang dibentuk budaya untuk berbicara terbuka tentang bagian tubuh pribadi mencegah mereka membentuk sikap yang proaktif dan protektif,” tulis keenam peneliti Universiti Sains Malaysia itu, yang menyebut keraguan tersebut meninggalkan kerentanan yang kritis.
Kekhawatiran akan tekanan emosional ikut memengaruhi cara topik ini disampaikan, karena sebagian orang tua dan pendidik, menurut studi yang dirujuk naskah, menyederhanakan atau melewatkan pembahasannya demi menghindari rasa tidak nyaman, sehingga anak tidak siap. Orang tua juga kerap meremehkan risiko dari orang yang dikenal anak dan lebih memusatkan perhatian pada orang asing sebagai calon pelaku. Salah paham semacam itu, tulis para penulis, dapat memengaruhi cara anak memandang dan menanggapi situasi pelecehan seksual.
Menumbuhkan sikap positif, dalam pembacaan naskah, menuntut campur tangan yang disengaja dan aktif. Ketika orang tua membicarakan langkah-langkah keselamatan secara terbuka, anak menjadi lebih mau menerima, dan metode interaktif seperti permainan edukatif serta kegiatan praktik langsung terbukti memperbaiki daya ingat, mengurangi kecemasan, dan menumbuhkan sikap yang sangat positif terhadap program pencegahan pelecehan. Semua itu merujuk penelitian terdahulu yang dikutip para penulis.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Keterampilan yang nyaris kembar
Namun, ranah ketiga memperlihatkan wajah yang lain lagi, sebab keterampilan mencegah pelecehan seksual hampir tidak berbeda di antara dua jenjang. Murid yang berketerampilan baik tercatat 78,5 persen di jenjang rendah dan 78,9 persen di jenjang atas, masing-masing 692 anak. Kira-kira empat dari lima murid, dengan demikian, berada di kategori teratas. Keterampilan sedang dimiliki 18,6 persen dan 18,7 persen murid, sedangkan keterampilan buruk hanya 2,8 persen dan 2,4 persen.
Yang dimaksud keterampilan di sini, menurut uraian naskah, adalah kemampuan mengenali situasi yang tidak aman, menegaskan batas pribadi, dan mencari pertolongan dari orang dewasa yang dipercaya, termasuk belajar berkata tidak dengan tegas, menolak pendekatan yang tidak diinginkan, serta menjauh dari situasi yang tidak aman. Para penulis sendiri menyebut temuan ini menarik, karena keterampilan yang relatif kuat itu muncul di tengah pengetahuan tinggi dan sikap positif yang angkanya lebih rendah.
Pembanding yang mereka sodorkan memperlihatkan betapa hasil semacam itu tidak selalu dijumpai di tempat lain. Di Jawa Tengah, Indonesia, 60 persen murid sekolah dasar tidak mampu melindungi diri, kekurangan yang menurut studi rujukan itu sangat dipengaruhi budaya konservatif setempat mengenai urusan seksual. Di Iran, 45 persen anak menunjukkan keterampilan pencegahan tingkat lanjut, mulai dari membedakan situasi aman dan tidak aman, mengenali bahaya, melarikan diri, hingga melaporkan pelecehan.
Naskah itu juga mencatat dua hal yang disebut literatur dapat menopang keterampilan anak. Pesan pencegahan dari sekolah yang dikuatkan kembali oleh orang tua dapat meningkatkan kemampuan anak mengenali dan menanggapi risiko, sedangkan lingkungan belajar berbasis pengalaman, seperti bercerita dan bermain peran, terbukti membantu anak menghayati aturan keselamatan pribadi dan mengingat tindakan yang harus diambil dalam situasi yang tidak aman.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Batas yang diakui para penulis
Angka-angka itu datang dengan sejumlah batas yang diakui para penulis sendiri. Data dikumpulkan dari jawaban anak, sehingga bias mungkin muncul karena peserta bisa saja memberi jawaban yang dianggap pantas secara sosial, dan panjangnya daftar pertanyaan mungkin mengganggu konsentrasi serta menimbulkan kelelahan menjawab. Simpulan naskah pun menyebut keterampilan yang baik itu sebagai keterampilan yang dilaporkan sendiri oleh murid.
Anak dengan gangguan belajar, seperti gangguan pemusatan perhatian dan disleksia, tidak diikutkan, sehingga pemahaman tentang kelompok ini terbatas. Survei hanya berlangsung di sekolah negeri dan mungkin tidak mewakili anak di sekolah swasta atau internasional, sementara komposisi pesertanya mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan sebaran etnis nasional. Karena itu, para penulis meminta temuan mereka ditafsirkan dalam konteks studi ini dan tidak digeneralisasi ke populasi yang lebih luas.
Mereka menganjurkan agar penelitian berikutnya menggali sisi kualitatif untuk mengenali faktor kunci yang membentuk pengetahuan dan sikap terhadap pendidikan seksual, juga perkembangan keterampilan mencegah pelecehan. Faktor lain yang menurut mereka perlu diperiksa meliputi keyakinan budaya, pengaruh orang tua, akses pendidikan, dan stigma sosial, sebab pemahaman atas pengaruh-pengaruh itu dapat membantu merancang program pencegahan yang lebih efektif dan sesuai dengan budaya setempat.















