- Selama 15 hari, 203 remaja India menerima satu foto makanan setiap hari di Instagram.
- Tiga dari lima foto sehat bergaya menggoda dinilai lebih menarik daripada pasangannya yang biasa.
- Kacang dan dadih yang dipotret polos justru lebih mengundang selera daripada versi riasnya.
- Kebanyakan peserta tertarik pada unggahan makanan karena gambarnya, bukan teksnya.
- Riset ini bukan percobaan terkontrol sehingga sebab-akibat tidak bisa disimpulkan.
Daftar Isi
Hampir delapan kilometer. Sejauh itu seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun di Pondicherry, India, naik bus dari asramanya yang terpencil menuju kota. Tujuannya satu toko roti. Para peneliti baru saja mengunggah foto kue cokelat, dan ia pergi untuk memakannya. Ia masih ingat betul hari tersebut ketika diwawancarai lewat telepon.
Cerita itu tercatat dalam artikel Tavleen Kaur, Archana Konapur, Thirupathi Reddy Mokalla, dan SubbaRao M. Gavaravarapu berjudul Foodporn for e-priming healthy food choices among adolescents: an experimental study using appealing food imagery, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Para penulis bekerja di Divisi Informasi Gizi, Komunikasi, dan Pendidikan Kesehatan pada ICMR-National Institute of Nutrition di Hyderabad, India.
Cerita kedua juga datang dari remaja laki-laki 18 tahun di Pondicherry. Suatu sore asramanya menyajikan chana rebus, sejenis kacang-kacangan. Biasanya ia melewatkan kudapan sehat semacam itu. Hari itu ia memakannya. Sebabnya, menurut pengakuannya kepada peneliti, sebuah foto salad chana yang tampil menarik lengkap dengan taburannya. Kue cokelat dan kacang rebus digerakkan oleh hal yang sama: gambar.
Lima Belas Foto yang Dikirim ke Layar Ponsel 203 Remaja India
Kedua foto itu bagian dari sebuah percobaan. Selama 15 hari, 203 remaja berusia 13 sampai 19 tahun dari berbagai negara bagian India menerima satu foto makanan setiap hari di Instagram, lalu menjawab lima pertanyaan pendek tentangnya. Usia rata-rata mereka 16,9 tahun. Sebanyak 66 persen perempuan, dan lebih dari separuh tinggal di wilayah utara.
Foto-foto itu terbagi tiga. Lima memperlihatkan makanan tinggi energi dan rendah gizi: piza, burger, manchurian, es krim, dan kue. Lima lagi memperlihatkan makanan sehat yang ditata dan dipotret secantik makanan cepat saji. Lima sisanya makanan sehat yang sama kelompoknya, tetapi dipotret apa adanya.
Gaya potret yang menggoda itu punya nama di media sosial: foodporn. Para peneliti menggambarkannya sebagai makanan yang ditampilkan penuh warna, serba gemerlap, dan dibesar-besarkan. Selama ini gaya tersebut lekat dengan makanan tak sehat. Pertanyaan mereka sederhana. Bisakah senjata yang sama dipakai untuk bubur milet, salad kacang, dan raita bit?
Ladangnya memang subur. Semua peserta punya akun Instagram, 81 persen memakai YouTube, dan 63 persen Snapchat. Tujuh dari sepuluh membuka Instagram berkali-kali dalam sehari. Foto makanan tak sehat lebih sering mereka lihat. Sumbernya terutama pemengaruh berpengikut besar, yang disebut 54 persen peserta, dan bloger kuliner lokal, yang disebut 40 persen.
Sebelum percobaan dimulai, mereka sudah mengaku mudah tergoda. Enam dari sepuluh suka mencoba makanan yang mereka lihat di media sosial. Sebanyak 56 persen mengidam makanan dari layar hanya bila fotonya tampak menarik atau lezat. Padahal 60 persen tidak percaya bahwa makanan yang ramai dibagikan dan disukai di sana itu sehat. Hanya 26 persen merasa makan lebih sehat karena media sosial, sedangkan 32 persen merasa makin sering menyantap makanan cepat saji.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Bubur Milet Berubah Nasib Setelah Dipotret Cantik
Titik baliknya ada pada milet. Di antara peserta yang menerima keterangan gizi, hanya 17 persen yang menilai foto milet polos menarik dan sekaligus mau memakannya. Untuk foto bubur milet yang ditata menggoda, angkanya 69 persen. Pada kelompok yang tidak menerima keterangan gizi, polanya nyaris kembar: 16 persen berbanding 66 persen.
Kacang-kacangan mengikuti arah yang sama. Salad chana rebus yang dipotret cantik meraih 76 persen, sedangkan dal polos 58 persen. Secara keseluruhan, tiga dari lima foto sehat bergaya menggoda dinilai lebih menarik daripada pasangannya yang biasa: bubur milet, salad chana, dan raita bit. Pada milet dan kacang-kacangan, beda itu bermakna secara statistik.
Tetapi gaya bukan segalanya. Kacang dan dadih yang dipotret polos justru lebih mengundang selera daripada versi riasnya, masing-masing sekitar 18 dan 14 persen lebih tinggi. Buah sama saja nasibnya. Salad buah campur dan buah musiman sama-sama disukai, dengan atau tanpa polesan. Es krim tetap juara di kelompok makanan tak sehat, dinilai menarik oleh sekitar sembilan dari sepuluh peserta.
Satu hal berlaku di ketiga kelompok foto. Makin menarik sebuah gambar di mata peserta, makin besar kemauan mereka memakan makanan di dalamnya. Hubungan itu bermakna secara statistik, baik untuk piza maupun untuk bubur milet. Dalam wawancara, para remaja menyebut sendiri resepnya: warna, sudut pengambilan gambar, bentuk, kilap, tekstur, hiasan, juga keseimbangan dan kesimetrisan.
Seorang remaja putri 17 tahun dari Mysore menyebutnya trik fotografi sederhana, seperti mengubah sudut potret. Seorang remaja laki-laki 17 tahun dari Jaipur mengingat dua foto saja: semangkuk sereal karena ia sangat membencinya, dan kue cokelat karena begitu menggugah selera. Ingatan, catat para peneliti, melekat pada foto yang memancing emosi di kedua ujung, suka maupun benci.
Keterangan Gizi di Bawah Foto Ternyata Nyaris Tak Dibaca
Para peneliti menyiapkan satu ujian lagi. Sebanyak 101 remaja menerima foto dengan takarir berisi nama makanan dan uraian singkat gizinya. Sebanyak 102 lainnya hanya menerima foto dan nama makanan. Hasilnya datar. Tidak ada beda bermakna antara jawaban kedua kelompok sepanjang lima belas hari itu.
Wawancara menjelaskan sebabnya. Kebanyakan peserta tertarik pada unggahan makanan karena gambarnya, bukan teksnya. Seorang peserta yang dicatat para penulis sebagai remaja putri 17 tahun dari Bangalore, anggota kelompok penerima keterangan gizi, mengaku tidak menyadari bahwa unggahan itu disertai takarir.
Hanya segelintir yang mengaku terpengaruh tulisan. Biasanya itu terjadi ketika takarir mengungkap sesuatu yang tak terduga. Seorang remaja putri 17 tahun dari Bangalore bercerita tentang es krim. Takarirnya menyebut kandungan minyak makan, bahan yang menurutnya tidak pernah ditonjolkan dalam iklan. Keterangan itu, katanya, mengubah jawabannya hari tersebut.
Bagi para peneliti, ini petunjuk bahwa remaja mengolah informasi makanan lebih lewat gambar daripada lewat tulisan. Takarir pendek, tulis mereka, mungkin tidak cukup kuat bila harus bersaing dengan konten yang didominasi visual. Mereka menduga isyarat gizi akan lebih mengena bila ditanam langsung di dalam gambar makanannya.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Dari Meja Makan Keluarga ke Kafe Bersama Teman-Teman
Makanan tak sehat punya panggungnya sendiri. Sebanyak 52 persen peserta di satu kelompok dan 43 persen di kelompok lain ingin menyantapnya di restoran atau kafe, dan hampir sepertiga ingin memakannya bersama teman. Makanan sehat lain ceritanya. Untuk semua foto makanan sehat, sebagian besar peserta membayangkan masakan rumah dan memilih memakannya bersama keluarga.
Foto yang menggoda menggeser sedikit batas itu. Dibandingkan versi biasanya, makanan sehat yang dipotret cantik lebih sering dibayangkan dimakan di restoran dan dalam suasana ramai, terutama bersama teman. Norma yang biasanya melekat pada makanan tak sehat, tulis para peneliti, lebih kuat menempel pada foto sehat bergaya menggoda daripada pada foto sehat biasa. Para peserta juga menyebut foto yang menarik layak diunggah, dan bersedia bergabung dengan komunitas daring bertema kesehatan.
Dompet ikut bergerak, meski pelan. Sekitar sepertiga peserta mau membeli makanan tak sehat berapa pun harganya. Untuk makanan sehat, kurang dari seperempat yang bersedia membayar lebih mahal. Namun pada milet dan kacang-kacangan, hampir seperempat peserta mau membayar lebih untuk versi yang menggoda dibandingkan versi biasanya.
Seorang remaja putri 13 tahun dari Hyderabad mengakuinya terus terang. Ia lebih rela mengeluarkan uang untuk burger dan sejenisnya, bukan untuk bubur milet. Para peneliti mencatat pengakuan semacam ini sebagai tema yang muncul sendiri dari wawancara: peserta mulai menyadari jarak antara apa yang mereka tahu dan apa yang mereka makan.
Seorang remaja laki-laki 18 tahun dari Pondicherry mengatakannya lebih pendek. Meski tahu sebuah makanan tidak sehat, ia sadar akan tetap memakannya. Remaja 18 tahun dari Pondicherry juga melukiskan makanan sehat sebagai makanan yang membosankan dan hambar, seperti semangkuk oat polos. Anggapan itulah yang hendak digoyang oleh lima foto cantik tadi.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Sesudah Lima Belas Hari, Ada Arah Baru yang Masih Samar
Lalu apa yang berubah setelah unggahan terakhir? Arah umumnya positif. Kesukaan terhadap makanan sehat naik di kedua kelompok, baik untuk foto menggoda maupun foto biasa. Lebih banyak peserta menambah konsumsi makanan dari kelompok foto menggoda daripada pasangannya yang biasa, dan lebih banyak pula yang mengurangi makanan tak sehat.
Namun yang lolos uji statistik hanya sedikit. Kesukaan pada dadih polos naik bermakna di kelompok penerima keterangan gizi: 35 peserta makin suka, 15 makin tidak suka. Frekuensi makan salad buah campur dan dadih polos naik bermakna di kelompok satunya. Selebihnya, kecenderungan itu belum bermakna secara statistik.
Niat para remaja juga terbelah. Mereka berniat makan bubur milet dan salad chana lebih banyak daripada versi biasanya, masing-masing sekitar 9 dan 15 persen lebih tinggi. Tetapi untuk buah musiman, kacang dan biji, serta dadih polos, niat justru lebih besar pada versi biasa. Para peneliti menduga singkatnya percobaan, atau pengetahuan peserta yang sudah ada tentang makan sehat, ikut menjelaskan mengapa perubahan itu belum bermakna.
Para penulis sendiri memasang pagar. Pesertanya didominasi perempuan, percobaannya pendek, dan jumlah makanannya terbatas. Semua jawaban berasal dari laporan peserta sendiri, sehingga bisa meleset karena ingatan. Riset ini juga bukan percobaan terkontrol. Karena itu, tulis mereka, sebab-akibat tidak bisa disimpulkan dan hubungan yang teramati harus dibaca hati-hati.
Kesimpulan mereka tetap berpihak pada gambar. “Citra foodporn dari makanan sehat dapat menjadi perangsang visual untuk mendorong konsumsi makanan yang lebih sehat di kalangan remaja pada platform media sosial,” tulis Tavleen Kaur dan rekan-rekannya, peneliti ICMR-National Institute of Nutrition, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mereka membayangkan langkah berikutnya di luar layar: makanan sehat yang disajikan menarik dan benar-benar tersedia di kantin sekolah, restoran, dan kafe. Wawancara memberi catatan serupa. Perubahan paling nyata terjadi ketika dorongan dari gambar bertemu makanan yang memang ada, terjangkau, dan mudah didapat.
Begitulah yang tercatat dari Pondicherry. Kue cokelat menuntut perjalanan bus hampir delapan kilometer. Chana rebus sudah tersaji di asrama pada sore hari. Remaja 18 tahun yang menceritakannya memakan chana itu, sambil berharap bisa menyantap sajian seperti di foto, lengkap dengan taburannya.















