Guru Periksa Mata Murid, 7 dari 10 Kasus Gangguan Terjaring

A A

Ilustrasi kacamata berbingkai logam di atas kartu uji tajam penglihatan bersimbol cincin Landolt [Foto: Pavel Danilyuk/Pexels]

  • Dari tujuh studi yang tersisa, sensitivitas gabungan guru naik menjadi 0,70.
  • Spesifisitas gabungan sembilan studi adalah 0,96, setara dengan tenaga kesehatan mata.
  • Studi Panda dan rekan di India mencatat spesifisitas 0,53 karena banyak anak bermata normal ikut dirujuk.
  • Prevalensi gangguan penglihatan di sembilan studi terentang dari 2 persen sampai 54 persen.
  • Para penulis meminta protokol skrining sekolah yang terstruktur dengan evaluasi berkala.
Daftar Isi
  1. Skrining penglihatan, penyaringan awal di ruang kelas
  2. Sensitivitas, berapa banyak yang terjaring
  3. Spesifisitas, mengenali mata yang sehat
  4. Batas rujukan, garis pemisah lolos dan dirujuk
  5. Prevalensi, seberapa banyak kasus di sekolah itu
  6. Tenaga potensial, pendukung di tahap awal

Skrining penglihatan di sekolah adalah penyaringan awal: murid diminta membaca kartu huruf dari jarak beberapa meter, lalu yang tampak kesulitan dirujuk untuk diperiksa lebih lanjut. Pekerjaan itu lazimnya milik dokter mata atau optometris. Di banyak tempat jumlah mereka tidak cukup, sehingga kartu itu berpindah ke tangan guru kelas. Seberapa tepat guru menjalankannya, itulah yang ditimbang sebuah kajian dari India.

Kajian itu ditulis Ujwala Umesh, Krithica Srinivasan, Sharath S Sherigar, dan Vignesh Prabhu dari Department of Optometry, Manipal College of Health Professions, Manipal Academy of Higher Education. Judulnya Effectiveness of school vision screening by teachers – a systematic review and meta-analysis, dimuat BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1794 tahun 2026. Keempatnya menghimpun sembilan studi yang menyandingkan hasil guru terlatih dengan hasil tenaga kesehatan mata pada anak di bawah 18 tahun.

Skrining penglihatan, penyaringan awal di ruang kelas

Alasan guru dilibatkan terbaca dari angka yang dikutip para penulis. Kelainan refraksi, yakni gangguan yang disebut naskah sebagai penyebab paling umum gangguan penglihatan di dunia, mencatat prevalensi 77,20 persen. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 19 juta anak mengalami gangguan penglihatan dan 1,4 juta di antaranya buta tanpa bisa dipulihkan. Separuh kasus kebutaan pada anak diperkirakan bisa dicegah.

Tenaga ahlinya sedikit. Jumlah dokter mata per satu juta penduduk berkisar dari 3,7 di negara berpendapatan rendah sampai 76,2 di negara berpendapatan tinggi. Untuk optometris, tenaga pemeriksa mata, rata-ratanya satu orang bagi setiap 23.200 penduduk dunia. Dengan pembanding itu, sekolah menjadi tempat yang masuk akal karena di sana banyak anak bisa diperiksa sekaligus.

Guru dipilih karena dua hal yang disebut naskah: mereka berpengalaman berinteraksi dengan anak dan mereka sudah ada di sekolah. Para penulis juga mencatat manfaat lain. Guru dinilai lebih efektif mendorong anak dan orang tua mendatangi optometris, serta lebih membantu dalam mengingatkan anak agar memakai kacamata secara teratur.

Sembilan studi yang dihimpun berasal dari Tiongkok, Iran, Thailand, India, Vietnam, dan Liberia. Ukurannya sangat beragam, dari 555 anak sampai 153.107 anak. Jumlah guru yang turun memeriksa pun berbeda jauh, dari delapan orang di Liberia hingga 223 orang di Thailand. Usia murid yang diperiksa terentang dari empat sampai 18 tahun.

Semua guru itu dilatih lebih dulu oleh petugas pendidikan distrik yang terlatih dan tenaga kesehatan mata. Isinya cara mengukur dan mencatat ketajaman penglihatan, ditambah pengetahuan tentang anatomi mata dan penyakit mata yang umum. Empat studi melaporkan pelatihan satu hari, satu studi setengah hari, satu studi berupa lokakarya sehari. Tiga studi lain tidak menyebut lamanya.

Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur

Sensitivitas, berapa banyak yang terjaring

Istilah pertama yang perlu diterjemahkan adalah sensitivitas. Dalam naskah ini ia berarti tingkat positif benar: dari anak-anak yang oleh tenaga kesehatan mata dinyatakan bermasalah, berapa bagian yang juga ditandai guru. Angkanya ditulis dari nol sampai satu. Semakin dekat ke satu, semakin sedikit anak bermasalah yang lolos dari pemeriksaan guru.

Ketika sembilan studi digabung, sensitivitas guru adalah 0,65, dengan rentang kepercayaan 95 persen antara 0,51 dan 0,76. Para penulis menyebut hasil itu sedang. Di balik angka gabungan tersebut, hasil tiap studi berjauhan. Sensitivitas, tulis mereka, sangat bervariasi, dari 0,25 sampai 0,94, dan lima dari sembilan studi mencatat sensitivitas di bawah 50 persen.

Dua studi kemudian dikeluarkan dari hitungan, yakni studi Ostadimoghaddam dan rekan di Iran serta studi Tobi dan rekan di Liberia. Keduanya, menurut naskah, melaporkan sensitivitas yang buruk dengan rentang kepercayaan yang lebar, tanda bahwa taksirannya sangat berubah-ubah. Dari tujuh studi yang tersisa, sensitivitas gabungan naik menjadi 0,70, dengan rentang 0,57 sampai 0,80.

Angka gabungan, sembilan dan tujuh studiAngka gabungan, sembilan dan tujuh studiAngka gabungan, sembilan dan tujuh studiSkrining penglihatan oleh guru sekolahSembilan studiTujuh studi0,650,70Sensitivitas0,51-0,760,57-0,80Rentang 95%0,960,96Spesifisitas0,92-0,980,91-0,98Rentang 95%
Sumber: Ujwala Umesh, Krithica Srinivasan, Sharath S Sherigar, dan Vignesh Prabhu, Effectiveness of school vision screening by teachers - a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 26(1794), 2026. Grafik: Cekricek.id

Maksudnya, dalam tujuh studi itu guru menjaring kira-kira tujuh dari sepuluh anak yang oleh tenaga kesehatan mata dinilai bermasalah. Angka inilah yang dibawa ke simpulan. Para penulis menilai hasil guru memuaskan bila disandingkan dengan pemeriksaan tenaga kesehatan mata, dan mereka menuliskannya bersama satu angka lain yang jauh lebih tinggi.

Spesifisitas, mengenali mata yang sehat

Angka lain itu adalah spesifisitas. Bedanya begini. Sensitivitas berbicara tentang anak yang bermasalah, sedangkan spesifisitas berbicara tentang anak yang penglihatannya normal: seberapa tepat guru mengenali mereka sebagai normal dan tidak merujuknya. Naskah menyebut spesifisitas yang rendah berarti banyak anak berpenglihatan normal dirujuk tanpa perlu.

Di ukuran ini guru nyaris menyamai para ahli. Spesifisitas gabungan sembilan studi adalah 0,96, dengan rentang 0,92 sampai 0,98. Setelah dua studi dikeluarkan, angkanya tetap 0,96, dengan rentang 0,91 sampai 0,98. Para penulis menyebutnya baik dan setara dengan tenaga kesehatan mata. Guru, menurut mereka, sangat tepat dalam mengenali anak yang penglihatannya normal.

Hampir semua studi mencatat spesifisitas 0,85 atau lebih. Pengecualiannya satu, yaitu studi Panda dan rekan di India, studi terbesar dengan 153.107 anak dan 216 guru. Spesifisitasnya 0,53, sementara sensitivitasnya 0,80. Naskah menjelaskan bahwa para guru di sana tidak mau mengambil risiko melewatkan murid yang penglihatannya terganggu, sehingga banyak anak bermata normal ikut dirujuk.

Ada beberapa penjelasan yang dihimpun para penulis untuk angka rendah itu. Panda dan rekan mencatat pelatihan hanya satu hari dan guru belum akrab dengan program. Pustaka lain yang dirujuk naskah mengaitkan spesifisitas yang buruk dengan pengawasan dan pelatihan guru yang kurang, motivasi yang turun karena beban kerja, serta cara pemeriksaan yang lemah.

Dua hal lain ikut disebut. Anak yang berkacamata kadang tidak diuji dengan kacamatanya, dan itu bisa menggerus spesifisitas. Anak yang lebih kecil juga lebih sulit memahami perintah dibandingkan anak yang lebih besar. Mengutip Sharma dan rekan, naskah menulis bahwa program pemeriksaan mata dengan spesifisitas rendah tidak akan efektif dan tidak menguntungkan kelompok yang diperiksa.

Hasil guru di sembilan studiSharma dkk. 2008, Tiongkok (tanpa kacamata): Sensitivitas +0,93, Spesifisitas +0,91; Paudel dkk. 2016, Vietnam (tanpa kacamata): Sensitivitas +0,86, Spesifisitas +0,95; Panda dkk. 2018, India: Sensitivitas +0,80, Spesifisitas +0,53; Saxena dkk. 2015, India (batas 6/12): Sensitivitas +0,77, Spesifisitas +0,97; Marmamula dkk. 2018, India: Sensitivitas +0,72, Spesifisitas +0,99; Teerawattananon dkk. 2014, Thailand (murid SD): Sensitivitas +0,59, Spesifisitas +0,98; Sabherwal dkk. 2023, India (guru terpilih): Sensitivitas +0,44, Spesifisitas +0,91; Ostadimoghaddam dkk. 2012, Iran: Sensitivitas +0,37, Spesifisitas +0,92; Tobi dkk. 2022, Liberia: Sensitivitas +0,25, Spesifisitas +0,99.Hasil guru di sembilan studiPembanding: tenaga kesehatan mata. Skala 0-1SensitivitasSpesifisitas0,250,500,751,000Sharma dkk. 2008, Tiongkok (tanpa kacamata)0,930,91Paudel dkk. 2016, Vietnam (tanpa kacamata)0,860,95Panda dkk. 2018, India0,800,53Saxena dkk. 2015, India (batas 6/12)0,770,97Marmamula dkk. 2018, India0,720,99Teerawattananon dkk. 2014, Thailand (murid SD)0,590,98Sabherwal dkk. 2023, India (guru terpilih)0,440,91Ostadimoghaddam dkk. 2012, Iran0,370,92Tobi dkk. 2022, Liberia0,250,99
Sumber: Ujwala Umesh, Krithica Srinivasan, Sharath S Sherigar, dan Vignesh Prabhu, Effectiveness of school vision screening by teachers - a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 26(1794), 2026. Grafik: Cekricek.id

Batas rujukan, garis pemisah lolos dan dirujuk

Istilah ketiga adalah batas rujukan, yang dalam naskah disebut cut-off. Ini garis ketajaman penglihatan yang diberikan kepada guru: murid yang hasilnya di bawah garis itu dirujuk ke pemeriksaan yang lebih tinggi. Garisnya ditulis dengan angka seperti 6/12 atau 6/9. Sebagian besar studi memakai 6/12.

Garis yang berbeda menghasilkan angka yang berbeda, bahkan di sekolah yang sama. Studi Saxena dan rekan di India, dengan 9.838 anak, memakai tiga garis. Pada garis 6/9,5 sensitivitas guru 0,79 dan spesifisitasnya 0,93. Pada garis 6/12 angkanya 0,77 dan 0,97. Pada garis 6/15 sensitivitas turun ke 0,55, sedangkan spesifisitas naik ke 0,99.

Studi Panda memakai garis yang lebih ketat, yakni di bawah 6/9 dengan kartu Snellen tiga baris. Para penulis menduga kriteria yang lebih ketat itu ikut menjelaskan spesifisitasnya yang rendah. Mereka juga menulis bahwa garis yang longgar bisa memperbanyak negatif palsu, yaitu anak bermasalah yang dinyatakan lolos.

Cara menguji ikut mengubah hasil. Dalam studi Sharma dan rekan di Tiongkok, sensitivitas guru 0,93 ketika murid diuji tanpa kacamata dan 0,85 ketika diuji dalam keadaan sehari-harinya. Studi Paudel dan rekan di Vietnam mencatat pola serupa, 0,86 dan 0,75. Naskah menyebut pustaka menyarankan agar batas rujukan untuk guru dibuat berbeda dari batas yang dipakai tenaga kesehatan.

Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen

Prevalensi, seberapa banyak kasus di sekolah itu

Istilah keempat, prevalensi, berarti seberapa besar bagian murid yang memang mengalami gangguan penglihatan di tempat yang diperiksa. Di sembilan studi ini bagian itu terentang dari 2 persen sampai 54 persen. Para penulis menyebut rentang tersebut sebagai kemungkinan alasan mengapa sensitivitas guru begitu berbeda dari satu studi ke studi lain.

Penjelasan naskah singkat. Prevalensi yang rendah bisa membuat jumlah positif benar sedikit, dan itu memengaruhi sensitivitas. Studi-studi yang sensitivitasnya buruk, tulis para penulis, tercatat memiliki prevalensi gangguan penglihatan yang lebih rendah.

Usia murid juga berperan. Dalam studi Teerawattananon dan rekan di Thailand, sensitivitas guru pada murid sekolah dasar adalah 0,59, tetapi pada murid prasekolah hanya 0,25. Guru prasekolah di sana mendapati pemeriksaan anak yang sangat kecil rumit dan memakan waktu. Dibutuhkan sedikitnya dua orang untuk memeriksa, karena pekerjaan itu menuntut kesabaran.

Lalu ada soal kemauan. Studi Tobi dan rekan di Liberia, dengan delapan guru dan 823 anak, mencatat sensitivitas 0,25. Menurut naskah, Tobi mendapati kurangnya minat dan motivasi guru sangat memengaruhi ketepatan hasil. Di India, studi Sabherwal dan rekan membandingkan dua cara: semua guru kelas memeriksa, dengan sensitivitas 0,36, dan guru terpilih saja, dengan sensitivitas 0,44.

Mengutip studi Thailand tadi, para penulis menyebut beberapa hal yang dapat memengaruhi kemampuan guru mengenali masalah secara tepat. Motivasi adalah salah satunya. Yang lain ialah apakah guru itu sendiri berkacamata, apakah ia bekerja di sekolah negeri atau swasta, dan sudah berapa tahun ia mengajar.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Tenaga potensial, pendukung di tahap awal

Istilah terakhir datang dari simpulan: guru sebagai tenaga potensial. “Temuan ini menunjukkan bahwa guru dapat menjadi tenaga potensial untuk mendukung tenaga kesehatan mata dalam skrining penglihatan tahap awal,” tulis Umesh dan tiga rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Para penulis memberi alasan mengapa peran itu cocok. Guru mudah dijangkau, mengenal muridnya, dan dihormati di lingkungannya. Dengan modal itu mereka dapat mengajak keluarga, mendorong murid ikut pemeriksaan dan pemeriksaan lanjutan, serta menganjurkan pemakaian kacamata secara ajek. Skrining oleh guru, tulis naskah, juga meringankan beban kerja tenaga kesehatan mata.

Syaratnya ikut dicantumkan. Menurut simpulan, jenis pelatihan bagi guru, usia anak yang diperiksa, batas rujukan yang dipakai, dan prevalensi gangguan mata dapat sangat memengaruhi keberhasilan program. Kepatuhan yang ajek pada protokol dan pengelolaan data yang teliti disebut penting bagi ketepatan hasil. Para penulis meminta protokol skrining sekolah yang terstruktur dengan evaluasi berkala.

Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Bias publikasi tidak dinilai karena jumlah studinya tidak mencukupi, dan hanya artikel berbahasa Inggris yang disertakan. Dari delapan studi potong lintang yang dinilai mutunya, tiga tergolong tinggi dan lima sedang. Tidak satu pun melakukan evaluasi lanjutan setelah pemeriksaan awal.

Simpulan abstrak kajian itu menyebut skrining penglihatan oleh guru memberi hasil yang memuaskan bila dibandingkan dengan skrining oleh tenaga kesehatan mata. Dari tujuh studi, spesifisitas gabungannya 0,96 dan sensitivitasnya 0,70. Karena itu, tulis para penulis, guru sekolah dapat menjadi tenaga potensial untuk pengenalan dini gangguan penglihatan.

Bagikan

Baca Juga

Overdosis dan Jatuh Jadi Cedera Termahal di Amerika Serikat
Asap Rokok di Rumah Dihirup Hampir Seperlima Remaja Arab Saudi
Rokok Biasa Masih Lebih Dicari di Google daripada Rokok Elektrik
Pemegang Asuransi Tambahan di Swiss Lebih Sering Operasi Perut
Biaya Stroke Hungaria Bisa Turun 99 Juta Euro Tanpa Kegemukan
Separuh Lebih Keluarga Suku di India Tanpa Jaminan Kesehatan