- Sebanyak 18,3 persen remaja Arab Saudi menghirup asap rokok orang lain di rumahnya sendiri.
- Siswa perempuan lebih banyak terpapar asap di rumah, 21,8 persen berbanding 14,9 persen siswa laki-laki.
- Rokok elektrik dipakai 5,8 persen remaja, melampaui shisha dan sigaret biasa.
- Remaja yang terpapar asap di rumah punya peluang merokok sigaret 1,78 kali dibanding yang tidak terpapar.
- Hubungan yang ditemukan harus dibaca sebagai hubungan, bukan sebab-akibat.
Daftar Isi
- Survei 2022 dan Angka 18,3 Persen
- Dari Gelombang 2010–2019 ke Angka yang Lebih Rendah
- Rokok Elektrik Mendahului Sigaret pada 2022
- Yang Ditemukan Aldarmasi di Rumah Berasap
- Temuan Madinah tentang Orang Tua, Diuji Lagi
- Catatan Aldarmasi soal Rokok Elektrik dan Kerabat Serumah
- Satu Mata Rantai Menuju Rumah Bebas Asap
Arab Saudi sudah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau milik Organisasi Kesehatan Dunia dan menjalankan program pengendalian tembakau nasional. Meski begitu, paparan asap rokok orang lain di dalam rumah masih bertahan dan anak remaja ikut menghirupnya. Survei-survei terkini di negeri itu mencatat 12 sampai 20 persen remaja tinggal serumah dengan orang yang merokok, dan sampai sekitar 40 persen mengaku terpapar asap di tempat umum.
Dari latar itulah Moroj A. Aldarmasi menulis artikel berjudul Secondhand smoke exposure at home and its association with tobacco use among adolescents in Saudi Arabia: findings from the 2022 global youth tobacco survey, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026 dalam versi yang belum melewati penyuntingan akhir. Aldarmasi adalah peneliti di Departemen Kedokteran Pencegahan dan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran King Abdulaziz University, Jeddah. Ia membaca ulang jawaban 6.983 siswa berusia 11 sampai 17 tahun dari sekolah menengah pertama negeri di semua wilayah administratif Arab Saudi.
Survei 2022 dan Angka 18,3 Persen
Pertanyaan yang diajukan kepada para siswa itu sederhana: dalam tujuh hari terakhir, berapa hari ada orang yang merokok di dalam rumahmu, di dekatmu. Siapa pun yang menjawab satu hari atau lebih dihitung terpapar. Hasilnya, 18,3 persen remaja Arab Saudi menghirup asap rokok orang lain di rumahnya sendiri, atau hampir satu dari lima anak.
Di luar rumah angkanya lebih tinggi. Paparan di tempat umum tertutup dilaporkan 27,0 persen remaja, dan di tempat umum terbuka 28,1 persen. Ada pula 22,0 persen siswa yang mengaku terpapar asap rokok di lingkungan sekolah dalam 30 hari terakhir.
Siswa yang menjawab survei itu terbagi hampir sama rata, 51,0 persen laki-laki dan 49,0 persen perempuan, dan sebagian besar berusia 13 sampai 15 tahun. Soal uang saku mingguan, 35,4 persen menerima kurang dari 30 riyal Saudi, sedangkan 23,0 persen tidak punya uang saku sama sekali. Uang saku itu kelak ikut diperhitungkan ketika Aldarmasi menimbang kaitan asap di rumah dengan kebiasaan memakai tembakau.
Dari Gelombang 2010–2019 ke Angka yang Lebih Rendah
Angka 18,3 persen itu tidak berdiri sendiri. Aldarmasi menyandingkannya dengan gelombang survei serupa yang digelar antara 2010 dan 2019 di Arab Saudi dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk, ketika paparan asap rokok pada remaja berkisar 25 sampai 40 persen. Bukti dari kawasan Teluk yang ia kutip pun menyebut kira-kira satu dari empat sampai satu dari tiga remaja terpapar di rumah.
Dibanding rentang lama itu, temuan 2022 sedikit lebih rendah. Aldarmasi menulis bahwa selisih ini mungkin mencerminkan penurunan bertahap yang berkaitan dengan upaya pengendalian tembakau di kawasan, penerapan undang-undang bebas asap rokok secara perlahan, dan membaiknya kesadaran atas larangan merokok di dalam ruangan.
Aldarmasi juga mencatat sisi lainnya. Bertahannya paparan di rumah, tulisnya, memberi kesan bahwa kebijakan bebas asap rokok di ruang publik mungkin tidak sepenuhnya menjangkau ruang pribadi. Pola semacam itu sudah tercatat di kawasan Dewan Kerja Sama Teluk, juga di Yordania dan negara-negara Arab lain. “Hampir satu dari lima remaja Saudi terpapar asap rokok orang lain di rumah,” tulis Moroj A. Aldarmasi, peneliti kedokteran pencegahan King Abdulaziz University, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Rokok Elektrik Mendahului Sigaret pada 2022
Survei yang sama memotret apa yang dipakai remaja itu sendiri. Sebanyak 13,7 persen pernah mencoba sigaret, dan 16,2 persen pernah mencoba salah satu produk tembakau atau nikotin. Dalam 30 hari terakhir, 10,8 persen memakai setidaknya satu produk, artinya kira-kira satu dari sepuluh siswa sekolah menengah pertama.
Urutan produknya dicatat Aldarmasi dengan jelas. Rokok elektrik dipakai 5,8 persen remaja, melampaui shisha dan sigaret biasa yang masing-masing 3,1 persen. Produk tembakau yang dipanaskan dipakai 1,7 persen siswa, terlalu sedikit untuk dihitung lebih jauh sehingga produk ini ditinggalkan dari perhitungan lanjutan.
Pengetahuan mereka tentang bahaya asap berada di tengah-tengah. Hanya 49,1 persen yang yakin asap sigaret orang lain pasti berbahaya, dan 48,3 persen berpendapat sama tentang asap shisha. Dukungan pada larangan justru jauh lebih tinggi: 83,0 persen setuju tempat umum tertutup bebas asap rokok, dan 74,9 persen setuju hal yang sama untuk tempat umum terbuka.
Yang Ditemukan Aldarmasi di Rumah Berasap
Inti naskah ini ada pada perbandingan dua kelompok anak: yang rumahnya berasap dan yang tidak. Di antara remaja yang terpapar, 4,5 persen sedang merokok sigaret, sedangkan pada yang tidak terpapar angkanya 2,2 persen. Untuk shisha perbandingannya 5,7 persen dan 2,8 persen, dan untuk rokok elektrik 7,3 persen dan 3,6 persen.
Bila semua produk digabung, 13,8 persen remaja dari rumah berasap sedang memakai tembakau atau nikotin, berbanding 8,4 persen pada remaja yang rumahnya bersih dari asap. Aldarmasi mencatat pemakaian yang konsisten lebih tinggi pada kelompok terpapar untuk setiap produk. Selisih itu tidak hilang ketika Aldarmasi memperhitungkan usia, jenis kelamin, uang saku, orang tua yang merokok, dan teman yang merokok.
Setelah semua faktor itu ditimbang, remaja yang terpapar asap di rumah punya peluang (odds) merokok sigaret 1,78 kali dibanding yang tidak terpapar. Peluang memakai rokok elektrik 1,74 kali, mengisap shisha 1,69 kali, dan memakai produk apa pun 1,66 kali. Aldarmasi merangkumnya sebagai peluang yang sekitar 70 sampai 80 persen lebih tinggi, dan hubungan itu muncul baik pada produk lama maupun produk baru.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Temuan Madinah tentang Orang Tua, Diuji Lagi
Sebelum naskah ini, penelitian di Madinah dan tempat lain di Arab Saudi sudah menunjukkan kaitan kuat antara orang tua yang merokok dan perilaku merokok anak remajanya. Aldarmasi menyebut yang masih jarang dikerjakan di Jazirah Arab adalah menghitung paparan di rumah sekaligus kaitannya dengan sigaret, shisha, dan rokok elektrik dalam satu data yang mewakili seluruh negeri. Celah itulah yang ia isi.
Data 2022 menguatkan arah temuan lama itu. Remaja yang ayahnya merokok punya peluang terpapar asap di rumah 1,83 kali, dan yang ibunya merokok 2,44 kali. Teman pun ikut terbaca: punya teman perokok berkaitan dengan peluang terpapar 1,71 kali, yang oleh Aldarmasi dibaca sebagai tanda bahwa pengaruh keluarga dan pengaruh teman sebaya saling berjalin.
Perbedaan paling jelas ada pada jenis kelamin. Sebanyak 21,8 persen siswa perempuan terpapar asap di rumah, sedangkan pada siswa laki-laki 14,9 persen, dan peluang remaja laki-laki terpapar hanya 0,60 kali peluang remaja perempuan. Usia tidak berkaitan secara bermakna. Aldarmasi menduga pola itu mencerminkan keadaan ketika perempuan dan anak perempuan lebih lama berada di dalam rumah, sementara kebiasaan merokok laki-laki masih diterima secara sosial.
Catatan Aldarmasi soal Rokok Elektrik dan Kerabat Serumah
Di titik ini Aldarmasi memberi catatan atas angkanya sendiri. Pertanyaan survei hanya mengukur asap dari tembakau yang dibakar, bukan aerosol rokok elektrik. Maka kaitan antara rumah berasap dan pemakaian rokok elektrik, tulisnya, mungkin mencerminkan norma bersama di dalam rumah, peniruan perilaku, atau anggapan bahwa produk nikotin itu hal biasa, bukan paparan langsung terhadap aerosol.
Koreksi kedua menyangkut siapa yang merokok. Pertanyaan tentang asap di rumah mencakup siapa saja, tetapi survei hanya menanyakan status merokok ayah dan ibu. Dalam keluarga multigenerasi yang lazim di kawasan itu, asap bisa datang dari kerabat lain. Karena itu ia meminta data orang tua dibaca sebagai petunjuk sebagian saja tentang lingkungan merokok di rumah, bukan sebagai sumber pasti paparan.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Naskah ini memotret satu waktu saja, sehingga tidak bisa menetapkan mana yang lebih dulu: asap di rumah atau kebiasaan remaja memakai tembakau. Aldarmasi menulis terang bahwa hubungan yang ia temukan harus dibaca sebagai hubungan, bukan sebab-akibat, dan bahwa penelitian yang mengikuti remaja dari waktu ke waktu dibutuhkan untuk memperjelas arahnya.
Ada batas lain. Paparan asap dilaporkan sendiri oleh siswa, sehingga bisa terpengaruh ingatan yang keliru. Survei juga tidak mencatat kebiasaan membuka ventilasi rumah maupun ada tidaknya larangan merokok di dalam rumah. Tembakau yang dipakai anggota rumah selain orang tua tidak ditanyakan, sehingga sebagian sumber paparan tidak terukur. Kekuatannya, menurut Aldarmasi, terletak pada data besar yang mewakili seluruh negeri dan cara survei yang seragam antarnegara.
Satu Mata Rantai Menuju Rumah Bebas Asap
Dari temuan itu Aldarmasi menarik usulan yang arahnya ke dalam rumah. Upaya bebas asap rokok, tulisnya, perlu diperluas ke ruang pribadi lewat program berbasis keluarga yang peka budaya, dengan orang tua sebagai pelaku utama perubahan. Ia juga menyebut pusat kesehatan masyarakat dan program kesehatan sekolah sebagai tempat strategis untuk penyadaran dan dukungan berhenti merokok bagi orang tua.
Usulan itu ia letakkan di dalam Saudi Vision 2030, dengan catatan bahwa memasukkan pencegahan tembakau dan pendidikan rumah bebas asap ke sasaran kesehatan nasional dapat ikut menurunkan paparan dan pemakaian nikotin pada remaja. Naskah ini sendiri, tulisnya, menyediakan bukti penting yang mewakili seluruh negeri tentang paparan asap rokok pada remaja.
Rantai itu kini bertambah satu mata. Gelombang survei 2010 sampai 2019 mencatat paparan 25 sampai 40 persen, penelitian di Madinah menunjuk peran orang tua, dan survei 2022 menambahkan bahwa hampir satu dari lima remaja Arab Saudi masih menghirup asap rokok di rumah. Aldarmasi menutup naskahnya dengan menyebut paparan itu tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang berarti bagi remaja di negerinya.














