- Gempa Gorkha 2015 merenggut 473.280 tahun hidup warga Nepal.
- Warga di bawah 20 tahun menyumbang sekitar 55 persen seluruh tahun hidup yang hilang.
- Pada semua kelompok, jumlah maupun laju tahun hidup hilang perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
- Pada perempuan Nepal 2015, gempa menjadi penyebab tahun hidup hilang nomor satu.
- Rasuwa mencatat laju tertinggi, 82.704 tahun hidup hilang per 100.000 penduduk.
Daftar Isi
Gempa Gorkha 2015 merenggut 473.280 tahun hidup warga Nepal. Angka itu lahir dari 8.951 kematian yang tercatat di 41 distrik Nepal. Rata-rata, tiap korban kehilangan sekitar 53 tahun hidup, setara 2.685 tahun per 100.000 penduduk.
Hitungan ini ditulis Margo Tonnelier, Damien Delforge, Manisha Panta Bhandari, Brecht Devleesschauwer, Juanita A. Haagsma, Grant MA Wyper, Emilie Castin, Niko Speybroeck, dan Periklis Charalampous dalam artikel Years of Life Lost due to the 2015 Gorkha earthquake in Nepal. Artikel itu dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulis bernaung di Institute of Health and Society, Université catholique de Louvain, Belgia.
Ukuran yang dipakai adalah Years of Life Lost atau YLL, tahun hidup yang hilang. Ukuran ini menghitung kematian sekaligus usia saat kematian terjadi. Kematian di usia muda menyumbang lebih banyak tahun hilang daripada kematian di usia tua.
Angkanya diperoleh dari jumlah kematian tiap kelompok umur dikali sisa harapan hidup pada umur itu, menurut tabel hidup rujukan Global Burden of Disease 2021. Menurut naskah, beban YLL gempa ini belum pernah dihitung secara sistematis.
Naskah juga mencatat celah lain. Studi Global Burden of Disease 2021 tidak melaporkan beban tiap bencana alam secara terpisah. Gempa, banjir, dan longsor dilebur dalam satu kategori paparan kekuatan alam, sehingga dampak satu bencana sulit dibandingkan dengan bencana lain.
Korban Gempa
Gempa bermagnitudo 7,8 itu mengguncang dekat Desa Barpak, Distrik Gorkha, pada 25 April 2015. Susulan terkuat, bermagnitudo 7,3, melanda Distrik Dolakha pada 12 Mei 2015. Naskah mencatat sekitar 22.000 orang terluka dan sekitar 2 juta orang mengungsi.
Kematian yang dihitung adalah yang tercatat antara 25 April dan 5 Juni 2015. Totalnya 8.951 jiwa, dan 5.024 di antaranya perempuan atau 56 persen. Satu korban di Kathmandu tercatat tanpa keterangan jenis kelamin, sehingga tidak masuk hitungan per jenis kelamin.
Sindhupalchok paling berat, dengan 3.573 kematian atau 40 persen dari total. Berikutnya Distrik Kathmandu dengan 1.236 kematian, Nuwakot 1.112, dan Rasuwa 681. Keempat distrik ini bersama-sama menyumbang 74 persen seluruh korban gempa.
Kematian terbanyak justru ada pada kelompok balita, pada perempuan maupun laki-laki. Balita perempuan yang meninggal 728 orang, balita laki-laki 556 orang. Kelompok 95 tahun ke atas mencatat kematian paling sedikit, 19 perempuan dan 16 laki-laki.
Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Perempuan Lebih Berat
Perempuan kehilangan 265.452 tahun hidup, atau 56 persen dari total. Laki-laki kehilangan 207.827 tahun, atau 44 persen. Dalam laju, perempuan mencatat 2.998 tahun per 100.000 penduduk, sedangkan laki-laki 2.365 tahun.
Pola itu konsisten di setiap kelompok umur. Pada semua kelompok, jumlah maupun laju tahun hidup hilang perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Selisih laju terlebar tampak pada kelompok balita, 8.904 berbanding 6.057 per 100.000 penduduk.
Penulis menduga faktor budaya, sosial, dan ekonomi ikut berperan. Di Nepal, perempuan banyak memegang peran pengasuh utama dan lebih sering berada di rumah bersama anak kecil. Banyak laki-laki muda juga pergi merantau untuk bekerja.
Waktu gempa ikut dibahas. Gempa pertama jatuh pada hari libur, Sabtu 25 April 2015, ketika banyak laki-laki kemungkinan berada di rumah. Susulan besar datang pada hari kerja, Selasa 12 Mei 2015, saat perempuan lebih banyak di rumah.
Semua itu dugaan penulis, bukan hasil hitungan. Data kematian yang dipakai tidak memuat di mana tiap korban berada saat gempa. Kaitan peran pengasuh dengan tingginya kematian perempuan belum diuji langsung dalam studi ini.
Anak dan Lansia
Warga di bawah 20 tahun menyumbang sekitar 55 persen seluruh tahun hidup yang hilang. Angka ini besar karena sisa harapan hidup mereka panjang. Satu kematian anak menghapus jauh lebih banyak tahun daripada satu kematian orang tua.
Jumlah tahun hilang turun seiring bertambahnya usia korban. Namun lajunya per 100.000 penduduk naik terus dari kelompok 45–49 tahun sampai 80–84 tahun. Kelompok 80–84 menjadi tertinggi kedua setelah balita, 7.097 pada perempuan dan 5.423 pada laki-laki.
Penulis menyebut balita dan lansia rentan saat gempa. Anak kecil tubuhnya masih berkembang dan geraknya terbatas, sehingga lebih rentan terhadap trauma. Lansia menanggung banyak penyakit sekaligus, dan medan pegunungan Nepal menyulitkan akses layanan kesehatan tepat waktu.
Dekat Episentrum
Rasuwa mencatat laju tertinggi, 82.704 tahun hidup hilang per 100.000 penduduk. Perempuan di sana kehilangan 93.446 per 100.000, laki-laki 72.488. Sindhupalchok menyusul dengan laju 77.997, terdiri atas perempuan 89.726 dan laki-laki 66.043 per 100.000.
Dalam angka absolut, Sindhupalchok paling besar dengan 189.823 tahun hidup hilang. Kathmandu mencatat 68.887 tahun dan Nuwakot 60.604 tahun. Laju terendah ada di Siraha, 3 per 100.000, dan Jhapa, 6 per 100.000, dua distrik dengan korban sangat sedikit.
Penulis menyebut kedekatan dengan episentrum sebagai penggerak utama kesenjangan ini. Faktor lain ikut disebut, yaitu pengurangan risiko bencana, tata kelola lokal, ketahanan infrastruktur, urbanisasi tak terencana, dan kemiskinan. Di dekat episentrum, banyak rumah nonrekayasa runtuh dan aturan bangunan lemah ditegakkan.
Rasio laju laki-laki terhadap perempuan dihitung di 24 distrik yang punya korban dari kedua jenis kelamin. Rasio terendah ada di Parsa, 0,15. Rasio tertinggi di Solukhumbu, 6,14, artinya laju laki-laki enam kali lipat laju perempuan.
Delapan distrik mencatat rasio mendekati atau di atas 1, tanda laju laki-laki lebih tinggi. Tiga di antaranya, Dolakha, Gorkha, dan Lamjung, dekat episentrum dan wilayah susulan. Lima belas distrik mencatat rasio di bawah 1, dan hanya Sindhupalchok yang dekat episentrum.
Tidak semua rasio itu bermakna secara statistik, sehingga perlu dibaca hati-hati. Gorkha, Mahottari, dan Morang tidak bermakna di kelompok pertama yang lajunya condong ke laki-laki. Kaski, Kathmandu, Makwanpur, dan Sarlahi tidak bermakna di kelompok kedua.
Baca juga Perempuan Dominasi Rawat Inap Korban Kapal Karam di Gambia
Lima Besar Penyebab
Pada perempuan Nepal 2015, gempa menjadi penyebab tahun hidup hilang nomor satu. Angka 265.452 itu melampaui infeksi saluran napas bawah dengan 247.587 tahun. Penyakit paru obstruktif kronis mencatat 192.531 tahun, juga di bawah gempa.
Ensefalopati neonatal mencatat 152.251 tahun pada perempuan Nepal tahun itu. Kelahiran prematur pada perempuan mencatat 144.854 tahun hidup hilang. Keduanya berada jauh di bawah beban gempa yang mencapai 265.452 tahun.
Pada laki-laki, gempa berada di urutan keempat. Angkanya 207.827 tahun, di bawah penyakit jantung iskemik 286.720, ensefalopati neonatal 229.202, dan infeksi saluran napas bawah 225.838. Gempa tetap melampaui penyakit paru obstruktif kronis yang mencatat 189.598 tahun.
Angka pembanding untuk penyakit-penyakit itu diambil penulis dari data Global Burden of Disease. Ringkasan naskah merangkumnya dengan menyebut gempa ini masuk lima besar penyebab tahun hidup hilang di seluruh Nepal pada 2015.
“Anak-anak dan perempuan teridentifikasi sebagai kelompok prioritas yang membutuhkan intervensi pengurangan risiko bencana yang terarah,” tulis Margo Tonnelier dan rekan-rekannya dari UCLouvain dalam naskah berbahasa Inggris itu. Naskah menyebut UN Women’s Disaster Risk Reduction Program, Women for Resilience, dan MANTRA sebagai contoh upaya yang ada.
Soal Tabel Hidup
Hasil berubah cukup besar bila tabel hidupnya diganti. Dengan tabel hidup nasional Nepal 2019, total tahun hilang turun menjadi 360.120, berkurang 113.160 tahun. Laju laki-laki 27 persen lebih rendah, laju perempuan 21 persen lebih rendah.
Bedanya berasal dari sifat kedua tabel. Tabel Global Burden of Disease mencerminkan harapan hidup aspiratif, dibangun dari angka kematian terendah yang pernah teramati. Tabel Nepal mencerminkan risiko kematian nyata di negara itu, termasuk beda laki-laki dan perempuan.
Distrik dengan sedikit korban paling terguncang oleh pergantian tabel. Di Solukhumbu, dengan 22 kematian, rasio laki-laki terhadap perempuan bergeser dari 6,14 ke 5,65. Di Sindhupalchok, dengan 3.573 kematian, rasionya hanya bergeser dari 0,74 ke 0,69.
Penulis tetap merekomendasikan tabel Global Burden of Disease untuk hitungan berikutnya. Alasannya, tabel itu memungkinkan perbandingan antarnegara dan mencerminkan standar kematian aspiratif. Pilihan yang seragam juga mengurangi tafsir yang tidak konsisten.
Batas Hitungan
Studi ini hanya menghitung kematian. Cedera dan komplikasi akibat gempa, termasuk yang muncul karena sulitnya menjangkau layanan, tidak masuk, sehingga beban kesehatan penuhnya belum terukur. Tanpa data itu, ukuran gabungan kematian dan disabilitas tidak bisa dihitung.
Sebaran umur korban juga hasil perkiraan model, bukan catatan langsung. Data kematian hanya memuat kelompok umur yang lebar. Jumlah penduduk 2015 pun diperkirakan dari sensus 2021, yang mungkin tidak menangkap perubahan setelah gempa.
Di distrik dengan korban sangat sedikit, penulis meminta hasilnya dibaca hati-hati. Umur satu atau dua korban bisa sangat memengaruhi angka distrik itu. Rasio 6,14 di Solukhumbu, misalnya, berasal dari 22 kematian saja.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Catatan Naskah
Bagian pembahasan menulis perempuan mencatat laju 8.904 per 100.000 dan laki-laki 6.057, seolah itu angka keseluruhan. Di bagian hasil, angka itu milik balita. Laju keseluruhan sebenarnya 2.998 untuk perempuan dan 2.365 untuk laki-laki.
Rasio laki-laki terhadap perempuan disebut dihitung di 24 distrik pada bagian hasil naskah. Namun delapan distrik ditambah lima belas distrik hanya 23, dengan persentase 33 ditambah 63 atau 96 persen. Satu distrik tidak terjelaskan di mana letaknya dalam pembagian itu.
Sumber kematian disebut Laporan Kepolisian Nepal 2017 dengan rujukan nomor 27. Di daftar pustaka, nomor 27 justru publikasi UNDP tahun 2015 berbahasa Nepal tentang pelajaran dari respons gempa, bukan laporan kepolisian.
Hitungan ini menunjukkan siapa yang paling banyak kehilangan tahun hidup dalam gempa Gorkha 2015. Siapa yang menanggung cedera dan disabilitas sesudahnya belum tercatat dalam angka ini.














