- Perayaan itu ditandai pemotongan babi secara massal dan biasanya digelar empat sampai lima tahun sekali.
- Jalan seorang anak menuju Ap Waya dibuka oleh prosesi awal bernama Ap Engkabit.
- Bila satu atau dua orang belum tiba, seluruh rombongan harus menunggu sampai lengkap.
- Sebagian pengetahuan dianggap rahasia adat dan hanya diwariskan kepada anak laki-laki tertentu yang dinilai mampu menjaga kepercayaan dan amanah leluhur.
Daftar Isi
- Satu pesta babi menampung dua upacara sekaligus
- Kesiapan diukur dari kebun, rumah, dan babi
- Pendaftaran hanya boleh digelar satu sub suku
- Empat sampai lima bulan belajar di honai kecil
- Mengapa penjemputan harus berlangsung dalam gelap
- Yang diajarkan kepada semua dan yang hanya untuk anak terpilih
- Di titik mana penjelasan naskah ini berhenti
Upacara pendewasaan anak laki-laki suku Hubula di Lembah Baliem tidak dibuka oleh anak laki-laki. Ia baru dimulai sesudah para mempelai perempuan dinikahkan, dan pada tahap awal pernikahan itu mempelai laki-lakinya justru tidak hadir. Para calon peserta sendiri dijemput ketika hari masih gelap, lalu berjalan sambil bernyanyi dan dilarang berpapasan dengan siapa pun di luar rombongan.
Urutan yang tampak terbalik itu dicatat Jhon A. Walela, Mikaus Gombo, dan Yohanes Tabuni dari Universitas Baliem Papua. Tulisan mereka, Pelaksanaan Ritual Ap Waya sebagai Tradisi Pendewasaan Anak pada Suku Hubula di Papua: Manajemen Pendidikan Nonformal Berbasis Kearifan Lokal, terbit di jurnal JMPIS volume 6 nomor 5 tahun 2025. Ketiganya membaca upacara bernama Ap Waya itu sebagai pendidikan yang berlangsung di luar sekolah.
Orang Hubula, yang juga disebut Huwula atau akhuni Palim meke, mendiami Lembah Baliem dan pegunungan di bagian tengah Papua. Sebagian besar tinggal di Kabupaten Jayawijaya dan daerah pemekarannya, dari Puncak Jaya, Yahukimo, dan Tolikara sampai Nduga, Lanny Jaya, dan Yalimo. Naskah itu menyebut mereka kerap dinamai suku Dani, hidup berkelompok, dan berumah di honai yang dibangun dari kayu dan jerami.
Satu pesta babi menampung dua upacara sekaligus
Ap Waya tidak pernah berdiri sendiri, dan dari situlah urutan ganjil tadi mulai bisa dipahami. Ia menjadi bagian dari upacara yang lebih besar bernama Wam Awok, yang sering disebut pesta babi. Perayaan itu ditandai pemotongan babi secara massal dan biasanya digelar empat sampai lima tahun sekali. Tujuan utamanya menyelesaikan berbagai persoalan atau beban yang menumpuk dalam kehidupan sosial dan budaya di honai adat.
Di dalam pesta itulah dua urusan diselesaikan bersama. Yang pertama pendewasaan anak laki-laki berusia lima sampai delapan belas tahun, yang kedua pernikahan bagi anak-anak perempuan. Keduanya tidak dicampur dalam satu tempat, sebab para perempuan menikah secara terpisah di honai adat milik sub suku masing-masing. Tidak semua anak laki-laki boleh ikut pula, karena hanya mereka yang berasal dari suku-suku tertentu yang diizinkan menjalaninya.
Karena itu, kepala suku memegang peran penting jauh sebelum hari upacara. Ia mengundang orang-orang terdekat yang punya kedudukan dalam struktur honai adat untuk duduk bersama dan merencanakan seluruh tahapan. Pertemuan itu sekaligus dipakai untuk menilai perkembangan anak-anak yang akan diikutkan. Anak perempuan disiapkan untuk pernikahan, sedangkan anak laki-laki disiapkan untuk menjalani pendewasaan.
Pernikahan lalu berjalan lebih dulu, dan perayaannya digelar di rumah mempelai perempuan. Malam harinya diadakan acara dansa di setiap honai milik keluarga mempelai perempuan. Beberapa hari kemudian, keluarga laki-laki datang menjemput sang mempelai dengan sebuah tarian yang menggambarkan kegembiraan menyambut anggota keluarga baru. Para penulis mencatat penjemputan itu sebagai bagian dari persiapan besar menuju Ap Waya, yang baru dimulai sesudah seluruh prosesi pernikahan selesai.
Kesiapan diukur dari kebun, rumah, dan babi
Persoalannya, apa yang membuat seseorang dianggap siap. Dalam budaya pernikahan masyarakat Hubula, jawabannya bukan usia semata, melainkan sejauh mana seseorang mampu menjalankan tanggung jawab berumah tangga secara mandiri. Seorang laki-laki harus mampu membuka kebun, membangun rumah sendiri, dan memiliki babi serta hasil kebun yang cukup untuk membiayai seluruh rangkaian adat pernikahan. Ia juga harus mendapat restu orang tua dan kerabat, sebab yang dipertemukan adalah dua keluarga besar.
Ukuran bagi perempuan disusun dengan cara yang sama, hanya isinya berbeda. Ia dinilai siap bila mampu mengurus rumah tangga, menggali dan mengolah petatas atau ubi jalar yang menjadi makanan pokok, serta merawat kebun. Ia juga harus memelihara babi, hewan yang oleh naskah itu disebut bernilai ekonomi dan simbolik tinggi. Satu syarat lagi menyangkut tangan: perempuan harus pandai menganyam noken, tas tradisional Papua.
Daftar itu bertumpu pada pembagian kerja yang jelas. Laki-laki ditempatkan di pusat urusan publik, termasuk adat dan perang, sehingga dibesarkan dengan beban bertempur, memimpin ritual, dan menjaga nilai adat. Perempuan diserahi perawatan, ketahanan pangan, dan pengelolaan hidup sehari-hari. Para penulis mengakui pembagian ini terlihat timpang dalam cara pandang modern, tetapi mencatat bahwa adat memaknainya sebagai sistem yang saling melengkapi dan menjaga keseimbangan hidup masyarakat Hubula.
Baca juga Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan
Pendaftaran hanya boleh digelar satu sub suku
Jalan seorang anak menuju Ap Waya dibuka oleh prosesi awal bernama Ap Engkabit. Prosesi ini menandai pendaftaran resmi para calon peserta, yaitu anak-anak laki-laki yang mewakili berbagai sub suku dalam satu wilayah adat. Semua calon wajib hadir. Kehadiran itu dihitung sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengesahan keikutsertaan mereka, sehingga tidak ada yang bisa masuk ke tahap berikutnya tanpa melewati pintu ini.
Yang membuatnya rumit, Ap Engkabit tidak boleh diselenggarakan sembarang kelompok. Panitianya berasal dari satu sub suku tertentu, penunjukannya turun-temurun, dan tugas itu tidak bisa diwakilkan kepada sub suku lain. Naskah memberi satu contoh: di wilayah adat Wosiala, yang berhak menjadi panitia adalah sub suku Walela. Panitia inilah yang menyiapkan seluruh kebutuhan prosesi, termasuk bahan-bahan upacara yang memiliki makna simbolis dan spiritual.
Empat sampai lima bulan belajar di honai kecil
Begitu Ap Engkabit selesai, semua peserta dinyatakan sah sebagai calon peserta dan pulang ke honai sub suku masing-masing. Masa sesudahnya panjang, sekitar empat sampai lima bulan, karena banyak yang harus disiapkan. Pekerjaan pertama adalah mendirikan honai kecil di belakang atau di samping Ewe Ai, honai utama. Bangunan itu dikhususkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi, ruang belajar bersama tempat para peserta saling berbagi kabar dan menyusun rencana.
Sisanya dikerjakan dengan tangan. Para peserta membuat koteka yang disesuaikan dengan ukuran tubuh masing-masing, dari kecil, sedang, sampai besar. Mereka menganyam noken-noken kecil untuk membawa makanan seperti potongan lemak babi dan umbi keladi, lalu membuat anak panah dan perlengkapan lain. Dengan cara itu persiapan bekerja ganda, karena menurut para penulis kegiatan tersebut juga menjadi latihan mental dan latihan keterampilan bertahan hidup.
Mengapa penjemputan harus berlangsung dalam gelap
Setelah persiapan selesai, para calon peserta tidak berangkat sendiri. Mereka dijemput para senior, yaitu mantan peserta Ap Waya yang sudah dianggap dewasa secara adat dan kini bertanggung jawab membimbing generasi berikutnya. Waktunya ditentukan dengan ketat. “Penjemputan tidak boleh dilakukan pada siang hari, melainkan harus dilangsungkan saat suasana masih gelap, yakni antara pukul tiga hingga enam pagi,” tulis Walela, Gombo, dan Tabuni dalam naskah mereka.
Alasannya terletak pada suasana. Hening dan sejuk pada jam-jam itu dipercaya memberi nuansa sakral yang sesuai dengan makna Ap Waya. Para senior pun tidak datang dengan tangan kosong. Mereka mengenakan perlengkapan budaya Hubula secara lengkap, serta membawa tombak yang disebut sege dan panah. Senjata itu dicatat sebagai simbol kesiapan menjaga nilai adat, sekaligus bagian dari pelatihan kepemimpinan dan kesiapsiagaan bagi para calon peserta.
Penjemputan dilakukan langsung dari honai tiap sub suku, lalu rombongan berjalan bersama menuju lokasi utama. Sepanjang jalan mereka bernyanyi, dan nyanyian itu membentuk ikatan emosional dan spiritual di antara peserta. Satu aturan mengikat perjalanan ini: rombongan dilarang bertemu atau berpapasan dengan orang yang bukan peserta, terutama perempuan dan warga lain yang tidak terlibat. Larangan itu dimaksudkan menjaga kekhususan dan kesakralan ritual.
Sebelum memasuki area kegiatan utama, masih ada satu saringan. Setiap sub suku wajib menghitung pesertanya, dan tidak seorang pun boleh tertinggal. Bila satu atau dua orang belum tiba, seluruh rombongan harus menunggu sampai lengkap. Para penulis membaca kedisiplinan dan ketelitian pada tahap ini sebagai tanda betapa seriusnya ritual adat dijalankan sebagai bagian dari sistem sosial dan pendidikan budaya.
Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan
Yang diajarkan kepada semua dan yang hanya untuk anak terpilih
Selama masa ritual, anak-anak laki-laki menerima bekal hidup sebagai pria dewasa. Mereka belajar mengolah kebun, memakai alat kerja seperti kapak atau parang, serta berburu dan memanah babi. Keterampilan memanah juga dipakai saat menghadapi musuh, sehingga pelajaran itu mencakup perlindungan terhadap komunitas. “Proses ini menjadi semacam sekolah kehidupan yang berlangsung di tengah komunitas adat,” tulis ketiga peneliti, dengan para tetua, senior, dan tokoh adat sebagai pembimbingnya.
Namun tidak semua pelajaran dibuka untuk semua anak. Sebagian pengetahuan dianggap rahasia adat dan hanya diwariskan kepada anak laki-laki tertentu yang dinilai mampu menjaga kepercayaan dan amanah leluhur. Anak yang terpilih menunjukkan kedewasaan, kejujuran, dan keteguhan hati sejak dini, serta dipandang berpotensi menjadi penjaga adat dan pemimpin kelompok. Isinya mencakup mitos asal-usul benda sakral, makna simbolis setiap benda adat, dan nilai di balik praktik budaya tertentu.
Para penulis merumuskan lima tujuan dari seluruh rangkaian itu. Komunitas adat memberi pengakuan resmi atas kedewasaan seorang anak, dan rasa memiliki diperkuat karena keluarga inti, sub suku, hingga tokoh adat terlibat. Anak itu juga diperkenalkan ke dunia orang dewasa, sehingga berhak ikut musyawarah adat dan mengambil keputusan penting. Dua tujuan lainnya menyangkut watak, yakni mental yang tangguh menghadapi tekanan hidup serta disiplin untuk hidup teratur dan menghormati aturan adat.
Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera
Di titik mana penjelasan naskah ini berhenti
Uraian itu punya batas yang perlu disebut. Para penulis menyusunnya dari pengamatan dan bahan pustaka, tanpa narasumber bernama dan tanpa keterangan kapan atau di kampung mana pengamatan dilakukan. Sebagian keterangan, seperti jadwal pesta babi dan syarat menikah, diambil dari tulisan peneliti lain. Naskah juga berhenti di ambang upacara: pembaca tahu bagaimana anak-anak itu didaftarkan, disiapkan, dan dijemput, tetapi tidak mendapat rincian apa yang berlangsung di lokasi utama.
Ada pula beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Judul dan tujuan naskah menjanjikan pembahasan manajemen serta strategi masyarakat menjaga tradisi, tetapi bagian hasilnya tidak memuat uraian itu. Ringkasannya menyebut modernisasi mulai meminggirkan Ap Waya, padahal bagian hasil tidak menyajikan buktinya dan para penulis justru menyarankan soal itu sebagai bahan penelitian berikutnya. Nama Hubula dan Dani dipakai bergantian, dan suku mana saja yang anaknya boleh ikut tidak pernah disebutkan.
Dengan batas-batas itu, kejanggalan di awal tetap mendapat jawabannya. Pendewasaan anak laki-laki Hubula dibuka oleh pernikahan anak perempuan karena keduanya ditampung satu pesta yang sama dan direncanakan dalam satu pertemuan oleh kepala suku. Keduanya juga ditakar dengan ukuran serupa, yaitu kesanggupan memikul tanggung jawab. Anak laki-laki yang dijemput dalam gelap itu sedang disiapkan untuk kelak membuka kebun dan membangun rumahnya sendiri.















