- Seluruh peserta mengambil langkah 16,23 persen lebih sedikit selama pandemi dibanding setahun sebelumnya.
- Pada hari kerja peserta melangkah 23,9 persen lebih sedikit, sedangkan pada akhir pekan langkah bertambah 2,9 persen.
- Selama pandemi, perubahan yang paling tampak pada hari kerja adalah menyusutnya puncak langkah pagi.
- Kelompok yang berubah paling tajam adalah laki-laki muda, dengan penurunan langkah 24,06 persen.
- Langkah hanya wakil aktivitas fisik dan tidak menangkap bersepeda, berenang, atau latihan beban.
Daftar Isi
- Langkah yang berkurang seperenam tanpa ada yang melarang
- Hari kerja menyusut, akhir pekan hanya menambal sedikit
- Puncak pagi yang rata ketika perjalanan ke kantor hilang
- Mengapa jalan santai akhir pekan tidak menggantikannya
- Laki-laki muda kehilangan paling banyak
- Yang tidak tertangkap oleh hitungan langkah
- Kapan langkah hilang, bukan hanya berapa banyak
Bekerja dari rumah tidak melarang siapa pun berjalan kaki. Pintu tetap bisa dibuka, dan waktu yang biasanya habis di perjalanan justru kembali ke tangan pemiliknya. Anehnya, ketika orang Swedia dianjurkan bekerja dari rumah, ponsel mereka mencatat langkah yang lebih sedikit, dan langkah yang hilang itu tidak tersebar rata sepanjang hari. Ia lenyap terutama pada satu waktu, yaitu pagi.
Kejanggalan itu dipetakan Alexandra Weilenmann, Sebastian Andreasson, Vasiliki Mylonopoulou, dan Mattias Rost dari Department of Applied Information Technology, University of Gothenburg. Artikel mereka, Temporal patterns of everyday movement while working from home: a longitudinal study of step counts in Sweden during COVID-19, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1219 tahun 2026. Bahannya catatan langkah di ponsel 1.529 orang di Swedia, setahun sebelum dan setahun sesudah 16 Maret 2020, hari ketika otoritas nasional menganjurkan semua yang bisa bekerja dari rumah agar melakukannya.
Swedia menarik justru karena caranya berbeda. Ketika negara lain memberlakukan aturan yang membatasi gerak warganya, pemerintah Swedia hanya mengeluarkan anjuran untuk menjaga jarak dan bekerja dari rumah bila memungkinkan. Pendekatan lunak itu dikritik, tulis keempat peneliti, sehingga penting diperiksa apakah perilaku orang tetap berubah. Pertanyaan mereka sederhana: seberapa jauh sebuah anjuran, bukan larangan, mengubah jumlah langkah sehari-hari.
Langkah yang berkurang seperenam tanpa ada yang melarang
Jawabannya tegas. Seluruh peserta mengambil langkah 16,23 persen lebih sedikit selama pandemi dibanding setahun sebelumnya, kira-kira satu dari setiap enam langkah hilang. Penurunan itu terjadi di semua kelompok umur dan gender, hanya besarnya berbeda. Karena itu, para peneliti membaca angka tersebut sebagai tanda bahwa anjuran pemerintah memang diikuti, walaupun tidak ada satu pun pintu rumah yang dikunci dari luar.
Perbandingannya memperlihatkan seberapa besar perubahan itu. Sebuah studi berbasis ponsel sebelumnya atas pengguna di Swedia melaporkan penurunan langkah harian 6,9 persen. Weilenmann dan rekan-rekannya menemukan penurunan yang lebih besar dan lebih bertahan lama, yang menurut mereka kemungkinan mencerminkan perbedaan cara mengambil sampel, cakupan demografi, dan rentang pengamatan. Rentang setahun penuh di kedua sisi tanggal anjuran membuat perubahan sesaat bisa dibedakan dari perubahan yang menetap.
Musim tidak cukup untuk menjelaskannya. Pada tahun pandemi maupun tahun pembanding, naik-turun langkah sepanjang tahun serupa: lebih banyak langkah pada musim panas daripada musim dingin. Yang berbeda adalah tingginya, dan penurunan itu bertahan selama berbulan-bulan. Dari data mereka, tulis para peneliti, jumlah langkah harian tampak turun ketika jumlah kasus Covid-19 yang terkonfirmasi naik.
Hari kerja menyusut, akhir pekan hanya menambal sedikit
Persoalannya, kehilangan itu tidak dibagi rata dalam sepekan. Pada hari kerja, Senin sampai Jumat, peserta melangkah 23,9 persen lebih sedikit, hampir seperempat dari langkah mereka sebelumnya. Pada akhir pekan, langkah justru bertambah 2,9 persen. Dua angka itu berjalan ke arah berlawanan, dan selisih besarnya menunjukkan cara kerja perubahan ini: yang terpangkas adalah gerak yang menempel pada hari bekerja, bukan gerak pada hari libur.
Kelompok yang oleh peneliti digolongkan sebagai usia kerja memperlihatkan pola itu paling jelas. Mereka melangkah lebih sedikit pada hari kerja, tetapi lebih banyak pada akhir pekan dibanding sebelum pandemi, terutama pada hari Minggu, yang naik 12,2 persen. Seolah-olah tubuh menagih pada hari libur apa yang tidak didapatnya sepanjang pekan. Tagihan itu tidak pernah lunas, sebab kenaikan akhir pekan terlalu kecil untuk menutup turunnya hari kerja.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Dua kelompok lain bergerak berbeda. Peserta berusia 18 sampai 24 tahun, yang sebagian besar mahasiswa, dan peserta di atas 65 tahun, usia pensiun di Swedia, dianggap peneliti tidak bekerja. Gabungan keduanya mengalami penurunan langkah pada hari kerja dan juga pada akhir pekan. Tidak ada tambalan hari libur pada mereka; yang ada hanya penurunan paling kecil pada hari Minggu.
Puncak pagi yang rata ketika perjalanan ke kantor hilang
Di sinilah mekanismenya terlihat paling terang. Sebelum pandemi, hari kerja orang Swedia punya tiga puncak langkah: pagi, jam makan siang, dan sore. Puncak siang muncul karena banyak orang Swedia keluar untuk makan siang alih-alih makan di kantor. Selama pandemi, perubahan yang paling tampak adalah menyusutnya puncak pagi. Langkah pagi berkurang baik pada kelompok usia kerja maupun pada mereka yang dianggap tidak bekerja.
Puncak siang dan sore masih bertahan pada kelompok usia kerja, sementara pada kelompok yang dianggap tidak bekerja keduanya kurang terlihat. Bagi para peneliti, pola itu selaras dengan hilangnya rutinitas berangkat kerja. Sebuah tinjauan atas banyak studi yang mereka kutip menyimpulkan bekerja jarak jauh terutama mengurangi aktivitas fisik ringan. Temuan per jam dari Gothenburg menambahkan letaknya: sebagian besar pengurangan itu menumpuk pada jam berangkat kerja pagi hari.
Yang membuatnya rumit, langkah semacam itu tidak pernah diniatkan sebagai olahraga. Berjalan ke dan dari tempat kerja, berpindah dari satu rapat ke rapat lain, atau keluar mencari makan siang adalah gerak yang menempel pada rutinitas. Menurut para peneliti, gerak semacam itu menyumbang banyak pada tingkat aktivitas seseorang justru ketika ia tidak berbentuk latihan terencana. Begitu pekerjaan pindah ke rumah, gerak ringan itu ikut hilang tanpa terasa.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Mengapa jalan santai akhir pekan tidak menggantikannya
Riset di Amerika Serikat yang dirujuk naskah ini menunjukkan jalan kaki untuk rekreasi meningkat seiring pandemi berjalan. Data Swedia memperlihatkan sisi lain dari cerita yang sama. Kenaikan pada hari Minggu memang ada, tetapi tidak menutup hilangnya gerak hari kerja, dan pola itu bertahan sepanjang setahun pengamatan. Karena itu, para peneliti membacanya sebagai perubahan yang bersifat struktural, bukan gejala sementara.
Penjelasan mereka dirumuskan dalam satu kalimat. “Temuan kami menunjukkan bahwa gerak rutin yang tersebar dan tertanam dalam hari kerja tidak mudah digantikan oleh aktivitas pada waktu senggang,” tulis Alexandra Weilenmann, Sebastian Andreasson, Vasiliki Mylonopoulou, dan Mattias Rost dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dengan kata lain, langkah yang dulu datang sendiri bersama jadwal kerja tidak otomatis kembali hanya karena ada waktu luang pada hari libur.
Laki-laki muda kehilangan paling banyak
Penurunan itu juga tidak sama antara perempuan dan laki-laki. Langkah perempuan turun 18,37 persen, sedangkan laki-laki turun sedikit lebih kecil, 13,99 persen. Namun, bila dipecah lagi menurut umur, kelompok yang berubah paling tajam justru laki-laki muda, dengan penurunan 24,06 persen, hampir seperempat langkah mereka. Perubahan paling kecil terlihat pada perempuan di semua kelompok umur 55 tahun ke atas.
Naskah ini tidak menjelaskan mengapa laki-laki muda terkena paling keras atau mengapa perempuan yang lebih tua paling sedikit berubah. Para peneliti sengaja mengumpulkan sedikit saja keterangan tentang pekerjaan dan keadaan ekonomi peserta agar tidak membebani mereka. Akibatnya, perbedaan menurut jenis pekerjaan, penghasilan, jam kerja, atau pendidikan tidak dapat diperiksa. Di titik itulah penjelasan berhenti: polanya tercatat, sebabnya belum.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Yang tidak tertangkap oleh hitungan langkah
Batas penelitian ini ditulis sendiri oleh penyusunnya. Langkah hanya wakil dari aktivitas fisik. Ia tidak menangkap bersepeda, berenang, atau latihan beban, dan bergantung pada apakah ponsel dibawa. Karena itu, hasilnya dibaca sebagai perubahan pada kegiatan berjalan yang rutin, bukan pada seluruh aktivitas fisik. Penelitian ini juga tidak memeriksa akibat lanjutannya bagi kesehatan, seperti perubahan berat badan atau indikator klinis.
Pesertanya pun bukan cermin seluruh penduduk. Mereka datang dengan mengunduh sendiri aplikasi buatan para peneliti, sehingga kemungkinan lebih banyak orang yang peduli kesehatan dan akrab dengan teknologi. Sebanyak 848 peserta adalah perempuan dan 676 laki-laki. Status bekerja tidak ditanyakan satu per satu, melainkan ditebak dari kelompok umur. Tanggal mulai bekerja dari rumah juga disamakan untuk semua orang, sehingga peralihan yang terlambat atau kerja selang-seling tidak terbaca.
Ada pula hal kecil yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah. Ringkasan artikel menyebut peserta berusia 18 sampai 75 tahun, padahal tabel pesertanya memuat kelompok umur 75 sampai 84 tahun dan 85 sampai 94 tahun. Angka dalam tabel itu, bila dijumlahkan per kelompok umur, juga menghasilkan 792 perempuan dan 647 laki-laki, lebih sedikit daripada jumlah yang disebut di badan naskah.
Kapan langkah hilang, bukan hanya berapa banyak
Bagi para peneliti, pelajaran utamanya terletak pada waktu. “Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, hal ini menegaskan pentingnya memperhatikan kapan aktivitas hilang, bukan hanya seberapa banyak,” tulis mereka. Kerja dari rumah dan kerja campuran, menurut naskah itu, telah berubah dari tanggapan darurat menjadi ciri kehidupan kerja yang lebih menetap. Upaya menjaga aktivitas fisik karenanya lebih berguna bila diarahkan pada mengganti gerak rutin yang hilang, bukan sekadar mengandalkan olahraga sukarela.
Mereka menyebut beberapa jalan yang mungkin ditempuh: praktik di tempat kerja, lingkungan kota yang memungkinkan berjalan kaki sebentar-sebentar, dan alat digital yang memberi umpan balik tentang perubahan gerak sehari-hari. Aplikasi semacam yang mereka buat, tulis para peneliti, bisa membuat hilangnya gerak rutin menjadi terlihat oleh orang yang mengalaminya. Tanpa catatan itu, perubahan sekecil langkah pagi mudah luput dari perhatian.
Maka kejanggalan di awal menemukan jawabannya. Tidak ada yang melarang orang Swedia berjalan, dan mereka memang tidak berhenti berjalan pada hari Minggu. Yang hilang adalah alasan untuk melangkah pada pagi hari kerja, yakni perjalanan ke tempat bekerja yang selama ini tidak pernah dihitung sebagai olahraga. Ponsel 1.529 orang itu mencatat apa yang terjadi ketika alasan tersebut dicabut: puncak pagi merata, dan akhir pekan tidak sanggup mengembalikannya.















