- Sebanyak 109 dari 187 orang, atau 58 persen, pernah diusir sedikitnya sekali dari sebuah perkemahan selama tinggal di Denver.
- Masuk ke perkemahan publik, pengamat tidak menemukan satu pun pancuran mandi, tempat cuci tangan, atau layanan cuci pakaian.
- Jumlah sampah dan puing yang teramati di perkemahan publik hampir dua kali lipat TSC.
- Empat puluh tujuh orang kehilangan dokumen identitas, dan sejumlah yang sama terpisah dari keluarga atau komunitasnya.
Daftar Isi
Tenda-tenda itu berdiri kurang dari sepuluh kaki dari badan jalan. Begitulah letak ketujuh perkemahan tunawisma di ruang publik Denver, Colorado, yang didatangi satu tim kesehatan pada Oktober dan November 2023. Hanya tiga yang berdiri di atas perkerasan. Di enam dari tujuh lokasi, sedikitnya satu hunian sudah rusak, dan di enam lokasi pula ada tenda yang tampak nyaris roboh.
Catatan lapangan itu dimuat Caroline J. Waddell, Perri C. Callaway, Jessica P. Sherman, dan delapan rekan mereka dalam A comprehensive assessment of health hazards faced by people experiencing unsheltered homelessness in Denver, Colorado (October – November 2023), BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Para penulis berasal dari University of Florida, The Ohio State University, serta dinas kesehatan Colorado dan Denver. Kedua dinas itulah yang meminta bantuan Centers for Disease Control and Prevention.
Tim mereka berbicara dengan 187 orang yang tidur di luar ruangan. Sebanyak 128 orang, kira-kira dua dari tiga, tinggal di perkemahan publik. Sisanya, 59 orang, menempati Temporary Supported Communities atau TSC, yakni perkemahan yang direstui pemerintah dan menyediakan tempat makan, tidur, serta pendampingan. Usia rata-rata mereka 46 tahun. Lebih dari separuh, 53 persen, baru pertama kali hidup tanpa rumah.
Trotoar Denver
Kota ini sedang kewalahan ketika tim itu datang. Hitungan tunawisma Denver naik lebih dari 30 persen dalam setahun, menjadi hampir 6.900 orang pada 2023. Wali kota menyatakan keadaan darurat tunawisma dan perumahan pada Juli tahun itu. Naskah juga mencatat bahwa kira-kira sepertiga kota di Amerika Serikat sudah melarang orang berkemah di ruang publik.
Di lapangan, satu perkemahan publik rata-rata dihuni 36 orang, sedangkan satu TSC dihuni 44 orang. Tenda menjadi hunian paling umum di sembilan dari sepuluh lokasi. Bedanya ada pada letak. Ketiga TSC berjarak lebih dari sepuluh kaki dari jalan terdekat, semuanya beralas perkerasan, dan semuanya dikelilingi pagar. Di perkemahan publik, pengamat hanya menemukan barikade antara jalan dan trotoar di sedikitnya satu lokasi.
Jarak ke jalan bukan perkara sepele bagi Waddell dan rekan-rekannya. Mereka merujuk riset terdahulu yang menunjukkan kematian pejalan kaki secara tidak sebanding menimpa orang tanpa rumah. Barikade di antara tenda dan lalu lintas, tulis mereka, dapat menjadi pelindung sementara. Kata sementara itu penting, sebab hampir semua saran dalam naskah ini diberi sifat yang sama.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Keran dan pancuran
Masuk ke perkemahan publik, pengamat tidak menemukan satu pun pancuran mandi, tempat cuci tangan, atau layanan cuci pakaian. Toilet portabel hanya ada di dua dari tujuh lokasi. Keadaannya berbalik di TSC. Ketiganya punya pancuran, tempat cuci tangan, dan toilet portabel, sementara dua di antaranya menyediakan layanan cuci pakaian.
Jawaban para penghuni sejalan dengan yang terlihat. Penghuni TSC rata-rata mengatakan bisa memakai wastafel, toilet, pancuran, cucian, tempat sampah, dan wadah benda tajam hampir sepanjang waktu. Penghuni perkemahan publik menjawab hanya kadang-kadang. Ada satu selisih kecil antara mata dan mulut: wadah benda tajam hanya terlihat di satu TSC, tetapi 46 penghuni TSC, atau 78 persen, mengaku bisa mengaksesnya.
Para penulis menjelaskan mengapa keran dan toilet mereka hitung sebagai urusan kesehatan. Orang yang tinggal di luar umumnya tidak punya air dan sanitasi, sehingga sulit menjaga kebersihan dasar dan kadang terpaksa buang air di tempat terbuka. Keadaan itu, menurut riset yang mereka rujuk, berkaitan dengan penyakit diare dan penyakit yang menular lewat air pada kelompok ini.
Sampah, api, dan jarum bekas
Beberapa langkah dari tenda, yang terlihat adalah sampah. Jumlah sampah dan puing yang teramati di perkemahan publik hampir dua kali lipat TSC. Penghuninya pun lebih cemas pada sebelas dari dua belas jenis limbah yang ditanyakan. Dua yang paling menonjol adalah kotoran manusia dan jarum suntik bekas.
Lalu api. Pengamat menghitung korek, bekas api terbuka, kabel sambungan, kompor gas atau arang, tabung propana, dan alat pemanas. Per lokasi, sumber bahaya kebakaran semacam itu rata-rata lima kali lebih banyak di perkemahan publik. Benda yang terkait pemakaian zat, dari alat suntik sampai botol alkohol, jumlahnya lebih dari dua kali lipat.
Kecemasan penghuni mengikuti benda-benda itu. Selisih terbesar antara kedua tempat muncul pada luka bakar, kebakaran atau ledakan, radang dingin, kaki parit, dan luka sayat. Penulis mengingatkan bahwa infeksi kulit dan jaringan lunak lazim pada orang tanpa rumah. Infeksi itu bisa bermula dari cedera yang meninggalkan luka terbuka.
Soal cuaca, penghuni perkemahan publik lebih cemas terhadap hawa dingin dan suhu beku. Sepuluh bahaya cuaca lain tidak berbeda. Suhu beku dan salju mencemaskan orang di kedua tempat, lebih daripada cuaca lain. Hama juga tidak membedakan keduanya. Lalat dan lebah terlihat di perkemahan publik maupun TSC, sedangkan jejak hewan pengerat ditemukan di dua perkemahan publik.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Secara keseluruhan, 29 dari 73 bahaya yang ditanyakan, atau 40 persen, dinilai berbeda secara bermakna oleh kedua kelompok. Arahnya selalu sama: lebih mencemaskan di perkemahan publik. Penghuninya khawatir tidak bisa mendapat makanan dan tempat berteduh bila terjadi keadaan darurat. Mereka juga lebih cemas soal pencurian, makian dari sesama penghuni, urusan dengan polisi, dan pemindahan paksa.
Barang yang tak sempat diraih
Pemindahan paksa itulah yang paling sering muncul dalam cerita mereka. Sebanyak 109 dari 187 orang, atau 58 persen, pernah diusir sedikitnya sekali dari sebuah perkemahan selama tinggal di Denver. Nilai tengahnya empat kali. Rentangnya lebar sekali, dari satu sampai seratus kali. Di antara penghuni perkemahan publik nilai tengahnya lima kali, di antara penghuni TSC tiga kali.
Polisi hadir dalam banyak cerita itu. Dalam tiga bulan terakhir, 39 persen peserta berurusan dengan aparat, dan 45 persen dari mereka menyebut urusannya terkait pemindahan paksa. Di perkemahan publik, 56 dari 128 orang bertemu polisi, dan 31 di antaranya karena pemindahan. Di TSC, yang tidak terkena pembersihan, hanya dua dari 17 pertemuan dengan polisi yang berkaitan dengan hal itu.
Apa yang hilang bisa dihitung. Dari 109 orang yang pernah dipindahkan, 68 kehilangan barang untuk bertahan hidup, yang dalam daftar pertanyaan dicontohkan dengan selimut, perabot, dan tenda. Sebanyak 60 orang mengalami tekanan emosi. Empat puluh tujuh orang kehilangan dokumen identitas, dan sejumlah yang sama terpisah dari keluarga atau komunitasnya.
Naskah menyalin ucapan beberapa peserta tanpa menyebut nama mereka, semuanya dalam bahasa Inggris. Seorang peserta meringkasnya begini: “Apa pun yang tidak sempat kamu raih, hilang.” Peserta lain bercerita harus mendorong barang-barangnya ke seluruh Denver, padahal ia membutuhkan operasi penggantian panggul dan sulit berjalan.
Satu ucapan lain lebih panjang dan lebih getir. “Ini rumah kami, kami di sini bukan untuk bersenang-senang, di sinilah kami tinggal. Mereka membuang barang kami dan itu traumatis,” kata seorang peserta. Ia menambahkan bahwa setelah kehilangan segalanya, janji temu harus dibatalkan dan tidak bisa dijadwalkan ulang.
Kehilangan dokumen punya akibat berantai. Para penulis mencatat bahwa tempat penampungan dan lembaga perumahan sering mensyaratkan kartu identitas sebelum memberi layanan. Tidak seorang pun peserta melaporkan dampak baik dari pemindahan paksa. Kurang dari empat persen mengatakan tidak merasakan akibat apa pun atau tidak bisa merincinya.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Pagar kamp resmi
Di balik pagar TSC, keadaan memang lebih baik, tetapi dindingnya tetap kain tenda. Penulis menegaskan bahwa tenda hanya memberi perlindungan terbatas dari cuaca, bencana, dan hama. TSC juga tidak memenuhi kriteria hunian permanen yang ditetapkan U.S. Department of Housing and Urban Development. Organisasi nasional, tulis mereka, memandangnya sebagai langkah sementara sampai hunian permanen tersedia.
Kesimpulan itu mereka rumuskan sendiri dalam naskah berbahasa Inggris. “Walaupun TSC mungkin menawarkan sejumlah perbaikan dibandingkan perkemahan, risiko kesehatan yang besar tetap ada dan tidak dapat diatasi tanpa solusi hunian permanen,” tulis Caroline J. Waddell, Perri C. Callaway, dan rekan-rekan mereka pada bagian penutup.
Sambil menunggu, mereka menyebut hal-hal yang bisa dikerjakan dinas kesehatan. Daftarnya konkret: pengangkutan sampah secara rutin, akses ke toilet umum, layanan pembuangan jarum suntik, dan pelibatan penghuni perkemahan dalam peringatan serta rencana darurat. Mereka juga menganjurkan kerja sama antarlembaga untuk mencari tanggapan yang berpijak pada kesehatan, alih-alih mengandalkan pemindahan paksa.
Catatan siang hari
Ada yang tidak terlihat oleh tim ini, dan mereka mengakuinya. Pengamatan dilakukan pada siang hari sehingga bahaya yang hanya muncul malam hari bisa terlewat. Data diambil dalam satu rentang waktu saja, jadi perubahan antarmusim tidak terekam. Peserta juga tidak dipilih secara acak, sehingga temuan ini sulit diberlakukan di luar Denver atau pada tunawisma di tempat lain.
Beberapa angka dalam naskah patut dibaca ulang. Tema kehilangan barang pribadi disebut mencakup 58 persen jawaban, padahal satu rinciannya saja, barang untuk bertahan hidup, sudah 62 persen. Kesiapan darurat dikatakan terdiri atas lima butir, tetapi hanya tiga yang diuraikan. Lalat dan lebah dicatat pengamat, sementara keduanya tidak ada dalam delapan hama yang ditanyakan kepada peserta.
Maka kembali ke tenda yang berdiri kurang dari sepuluh kaki dari jalan. Dalam catatan Waddell dan rekan-rekannya, jarak itu hanya satu dari 73 bahaya yang ditanyakan kepada penghuninya. Lebih dari separuh di antara mereka pernah mengalami hari ketika tenda itu harus dibongkar. Pada hari itu selimut, kartu identitas, dan tetangga bisa hilang sekaligus.














