- Enam dari sepuluh pasien, tepatnya 786 orang, tidur antara pukul 22.00 dan 24.00.
- Pada yang tidur lewat pukul 02.00, angkanya 111,86 sentimeter.
- Pasien yang makan tengah malam hampir setiap hari rata-rata berlingkar pinggang 2,598 sentimeter lebih lebar.
- Bukan pasien yang kurang tidur yang paling berbeda, melainkan yang tidur lebih dari delapan jam.
- Semua ukuran diambil pada satu waktu, sehingga naskah tidak bisa menyatakan kebiasaan malam yang menyebabkan perut membesar.
Daftar Isi
- Siapa yang datang ke klinik dan bagaimana malam mereka
- Jam tidur yang bergeser, ukuran tubuh yang ikut bergeser
- Bagaimana tidur larut bisa sampai ke perut
- Makan tengah malam hanya meninggalkan jejak di pinggang
- Tidur terlalu lama juga berjalan bersama pinggang lebih lebar
- Kaitan itu lebih nyata pada pasien yang sudah obesitas
- Di mana penjelasan ini berhenti
Timbangan biasanya ditanya soal siang hari: apa yang dimakan, berapa lama duduk, seberapa sering bergerak. Di sebuah klinik pengelolaan berat badan di Shanghai, pasien juga ditanya tentang malamnya, yakni pukul berapa mereka naik ke tempat tidur, berapa lama terlelap, dan seberapa sering masih makan sesudah larut. Jawaban atas tiga pertanyaan itu ternyata berjalan seiring dengan ukuran yang jarang dilirik orang ketika menimbang badan, yaitu lingkar pinggang.
Catatan klinik itu diolah Huaifeng Li, Jing Feng, Wendi Cheng, Qiwen Feng, Wenjie Tian, Jiatian Cao, Wei Gong, dan Bo Li dalam artikel Association of Nocturnal Lifestyle with Overweight and Obesity: A Cross-Sectional Study Based on SHOOW (Shanghai Overweight/Obesity and Wellness Study) Cohort, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel siap terbit. Mereka menimbang 1.295 pasien dewasa dengan berat badan lebih dan obesitas yang datang ke Xinhua Hospital, Shanghai, sepanjang 2019 sampai 2025, lalu menyandingkan kebiasaan malam setiap pasien dengan delapan ukuran tubuhnya.
Hasilnya tidak sesederhana anggapan bahwa begadang membuat gemuk. Dari tiga kebiasaan malam yang ditanyakan, hanya dua ukuran yang berkaitan dengan ketiganya sekaligus: lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap panggul. Keduanya penanda obesitas sentral, yaitu lemak yang menumpuk di perut. Karena itu para penulis menyimpulkan gaya hidup malam terutama berjalan bersama lemak perut, bukan sekadar bersama berat badan.
Siapa yang datang ke klinik dan bagaimana malam mereka
Pasien klinik itu kebanyakan perempuan, 896 orang atau hampir tujuh dari sepuluh, dan kebanyakan masih muda. Kelompok usia 18 sampai 49 tahun mencapai 91,51 persen, dengan usia 30-an sebagai yang terbanyak. Hampir semuanya sudah melewati batas obesitas sentral yang dipakai di Tiongkok: rata-rata lingkar pinggang pasien laki-laki 112,89 sentimeter dan perempuan 100,53 sentimeter, sedangkan batasnya 90 dan 85 sentimeter.
Malam mereka beragam. Enam dari sepuluh pasien, tepatnya 786 orang, tidur antara pukul 22.00 dan 24.00. Sebanyak 409 orang baru tidur antara tengah malam dan pukul 02.00, dan 60 orang sesudah pukul 02.00. Hanya 40 orang yang sudah tidur sebelum pukul 22.00. Soal lamanya, 1.111 pasien tidur empat sampai delapan jam, 167 orang lebih dari delapan jam, dan 17 orang kurang dari empat jam.
Kebiasaan makan larut malam lebih jarang daripada yang mungkin diduga. Sebanyak 763 pasien, hampir enam dari sepuluh, mengaku tidak pernah makan tengah malam. Sebanyak 388 orang melakukannya satu sampai tiga kali seminggu. Sisanya, 144 orang atau kira-kira satu dari sembilan pasien, makan tengah malam empat sampai tujuh kali seminggu, artinya hampir setiap malam.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Jam tidur yang bergeser, ukuran tubuh yang ikut bergeser
Jam tidur adalah kebiasaan yang paling luas jejaknya. Pasien yang tidur pukul 22.00 sampai 24.00 rata-rata berlingkar pinggang 102,94 sentimeter. Pada mereka yang tidur antara tengah malam dan pukul 02.00, angkanya 105,68 sentimeter. Pada yang tidur lewat pukul 02.00, angkanya 111,86 sentimeter. Indeks massa tubuh bergerak searah, dari 31,49 ke 32,33 lalu ke 34,97.
Yang membuatnya menonjol, pergeseran itu tidak berhenti di pinggang. Kelompok yang tidur lewat pukul 02.00 berbeda dari kelompok pukul 22.00 sampai 24.00 pada kedelapan ukuran sekaligus: indeks massa tubuh, lingkar leher, lingkar pinggang, rasio pinggang-panggul, lingkar lengan atas, lingkar paha, persentase lemak tubuh, dan luas lemak dalam perut. Luas lemak dalam perut mereka rata-rata 184,76 sentimeter persegi, berbanding 157,32.
Kaitan itu bertahan sesudah usia dan jenis kelamin diperhitungkan. Pada usia dan jenis kelamin yang sama, pasien yang tidur lewat pukul 02.00 rata-rata berlingkar pinggang 7,261 sentimeter lebih lebar dan berindeks massa tubuh 2,986 poin lebih tinggi. “Temuan ini menunjukkan bahwa jam tidur yang sangat larut, sesudah pukul 02.00, punya kaitan paling kuat dan paling luas dengan indikator obesitas,” tulis Huaifeng Li dari Departemen Bedah Umum Xinhua Hospital bersama rekan-rekannya, dalam naskah berbahasa Inggris.
Ada satu pengecualian yang dicatat naskah. Kelompok kecil yang tidur paling awal, pukul 20.00 sampai 22.00, tidak lebih ramping daripada kelompok pukul 22.00 sampai 24.00. Lingkar pinggang rata-rata mereka justru 107,12 sentimeter. Namun perbedaan itu tidak bermakna secara statistik, kecuali pada lingkar leher, sehingga para penulis hanya menyebut pola makin larut makin besar berlaku di luar kelompok ini.
Bagaimana tidur larut bisa sampai ke perut
Naskah menawarkan tiga jalan yang mungkin menghubungkan jam tidur dengan lemak. Pertama, tidur larut dapat berarti kurang tidur, dan kurang tidur mengubah hormon pengatur nafsu makan: leptin turun, ghrelin naik, sehingga orang lebih lapar dan makan lebih banyak. Kedua, tidur larut dapat mengacaukan irama sirkadian yang mengatur metabolisme, lalu mendorong pembentukan dan penyimpanan lemak.
Jalan ketiga paling sederhana. Orang yang tidur larut punya lebih banyak waktu terjaga pada malam hari, dan waktu itu bisa terisi dengan makan. Ketiga jalan ini dirujuk para penulis dari penelitian lain dan mereka sampaikan sebagai kemungkinan. Mereka juga mengakui isi makanan pasien tidak dikumpulkan dalam penelitian ini, begitu pula kandungan kalori dan waktu makan camilan malam itu.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Makan tengah malam hanya meninggalkan jejak di pinggang
Berbeda dengan jam tidur, makan tengah malam meninggalkan jejak yang sempit. Lingkar pinggang rata-rata naik dari 103,54 sentimeter pada pasien yang tidak makan tengah malam, menjadi 104,78 pada yang melakukannya satu sampai tiga kali seminggu, dan 107,44 pada yang empat sampai tujuh kali. Indeks massa tubuh hampir tidak bergeser di dua kelompok pertama, 31,77 dan 31,94.
Sesudah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, jejak itu makin jelas bentuknya. Pasien yang makan tengah malam hampir setiap hari rata-rata berlingkar pinggang 2,598 sentimeter lebih lebar. Pasien yang makan tengah malam satu sampai tiga kali seminggu mempunyai rasio pinggang-panggul lebih tinggi. Indeks massa tubuh, lingkar leher, persentase lemak tubuh, dan luas lemak dalam perut tidak ikut berbeda.
Dari situ para penulis menarik pembedaan yang menjadi inti naskah: makin sering makan tengah malam terutama berkaitan dengan obesitas sentral, bukan dengan obesitas secara umum. Mereka merujuk penelitian terdahulu yang menyebut makan pada malam hari dapat menurunkan kepekaan tubuh terhadap insulin dan mengacaukan metabolisme lemak, sehingga lemak lebih mudah menumpuk, terutama di daerah perut.
Tidur terlalu lama juga berjalan bersama pinggang lebih lebar
Kebiasaan ketiga memberi hasil yang berlawanan dengan dugaan umum. Bukan pasien yang kurang tidur yang paling berbeda, melainkan yang tidur lebih dari delapan jam. Lingkar pinggang rata-rata mereka 107,39 sentimeter, berbanding 103,85 pada pasien yang tidur empat sampai delapan jam. Indeks massa tubuhnya 33,19 berbanding 31,76. Lingkar leher dan lingkar lengan atas mereka juga lebih besar.
Pada usia dan jenis kelamin yang sama, selisih lingkar pinggang itu masih 2,510 sentimeter. Para penulis menduga lama berbaring mengurangi gerak sehari-hari di luar olahraga, yang menyumbang porsi besar dari energi yang dibakar tubuh dalam sehari. Karena itu waktu di tempat tidur yang panjang dapat berarti pengeluaran energi yang lebih rendah.
Pasien yang tidur kurang dari empat jam secara rata-rata juga lebih besar, dengan lingkar pinggang 106,26 sentimeter. Namun tidak satu pun ukuran mereka berbeda secara bermakna. Yang membuatnya rumit, kelompok ini hanya berisi 17 orang, 1,31 persen dari seluruh pasien. Para penulis mengakui jumlah sekecil itu mungkin tidak cukup untuk memperlihatkan kaitan yang sebenarnya ada.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Kaitan itu lebih nyata pada pasien yang sudah obesitas
Ketika pasien dipisah menurut berat badannya, polanya terbelah. Pada pasien yang baru tergolong berat badan lebih, dengan indeks massa tubuh di bawah 28, hampir semua kaitan menghilang. Yang tersisa hanya tidur lewat pukul 02.00, yang berjalan bersama persentase lemak tubuh dan luas lemak dalam perut yang lebih tinggi.
Pada pasien obesitas, polanya sama dengan pola seluruh pasien. Tidur lewat pukul 02.00 berkaitan dengan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang, sedangkan rasio pinggang-panggul berkaitan dengan makan tengah malam dan jam tidur sekaligus. Para penulis menafsirkan kebiasaan malam yang buruk mungkin lebih terasa pada tubuh yang sudah obesitas, sementara tubuh dengan berat badan lebih masih punya daya imbang.
Di mana penjelasan ini berhenti
Penjelasan itu berhenti pada arah panah. Semua ukuran diambil pada satu waktu, sehingga naskah tidak bisa menyatakan kebiasaan malam yang menyebabkan perut membesar. “Orang dengan obesitas mungkin lebih mudah mengalami gangguan tidur, jam tidur yang mundur, atau perilaku makan yang berubah sebagai akibat dari berat badannya atau perubahan metabolisme yang menyertainya,” tulis Li dan rekan-rekannya. Menurut mereka, kaitan itu bisa berjalan dua arah.
Batas lain mereka sebut sendiri. Kebiasaan malam dicatat dari pengakuan pasien, yang bisa meleset. Rentang tidur empat sampai delapan jam terlalu lebar dan mungkin menyembunyikan perbedaan di dalamnya. Aktivitas fisik, isi makanan, dan kerja gilir tidak dikumpulkan. Semua pasien berasal dari satu klinik. Dan kebiasaan malam hanya menerangkan 2,2 sampai 19,5 persen keragaman ukuran tubuh.
Dua hal dalam naskah patut diperiksa pembaca. Pertama, kelompok yang tidur antara tengah malam dan pukul 02.00 tidak berbeda persentase lemak tubuhnya pada hitungan pertama, tetapi berbeda sesudah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, tanpa penjelasan. Kedua, pembahasan menyebut “efek merugikan” dari kebiasaan malam yang buruk, padahal para penulis sendiri menyatakan rancangan penelitian mereka tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat.
Maka pertanyaan tentang malam, yang diajukan di klinik Shanghai itu, memang punya jawaban di tubuh pasien, hanya saja jawabannya tidak tertulis di timbangan. Ia tertulis di pita ukur yang dilingkarkan ke pinggang: lebih lebar pada yang tidur lewat pukul dua pagi, pada yang makan hampir tiap tengah malam, dan pada yang tidur lebih dari delapan jam. Mana yang lebih dulu, malam yang larut atau pinggang yang lebar, belum dijawab naskah ini.















