Suku Yali Membuat Panah dan Obat Malaria dari Satu Pohon

A A

Ilustrasi deretan rumah honai berdinding kayu dan beratap jerami di tepi jalan tanah kampung, Papua [Foto: Irfantraveller/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Seluruh responden, 100 persen, mengaku mengenal nelambo suon.
  • Sebanyak 97,68 persen responden memakainya sebagai obat tradisional.
  • Orang Yali membuat anak panah darinya, yang mereka sebut suap olongkon.
  • Hanya 6,98 persen responden yang pernah menanam atau merawat pohon ini.
Daftar Isi
  1. Dikenal Semua Warga
  2. Kulit Batang untuk Malaria
  3. Batang Jadi Anak Panah
  4. Lun untuk Kuskus Pohon
  5. Tongkat Penggali Ubi
  6. Kayu yang Dipercaya Kuat
  7. Dipakai, Belum Dirawat
  8. Yang Janggal di Naskah

Satu pohon memberi suku Yali obat malaria, anak panah, dan tongkat gali. Namanya nelambo suon, tumbuhan dari marga Bikkia yang tumbuh di Distrik Heriapini, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Semua warga yang ditanyai mengenalnya, tetapi hampir tidak ada yang menanamnya.

Catatan itu ditulis Tomi A. Nelambo, Suharno, Omes Momiake, dan Oviana Mohi. Artikelnya berjudul Ethnobotany of the Use of Nelambo Suon (Bikkia sp.) Plants Based on the Traditional Knowledge of the Yali Tribe, Papua Pegunungan Province. Naskah berbahasa Inggris itu terbit di Jurnal Biologi Papua volume 17 nomor 2, tahun 2025.

Nelambo mengajar di Program Studi Biologi Universitas Ottow Geissler Papua. Suharno berasal dari Program Studi Biologi Universitas Cenderawasih, Jayapura. Momiake bekerja di Kementerian Agama Kabupaten Yahukimo, sedangkan Mohi adalah staf Puskesmas Angguruk di kabupaten yang sama.

Mereka menanyai 43 warga suku Yali di empat kampung, yaitu Sabelebi, Muhumu, Kinkun, dan Ohena. Kerja lapangan berlangsung pada Februari sampai April 2024. Yang ditanyai mencakup pembuat alat dari kayu itu dan para pemakainya.

Dikenal Semua Warga

Tidak ada warga yang asing dengan pohon ini. Seluruh responden, 100 persen, mengaku mengenal nelambo suon, dan seluruhnya juga tahu di mana pohon itu tumbuh. Naskah itu menyebut tempatnya beragam: dataran, tebing, lereng curam, tepi sungai, dan perbukitan di Distrik Heriapini.

Namanya berasal dari bahasa setempat: honai nelamboma berarti penghuni suku Yali di Kampung Sabelebi, sedangkan suon berarti besar, yang dimaknai sebagai banyak gunanya. Pengetahuan tentang pohon dari suku Rubiaceae itu diwariskan turun-temurun, dan warga memakai batang, kulit batang, serta bunganya. Karena sebarannya terbatas, tulis para peneliti, tumbuhan ini tidak banyak dikenal orang, terutama di dataran rendah Papua.

Angka pemakaiannya tinggi. Sebanyak 97,68 persen responden memakainya sebagai obat tradisional. Sebanyak 93,02 persen memakainya untuk keperluan berkebun, dan angka yang sama pernah memakai barang buatan dari pohon itu.

Dikenal semua, dirawat segelintirMengenal tumbuhannya: Responden yang menjawab ya +100,00%; Memakai sebagai obat: Responden yang menjawab ya +97,68%; Memakai untuk berkebun: Responden yang menjawab ya +93,02%; Pernah menanam/merawat: Responden yang menjawab ya +6,98%.Dikenal semua, dirawat segelintirJawaban ya dari 43 warga suku Yali di Distrik Heriapini25%50%75%100%0Mengenal tumbuhannya100,00%Memakai sebagai obat97,68%Memakai untuk berkebun93,02%Pernah menanam/merawat6,98%Sisanya menjawab tidak atau ragu.
Sumber: Tomi A. Nelambo, Suharno, Omes Momiake, dan Oviana Mohi, Ethnobotany of the Use of Nelambo Suon (Bikkia sp.) Plants Based on the Traditional Knowledge of the Yali Tribe, Papua Pegunungan Province, Jurnal Biologi Papua, 17(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Kulit Batang untuk Malaria

Obat itu dibuat dari kulit batang. Warga merebusnya, lalu meminum air rebusannya untuk meredakan dan menyembuhkan gejala malaria. Cara ini dianggap sangat manjur karena mudah, murah, serta hemat waktu dan tenaga.

Hampir tidak ada yang meragukan kegunaan itu. Hanya 2,32 persen responden yang menjawab ragu ketika ditanya soal pemakaiannya sebagai obat tradisional. Tidak seorang pun menjawab tidak, sehingga sisanya, 97,68 persen, menjawab ya.

Naskah itu juga merujuk kajian Nelambo dan rekan pada 2022. Menurut kajian tersebut, ekstrak kulit batang nelambo suon mampu menghambat perkembangan malaria. Di dalamnya terdapat alkaloid, flavonoid, steroid, triterpenoid, saponin, tanin, dan kuinon.

Kulit batang juga dipakai warga untuk mencegah malaria dan mengobati luka lama maupun luka baru. Serbuk kulitnya dipakai untuk membawa api dari satu tempat ke tempat lain. Daun dan bunganya diseduh seperti teh daun, yang disebut membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres. Namun pengetahuan ini, menurut para peneliti, hanya dimiliki orang-orang tertentu.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Batang Jadi Anak Panah

Batang nelambo suon menjadi alat berburu. Orang Yali membuat anak panah darinya, yang mereka sebut suap olongkon. Batang terpilih dibelah menjadi empat sampai lima bagian, sesuai ukurannya, lalu dibentuk mengikuti hewan yang hendak diburu.

Untuk burung kecil, kayu diraut polos tanpa ukiran dan disebut suap kuhulig. Untuk hewan yang lebih besar, panah diukir beragam dan disebut suap ayegtek. Naskah itu menyebut maleo, ayam hutan, dan kasuari sebagai contoh burung besar yang diburu dengan suap ayegtek.

Sebatang panah butuh tiga bahan lain. Ada gagang yang disebut suap ayo, tali rotan bernama helisi, dan lem tradisional bernama somug. Dari tali rotan, hanya bagian luar yang dipakai, sedangkan bagian dalamnya dibuang.

Somug dibuat dari campuran madu, getah suon, dan wan angken. Lem itu merekatkan gagang ke anak panah, dan gagang yang tidak lurus diluruskan dengan dipanaskan di atas bara. Batang utama panah disebut sehen dan dibuat dari kayu nelambo suon, yang tidak boleh terlalu muda atau terlalu tua. Kelenturannya juga diperhatikan, sebab itulah yang menentukan panah tahan dipakai lama.

Lun untuk Kuskus Pohon

Ada mata panah khusus bernama lun. Lun dibuat dari batang nelambo suon dan disiapkan untuk memburu burung besar serta kuskus pohon. Laki-laki Yali memberinya motif yang beragam agar lun bisa dibedakan dari suap.

Berburu kuskus pohon menuntut persiapan. Para lelaki menyiapkan lun dalam jumlah banyak karena hutan buruannya jauh dari permukiman. Mereka berangkat dengan membawa pondok, api tradisional yang disebut sehene, kayu bakar, dan bekal makanan.

Perburuan itu bisa berlangsung satu sampai dua minggu di dalam hutan. Siang hari dipakai untuk mengamati lokasi, dan berburu baru dilakukan pada malam hari. Lamanya waktu itulah yang membuat warga membawa bekal sebanyak itu.

Naskah itu merujuk Kadir dan rekan untuk menjelaskan alasannya. Kuskus pohon sering diburu warga untuk dimakan sebagai sumber protein hewani. Karena itu perburuan tetap dilakukan walau lokasinya jauh.

Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan

Tongkat Penggali Ubi

Batang yang sama dipakai di kebun. Orang Yali membuatnya menjadi wangkun, tongkat untuk menggali ubi jalar. Itulah keperluan berkebun yang dijawab ya oleh 93,02 persen responden.

Wangkun punya beberapa jenis, yaitu wangkun suburu, yahaltukon, losike, tomuk, dan kaem. Wangkun suburu biasa dipakai menggali ubi jalar. Dua jenis lain tidak dipakai di kebun: wangkun tomuk adalah tongkat bagi orang lanjut usia, sedangkan wangkun losike dipegang perempuan ketika menari.

Satu hal tidak dilakukan warga terhadap kayu ini, yaitu membakarnya. Tidak seorang pun responden menjawab pernah memakainya sebagai kayu bakar. Sebanyak 58,14 persen menjawab tidak dan 41,86 persen menjawab ragu.

Kayu yang Dipercaya Kuat

Warga menilai kayunya tinggi. Sebanyak 88,37 persen responden, hampir sembilan dari sepuluh orang, menyebut mutu kayu nelambo suon sangat baik. Sebanyak 6,97 persen menyebutnya baik, 2,33 persen menyebutnya buruk, dan 2,33 persen lagi menilainya tidak layak dipakai.

Nelambo suon dalam angkaDari 43 warga suku Yali, 97,68 persen memakai nelambo suon sebagai obat, 88,37 persen menilai kayunya sangat baik, dan 6,98 persen pernah merawatnya.Nelambo suon dalam angkaSuku Yali, Distrik Heriapini, Yahukimo43RespondenEmpat kampung97,68%Jadi obatKulit batang88,37%Kayu sangatbaikPenilaian warga6,98%Merawatnya79,07% tidakJalan risetnya43 warga ditanyaiEmpat kampung YaliFebruari-April 2024Kampung: Sabelebi, Muhumu, Kinkun, Ohena.
Sumber: Tomi A. Nelambo, Suharno, Omes Momiake, dan Oviana Mohi, Ethnobotany of the Use of Nelambo Suon (Bikkia sp.) Plants Based on the Traditional Knowledge of the Yali Tribe, Papua Pegunungan Province, Jurnal Biologi Papua, 17(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Angka itu adalah pendapat warga, bukan hasil uji kayu. Para peneliti sendiri mencatat bahwa mutu kayu tumbuhan ini belum diketahui secara ilmiah. Nama jenisnya pun belum ditetapkan: naskah itu hanya menulis Bikkia sp. dan menyebut ada sedikitnya 11 jenis Bikkia yang diterima secara ilmiah. Lima di antaranya bersebaran terbatas di New Guinea.

Luasnya pemakaian itu membentuk keyakinan warga. Menurut naskah tersebut, nelambo suon dipercaya sebagai tumbuhan ajaib bagi suku Yali di Distrik Heriapini. Batangnya menjadi senjata untuk mencari nafkah.

Dipakai, Belum Dirawat

Pemakaian tidak diikuti perawatan. Hanya 6,98 persen responden yang pernah menanam atau merawat pohon ini. Sebanyak 79,07 persen menjawab tidak pernah, dan 13,95 persen ragu.

Para peneliti membaca angka itu dengan terus terang. “Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan tumbuhan Bikkia secara luas tetapi belum memiliki rasa peduli terhadap pelestariannya,” tulis Tomi A. Nelambo dan rekan-rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.

Mereka lalu merujuk dua kajian lain. Tumbuhan yang sering dipakai masyarakat disebut perlu dilestarikan. Hal itu terutama berlaku bila tumbuhannya bernilai penting, terancam punah, dan terbatas sebarannya.

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Yang Janggal di Naskah

Beberapa hal dalam naskah tidak saling cocok. Pendahuluannya menyebut Bikkia tumbuh di habitat pesisir, pada batu gamping koral dataran rendah. Nelambo suon justru dicatat tumbuh di lereng gunung dan perbukitan, dan selisih itu tidak dijelaskan.

Hewan buruannya juga tertulis dua macam. Badan naskah menyebut lun dibuat untuk kuskus pohon, sedangkan keterangan salah satu gambarnya menyebut kanguru pohon. Beberapa rujukan di dalam teks juga tidak ditemukan di daftar pustakanya.

Angka 88,37 persen dirumuskan dengan tiga cara: ringkasan naskah menyebutnya pengakuan bahwa batang pohon sangat kuat, sedangkan bagian hasil menyebutnya penilaian mutu sangat baik. Kesimpulan menulis warga memakai kayu itu karena mutunya. Soal kayu bakar, teks menyatakan warga tidak pernah memakainya, padahal tabelnya mencatat 41,86 persen responden menjawab ragu.

Di Heriapini, nelambo suon tetap menjadi obat malaria, anak panah, dan tongkat gali bagi suku Yali. Yang belum banyak, menurut catatan para peneliti itu, adalah orang yang menanam dan merawatnya.

Bagikan

Baca Juga

Menu Kantin Rumah Sakit Poznań Dikuasai Daging, Nabati Tersisih
Cegah Obesitas di Sekolah Putri Riyadh Terganjal Kantin dan Panas
Polio di Turki Tampak Kecil di Catatan tapi Berat di Rumah
Imbal Hasil Obligasi Indonesia Turun Saat Investor Asing Ramai
Tiap Tugas Berat Menambah Beban Batin Penjaga Pantai Jerman
Anak Muda Suku Duano di Jambi Malu Memakai Bahasa Leluhurnya