Polio di Turki Tampak Kecil di Catatan tapi Berat di Rumah

A A

Ilustrasi paru-paru besi, alat bantu napas pasien polio, di Museum Sejarah Kedokteran Charité, Berlin [Foto: Anagoria/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dari 43 kasus pada 1955, laporan resmi polio di Turki melompat menjadi 372 kasus setahun kemudian.
  • Menurut Bilsel, kasus yang tidak tercatat sedikitnya dua sampai tiga kali lipat dari yang tercatat.
  • Sepanjang 1950-an dan 1960-an, anak yang lumpuh dirawat hampir seluruhnya di rumah.
  • Pada hari pertama rumah sakit polio beroperasi pada 1964, jumlah pasien sudah melebihi jumlah tempat tidur.
Daftar Isi
  1. Penyakit langka: sebutan resmi untuk polio di Turki
  2. Titik patah: tahun ketika angka tidak bisa lagi diabaikan
  3. Kurang lapor: kasus yang tidak sampai ke buku catatan
  4. Lumpuh layuh: bekas yang tinggal seumur hidup
  5. Beban rawat: penyakit yang pindah ke dalam rumah
  6. Senyap tetapi merusak: di mana istilah itu berhenti

Wabah senyap, istilah yang dipakai tiga peneliti Turki untuk polio di negeri mereka, kira-kira berarti begini: penyakit yang angkanya kecil di buku catatan pemerintah, tetapi bekasnya tinggal seumur hidup di kaki anak-anak dan di rumah keluarga mereka. Senyap di sini bukan berarti ringan. Senyap berarti tidak terdengar dalam hitungan resmi.

Istilah itu datang dari Ayşe Erkmen, Nevim Tüzün, dan Osman Erkmen dalam artikel berjudul A silent epidemic? Poliomyelitis, disability burden, and social impact in Turkey (1942–1968), yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2568 tahun 2026. Ayşe Erkmen mengajar di Gaziantep University, Nevim Tüzün di Ardahan University, dan Osman Erkmen di Istanbul Okan University. Ketiganya menelusuri polio di Turki dari 1942 sampai 1968.

Poliomielitis, nama lengkap polio, adalah penyakit menular akibat virus polio yang terutama menyerang anak-anak. Sebagian besar infeksinya tanpa gejala atau ringan saja. Hanya sebagian kecil yang sampai ke sistem saraf pusat, lalu berujung pada kelumpuhan, cacat menetap, atau kematian. Dari sifat itulah, menurut naskah, lahir jarak antara jumlah kasus yang dilaporkan dan beban yang sebenarnya dipikul masyarakat.

Penyakit langka: sebutan resmi untuk polio di Turki

Dalam statistik kesehatan Turki, polio muncul terutama pada 1940-an dan 1950-an dengan angka kasus dan kematian yang rendah. Lama sekali ia dianggap penyakit langka yang tidak mewabah. Kementerian Kesehatan dan Bantuan Sosial, yang dalam bahasa Turki bernama Sağlık ve Sosyal Yardım Bakanlığı, bahkan menegaskan bahwa polio “tidak pernah terjadi sebagai wabah” di negeri itu.

Angka pada tahun-tahun awal memang nyaris tidak terlihat. Tabel yang disusun para penulis mencatat tiga kasus pada 1942, satu kasus pada 1944, dan dua kasus pada 1945. Sampai 1955 jumlah setahun belum pernah melewati 43 kasus. Mereka membacanya sebagai masa ketika penyakit itu samar dalam statistik, bukan masa ketika penyakit itu tidak ada.

Kematian pun sedikit jika dihitung satu per satu. Pada 1949 tercatat tiga kematian dari 13 kasus, atau 23,1 persen. Pada 1952 ada empat kematian dari 17 kasus, 23,5 persen. Tahun-tahun lain jauh lebih rendah, misalnya satu kematian dari 27 kasus pada 1951. Angka sekecil itu mudah dibaca sebagai tanda bahwa keadaan aman.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Titik patah: tahun ketika angka tidak bisa lagi diabaikan

Para penulis menyebut 1956 sebagai titik patah, yakni tahun ketika garis yang semula landai tiba-tiba menanjak. Dari 43 kasus pada 1955, laporan resmi melompat menjadi 372 kasus setahun kemudian. Kematian naik dari dua menjadi 24 orang. Sejak itu polio tidak lagi berupa kasus lepas yang kebetulan tercatat.

Kasus polio yang dilaporkan, 1953-19601953: Seluruh Turki +32, Istanbul +6; 1954: Seluruh Turki +41, Istanbul +18; 1955: Seluruh Turki +43, Istanbul +15; 1956: Seluruh Turki +372, Istanbul +125; 1957: Seluruh Turki +193, Istanbul +35; 1958: Seluruh Turki +162, Istanbul +45; 1959: Seluruh Turki +332, Istanbul +128; 1960: Seluruh Turki +456, Istanbul +198.Kasus polio yang dilaporkan, 1953-1960Angka resmi melonjak pada 1956Seluruh TurkiIstanbul100200300400500019533261954411819554315195637212519571933519581624519593321281960456198Kasus Istanbul sudah termasuk dalam angka seluruh Turki.
Sumber: Ayşe Erkmen, Nevim Tüzün, dan Osman Erkmen, A silent epidemic? Poliomyelitis, disability burden, and social impact in Turkey (1942–1968), BMC Public Health, 26(2568), 2026. Grafik: Cekricek.id

Sesudah lonjakan itu angkanya tidak kembali ke semula. Tercatat 193 kasus pada 1957, 162 kasus pada 1958, 332 kasus pada 1959, dan 456 kasus pada 1960, angka tertinggi dalam tabel. Naik turun semacam itu, bagi penulis naskah, menandakan masalah yang menetap dan sesekali menguat, bukan satu gelombang wabah yang datang lalu selesai.

Istanbul memperlihatkan betapa kasus menumpuk di satu tempat. Catatan pasien yang dirawat di kota itu menunjukkan 125 kasus pada 1956 dan 198 kasus pada 1960, semuanya sudah termasuk dalam angka nasional. Kementerian juga mencatat pola musiman. Kasus memuncak pada bulan-bulan musim panas.

Mengapa 1956? Naskah tidak memberi jawaban pasti. Tidak ditemukan bukti arsip bahwa tata cara pencatatan diubah pada tahun itu. Kemungkinan bahwa kewaspadaan dan kemampuan mengenali penyakit ikut membaik juga tidak bisa disingkirkan. Di tengah ketidakpastian itu, dugaan tentang bahan pangan impor, bahan kemasan, sampai faktor udara beredar di masyarakat.

Kurang lapor: kasus yang tidak sampai ke buku catatan

Kurang lapor adalah terjemahan untuk underreporting, keadaan ketika orang yang sakit lebih banyak daripada yang tercatat. Bedanya begini. Angka resmi hanya menghitung pasien yang datang ke dokter, dikenali penyakitnya, lalu dilaporkan. Siapa pun yang gugur di salah satu dari tiga langkah itu hilang dari hitungan.

Seorang penulis kedokteran masa itu, Bilsel, memberi taksirannya dalam buku tentang polio dan pengobatannya yang terbit di Istanbul pada 1961. Menurut dia, kasus yang tidak tercatat sedikitnya dua sampai tiga kali lipat dari yang tercatat. Ia juga menekankan bahwa polio muncul bahkan di desa-desa terpencil Anatolia, bukan hanya pada orang yang berhubungan dengan pendatang asing.

Bilsel menyebut tiga sebab. Pertama, infeksi abortif, istilah yang dalam naskah disandingkan dengan infeksi ringan dan tanpa gejala. Kedua, keterbatasan diagnosis. Ketiga, keluarga yang tidak membawa anaknya berobat. Para penulis mengakui taksiran itu tidak bisa diuji dengan bukti yang tersedia, tetapi mereka memperlakukan angka resmi sebagai batas bawah.

Tempat tinggal ikut menentukan siapa yang terhitung. Kasus lebih terlihat di kota dan di kawasan yang prasarana sosial ekonominya buruk, sementara kurang lapor diduga lebih parah di desa. Sumber-sumber yang ada menunjukkan sebagian besar kasus menimpa anak berusia dua sampai sepuluh tahun, dan beberapa pengamatan mencatat anak laki-laki lebih banyak.

Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina

Surat kabar pada 1956 memantulkan sikap yang mendua. Polio digambarkan menular dan bisa berat. Pada saat yang sama pembaca ditenangkan dengan penekanan bahwa jumlahnya terbatas dan keadaan terkendali. Bahasa ganda itu, tulis para peneliti, membuat polio tampak berbahaya secara biologis tetapi beres secara administrasi.

Lumpuh layuh: bekas yang tinggal seumur hidup

Kasus yang dilaporkan di Turki biasanya bermula dari gejala yang tidak khas, yaitu demam, lelah, dan nyeri otot. Pada sebagian anak, gejala itu disusul kelumpuhan. Tungkai bawah paling sering terkena, sedangkan kasus yang lebih berat menjalar ke lengan dan otot batang tubuh.

Dokter dan wartawan masa itu berulang kali menulis hal yang sama: anak yang tiba-tiba tidak bisa berjalan, otot yang melemah, lalu mengecil hingga tampak dari luar. Justru gambaran itulah yang membuat polio dikenal orang banyak. Bukan jumlah kasusnya, melainkan wujud kelumpuhan yang dramatis dan tidak bisa dipulihkan.

Kematian tetap sedikit, tetapi datang pada bentuk yang paling berat. Naskah menyebut kelumpuhan otot pernapasan dan kelumpuhan bulbar sebagai penyebab utamanya. Tanpa alat bantu napas seperti ventilasi mekanik, peluang pasien semacam itu buruk. Berita tentang anak yang meninggal lalu memperbesar rasa takut, walau jumlah kematiannya rendah.

Polio di Turki dari 1942 sampai 1968Polio di Turki dari 1942 sampai 1968Polio di Turki dari 1942 sampai 1968Naik turun, tidak pernah benar-benar reda1942Tiga kasus dilaporkan di seluruh negeri1949Kematian mulai tercatat: 3 dari 13 kasus1956Kasus melonjak menjadi 372 dengan 24 kematian1960Angka tertinggi dalam tabel: 456 kasus1964Rumah sakit khusus polio dibuka di Egirdir1968Masih 367 kasus dilaporkanProgram vaksinasi dimulai pada pertengahan 1960-an.
Sumber: Ayşe Erkmen, Nevim Tüzün, dan Osman Erkmen, A silent epidemic? Poliomyelitis, disability burden, and social impact in Turkey (1942–1968), BMC Public Health, 26(2568), 2026. Grafik: Cekricek.id

Bagi yang selamat, penyakit akut itu berubah menjadi cacat sepanjang hidup berupa otot lemah, bentuk tubuh yang berubah, dan cara berjalan yang terganggu. Kementerian pada 1960-an menganjurkan jalan terapeutik, yaitu latihan berjalan dengan ortosis, alat penyangga tungkai, serta kruk. Anjuran itu menandakan pemerintah mulai mengakui polio sebagai penyakit yang merenggut fungsi tubuh untuk waktu lama.

Beban rawat: penyakit yang pindah ke dalam rumah

Beban rawat, dalam naskah ini, berarti kerja merawat yang jatuh ke tangan keluarga karena negara belum menyediakannya. Layanan fisioterapi tidak memadai, alat ortopedi sulit didapat, dan panti perawatan terbatas. Sepanjang 1950-an dan 1960-an, anak yang lumpuh dirawat hampir seluruhnya di rumah.

Yang paling merasakan adalah para ibu. Sejumlah laporan surat kabar menggambarkan keluarga dengan anak lumpuh yang butuh dijaga terus-menerus, sampai ibunya berhenti dari pekerjaan berupah dan pembagian kerja di rumah diatur ulang. Sekolah anak terganggu. Pergaulan dan rutinitas harian keluarga disusun mengikuti kebutuhan merawat.

Di titik inilah satu-satunya kutipan panjang dari naskah perlu dibaca, sebab ia meluruskan anggapan bahwa penyakit dengan sedikit kematian adalah penyakit kecil. “Kecacatan, kebutuhan perawatan jangka panjang, dan akibat di tingkat rumah tangga merupakan dimensi inti dari dampak polio, melampaui kematian sebagai penentu biaya sosial,” tulis Ayşe Erkmen, Nevim Tüzün, dan Osman Erkmen dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Bukti paling konkret datang pada 1964, ketika sebuah rumah sakit khusus polio dibuka di Eğirdir. Pada hari pertama beroperasi, jumlah pasien yang meminta dirawat sudah melebihi jumlah tempat tidur. Para penulis membaca kejadian itu sebagai petunjuk bahwa banyak penyandang cacat akibat polio selama itu berada di luar layanan kesehatan resmi.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Rasa takut dan stigma menyertai semua itu. Pejabat berkali-kali menyatakan tidak ada wabah, tetapi keluarga tetap memandang polio sebagai ancaman yang tidak bisa ditebak. Anak yang lumpuh sulit mendapat pendidikan, rehabilitasi, dan dukungan sosial. Media kerap menampilkan mereka dalam kisah iba dan tragedi, yang membuat kecacatan terlihat tetapi menutupi tanggung jawab publik.

Senyap tetapi merusak: di mana istilah itu berhenti

Vaksinasi dimulai pada pertengahan 1960-an, tetapi polio tidak langsung hilang. Kasus tetap muncul tidak teratur dan berskala kecil di berbagai daerah. Tabel mencatat 278 kasus pada 1966, hanya 33 kasus pada 1967, lalu 367 kasus pada 1968. Kesulitan prasarana, perpindahan penduduk di dalam negeri, dan mobilitas orang disebut pers menghambat jangkauan vaksin.

Istilah senyap tetapi merusak punya batas, dan para penulis menyebutnya sendiri. Tidak ada data teratur tentang usia, jenis kelamin, dan cacat jangka panjang, sehingga beban polio tidak bisa dihitung utuh. Sebagian bahan berasal dari berita surat kabar dan pengamatan dokter yang bisa saja memilih-milih kasus. Naskah ini, kata mereka, adalah rekonstruksi berbasis tafsir, bukan hitungan penuh.

Ada pula beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks merujuk Tabel 3 untuk selisih antara data laporan dan taksiran dokter, padahal tabel itu berisi pola usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Daftar pustaka memuat berita 1968 tentang 36 anak yang meninggal dalam tujuh bulan, sedangkan kolom kematian tahun itu kosong. Tabel berjudul 1942 sampai 1968, tetapi baris 1943 dan 1963 tidak ada.

Maka wabah senyap tidak sama dengan wabah kecil. Dalam pengertian ketiga peneliti, ia adalah penyakit yang nyaris tidak bersuara di dalam tabel, sementara akibatnya menetap pada tungkai anak-anak dan pada hari-hari para ibu yang merawat mereka. Sejauh mana jarak keduanya, bukti yang tersisa hanya sanggup menunjukkan arahnya, belum besarannya.

Bagikan

Baca Juga

Imbal Hasil Obligasi Indonesia Turun Saat Investor Asing Ramai
Tiap Tugas Berat Menambah Beban Batin Penjaga Pantai Jerman
Anak Muda Suku Duano di Jambi Malu Memakai Bahasa Leluhurnya
Di Yaba Maru, Totem Marind-Anim Jadi Bekal Rukun Beda Agama
Panas Kering Isfahan Mengirim Lebih Banyak Pasien Jantung ke RS
Nyeri Punggung Paling Banyak pada Orang Buncit yang Jarang Gerak