- Tradisi brandu disebut jalur utama penularan antraks dari ternak ke manusia
- Spora antraks dapat bertahan di lingkungan selama puluhan tahun
- Vaksinasi ternak perlu disiapkan beberapa bulan sebelum pergantian musim
Cekricek.id — Ketika ternak seorang warga mati mendadak, tetangganya mengumpulkan dana untuk meringankan kerugian pemilik, lalu daging ternak itu disembelih dan dibagikan kepada warga. Tradisi gotong royong di Gunungkidul yang disebut brandu itu, menurut pakar Universitas Gadjah Mada (UGM), juga menjadi jalur utama antraks berpindah dari hewan ke manusia.
Kasus terbarunya terjadi pada September 2026 di Dusun Pelem, Kalurahan Semanu. Tujuh warga yang bersentuhan dengan ternak yang sakit dan mati mendadak dinyatakan suspek. Empat pasien yang dinyatakan positif terpapar, menurut Dinas Kesehatan Gunungkidul, telah sembuh setelah dirawat intensif.
“Kalau konsep brandu kan baik, meringankan beban orang yang kesusahan karena ternaknya atau rojokoyonya mati. Artinya, membantu sesama atau gotong royong. Tapi dalam kasus antraks, ada risiko yang kemudian ditanggung oleh masyarakat,” kata Guru Besar Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. drh. Widagdo Sri Nugroho, dalam keterangan tertulis UGM, Senin (12/10/2026).
Rojokoyo adalah sebutan untuk ternak sebagai harta berharga keluarga.
Spora Bertahan Puluhan Tahun
Antraks disebabkan bakteri Bacillus anthracis yang membentuk spora ketika terpapar udara. Spora itu dapat bertahan di lingkungan selama puluhan tahun, sehingga wilayah yang pernah terjangkit berisiko mengalaminya lagi.
Penularan ke manusia bisa lewat kulit, saluran napas, dan saluran cerna. Orang yang menyembelih dan menguliti bangkai berisiko tertular melalui luka di kulit, bahkan luka sangat kecil yang tidak terlihat.
“Yang pertama, kena kulit yang luka. Meskipun itu mikrolesi, yang mungkin tidak kelihatan, bakterinya bisa masuk kemudian menimbulkan luka di situ. Yang kita sebut sebagai jenis kulit atau jenis kutan,” terang Widagdo.
Orang yang memakan dagingnya juga berisiko. Widagdo mengingatkan cara memasak yang biasa dilakukan warga tidak menjamin spora antraks mati.
Ia menyebut kasus di Gunungkidul muncul hampir setiap tahun. Pada hewan, kuncinya vaksinasi, dengan perhatian khusus pada ternak yang baru didatangkan dari luar daerah dan anak ternak yang belum divaksin. Warga diminta melaporkan ternak yang belum divaksin kepada petugas, dan vaksinasi perlu disiapkan beberapa bulan sebelum pergantian musim.
“Jadi khusus di Gunungkidul, ini masih menjadi PR bersama kita untuk mengendalikan penyakit antraks, dalam pengertian jangan sampai ke manusia lagi,” tuturnya.
Baca juga: Batuk Pilek Lebih dari Dua Minggu Tanda Perlu Periksa ke Dokter
Baca juga: Ayam Kampung dan Broiler Setara Proteinnya, Bedanya di Lemak
Baca juga: UU Ketenagakerjaan Baru Diminta Lindungi Pengemudi Ojek dan Kurir















