Cegah Obesitas di Sekolah Putri Riyadh Terganjal Kantin dan Panas

A A

Ilustrasi kantin kosong dengan meja panjang berisi piring makanan dan bangku kayu tersinari matahari [Foto: Thegenner/Pexels]

  • Peneliti kesehatan masyarakat asal Arab Saudi itu memandu sendiri sembilan diskusi kelompok.
  • Makanan sehat mahal, kata seorang siswi, sedangkan makanan tidak sehat tersedia dan murah.
  • Kedua kelompok sama-sama menyebut empat hambatan: cuaca panas, keterbatasan kurikulum, bangunan sekolah, dan rendahnya motivasi siswi.
  • Guru menunjuk hal yang berasal dari sekolah, seperti kurikulum dan aturan kantin.
Daftar Isi
  1. Sarah Aldukair mendengar para guru lebih dulu
  2. Kantin dan gedung yang dikeluhkan kepada Aldukair
  3. Giliran para siswi: burger, harga, dan jamuan
  4. Berjalan kaki pun tidak sederhana bagi siswi Riyadh
  5. Yang membuat siswi mau bergerak, menurut catatan Aldukair
  6. Catatan atas naskah Aldukair dan rekan

Sarah Aldukair mendatangi tiga sekolah menengah atas negeri khusus putri di Riyadh, lalu mengajak siswi dan guru di sana berbicara dalam bahasa Arab tentang makanan, olahraga, dan berat badan. Peneliti kesehatan masyarakat asal Arab Saudi itu memandu sendiri sembilan diskusi kelompok. Yang ia dengar hampir seragam. Semua tahu hidup sehat itu penting, tetapi kantin, gedung, dan pelajaran di sekolah belum membuka jalannya.

Catatan dari ruang diskusi itu ditulis Sarah Aldukair bersama Jayne V. Woodside, Khalid Almutairi, dan Laura McGowan. Naskah mereka berjudul Barriers and enablers to obesity prevention in female-only high schools in Riyadh: a qualitative study exploring healthy eating, physical activity and school-based interventions using the COM-B model, terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 1020, tahun 2026. Aldukair, Woodside, dan McGowan bekerja di Queen’s University Belfast, sedangkan Almutairi di King Saud University, Riyadh.

Aldukair dan rekan-rekannya berangkat dari angka yang tidak menggembirakan. Survei kesehatan Arab Saudi tahun 2019 yang mereka kutip mencatat 30 persen penduduk berusia 15 sampai 29 tahun hidup dengan berat badan berlebih atau obesitas. Kira-kira empat dari lima orang di kelompok usia itu, tepatnya 79 persen, kurang bergerak. Pradiabetes ditemukan pada 10 persen responden, kolesterol tinggi pada 39 persen.

Sekolah putri, tulis Aldukair, punya keadaan yang khas. Laki-laki dan perempuan bersekolah terpisah, ada batasan budaya, dan pelajaran pendidikan jasmani untuk siswi baru tersedia secara terbatas sampai 2017. Karena itu ia memilih mendengar 37 siswi berusia 16 sampai 17 tahun dan 19 guru serta kepala sekolah. Ketiga sekolah berada di kawasan dengan tingkat kemapanan ekonomi yang berbeda.

Sarah Aldukair mendengar para guru lebih dulu

Di kelompok guru, hal pertama yang dicatat Aldukair adalah rasa tidak siap. Seorang guru di sekolah kawasan paling kekurangan, yang dalam naskah ditandai sebagai Teacher 2-HDS, mengaku tidak punya pengalaman menjalankan program kesehatan di sekolah. Menurut guru itu, semestinya ada kursus singkat atau pelatihan sebelum program dimulai. Keluhan serupa muncul di ketiga sekolah.

Kendati begitu, para guru tidak melihat murid mereka sebagai persoalan tanpa harapan, dan Aldukair mencatat jawaban yang berlainan di tiap sekolah. Di sekolah kawasan paling mapan, seorang guru menilai urusannya sederhana: sediakan buah, sayur, dan pilihan sehat di kantin. Di sekolah kawasan menengah, guru menyebut siswi SMA sudah cukup dewasa dan selalu memperhatikan bentuk tubuh.

Jawaban ketiga datang dari seorang kepala sekolah di kawasan paling kekurangan. Aldukair dan rekan-rekannya menerjemahkan ucapannya ke bahasa Inggris, yang artinya kurang lebih begini: “Siswi seusia ini masih muda dan punya kekuatan fisik untuk aktif dan berolahraga, tetapi mereka butuh lingkungan yang sesuai untuk itu.” Kalimat itu dicatat dalam naskah atas nama Principal-HDS.

Siapa yang didengar di RiyadhSiapa yang didengar di RiyadhSiapa yang didengar di RiyadhPeserta diskusi tentang makan sehat dan aktivitas fisik3SMA putrinegeri, Riyadh9diskusikelompok37siswi16-17 tahun19stafguru, kepalaJalan risetnyaGuru dan siswi bicaraterpisahHambatan dan pendorongdicatat4 hambatan sama, 0pendorongHambatan bersama: cuaca panas, kurikulum, bangunan sekolah,motivasi siswi.
Sumber: Sarah Aldukair, Jayne V. Woodside, Khalid Almutairi, dan Laura McGowan, Barriers and enablers to obesity prevention in female-only high schools in Riyadh: a qualitative study exploring healthy eating, physical activity and school-based interventions using the COM-B model, BMC Public Health, 26(1020), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kantin dan gedung yang dikeluhkan kepada Aldukair

Lingkungan yang sesuai itulah yang menurut para guru belum ada. Kepada Aldukair, seorang guru di sekolah kawasan menengah berbicara dengan nada paling keras. Sekolahnya, kata guru yang ditandai sebagai Teacher 6-MDS itu, sama sekali tidak siap. Kantinnya sangat tidak sehat dan ruang kebugaran tidak tersedia. Sebagus apa pun programnya, keadaan kantin bisa menghalangi perubahan.

Guru lain, dari sekolah kawasan paling kekurangan, menjelaskan kepada Aldukair mengapa hal itu merusak. Sekolah boleh saja mengajarkan pilihan sehat. Namun, ketika siswi melihat lingkungan sekolah yang bertentangan dengan pelajaran itu, usaha sekolah menjadi sia-sia. Para siswi mungkin paham pentingnya makan sehat dan bergerak, tetapi lingkungan tidak menyokong pemahaman tersebut.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Di luar gedung dan kantin, Aldukair mencatat beberapa ganjalan lain dari kelompok guru. Waktu mereka terbatas. Cuaca panas menyulitkan kegiatan fisik, terlebih karena bangunan sekolah Saudi berstruktur terbuka dan berolahraga di luar ruangan saat panas berbahaya. Kegiatan kesehatan yang pernah ada pun tidak berkelanjutan, sering kali hanya berupa acara satu kali.

Ada satu hal yang disambut baik para guru, yakni kurikulum pendidikan jasmani yang baru diperkenalkan. Seorang guru menyebutnya tambahan yang sangat bagus bagi siswi. Guru lain, menurut catatan Aldukair, berharap pelajaran itu segera memuat sesi latihan. Para guru juga menyebut kebijakan kantin, kerja sama sesama staf, dan keyakinan mereka sendiri bahwa mencegah obesitas itu penting.

Lalu tibalah keluhan para guru tentang murid mereka sendiri. Seorang guru berkata bahwa semuanya bergantung pada keyakinan dan motivasi siswi, dan siswi tidak terdorong untuk makan sehat atau berolahraga. Guru lain di sekolah kawasan paling mapan mengaku sudah berusaha menyemangati murid. Murid-muridnya tidak mau bekerja sama, dan ia menduga sebab terbesarnya adalah rasa malu melakukan aktivitas fisik.

Giliran para siswi: burger, harga, dan jamuan

Ketika Aldukair berpindah ke kelompok siswi, soal motivasi itu tidak dibantah. Seorang siswi berkata ia tidak punya dorongan untuk menahan diri dari makanan tidak sehat. Siswi lain menyebut dirinya tidak punya motivasi untuk makan sehat maupun berolahraga. Namun, para remaja itu menambahkan alasan yang tidak disebut guru mereka, dan alasan pertama adalah rasa.

Seorang siswi di sekolah kawasan paling mapan menjelaskannya kepada Aldukair dengan perbandingan sederhana. Naskah mencatat ucapan partisipan berkode Student 4-LDS itu dalam bahasa Inggris, yang artinya: “Kalau ada salad dan burger, mana yang akan kamu pilih? Pasti kita semua memilih burger, rasanya lebih enak!” Ia juga merasa suasana hatinya sangat terkait dengan makanan.

Harga menjadi alasan kedua yang dicatat Aldukair. Makanan sehat mahal, kata seorang siswi, sedangkan makanan tidak sehat tersedia dan murah. Keluhan itu datang dari sekolah di kawasan paling mapan. Di rumah pun, menurut siswi lain dari sekolah yang sama, sayur dan buah tidak selalu ada. Bagi Aldukair dan rekan-rekannya, ini tanda bahwa hambatan tidak hanya milik kawasan miskin.

Alasan ketiga adalah sopan santun. Dalam pertemuan keluarga dan jamuan, tutur seorang siswi kepada Aldukair, sulit menolak hidangan karena dianggap tidak sopan. Tekanan untuk ikut makan besar, dan makanannya sangat tidak sehat. Di sekolah, keadaannya tidak menolong. Seorang siswi meringkasnya dalam satu kalimat: kantin sangat tidak sehat dan mereka tidak melakukan aktivitas fisik apa pun.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Berjalan kaki pun tidak sederhana bagi siswi Riyadh

Untuk urusan bergerak, para siswi sebetulnya lebih yakin daripada untuk urusan makan. Seorang siswi mengatakan kepada Aldukair bahwa aktivitas fisik tidak sulit, cukup 15 menit sehari, asalkan waktunya disediakan. Siswi lain percaya tekad dan kemauan akan membuatnya terasa mudah. Yang mengganjal ada di luar diri mereka, dan di sinilah catatan Aldukair menjadi paling khas Riyadh.

Seorang siswi di sekolah kawasan paling kekurangan menyatakan kepada Aldukair bahwa seorang gadis yang keluar berjalan kaki di lingkungan rumahnya tidak diterima secara sosial. Siswi lain menyukai jalan kaki, tetapi cuaca di negerinya panas hampir sepanjang tahun. Jalur pejalan kaki memang ada, kata siswi ketiga, tetapi mereka harus naik mobil ke sana dan kendaraan tidak selalu tersedia.

Jalan keluarnya, menurut seorang siswi yang didengar Aldukair, adalah pusat perbelanjaan berpendingin udara. Di sana orang bisa berjalan tanpa terpanggang. Tempat berjalan kaki, baik jalur di permukiman maupun mal, menjadi satu-satunya pendorong dari sisi kesempatan yang disebut para siswi di ketiga sekolah. Aldukair dan rekan-rekannya membaca keluhan soal kendaraan sebagai cermin kota yang bergantung pada mobil.

Pelajaran pendidikan jasmani yang dipuji para guru justru dikeluhkan murid. Seorang siswi berkata kepada Aldukair bahwa mereka memang mempelajarinya, tetapi tidak mempraktikkannya dan hanya belajar teori. Di titik inilah guru dan siswi bertemu. Kedua kelompok sama-sama menyebut empat hambatan: cuaca panas, keterbatasan kurikulum, bangunan sekolah, dan rendahnya motivasi siswi.

Pendorong: guru dan siswi berbedaPendorong: guru dan siswi berbedaPendorong: guru dan siswi berbedaHal yang dianggap memudahkan hidup sehat di sekolahKata guruKata siswiUsia, tenaga siswiTekad pribadiKemampuanPelajaran olahragaTempat jalan kakiKesempatanAturan kantinMal berpendinginKesempatan lainKerja sama stafTubuh dan temanMotivasiTidak ada pendorong yang sama-sama disebut kedua kelompok.
Sumber: Sarah Aldukair, Jayne V. Woodside, Khalid Almutairi, dan Laura McGowan, Barriers and enablers to obesity prevention in female-only high schools in Riyadh: a qualitative study exploring healthy eating, physical activity and school-based interventions using the COM-B model, BMC Public Health, 26(1020), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang membuat siswi mau bergerak, menurut catatan Aldukair

Daftar hal yang memudahkan ternyata tidak bertemu sama sekali. “Tidak ada pendorong bersama yang teridentifikasi di kedua kelompok,” tulis Sarah Aldukair, Jayne V. Woodside, Khalid Almutairi, dan Laura McGowan dalam naskah berbahasa Inggris itu. Guru menunjuk hal yang berasal dari sekolah, seperti kurikulum dan aturan kantin. Siswi menunjuk hal yang berasal dari diri dan teman mereka.

Bentuk tubuh berada di urutan depan dalam catatan Aldukair. Seorang siswi merasa berhasil ketika tubuhnya menjadi bagus. Siswi lain mengatakan makan sehat dan olahraga mengangkat kesehatan fisik dan jiwanya, apalagi bila hasilnya tampak pada kulit, rambut, dan penampilan. Para remaja itu juga menyebut cara yang lebih ringan, yaitu mengubah pola makan sedikit demi sedikit, bukan berpantang mendadak.

Teman menjadi pendorong berikutnya. Kalau makan sehat dilakukan bersama-sama sebagai teman, kata seorang siswi kepada Aldukair, mereka pasti bersemangat. Siswi lain mengusulkan lomba antarsekolah untuk memacu daya saing. Para siswi mengkritik program kesehatan yang ada karena terlalu teoretis. Mereka meminta program yang praktis, menarik, dan melatih keterampilan.

Dari situ McGowan, Aldukair, dan dua rekannya mengubah cara memandang motivasi. Kutipan berikut diterjemahkan dari naskah mereka: “Motivasi muncul bukan hanya sebagai hambatan, melainkan juga sebagai mekanisme sentral yang menopang perilaku makan sehat dan aktivitas fisik.” Usul mereka mencakup pelatihan guru, perbaikan lingkungan sekolah, dan olahraga yang dipraktikkan, bukan sekadar dibaca.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Catatan atas naskah Aldukair dan rekan

Aldukair dan rekan-rekannya mengakui batas temuan mereka. Jumlah peserta dan sekolahnya kecil, sehingga hasilnya tidak dapat diberlakukan pada siswa laki-laki, sekolah swasta, atau wilayah lain. Diskusi berkelompok membuka kemungkinan jawaban siswi terpengaruh teman. Hubungan antara peneliti dewasa dan peserta remaja juga bisa mewarnai jawaban tentang gender, bentuk tubuh, dan aktivitas fisik.

Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca pada naskah Aldukair. Bagian pembahasan menyebut guru dan siswi sepakat bahwa kurikulum pendidikan jasmani baru itu mengecewakan, padahal di bagian hasil para guru memujinya dan tabel mencatatnya sebagai pendorong. Ringkasan akhir juga memuat kurangnya motivasi staf sebagai hambatan, sedangkan tabel kelompok guru mencantumkan motivasi staf sebagai pendorong.

Selisih itu tidak mengubah gambaran yang dibawa pulang Sarah Aldukair dari tiga sekolah di Riyadh. Guru menunggu pelatihan dan gedung yang layak. Siswi menunggu kantin yang lebih baik, teman berjalan, dan pelajaran olahraga yang benar-benar menggerakkan badan. Keduanya menyebut hambatan yang sama, tetapi belum menunjuk jalan keluar yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Polio di Turki Tampak Kecil di Catatan tapi Berat di Rumah
Imbal Hasil Obligasi Indonesia Turun Saat Investor Asing Ramai
Tiap Tugas Berat Menambah Beban Batin Penjaga Pantai Jerman
Anak Muda Suku Duano di Jambi Malu Memakai Bahasa Leluhurnya
Di Yaba Maru, Totem Marind-Anim Jadi Bekal Rukun Beda Agama
Panas Kering Isfahan Mengirim Lebih Banyak Pasien Jantung ke RS