Di Yaba Maru, Totem Marind-Anim Jadi Bekal Rukun Beda Agama

A A

Ilustrasi foto arsip deretan rumah beratap daun di kampung Marind-Anim, pantai dekat Merauke [Foto: Anonim (koleksi KITLV)/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Orang Marind tinggal 15 keluarga dari 536 kepala keluarga di Kampung Yaba Maru, Merauke.
  • Setiap marga Marind-Anim di Yaba Maru memiliki totem berupa hewan atau tumbuhan yang dijaga dan tidak dimakan.
  • Masjid berdiri di jalur dua, pura di jalur tiga, dan dua gereja berdampingan di jalur empat.
  • Orang Marind terlibat langsung menyukseskan Natal Bersama dan Halalbihalal di kampungnya.
Daftar Isi
  1. Gamu mencatat kampung sawah yang dulu tanah berburu
  2. Pranyoto dan Gamu menghitung empat agama di satu kampung
  3. Leluhur Marind yang ditemui Gamu dalam hewan dan tumbuhan
  4. Dema-wir, perayaan yang disaksikan Gamu merekatkan klen
  5. Tiga sikap warga Marind dalam catatan Gamu
  6. Yang masih mengganjal di naskah Gamu dan Pranyoto

Fransiskus Aknar Gamu datang ke Kampung Yaba Maru, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, dengan satu pertanyaan untuk orang Marind-Anim: bagaimana mereka hidup bersama tetangga yang berbeda agama. Di kampung itu masjid berdiri di jalur dua, pura di jalur tiga, sedangkan gereja Katolik dan gereja Protestan berdampingan di jalur empat. Gamu menemui tokoh adat, tokoh agama, dan warga suku asli itu.

Gamu, alumnus STK St. Yakobus Merauke, menuliskan hasilnya bersama Yohanes Hendro Pranyoto, dosen di sekolah tinggi yang sama. Artikel mereka berjudul Konsep Moderasi Beragama dalam Konteks Kearifan Lokal Totemisme Masyarakat Marind-Anim Kampung Yaba Maru Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke dan dimuat Jurnal JUMPA Vol. XI No. 2 tahun 2023. Keterangan dihimpun dari 11 keluarga Marind-Anim yang beranggotakan 30 jiwa, lewat wawancara dan pengamatan di kampung.

Tiga hal hendak dijawab Gamu dan Pranyoto. Mereka ingin tahu cara orang Marind-Anim memahami sikap beragama yang tidak berlebihan, nilai apa dalam kepercayaan totem yang menopangnya, dan sikap apa yang sudah tampak sehari-hari. Jawabannya mereka temukan pada hubungan lama antara orang Marind dan leluhurnya, yang hadir dalam rupa hewan serta tumbuhan.

Gamu mencatat kampung sawah yang dulu tanah berburu

Catatan pertama Gamu dan Pranyoto adalah riwayat kampung. Yaba Maru mula-mula dihuni penduduk asli Papua Selatan, yaitu orang Marind-Anim. Pada masa Orde Baru, ketika pemerintah gencar menjalankan transmigrasi ke Papua, kampung ini menjadi salah satu tujuan penduduk dari Jawa dan Sulawesi. Lambat laun ia tumbuh menjadi perkampungan transmigrasi dengan sawah yang maju.

Menurut Gamu dan Pranyoto, Yaba Maru kini berperan sebagai sentra penghasil beras terbesar di Kabupaten Merauke. Dari 536 kepala keluarga, 441 atau 82,4 persen bekerja sebagai petani. Pedagang berjumlah 42 keluarga, wiraswasta 26, dan pegawai negeri 19. Delapan keluarga sisanya masuk golongan pekerjaan lain.

Perubahan itu ikut menyentuh tuan rumah. Gamu dan Pranyoto menulis, kehadiran pendatang lambat laun memengaruhi mata pencarian penduduk asli, dari berburu dan meramu menjadi bertani. Banyak pendatang juga menjadi penggerak perekonomian kampung. Tidak sedikit di antara mereka yang berhasil dengan usaha yang dijalankan bertahun-tahun di sana.

Susunan penduduk yang didata Gamu memperlihatkan betapa kecil jumlah tuan rumah itu. Orang Jawa mencakup 355 kepala keluarga atau 66,2 persen, kira-kira dua dari tiga keluarga. Makassar 88 keluarga, lalu NTT 72 keluarga. Orang Marind tinggal 15 keluarga, hanya 2,7 persen, ditambah enam keluarga Papua lainnya.

Marind-Anim, tuan rumah yang paling sedikitJawa: Jumlah kepala keluarga +355; Makassar: Jumlah kepala keluarga +88; NTT: Jumlah kepala keluarga +72; Marind: Jumlah kepala keluarga +15; Papua lainnya: Jumlah kepala keluarga +6.Marind-Anim, tuan rumah yang paling sedikitKepala keluarga di Kampung Yaba Maru menurut suku1002003004000Jawa355Makassar88NTT72Marind15Papua lainnya6Jumlah seluruhnya 536 kepala keluarga.
Sumber: Fransiskus Aknar Gamu dan Yohanes Hendro Pranyoto, Konsep Moderasi Beragama dalam Konteks Kearifan Lokal Totemisme Masyarakat Marind-Anim Kampung Yaba Maru Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke, Jurnal JUMPA, XI(2), 2023. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Pranyoto dan Gamu menghitung empat agama di satu kampung

Agama mengikuti asal-usul warganya. Dalam hitungan Gamu dan Pranyoto, 450 kepala keluarga atau 84 persen memeluk Islam, umumnya pendatang dari Jawa dan Makassar. Katolik dianut 65 keluarga, Kristen 13 keluarga, dan Hindu delapan keluarga. Orang Marind sendiri sebagian besar beragama Katolik, sehingga mereka kecil menurut suku sekaligus menurut agama.

Data kampung tahun 2022 yang dikutip Gamu dan Pranyoto memberi gambaran serupa dalam satuan jiwa. Dari 1.754 penduduk, 1.441 orang beragama Islam. Umat Katolik berjumlah 234 jiwa, Kristen 54 jiwa, dan Hindu 25 jiwa. Dengan kata lain, lebih dari empat dari lima warga Yaba Maru adalah muslim.

Empat agama dalam satu kampungEmpat agama dalam satu kampungEmpat agama dalam satu kampungUmat Kampung Yaba Maru menurut data kampung 20221.441jiwa Islam82,15 persen234jiwa Katolik13,34 persen54jiwa Kristen3,07 persen25jiwa Hindu1,42 persenJalan risetnyaWawancaraPengamatan11 keluarga MarindJumlah seluruhnya 1.754 jiwa.
Sumber: Fransiskus Aknar Gamu dan Yohanes Hendro Pranyoto, Konsep Moderasi Beragama dalam Konteks Kearifan Lokal Totemisme Masyarakat Marind-Anim Kampung Yaba Maru Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke, Jurnal JUMPA, XI(2), 2023. Grafik: Cekricek.id

Di tengah perbandingan sejomplang itu, rumah ibadah keempat agama tetap berdiri. “Pendirian rumah ibadah dari ke empat agama di Kampung Yaba Maru justru berlangsung secara harmonis dan kekeluargaan,” tulis Gamu dan Pranyoto dalam naskahnya. Kalimat itu mereka pakai ketika membandingkan Yaba Maru dengan penolakan pendirian gereja di Kota Cilegon, Banten, pada 7 September 2022.

Gamu dan Pranyoto juga mencatat kebiasaan saling menjaga pada hari raya. Ketika umat Kristen beribadah Natal di gereja, umat muslim dengan sukarela menjaga keamanan di luar gedung sampai rangkaian ibadah selesai. Hal sebaliknya berlaku pula. Umat Kristen ikut berjaga di luar rumah ibadah agama lain saat hari besar keagamaan dirayakan.

Leluhur Marind yang ditemui Gamu dalam hewan dan tumbuhan

Dari mana sikap itu berasal? Gamu dan Pranyoto menunjuk pada totem. Orang Marind-Anim, tulis mereka, memercayai hewan dan tumbuhan tertentu sebagai nenek moyang. Totem itu adalah hewan dan tumbuhan asli di wilayah adat mereka. Setiap marga Marind-Anim di Yaba Maru memiliki totemnya sendiri-sendiri.

Penghormatan itu, menurut catatan Gamu dan Pranyoto, berwujud tindakan yang sederhana. Totem dijaga dan dirawat. Ia tidak dibunuh, tidak dimusnahkan, dan tidak diambil untuk dimakan sehari-hari. Pemahaman ini turun dari orang tua terdahulu sampai generasi sekarang, sebab orang Marind menyadari hewan-hewan itu bertalian erat dengan dema, sebutan mereka bagi leluhur.

Gamu dan Pranyoto meminjam pandangan sosiolog Durkheim untuk membaca ikatan tersebut. Totem, dalam pandangan yang mereka kutip, adalah lambang marga dan tanda pengenal yang menghimpun anggotanya. Lambang itu membangkitkan rasa setia kawan dan menggerakkan orang untuk ikut serta dalam hidup bersama. Namanya bukan sekadar kata, melainkan makhluk yang nyata.

Kepercayaan itu tidak tergusur oleh agama yang kini dianut orang Marind. Gamu dan Pranyoto menemukan bukti bahwa “kepercayaan terhadap totemisme masih tetap terpelihara hingga sekarang, walaupun pada kenyataannya, kehidupan masyarakat sekarang ini telah menganut kepercayaan agama modern”. Keduanya menyimpulkan hal itu dari kegiatan dan perilaku warga yang mereka amati.

Baca juga Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib

Dema-wir, perayaan yang disaksikan Gamu merekatkan klen

Ketika mengamati kampung, Gamu melihat kepercayaan itu hidup dalam totem klen dan subklen. Wujudnya paling jelas pada perayaan besar yang disebut dema-wir. Dalam perayaan itu, setiap anggota klen mempertunjukkan dirinya sebagai bagian dari dema dan totemnya. Orang tampil bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai wakil leluhur.

Bagi Gamu dan Pranyoto, dema-wir bukan sekadar peringatan atas peristiwa masa lampau. “Perayaan-perayaan tersebut menjadi momen penting yang menyuburkan ikatan kekerabatan dalam totem yang sama dan sekaligus melindungi dan mengembangkan simbol-simbol totem mereka,” tulis keduanya pada bagian pembahasan, ketika menerangkan apa arti pesta itu bagi klen hari ini.

Lewat perayaan itu, menurut Pranyoto dan Gamu, setiap anggota menyatakan bahwa kepentingan klen lebih utama daripada kepentingan pribadi. Inti penghayatan totem adalah menjaga kesatuan sosial dan ikatan kekerabatan dalam tiap klen. Mereka menautkannya dengan pandangan Durkheim bahwa agama terutama urusan bersama, bukan urusan orang seorang.

Dari wawancara, Gamu memperoleh deretan nilai yang disebut warga melekat pada totem: kebersamaan, gotong royong, persatuan, kekerabatan, kekeluargaan, dan persaudaraan. Nilai-nilai itu, tulis Gamu dan Pranyoto, memungkinkan orang mencapai hasil tanpa menimbulkan masalah. Di atasnya tumbuh pula sikap terbuka terhadap agama lain. Gamu dan Pranyoto menyandingkan nilai itu dengan semboyan Kabupaten Merauke yang berasal dari bahasa Marind-Anim, Izakod Bekai Izakod Kai. Artinya satu hati, satu tujuan. Semboyan tersebut juga mereka maknai sebagai bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam kesatuan, dan orang Marind di Yaba Maru memakainya sebagai pedoman.

Tiga sikap warga Marind dalam catatan Gamu

Bagaimana semua itu tampak dalam keseharian? Gamu dan Pranyoto merangkumnya dalam tiga sikap. Yang pertama, menjaga hak orang yang berbeda agama untuk menjalankan ajarannya. Sebagian warga, tulis mereka, sudah menerapkannya ketika bergaul dengan tetangga. Tidak pernah ditemukan perkara antarwarga yang bersumber dari perbedaan agama. Sikap kedua adalah bekerja sama. Gamu dan Pranyoto mendapati sebagian besar orang Marind-Anim mau bekerja dengan sesama yang berbeda suku dan agama, baik dalam kegiatan keagamaan maupun kegiatan pemerintah kampung. Buktinya mereka sebut dengan jelas: keterlibatan langsung menyukseskan Natal Bersama dan Halalbihalal.

Sikap ketiga, bergaul dengan orang yang berbeda pendapat. Gamu dan Pranyoto mencatat antusiasme orang Marind menjalin hubungan dengan tetangga berlainan suku dan agama dalam berbagai kegiatan. Warga saling mengunjungi dan berkumpul merayakan hari besar keagamaan. Orang Marind, tulis keduanya, suka membantu, terbuka, dan berteman dengan orang lain.

Lalu apa makna sikap beragama yang tidak berlebihan bagi mereka? Jawaban yang dihimpun Gamu dari tokoh adat, tokoh agama, dan warga mengarah ke satu hal. Mereka memahaminya sebagai mengambil jalan tengah saat menghadapi perbedaan, lalu saling menghargai dan menghormati. Pranyoto dan Gamu menyebutnya toleransi antarumat beragama.

Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani

Temuan Gamu dan Pranyoto punya batas yang perlu diingat. Keterangan berasal dari 11 keluarga Marind di satu kampung, sehingga tidak dapat dipakai untuk menggambarkan seluruh orang Marind-Anim ataupun kampung lain di Merauke. Naskah juga tidak memuat ucapan langsung para tokoh yang diwawancarai, dan tidak merinci hewan atau tumbuhan yang menjadi totem tiap marga.

Yang masih mengganjal di naskah Gamu dan Pranyoto

Beberapa hal dalam naskah Gamu dan Pranyoto bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Pendahuluan menyebut setidaknya lima suku mendiami Yaba Maru, lalu kalimat berikutnya menghitung empat suku. Penelitian melibatkan 11 keluarga Marind, sedangkan tabel suku mencatat 15 keluarga. Tabel agama pun memakai kepala kolom bertuliskan suku.

Soal rumah ibadah, tabel data kampung yang dimuat Gamu dan Pranyoto mencatat 11 bangunan, delapan di antaranya milik umat Islam, sementara pembahasan hanya menyebut empat. Naskah berulang kali menyatakan gesekan tidak pernah terjadi, tetapi kalimat penutup pembahasannya menulis bahwa konflik tidak bisa dihindari. Kedua pernyataan itu tidak didamaikan.

Pertanyaan yang dibawa Gamu ke Yaba Maru akhirnya dijawab dengan gambaran sebuah kampung sawah. Lima belas keluarga Marind hidup di antara ratusan keluarga pendatang, tetap menjaga hewan dan tumbuhan leluhurnya, dan ikut menyiapkan Natal Bersama maupun Halalbihalal. Di jalur dua, tiga, dan empat, masjid, pura, dan dua gereja masih berdiri seperti saat Gamu datang.

Bagikan

Baca Juga

Nyeri Punggung Paling Banyak pada Orang Buncit yang Jarang Gerak
Diabetes di Desa Herat Banyak Datang Bersama Darah Tinggi
Radang Usus Crohn Lebih Sering Muncul di Wilayah Padang Rumput
Air Minum Warga Pedalaman Kering Brasil Tercemar Sepanjang Musim
Di Desa Boti, Pencuri Ternak Justru Diberi Ternak oleh Warga
Perempuan Tiongkok yang Rajin Olahraga Makin Menolak Peran Lama