Anak Muda Suku Duano di Jambi Malu Memakai Bahasa Leluhurnya

A A

Ilustrasi rumah panggung, titian kayu, dan perahu nelayan di tepi Sungai Parit V, Kuala Tungkal, Jambi [Foto: Thecrazywolf.Netris.3/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Di Sabak, 178 dari 200 kata sudah berubah, atau 89 persen, dan hanya 22 kata yang bertahan.
  • Di Tungkal, pergeseran tampak di semua lapisan usia.
  • Remaja Sabak memakai bahasa Melayu ketika berkomunikasi dengan kawan lewat ponsel.
  • Anak-anak mampu menyebut angka satu sampai sepuluh dan beberapa kata lain dalam bahasa Duano.
  • Remaja Sabak mulai percaya diri memakainya dengan kawan-kawan.
Daftar Isi
  1. Crystal 2000 sampai Mufwene 2021: bahasa kecil diramal kalah
  2. Rozelin 2023: dua ratus kata dasar dan jejak Proto-Melayik
  3. Tiga generasi: lansia Sabak bertahan, Tungkal bergeser di segala usia
  4. Di sekolah dan di ponsel, bahasa Melayu mengambil alih
  5. 2022: Kantor Bahasa Jambi datang, lalu sebulan percobaan
  6. Rozelin, Mailinar, dan Azlan 2026: batas temuan dan catatan naskah

Indonesia kerap disebut kaya bahasa dari Sabang sampai Merauke, tetapi bahasa daerah yang terancam, sekarat, atau sudah punah nyaris tidak mendapat perhatian. Kehadiran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, ditambah bahasa daerah yang lebih besar, membuat penutur bahasa kecil makin sering berpindah lidah. Di pesisir Jambi, pergeseran itu sedang menimpa bahasa Duano, bahasa orang laut yang bermukim di Sabak dan Tungkal.

Keadaan bahasa itu ditelaah Diana Rozelin, Mailinar, dan Ulfatmi Azlan dalam artikel Preventing Extinction Language with Socio-Cultural Activities: An Empirical Study on Duano Sea Tribe, terbit di Journal of Language and Literature volume 26 nomor 1 tahun 2026. Ketiganya mengajar di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Mereka mendatangi Kampung Laut di Sabak, yang letaknya dekat laut, dan Kampung Nelayan di Tungkal, yang jauh dari laut, dua permukiman orang Duano yang sudah tidak lagi hidup berpindah.

Yang mereka bawa pulang adalah gambaran bahasa yang menipis dari dua arah sekaligus. Kosakatanya makin jauh dari bentuk leluhurnya, dan penuturnya makin sedikit yang mau memakainya, terutama anak muda yang merasa malu. Bersamaan dengan itu, para penulis mengajukan satu gagasan yang menurut mereka terlupakan: kegiatan sosial budaya sehari-hari dapat menahan laju kepunahan itu.

Crystal 2000 sampai Mufwene 2021: bahasa kecil diramal kalah

Rozelin dan rekan-rekannya memulai dari keyakinan lama di kalangan ahli bahasa. Mereka merujuk Crystal, yang pada 2000 menulis bahwa bahasa penduduk asli yang menjadi minoritas di tengah masyarakat besar berbahasa banyak dapat diramalkan menjadi bahasa terancam atau punah. Ellen pada 2022, masih menurut naskah ini, menyebut bahasa mati ketika tidak ada lagi penutur yang memakainya sehari-hari, lalu digantikan bahasa mayoritas.

Deretan penelitian lain yang mereka sebut, dari Budhiono pada 2009, Farisiyah dan Zamzani pada 2018, hingga Mufwene dan Patriantoro pada 2021, berbicara tentang pergeseran, pemertahanan, dan kematian bahasa. Menurut para penulis, semuanya sepakat bahwa bahasa minoritas akan mati dan digantikan bahasa mayoritas. Jalan keluar yang lazim ditawarkan pun sama, yakni revitalisasi dan pendokumentasian bahasa.

Bahasa Duano masuk dalam ramalan itu. Rozelin dan kawan-kawan pada 2021 sudah mencatat bahwa bahasa ini belum banyak dikaji ahli bahasa, dan bahwa ia bisa mati bila tidak segera direvitalisasi. Jumlah orang Duano di Jambi lebih kecil daripada kelompok etnis lain, sehingga bahasanya dipakai dalam lingkup yang terbatas, terutama di dalam keluarga dan komunitas sendiri.

Di titik inilah naskah 2026 mengambil jalan berbeda. Para penulis heran belum ada peneliti yang menimbang pengaruh kegiatan sosial budaya terhadap bahasa yang terancam. Sumarto pada 2019 memang membahas kegiatan sosial budaya, tetapi tanpa memasukkan sistem pengetahuan serta sistem peralatan hidup dan teknologi. “Kegagalan merevitalisasi bahasa melalui kegiatan sosial budaya akan berujung pada kematiannya,” tulis Rozelin, Mailinar, dan Azlan dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival

Rozelin 2023: dua ratus kata dasar dan jejak Proto-Melayik

Bukti pertama datang dari kosakata. Datanya, kata para penulis, adalah bagian kecil dari kajian lebih besar yang dikerjakan Rozelin pada 2023. Dua ratus kata dasar bahasa Duano dibandingkan dengan bentuk Proto-Melayik, bahasa purba yang menurunkannya. Kata yang suku katanya berubah atau bertambah disebut inovasi, sedangkan kata yang bertahan tanpa perubahan sejak masa purba itu disebut relik.

Hasilnya timpang. Di Sabak, 178 dari 200 kata sudah berubah, atau 89 persen, dan hanya 22 kata yang bertahan. Di Tungkal perubahannya lebih jauh lagi: 185 kata, atau 92,5 persen, dengan 15 kata relik. Artinya, di Sabak kira-kira satu dari sembilan kata dasar masih sama dengan bentuk leluhurnya, sementara di Tungkal bahkan tidak sampai satu dari dua belas.

Kosakata Duano yang berubah, bertahan, dan berkerabatInovasi: Sabak +89,0, Tungkal +92,5; Relik: Sabak +11,0, Tungkal +7,5; Kognat: Sabak +51,5, Tungkal +30,0.Kosakata Duano yang berubah, bertahan, danberkerabatPersen dari 200 kosakata dasar di tiap daerahSabakTungkal2550751000Inovasi89,092,5Relik11,07,5Kognat51,530,0Inovasi: suku kata berubah atau bertambah. Relik: bertahan sejakProto-Melayik. Kognat: berasal dari induk yang sama.
Sumber: Diana Rozelin, Mailinar, dan Ulfatmi Azlan, Preventing Extinction Language with Socio-Cultural Activities: An Empirical Study on Duano Sea Tribe, Journal of Language and Literature, 26(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ukuran ketiga adalah kognat, yaitu kata-kata yang berasal dari induk bahasa yang sama. Di sini Sabak kembali lebih kaya, dengan 103 kata atau 51,5 persen, sedangkan Tungkal 60 kata atau 30 persen. Dari angka relik yang paling tinggi pun hanya 11 persen itu, para penulis menyimpulkan bahwa bahasa Duano berada pada tingkat bahaya. Mereka sendiri menghitung bahwa hampir 93 persen kata Duano di Tungkal telah mengalami pergeseran suku kata.

Daftar contoh dalam naskah membuat angka itu terasa. Untuk malam, keempat informan Sabak yang dicontohkan masih menyebut bereng, yang dekat dengan bentuk purbanya, sedangkan keempat informan Tungkal menyebut malam. Hidung di Sabak adalah klongu, di Tungkal sudah menjadi idung atau hidung. Gigi di Sabak disebut lepu atau lepuh, sedangkan di Tungkal dua dari empat informan menyebutnya gigi.

Dari contoh semacam itu para penulis menarik perbedaan. Di Sabak kosakata hanya bergeser pada suku katanya, seperti lepu menjadi lepuh, sedangkan di Tungkal yang berganti adalah katanya, seperti lepu menjadi gigi. Mereka menyebut empat penyebab, yakni pengaruh lingkungan, seberapa sering orang bepergian ke luar daerah, kontak dengan kelompok etnis lain, dan pengaruh media sosial.

Meski berbeda nasib, bahasa di dua tempat itu tetap berkerabat dekat. Perbedaan bunyi di antara keduanya terhitung 6,01 persen, dan perbedaan kata 30 persen, yang oleh penulis digolongkan sebagai beda subdialek. Hampir separuh data malah tidak berbeda sama sekali. Kesimpulan mereka, orang Duano di Sabak dan Tungkal mewarisi bahasa dari leluhur yang sama, dan keduanya sama-sama terancam.

Tiga generasi: lansia Sabak bertahan, Tungkal bergeser di segala usia

Bukti kedua datang dari siapa yang masih berbicara. Di Sabak, orang lanjut usia masih memakai bahasa Duano, dan tingkat pergeseran bahasa pada kelompok ini dicatat nol. Pada remaja Sabak pergeserannya tinggi, sama dengan remaja Tungkal. Di Tungkal, pergeseran tampak di semua lapisan usia. Para penulis lalu menempatkan Sabak pada tingkat kuning dan Tungkal pada tingkat merah.

Di rumah-rumah Sabak, generasi pertama masih berbahasa Duano kepada anak dan cucu dalam kegiatan sehari-hari. Sebagian mencampurnya dengan bahasa lain karena khawatir anak cucu tidak mengerti. Di Tungkal keadaannya berbalik. Orang tua di sana masih paham dan masih ingat kosakata Duano, tetapi sangat jarang mengucapkannya, dan hampir tidak pernah memakainya kepada anak dan cucu.

Alasan mereka dicatat dalam naskah, dalam bahasa Inggris. “Kami sudah terbiasa berbahasa Melayu, dan ketika kami berbahasa Duano, anak dan cucu kami tidak mengerti,” kata para lansia Tungkal yang dikutip peneliti tanpa nama. Bagi penulis, inilah tanda bahaya terbesar, sebab bahasa ibu menurut mereka akan bertahan selama masih dipakai di dalam keluarga inti.

Generasi kedua memperlihatkan belahan yang sama. Kebanyakan orang dewasa di Sabak masih berbahasa Duano ketika bertemu kawan, keluarga, dan tetangga, kadang bercampur Melayu, termasuk saat ke pasar. Orang dewasa Tungkal tidak pernah memakainya, bahkan ketika berkumpul dengan sesama orang Duano. Mereka mengaku malu, dan khawatir orang lain akan memandang mereka sebagai orang asing.

Bahasa yang dipakai orang Duano, Sabak dan TungkalBahasa yang dipakai orang Duano, Sabak dan TungkalBahasa yang dipakai orang Duano, Sabak danTungkalMenurut tempat dan generasi penuturnyaSabakTungkalMelayuMelayuAnak di sekolahDuano + MelayuMelayuDewasa di pasarMelayuMelayuRemaja di ponselDuano + MelayuMelayuDewasa di ponselDuanoMelayuLansia di rumahDi Tungkal tercatat satu informan lanjut usia yang memakai bahasaDuano saat bertelepon dengan keluarganya.
Sumber: Diana Rozelin, Mailinar, dan Ulfatmi Azlan, Preventing Extinction Language with Socio-Cultural Activities: An Empirical Study on Duano Sea Tribe, Journal of Language and Literature, 26(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi

Di sekolah dan di ponsel, bahasa Melayu mengambil alih

Para penulis kemudian menengok dua ruang yang oleh Sumarto ditinggalkan. Yang pertama sekolah. Anak-anak Duano di kedua daerah bersekolah dari sekolah dasar, dan paling tinggi sampai sekolah menengah atas, meski tidak banyak yang sampai ke sana. Mereka lebih sering membantu orang tua menangkap ikan. Di sekolah, bahasa Duano tidak dipakai sama sekali.

Anak-anak itu punya penjelasan sendiri. “Di sekolah kami memakai bahasa Melayu. Kalau kami memakai bahasa Duano, teman dan guru kami tidak mengerti. Kami juga tidak pernah memakai bahasa Duano saat bermain,” kata mereka, sebagaimana dicatat peneliti tanpa menyebut nama. Yang tersisa bagi bahasa itu, menurut ringkasan naskah, adalah rumah.

Latar ekonominya ikut dicatat. Orang Duano umumnya berada di lapisan menengah ke bawah, dan kebanyakan menangkap ikan atau bekerja di tempat toke membuat ikan asin. Pekerjaan itu dijalani laki-laki dan perempuan, dan anak-anak kadang ikut membantu. Karena itulah, tulis para penulis, daya tarik pendidikan di tengah masyarakat Duano sangat rendah.

Ruang kedua adalah telepon genggam, yang kini dipakai dari remaja sampai orang tua. Remaja Sabak memakai bahasa Melayu ketika berkomunikasi dengan kawan lewat ponsel. Menurut naskah, mereka malu karena bahasa Duano dianggap menandakan pendidikan rendah, ekonomi rendah, dan kelas bawah. Mereka mengerti ketika nenek berbicara Duano, tetapi tidak bisa mengucapkannya dengan lancar. Memakainya di depan kawan, kata mereka, terasa aneh dan memalukan bila terdengar orang lain.

Remaja Tungkal sudah selangkah lebih jauh. “Kami tidak mengerti bahasa Duano, jadi kami memakai bahasa Melayu dalam komunikasi kami,” kata responden di sana, yang juga tidak disebut namanya. Di ponsel, orang dewasa Sabak masih memakai Duano bercampur Melayu dan para lansianya memakai Duano. Di Tungkal hanya satu informan lanjut usia yang memakainya ketika bercakap dengan keluarga.

Dari sana lahir peringatan paling keras dalam naskah ini. Pemertahanan bahasa di kalangan orang laut Duano, tulis para penulis, tidak dalam keadaan sehat. Bila dibiarkan, mereka memperkirakan dalam sepuluh tahun ke depan bahasa ini akan masuk golongan sangat terancam atau kritis, terutama di Tungkal, tempat generasi tua pun mulai melupakannya. Generasi mudanya tidak lagi memakai bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari, baik di keluarga inti maupun di lingkungan lain.

2022: Kantor Bahasa Jambi datang, lalu sebulan percobaan

Naskah ini juga mencatat upaya yang sudah berjalan. Pada 2022 Kantor Bahasa Jambi menggelar kegiatan tentang bahasa Duano di Tungkal, dengan harapan anak dan remaja mengenali kembali kosakata yang tidak lagi dipakai. Kegiatan itu disebut berjalan lancar. Anak-anak mampu menyebut angka satu sampai sepuluh dan beberapa kata lain dalam bahasa Duano.

Sesudah itu, remaja dan orang dewasa Duano di Tungkal mulai mencoba menyelipkan kosakata Duano dalam percakapan sehari-hari. Para penulis membacanya sebagai kenaikan pemakaian kosakata di kalangan generasi muda dan generasi kedua. Bagi mereka, inilah contoh kegiatan sistem pengetahuan yang melibatkan sekolah atau pemerintah, misalnya lewat pembinaan dan lomba berbahasa daerah.

Rozelin dan rekan-rekannya lalu turun tangan sendiri. Mereka mengajak para orang tua Duano di Sabak dan Tungkal memakai bahasanya saat menelepon dan menemui kawan, juga dalam pengajian, arisan, pernikahan adat Duano, pertunjukan budaya, dan percakapan keluarga. Anak-anak, menurut mereka, akan melihat dan meniru. Kaum muda diajak mencoba beberapa kosakata Duano di aplikasi WhatsApp.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Sebulan kemudian hasilnya mereka sebut cukup menarik. Generasi kedua dan ketiga mulai memakai bahasa Duano ketika berkomunikasi lewat ponsel, walau dengan kosakata terbatas. Remaja Sabak mulai percaya diri memakainya dengan kawan-kawan. Di Tungkal, hal itu tidak terjadi. Para penulis menilai capaian tersebut sangat baik untuk tahap awal.

Usul mereka pun bertumpu pada pengalaman itu. Pemerintah diminta bekerja sama dengan Kantor Bahasa dan para pemerhati bahasa untuk memperbanyak kegiatan di tengah masyarakat. Tulisan dan spanduk di lingkungan tempat tinggal orang Duano diusulkan memakai bahasa Duano, bukan bahasa Melayu. Cara ini, kata mereka, tidak menuntut banyak biaya, tetapi menuntut kerja sama semua pihak. Pihak yang mereka maksud meliputi masyarakat Duano sebagai pemilik bahasa, pemegang kebijakan, pemerhati, dan pegiat bahasa.

Rozelin, Mailinar, dan Azlan 2026: batas temuan dan catatan naskah

Temuan ini punya batas yang perlu diingat. Yang diamati hanya dua belas informan dari dua kampung, dan perubahan sesudah ajakan para peneliti baru berumur satu bulan serta dilaporkan tanpa angka. Naskah tidak menyebut berapa orang yang mulai memakai bahasa Duano di ponsel. Apakah kebiasaan baru itu bertahan lebih lama juga belum terjawab.

Pembaca yang membuka naskahnya akan menemukan beberapa hal yang tidak seragam. Ringkasan menyebut pendekatan kualitatif, sedangkan bagian dalamnya menyebut kuantitatif dan kualitatif. Informan Sabak diberi lambang I sampai VI dan informan Tungkal VI sampai XII, sehingga lambang VI muncul dua kali. Nomor bagan yang dirujuk dalam uraian juga tidak selalu sama dengan nomor yang tertera pada bagannya.

Dengan segala batasnya, naskah ini menambahkan satu mata rantai pada kajian yang sudah berjalan sejak Crystal menulis tentang kematian bahasa. Sesudah revitalisasi dan dokumentasi, kini pengajian, arisan, dan percakapan di ponsel ikut ditimbang sebagai penahan. Di Sabak mata rantai itu masih tersambung lewat para lansia. Di Tungkal ia tinggal bergantung pada ingatan orang-orang tua yang jarang lagi berbicara.

Bagikan

Baca Juga

Di Yaba Maru, Totem Marind-Anim Jadi Bekal Rukun Beda Agama
Nyeri Punggung Paling Banyak pada Orang Buncit yang Jarang Gerak
Diabetes di Desa Herat Banyak Datang Bersama Darah Tinggi
Radang Usus Crohn Lebih Sering Muncul di Wilayah Padang Rumput
Air Minum Warga Pedalaman Kering Brasil Tercemar Sepanjang Musim
Di Desa Boti, Pencuri Ternak Justru Diberi Ternak oleh Warga