Tiap Tugas Berat Menambah Beban Batin Penjaga Pantai Jerman

A A

Ilustrasi menara jaga penyelamat DLRG dengan papan selamat kuning di pantai berpasir Juist, Jerman [Foto: Ein Dahmer/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Lebih dari 1.000 di antaranya adalah tindakan menyelamatkan nyawa.
  • Skor rata-rata peristiwa berat di luar DLRG adalah 15,03, lebih tinggi daripada 10,27 untuk peristiwa di dalam organisasi.
  • Relawan muda dan relawan perempuan, sebaliknya, melaporkan gejala lebih berat.
  • Pengetahuan teori, yang dimiliki 79,45 persen relawan, tidak berkaitan dengan berat gejala.
Daftar Isi
  1. Juli 2024: pertanyaan sampai ke tangan para relawan
  2. Bertahun-tahun sebelumnya: peristiwa yang sudah mereka lewati
  3. Saat survei diisi: gejala yang masih terbawa
  4. Sesudah peristiwa: siapa yang gejalanya lebih ringan
  5. Makin lama bertugas: pangkat dan jarak dari lokasi kejadian
  6. Tahun 2026: batas temuan dan catatan atas naskah

Sepanjang 2023, relawan DLRG dipanggil menolong kira-kira 60.000 kali. Lebih dari 1.000 di antaranya adalah tindakan menyelamatkan nyawa. Angka itu dicatat untuk Deutsche Lebens-Rettungs-Gesellschaft, perkumpulan penyelamat air Jerman yang seluruh anggotanya bekerja tanpa bayaran. Tiga peneliti kemudian bertanya apa yang tertinggal pada para relawan itu setelah panggilan demi panggilan.

Jawabannya ditulis Kim Madeleine Stucke, Kai Jannik Nehler, dan Martin Schultze dalam artikel Posttraumatic stress in German volunteer lifeguards: evidence for the building block effect. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 dengan nomor artikel 2023 pada tahun 2026. Stucke dan Nehler dicatat menyumbang setara sebagai penulis pertama.

Stucke bekerja di bagian psikiatri anak dan remaja Ulm University serta German Center for Mental Health. Nehler dan Schultze berasal dari Department of Psychology, Goethe University Frankfurt, dan Nehler juga tercatat di HMU Health and Medical University Erfurt. Naskah itu menyebut Stucke sendiri relawan aktif DLRG, dan menyatakan peran tersebut tidak memengaruhi analisis.

Temuan utamanya dapat diringkas pendek. Makin banyak peristiwa berat yang dilalui seorang relawan selama bertugas di DLRG, makin berat pula gejala stres pascatrauma yang ia laporkan. Para penulis menyebut pola itu building block effect, yakni beban yang tersusun dari peristiwa demi peristiwa, bukan dari satu kejadian saja.

DLRG disebut naskah itu sebagai organisasi penyelamat air sukarela terbesar di dunia, dengan tugas pokok mencegah kematian akibat tenggelam. Sekitar 70.000 relawan aktifnya berusia paling muda 16 tahun. Mereka tersebar di lebih dari 2.000 kelompok lokal di seluruh Jerman.

Pekerjaan darurat terutama ditangani dua bagian. Layanan penyelamatan air menurunkan sekitar 4.000 penjaga di pesisir Jerman setiap musim panas untuk mengawasi tempat mandi, memberi pertolongan pertama, dan mencari orang hilang. Bagian perlindungan sipil mengirim relawan ke bencana seperti banjir serta menyiagakan regu cepat untuk keadaan darurat di perairan.

Sampai penelitian ini dikerjakan, menurut para penulis, baru ada dua kajian tentang stres pascatrauma pada penjaga pantai. Satu dilakukan di Selandia Baru dan satu lagi di Australia. Keduanya mendapati penjaga yang lebih muda lebih rentan, dan kajian Selandia Baru juga mencatat skor gejala lebih tinggi pada perempuan. Petugas pemadam kebakaran, sebaliknya, sudah banyak diteliti.

Juli 2024: pertanyaan sampai ke tangan para relawan

Pada Juli 2024 komite etik di Goethe University Frankfurt menyetujui rencana penelitian itu. Sesudahnya sebuah survei daring disebarkan kepada relawan DLRG melalui media sosial dan daftar surat elektronik, dan terbuka selama dua bulan. Dari 439 orang yang mulai mengisi, jawaban 365 relawan dari 198 kelompok lokal akhirnya dianalisis.

Relawan DLRG yang menjawab surveiDari 365 relawan DLRG di 198 kelompok lokal, 244 laki-laki; rata-rata usia 29,85 tahun; 24,38 persen mendapat skor gejala nol.Relawan DLRG yang menjawab surveiDeutsche Lebens-Rettungs-Gesellschaft, Jerman365Relawan244 laki-laki198Kelompok lokalseluruh Jerman29,85Tahunrata-rata usia24,38%Skor noltanpa gejalaJalan risetnya365 relawan DLRGPeristiwa beratGejala stresUsia relawan 16 sampai 75 tahun; masa aktif rata-rata 11,53 tahun.
Sumber: Kim Madeleine Stucke, Kai Jannik Nehler, dan Martin Schultze, Posttraumatic stress in German volunteer lifeguards: evidence for the building block effect, BMC Public Health, 26(2023), 2026. Grafik: Cekricek.id

Mereka yang menjawab berusia 16 sampai 75 tahun, dengan rata-rata 29,85 tahun. Masa aktif mereka di DLRG merentang dari 1 sampai 60 tahun, rata-rata 11,53 tahun. Sebanyak 244 orang adalah laki-laki, dua kali lipat jumlah perempuan, dan mereka datang dari semua asosiasi negara bagian.

Lebih dari separuh, tepatnya 55,34 persen, aktif di dua bagian sekaligus. Sebanyak 30,13 persen hanya bertugas di layanan penyelamatan air, sedangkan 14,52 persen hanya di perlindungan sipil. Hampir empat dari lima relawan, yakni 290 orang atau 79,45 persen, mengaku pernah mendapat pengetahuan teori tentang cara menghadapi tekanan batin.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Bertahun-tahun sebelumnya: peristiwa yang sudah mereka lewati

Setiap relawan diminta menandai seberapa sering ia pernah mengalami 19 jenis peristiwa berat, di dalam maupun di luar DLRG. Daftar itu ditambah dua butir khusus penyelamat, yaitu upaya menolong orang yang butuh bantuan dan pengangkatan jenazah. Tenggelam dimasukkan sebagai contoh kematian mendadak akibat kekerasan.

Hasil hitungannya menempatkan kehidupan di luar organisasi lebih tinggi. Skor rata-rata peristiwa berat di luar DLRG adalah 15,03, lebih tinggi daripada 10,27 untuk peristiwa di dalam organisasi. Naskah itu juga mencatat banyak relawan sekaligus bekerja atau menjadi relawan di kepolisian, pemadam kebakaran, militer, atau layanan ambulans.

Ketika diminta menyebut satu peristiwa yang paling membebani, para relawan paling sering menulis upaya resusitasi, sebanyak 54 kali. Berikutnya kejadian yang melibatkan anak-anak 45 kali, kematian akibat kecelakaan 37 kali, pengangkatan jenazah 31 kali, dan operasi banjir 27 kali. Sebagian jawaban banjir merujuk pada banjir Ahrtal di Jerman.

Peristiwa yang paling membebani relawanUpaya resusitasi: Jumlah penyebutan +54; Kejadian melibatkan anak: Jumlah penyebutan +45; Kematian akibat kecelakaan: Jumlah penyebutan +37; Pengangkatan jenazah: Jumlah penyebutan +31; Operasi banjir: Jumlah penyebutan +27.Peristiwa yang paling membebani relawanJumlah penyebutan oleh relawan DLRG, Jerman2040600Upaya resusitasi54Kejadian melibatkan anak45Kematian akibat kecelakaan37Pengangkatan jenazah31Operasi banjir27Ada 19 relawan menulis lebih dari satu peristiwa; 171 jawaban tidaktergolongkan.
Sumber: Kim Madeleine Stucke, Kai Jannik Nehler, dan Martin Schultze, Posttraumatic stress in German volunteer lifeguards: evidence for the building block effect, BMC Public Health, 26(2023), 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebanyak 19 relawan menuliskan lebih dari satu peristiwa meski diminta satu saja. Ada pula 171 jawaban yang tidak dapat dimasukkan ke golongan besar mana pun. Para penulis lalu memeriksa apakah jenis peristiwa terburuk itu menentukan beratnya gejala, dan tidak menemukan perbedaan yang bermakna antarjenis, walau menyaksikan kematian tampak disertai skor lebih tinggi.

Saat survei diisi: gejala yang masih terbawa

Pada saat mengisi survei, hampir seperempat relawan, 24,38 persen, mendapat skor gejala nol. Di antara mereka yang skornya tidak nol, rata-ratanya 9,95 pada daftar 20 butir pertanyaan. Pertanyaan itu sengaja diubah agar merujuk pada semua peristiwa yang dilaporkan, bukan satu peristiwa terburuk.

Di titik inilah beban yang menumpuk itu terlihat. Jumlah peristiwa berat di dalam DLRG terus berkaitan dengan gejala yang lebih berat pada setiap tahap analisis yang dipertahankan para penulis. Peristiwa di luar DLRG tidak menunjukkan kaitan yang sama setelah faktor lain ikut diperhitungkan, meski memasukkan keduanya membuat perkiraan lebih tepat.

Stucke, Nehler, dan Schultze merumuskan artinya dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan. “Studi ini menyoroti pentingnya menangani tantangan kesehatan mental di kalangan penjaga pantai sukarela, dengan mengakui bahwa gejala stres pascatrauma tidak mesti berasal dari satu peristiwa traumatis terburuk, melainkan dapat berkembang secara kumulatif,” tulis mereka.

Mengapa peristiwa di luar organisasi tidak tampak berpengaruh, para penulis tidak memastikannya. Mereka menduga batasnya kabur, sebab kerja sukarela bisa terhitung kehidupan pribadi sekaligus pekerjaan. Peristiwa di luar DLRG pun kemungkinan campuran pengalaman pribadi dan tugas di lembaga darurat lain.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Sesudah peristiwa: siapa yang gejalanya lebih ringan

Sesudah jumlah peristiwa diperhitungkan, empat hal berkaitan dengan gejala yang lebih ringan. Keempatnya adalah usia yang lebih tua, jenis kelamin laki-laki, dukungan sosial yang dirasakan lebih besar, dan dukungan sejawat yang lebih sering. Relawan muda dan relawan perempuan, sebaliknya, melaporkan gejala lebih berat.

Dukungan sejawat di DLRG berarti pendampingan psikologis darurat oleh rekan yang terlatih, termasuk pembahasan terstruktur sesudah tugas dan percakapan pribadi. Relawan menilai seberapa sering dukungan itu hadir sesudah peristiwa berat, dari nol untuk tidak pernah sampai empat untuk selalu. Rata-rata jawabannya 2,86.

Namun tidak satu pun dari empat hal itu mengubah kuatnya kaitan antara jumlah peristiwa dan gejala. Dugaan para penulis bahwa dukungan akan meredam dampak tiap peristiwa tambahan tidak terbukti pada data ini. Begitu pula dugaan bahwa perempuan dan relawan muda terpukul lebih keras oleh tiap peristiwa.

Mengenai usia, para penulis menawarkan dua kemungkinan tanpa memilih salah satunya. Relawan yang lebih tua mungkin terbantu pengalaman hidup dan lebih mengenal jaringan dukungan yang tersedia. Mungkin juga relawan yang gejalanya berat sudah lebih dulu keluar, sehingga tidak lagi terwakili di kelompok usia tua.

Dari pola itu mereka menarik satu saran praktis. Dalam terjemahan dari bahasa Inggris, mereka menulis bahwa temuan ini “menunjukkan kelompok sasaran untuk upaya pelatihan tambahan, khususnya perempuan yang lebih muda, dan menegaskan nilai membina jaringan dukungan”.

Makin lama bertugas: pangkat dan jarak dari lokasi kejadian

Pada tahap berikutnya para penulis menambahkan pangkat, dan ini mereka tandai sebagai penjajakan, bukan pengujian dugaan. Relawan berpangkat rendah, yaitu penolong di lokasi dan pemimpin tim, melaporkan gejala lebih berat daripada pangkat menengah. Mereka menambahkan bahwa pangkat rendah dapat diduga juga lebih berat daripada pangkat tinggi.

Penjelasan yang diajukan menyangkut jarak dan waktu. Relawan berpangkat rendah lebih sering diturunkan langsung ke lokasi, sementara atasan mereka kerap berada lebih jauh dari korban. Peristiwa yang dialami pemegang pangkat tinggi juga mungkin terjadi lebih lama berselang, sehingga gejalanya kini lebih ringan.

Begitu pangkat masuk hitungan, kaitan jenis kelamin dengan gejala tidak lagi bermakna. Para penulis memeriksa sebabnya dan mendapati jenis kelamin dan pangkat berhubungan cukup erat, sehingga keduanya agaknya menerangkan hal yang sama. Pengetahuan teori, yang dimiliki 79,45 persen relawan, tidak berkaitan dengan berat gejala.

Untuk hasil terakhir itu para penulis menunjuk cara bertanyanya. Pengetahuan teori hanya ditanyakan lewat satu soal ya atau tidak, tanpa keterangan dari mana dan kapan diperoleh. Materi semacam itu juga baru beberapa tahun terakhir masuk ke pelatihan DLRG.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Tahun 2026: batas temuan dan catatan atas naskah

Ketika terbit pada 2026, naskah itu membawa daftar keterbatasannya sendiri. Para relawan memilih sendiri untuk ikut, sehingga peserta muda berjumlah tidak sebanding. Semua data berasal dari laporan diri pada satu waktu, dan para penulis meminta hasilnya dibaca hati-hati karena rancangan itu tidak dapat menunjukkan sebab-akibat.

Mereka juga mengakui kemungkinan relawan menahan diri saat menjawab, karena di kalangan petugas darurat ada anggapan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Dukungan sejawat dan pengetahuan teori masing-masing hanya diukur dengan satu pertanyaan. Daftar peristiwa yang mereka ubah belum diuji mutunya secara terpisah.

Beberapa hal dalam naskah dapat dicek pembaca. Lima jenis peristiwa terburuk, 19 jawaban ganda, dan 171 jawaban tak tergolongkan berjumlah 384, lebih banyak daripada 365 relawan yang dianalisis, dan naskah tidak menerangkan selisihnya. Pilihan jawaban frekuensi juga bertumpuk di angka lima, yakni 3 sampai 5 kali dan 5 sampai 10 kali.

Ada pula kalimat yang menyebut laki-laki sebagai kategori acuan dan kaitannya negatif, lalu menyimpulkan perempuan melaporkan gejala lebih berat. Arah tanda itu tidak dijelaskan lebih jauh di bagian tersebut. Nama DLRG dalam bahasa Inggris ditulis dengan dua ejaan. Para penulis juga menyatakan memakai ChatGPT-5 untuk penyuntingan bahasa.

Para penulis menutup dengan permintaan agar relawan diikuti sejak masa pelatihan, termasuk mereka yang kemudian berhenti. Sampai naskah itu terbit pada 2026, yang tersedia baru potret satu waktu dari 365 relawan.

Bagikan

Baca Juga

Anak Muda Suku Duano di Jambi Malu Memakai Bahasa Leluhurnya
Di Yaba Maru, Totem Marind-Anim Jadi Bekal Rukun Beda Agama
Panas Kering Isfahan Mengirim Lebih Banyak Pasien Jantung ke RS
Nyeri Punggung Paling Banyak pada Orang Buncit yang Jarang Gerak
Diabetes di Desa Herat Banyak Datang Bersama Darah Tinggi
Radang Usus Crohn Lebih Sering Muncul di Wilayah Padang Rumput