Delapan dari 10 Ikan Kali Surabaya Betina, Polutan Jadi Sorotan

A A

Ilustrasi aliran Kali Mas di Surabaya. [Foto: Wikimedia Commons]

  • Sekitar delapan dari 10 ikan lokal Kali Surabaya berkelamin betina
  • Pencemar berhormon, air asam, dan suhu ekstrem dapat menggeser kelamin larva
  • Guru Besar IPB meminta penyebaran benih ditunda sampai air membaik

Cekricek.id — Dari setiap 10 ikan lokal di Kali Surabaya, sekitar delapan berkelamin betina. Di alam, perbandingan jantan dan betina pada ikan umumnya mendekati separuh-separuh, sehingga kondisi di sungai itu menyimpang jauh.

Guru Besar Departemen Budidaya Perairan IPB University, Prof Alimuddin, menyebut ketimpangan tersebut dapat dipicu berbagai faktor lingkungan yang memengaruhi penentuan kelamin pada larva ikan.

“Penetapan dan diferensiasi kelamin pada larva ikan sangat peka terhadap dinamika kualitas air dan polusi lingkungan,” kata Alimuddin dalam keterangan tertulis IPB University, Senin (12/10/2026).

Salah satu pemicu yang ia sebut adalah bahan pencemar yang mengandung hormon.

“Paparan bahan pencemar yang mengandung estrogen sintetis maupun alami, seperti sisa obat kontrasepsi atau fitoestrogen, mendorong terjadinya feminisasi secara masif pada larva ikan,” ujarnya.

Air yang cenderung asam dan suhu yang naik-turun tajam selama masa larva juga dapat menggeser arah perkembangan kelamin ke betina.

Jantan Sedikit, Telur Tak Terbuahi

Menurut Alimuddin, akibatnya bisa panjang bagi spesies lokal bila keadaan itu terus berlangsung.

“Dominasi populasi betina yang ekstrem berdampak signifikan terhadap keberlangsungan spesies lokal jika terjadi terus-menerus,” katanya.

Ia menguraikan tiga ancaman. Pejantan yang tinggal sekitar 20 persen bisa kehabisan sperma sehingga banyak telur tidak terbuahi. Jumlah pejantan yang sedikit juga mendorong perkawinan sekerabat, yang menaikkan risiko cacat genetik dan melemahkan daya tahan terhadap penyakit. Lalu, betina yang tak menemukan pasangan akan menyerap kembali telurnya, sementara pada jenis ikan yang pejantannya bertugas menjaga telur, banyak telur habis dimangsa.

Untuk memulihkan sungai, Alimuddin meminta kandungan senyawa pengganggu hormon dalam air dan endapan diperiksa, termasuk etinilestradiol, pestisida, dan ftalat, sambil memetakan titik-titik sumber pencemarnya. Baku mutu air perlu memasukkan parameter zat pengganggu hormon, izin pembuangan limbah cair diperketat, dan industri pencemar diberi sanksi tegas. Instalasi pengolahan limbah juga perlu diperbarui, dan lahan basah buatan dapat dibangun sebagai penyaring alami.

“Aktivitas penyebaran benih atau restocking sebaiknya ditunda sampai kualitas air membaik,” tegasnya.

Baca juga: Banjir Bandang Sumatra Berulang karena Sisa Longsor Masih di Hulu

Baca juga: Hutan Rusak Tak Pulih Hanya dengan Menanam, Kata Guru Besar UGM

Baca juga: Paving Block dari Cangkang Kerang dan Tulang Ikan Hemat Semen

Bagikan

Baca Juga

Ayam Kampung dan Broiler Setara Proteinnya, Bedanya di Lemak
Batuk Pilek Lebih dari Dua Minggu Tanda Perlu Periksa ke Dokter
Biochar Diuji di Lahan Bawang Merah Cirebon, Lanjut Musim Kedua
Tahu Nama Anak Bukan Tanda Boleh Menjemput, Kata Pakar IPB
Skrining Narkoba Lewat Pupil Mata Digagas Mahasiswa IPB
Ikan Kumbe Tak Cukup Ditangkap, Harus Diolah dan Dipasarkan