- Sekitar delapan dari 10 ikan lokal Kali Surabaya berkelamin betina
- Pencemar berhormon, air asam, dan suhu ekstrem dapat menggeser kelamin larva
- Guru Besar IPB meminta penyebaran benih ditunda sampai air membaik
Cekricek.id — Dari setiap 10 ikan lokal di Kali Surabaya, sekitar delapan berkelamin betina. Di alam, perbandingan jantan dan betina pada ikan umumnya mendekati separuh-separuh, sehingga kondisi di sungai itu menyimpang jauh.
Guru Besar Departemen Budidaya Perairan IPB University, Prof Alimuddin, menyebut ketimpangan tersebut dapat dipicu berbagai faktor lingkungan yang memengaruhi penentuan kelamin pada larva ikan.
“Penetapan dan diferensiasi kelamin pada larva ikan sangat peka terhadap dinamika kualitas air dan polusi lingkungan,” kata Alimuddin dalam keterangan tertulis IPB University, Senin (12/10/2026).
Salah satu pemicu yang ia sebut adalah bahan pencemar yang mengandung hormon.
“Paparan bahan pencemar yang mengandung estrogen sintetis maupun alami, seperti sisa obat kontrasepsi atau fitoestrogen, mendorong terjadinya feminisasi secara masif pada larva ikan,” ujarnya.
Air yang cenderung asam dan suhu yang naik-turun tajam selama masa larva juga dapat menggeser arah perkembangan kelamin ke betina.
Jantan Sedikit, Telur Tak Terbuahi
Menurut Alimuddin, akibatnya bisa panjang bagi spesies lokal bila keadaan itu terus berlangsung.
“Dominasi populasi betina yang ekstrem berdampak signifikan terhadap keberlangsungan spesies lokal jika terjadi terus-menerus,” katanya.
Ia menguraikan tiga ancaman. Pejantan yang tinggal sekitar 20 persen bisa kehabisan sperma sehingga banyak telur tidak terbuahi. Jumlah pejantan yang sedikit juga mendorong perkawinan sekerabat, yang menaikkan risiko cacat genetik dan melemahkan daya tahan terhadap penyakit. Lalu, betina yang tak menemukan pasangan akan menyerap kembali telurnya, sementara pada jenis ikan yang pejantannya bertugas menjaga telur, banyak telur habis dimangsa.
Untuk memulihkan sungai, Alimuddin meminta kandungan senyawa pengganggu hormon dalam air dan endapan diperiksa, termasuk etinilestradiol, pestisida, dan ftalat, sambil memetakan titik-titik sumber pencemarnya. Baku mutu air perlu memasukkan parameter zat pengganggu hormon, izin pembuangan limbah cair diperketat, dan industri pencemar diberi sanksi tegas. Instalasi pengolahan limbah juga perlu diperbarui, dan lahan basah buatan dapat dibangun sebagai penyaring alami.
“Aktivitas penyebaran benih atau restocking sebaiknya ditunda sampai kualitas air membaik,” tegasnya.
Baca juga: Banjir Bandang Sumatra Berulang karena Sisa Longsor Masih di Hulu
Baca juga: Hutan Rusak Tak Pulih Hanya dengan Menanam, Kata Guru Besar UGM
Baca juga: Paving Block dari Cangkang Kerang dan Tulang Ikan Hemat Semen















