- Tepung cangkang kerang dan tulang ikan menggantikan sebagian semen
- Pemakaian semen dapat berkurang hingga sepertiganya
- Paving block mengeras padat dalam sekitar tiga hari pada uji laboratorium
Cekricek.id — Cangkang kerang dan tulang ikan yang biasanya dibuang pedagang pasar bisa menggantikan sebagian semen dalam paving block. Empat mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meramu keduanya menjadi tepung, dan dengan formula itu pemakaian semen dapat berkurang hingga sepertiganya.
Gagasannya berangkat dari jalan rusak di sebuah daerah di Tuban, Jawa Timur.
“Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” kata Chelsea Hani Marcelia Sundawa, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR, dalam keterangan tertulis UNAIR, Selasa (6/10/2026).
Bahan penggantinya adalah tepung cangkang kerang kapah dan tulang ikan yang dihaluskan, ditambah alginat sebagai perekat. Seluruh cangkang dan tulang diperoleh cuma-cuma dari pedagang ikan di pasar setempat.
Bau Amis Dihilangkan Lewat Pemanasan
Pengerjaannya dilakukan di laboratorium FPK UNAIR. Bahan dicuci, lalu dikeringkan dalam oven bersuhu 100 derajat Celsius selama empat sampai lima jam. Setelah itu bahan digiling dan diayak, dengan ayakan 100 mesh untuk tulang ikan dan 80 mesh untuk cangkang kerang.
Tulang ikan menyisakan satu masalah yang tidak dimiliki semen, yaitu baunya.
“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” ujar Chelsea.
Dalam uji coba skala laboratorium, paving block itu mengering dan mengeras padat dalam waktu sekitar tiga hari. Keterangan UNAIR belum memuat angka kuat tekan ataupun hasil uji di jalan sebenarnya.
Chelsea mengerjakannya bersama Istirarosa Artisa Putra dan Ratu Zahra Angelita dari FPK serta Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi. Karya itu meraih medali perunggu pada MJIIX International Research and Innovation Competition di Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur, Senin (28/9/2026).
Baca juga: Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen lewat Proses Hidrotermal
Baca juga: Biochar Diuji di Lahan Bawang Merah Cirebon, Lanjut Musim Kedua
Baca juga: Skrining Narkoba Lewat Pupil Mata Digagas Mahasiswa IPB















