Tren Work From Cafe, Guru Besar UNAIR: Co-Working Pemerintah Sepi

A A

Seorang pria bekerja dengan laptop di sebuah kedai kopi. [Foto: Shixart1985/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Work from cafe dinilai bergeser dari tren menjadi kebutuhan kerja Gen Z.
  • Co-working space pemerintah banyak yang sepi karena fasilitas dan perawatan buruk.
  • Guru Besar UNAIR mengingatkan kebiasaan WFC perlu diimbangi manajemen anggaran.

Cekricek.id — Kebiasaan bekerja dari kedai kopi atau work from cafe (WFC) dinilai telah bergeser dari sekadar tren menjadi kebutuhan kerja, terutama bagi Gen Z. Di sisi lain, sejumlah co-working space milik pemerintah justru sepi pengunjung karena fasilitas dan perawatannya tidak memadai.

Penilaian itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar C. Premananto, sebagaimana tertuang dalam keterangan tertulis UNAIR, Jumat (06/11/2026). Menurutnya, kedai kopi unggul karena menyediakan makanan dan minuman yang tidak tersedia di co-working space.

“WFC merupakan sebuah pilihan tempat kerja bagi mereka yang membutuhkan tempat kerja yang keluar dari rutinitas,” kata Gancar.

Ia menyoroti co-working space yang umumnya dikelola pemerintah atau kampus dan bersifat eksklusif bagi anggota. Sebagian bahkan mewajibkan pengguna membayar atau memiliki kartu anggota, tetapi sistem eksklusif itu tidak dibarengi perawatan yang sepadan.

“Adanya keterbatasan fasilitas, minimnya ruang privat, tanpa layanan konsumsi, dan perawatan yang buruk membuat beberapa co-working space milik pemerintah sepi pengunjung,” jelas dosen senior Departemen Manajemen FEB UNAIR tersebut.

Baca juga: Ramai Downgrade Lifestyle, Pakar IPB: Kelas Menengah Tertekan

Lebih Praktis Meski Harga Lebih Mahal

Sebaliknya, kedai kopi menawarkan suasana kerja yang lebih hidup, akses internet cepat, serta pilihan makanan dan minuman yang lengkap. Meski berada di ruang publik, WFC dinilai menghadirkan efisiensi karena pengguna tidak perlu membayar sewa ruangan.

Gancar menilai WFC tidak menimbulkan beban konsumsi tambahan. Pengeluaran di kedai kopi, menurutnya, merupakan pilihan pengunjung dengan alasan kepraktisan dan keinginan mencari variasi.

“WFC jauh lebih efisien dan praktis dibanding menyewa working space. Gen Z bisa sekalian makan siang dan meeting di satu tempat tanpa beban konsumsi tambahan, sekalipun harganya relatif lebih mahal,” imbuhnya.

Baca juga: Gaji ASN via Kopdes, Ekonom UGM Minta Uji Coba Dulu di Daerah 3T

Meski begitu, ia mengingatkan keberlanjutan kebiasaan WFC bergantung pada manajemen anggaran. Pengeluaran untuk fasilitas dan konsumsi di kedai kopi perlu direncanakan sejak awal agar tidak membebani keuangan.

“Berbeda dari generasi sebelumnya, Gen Z biasanya mengalokasikan anggaran khusus kedai kopi. Bagi mereka, coffee shop adalah ruang hybrid ramah kantong yang berfungsi memecah kejenuhan kantor sekaligus mewadahi kebutuhan bekerja dan bersosialisasi,” pungkasnya.

Baca juga: Daging Analog Cetak 3D Dijual, Pakar IPB Ingatkan Risiko

Bagikan

Baca Juga

Kandang Sapi Irak Boros Pakan, Kurang Air Minum dan Dokter Hewan
Cegah Karhutla, Guru Besar UNAIR Usul Ekonomi Gambut Basah
UNAIR Tuan Rumah KPPTI 2026, Targetkan Blueprint Kampus Berdampak
Revisi UU Tipikor Usulan DEN, Pakar UNAIR Minta Aparat Dibenahi
LPEM UI: Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen, Terasa Hanya 4,77 Persen
OJK di Forum OECD: Penetrasi Asuransi Masih 1,3 Persen PDB