- SiMata membaca reaksi pupil mata terhadap cahaya untuk skrining awal narkoba
- Hasil dikelompokkan menjadi aman, perlu pemeriksaan lanjutan, dan perlu perhatian
- Rancangan ini bukan diagnosis akhir dan tidak menggantikan tes medis
Cekricek.id — Pupil mata menyempit ketika disorot cahaya, dan cara ia bereaksi berubah bila seseorang terpapar zat psikoaktif. Lima mahasiswa IPB University memakai gejala itu sebagai dasar SiMata, rancangan pemeriksaan awal penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) yang tidak memerlukan urine, darah, rambut, ataupun air liur.
Cara kerjanya begini. Kamera merekam perubahan ukuran pupil saat diberi rangsangan cahaya, lalu citra itu diolah algoritma jaringan saraf konvolusional, salah satu teknik kecerdasan buatan untuk mengenali pola pada gambar. Hasilnya dikelompokkan menjadi tiga: aman, perlu pemeriksaan lanjutan, dan perlu perhatian.
Perwakilan tim, Dwina Sarah Diva, menyebut tanda-tanda awal paparan zat sering luput karena disalahartikan.
“Di lapangan, perubahan perilaku seperti emosi tak stabil atau menurunnya kendali diri kerap dianggap sekadar ‘kenakalan remaja biasa’, sehingga indikasi paparan zat terlambat disadari dan penanganannya menjadi kurang optimal,” kata Dwina dalam keterangan tertulis IPB University, Senin (5/10/2026).
Bukan Pengganti Tes Medis
Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat prevalensi penyalahgunaan narkoba pada 2023 sebesar 1,73 persen penduduk usia 15–64 tahun, atau sekitar 3,33 juta orang. Pemeriksaan yang lazim dipakai untuk menjaringnya, menurut Dwina, sulit dijadikan kegiatan rutin.
“Sifatnya yang invasif dan berbiaya tinggi membuat metode ini sulit diterapkan secara rutin dan berkala di lingkungan sekolah maupun kampus,” ujarnya.
Tim menempatkan SiMata hanya sebagai penyaring awal. Rancangan itu bukan diagnosis akhir dan tidak menggantikan tes medis resmi. Data tiap orang dirancang dianonimkan sebelum dihubungkan ke basis data nasional.
SiMata masih berupa gagasan yang didanai Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif 2026, belum alat yang dipakai di lapangan. Tim sudah beraudiensi dengan BNN Kabupaten Bogor dan bermitra dengan SMK Pembangunan untuk produksi video edukatif.
“Melalui inovasi ini, kami berharap dapat menghadirkan alat skrining awal yang noninvasif, cepat, dan lebih terjangkau untuk mendukung deteksi dini di sekolah maupun kampus,” kata Dwina.
Selain Dwina, tim beranggotakan Fahriatu Saidah, Citra Putri Marlin, Jihan Delly Naysilla, dan Najwa Alya Kamaludin, dengan pembimbing Dr Medhanita Dewi Renanti.
Baca juga: Sabuk Buatan Mahasiswa UGM Beri Tanda Sebelum Kantong Stoma Bocor
Baca juga: Talenta AI Indonesia Dituntut Mampu Mengevaluasi Keluaran Mesin
Baca juga: Tomat Jadi Pembungkus Obat Sambiloto untuk Sel Kanker Payudara















