Tumbuhan Obat Dayak Kanayatn Ahe Paling Banyak untuk Darah Tinggi

A A

Ilustrasi umbi merah bawang dayak (Eleutherine bulbosa) menyembul dari tanah berbatu [Foto: Nativeplants garden/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Di dalamnya tercatat 42 jenis tumbuhan dari 31 famili, yang dipakai warga untuk 46 macam penyakit atau gejala.
  • Bagian yang paling sering diambil adalah daun, yaitu pada 46 persen tumbuhan.
  • Hampir separuh ramuan menempuh jalan yang sama, yaitu direbus lalu airnya diminum.
  • Dari 46 keluhan yang tercatat, tidak ada yang punya ramuan sebanyak tekanan darah tinggi.
  • Tidak satu pun khasiat dalam daftar diuji oleh para peneliti.
Daftar Isi
  1. Pengetahuan yang berjalan dari mulut ke mulut
  2. Pekarangan memasok daun yang bisa dipetik berulang
  3. Mengapa darah tinggi paling banyak obatnya
  4. Warisan leluhur yang membelokkan khasiat
  5. Taras, obat yang habis karena kayunya
  6. Di mana catatan ini berhenti
  7. Sirih yang sama, ingatan yang berbeda

Sirih yang tumbuh di satu kampung Dayak dipakai untuk mata yang kabur, di kampung Dayak lain untuk mengobati meroyan, dan di sebuah dusun di Kabupaten Landak untuk batuk, keputihan, bau badan, serta sakit mata. Daunnya sama dan nama ilmiahnya sama, tetapi penyakit yang dituju berganti setiap kali tumbuhan itu berpindah kampung. Bawang dayak mengalami hal serupa: di satu desa ia dikenal sebagai obat kanker payudara, sedangkan di dusun tadi umbinya direbus untuk batuk dan tekanan darah tinggi.

Dusun itu bernama Sumiak, di Desa Sidas, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, dan kejanggalan tadi dicatat Reni Patiola, Syamswisna, dan Hayatul Fajri dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Tanjungpura, Pontianak. Artikel mereka, Ethnobotany of Traditional Medicinal Plants by the Dayak Kanayatn Ahe Ethnic in Sumiak Hamlet, Landak Regency, West Kalimantan, terbit di Jurnal Penelitian Pendidikan IPA volume 9 nomor 11 tahun 2023. Di dalamnya tercatat 42 jenis tumbuhan dari 31 famili, yang dipakai warga untuk 46 macam penyakit atau gejala.

Sumiak bukan dusun besar. Arsip desa yang dikutip naskah menyebut 183 kepala keluarga dengan 650 jiwa, sebagian besar orang Dayak Kanayatn Ahe yang hidup sebagai petani. Keterangan tentang tumbuhan obat dikumpulkan pada Juli 2022 dari kepala desa, kepala dusun, kepala adat, dukun obat, dan warga yang ditunjuk karena paham cara meramunya. Semua yang mereka sampaikan, tulis para peneliti, berasal dari leluhur dan diwariskan turun-temurun.

Pengetahuan yang berjalan dari mulut ke mulut

Orang Dayak, menurut sumber yang dirujuk naskah, mencakup 30 sampai 40 persen penduduk Kalimantan Barat dan terbagi ke dalam 151 subsuku serta 100 sub-subsuku. Orang Dayak Kanayatn paling banyak tinggal di Kabupaten Landak, Sanggau, dan Bengkayang. Kanayatn Ahe adalah salah satu kelompok di dalamnya, dibedakan dari Bekatik, Behe, Selakau, dan Lara terutama lewat bahasa. Dari luar, kelompok-kelompok itu kadang sulit dibedakan, tetapi pakaian, upacara, bahasa, dan hukum adatnya tidak sama.

Persoalannya, pengetahuan tentang tumbuhan obat di tengah orang Dayak hanya berpindah dari mulut ke mulut dan beredar terbatas di dalam komunitas. Generasi muda, tulis para peneliti, kurang berminat menyimpannya dan lebih memilih obat dari dokter karena dirasa lebih praktis, sementara alih fungsi hutan mengurangi jumlah tumbuhan yang bisa dipakai. Di Sumiak sendiri warga masih meramu obat dari tumbuhan, tetapi jati diri ilmiah tumbuhan itu belum jelas dan belum pernah ada yang mencatatnya.

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Pekarangan memasok daun yang bisa dipetik berulang

Daftar yang terkumpul ternyata lebih banyak berisi tumbuhan kecil daripada pohon besar. Dari 42 jenis itu, 20 jenis atau 48 persen berupa herba, disusul pohon 26 persen, perdu 14 persen, dan palem 5 persen, sedangkan sisanya tumbuhan merambat. Herba yang paling sering dipakai tumbuh di pekarangan. Penjelasan para peneliti sederhana: tumbuhan semacam itu gampang ditanam tanpa lahan luas dan jumlahnya melimpah.

Cara kerja yang sama menerangkan mengapa satu keluarga tumbuhan menonjol di atas yang lain. Famili Zingiberaceae menyumbang enam jenis, kira-kira satu dari tujuh tumbuhan dalam daftar, yakni lahia, cakur, unyit, unyit putih, langkong, dan antamu. Semuanya dipakai rimpangnya. Menurut naskah, keluarga tumbuhan ini banyak dipakai karena tumbuh di banyak pekarangan dan sekaligus menjadi bumbu masakan, sehingga bahan obat dan bahan dapur diambil dari rumpun yang sama.

Bagian yang paling sering diambil adalah daun, yaitu pada 46 persen tumbuhan. Bagian lain yang dipakai meliputi rimpang, akar, buah, batang, umbi, biji, kulit kayu, pelepah, dan pada beberapa jenis seluruh tumbuhannya. Para peneliti memberi alasan yang bersifat praktis. Daun lebih mudah dipetik daripada bagian lain dan tersedia banyak. Daun juga tumbuh kembali, sehingga tumbuhan tidak rusak dan dapat dipanen berulang-ulang.

Sesudah dipetik, hampir separuh ramuan menempuh jalan yang sama, yaitu direbus lalu airnya diminum. Cara itu dipakai pada 49 persen tumbuhan. Orang Dayak Ahe di Sumiak, tulis para peneliti, percaya rebusan menyembuhkan lebih cepat karena sari yang keluar lebih pekat dan langsung diserap tubuh ketika diminum. Karena itu, daun barinang direbus untuk kolesterol dan tekanan darah tinggi, daun jamu batu untuk sakit perut, dan kumis kucing untuk batu ginjal serta sakit pinggang.

Tumbuhan obat Dusun SumiakTumbuhan obat Dusun SumiakTumbuhan obat Dusun SumiakCatatan dari warga Dayak Kanayatn Ahe, Landak42jenis obatdari 31 famili46penyakit ataugejalayang diobati46%memakai daunbagian terbanyak49%direbus,diminumcara terbanyakJalan risetnyaWawancara wargaAmati di lapanganKenali jenisnya
Sumber: Reni Patiola, Syamswisna, dan Hayatul Fajri, Ethnobotany of Traditional Medicinal Plants by the Dayak Kanayatn Ahe Ethnic in Sumiak Hamlet, Landak Regency, West Kalimantan, Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9(11), 2023. Grafik: Cekricek.id

Cara kedua yang paling sering, pada 10 persen tumbuhan, adalah menumbuk bahan lalu menempelkannya di bagian yang sakit. Cara ini lebih cepat dikerjakan dan biasanya dipakai untuk penyakit luar seperti memar dan luka kena benda tajam. Batang taboyo dan daun sahan, misalnya, ditumbuk lalu ditempelkan pada patah tulang. Rimpang cakur ditumbuk untuk keseleo dan pegal, sementara daun pecah beling ditempelkan pada bekas gigitan ular.

Sisanya ditangani dengan cara yang lebih jarang, masing-masing tidak lebih dari 4 persen: diseduh lalu diminum, ditumbuk untuk mengurut, atau dimakan begitu saja tanpa diolah. Pelepah jilah buaya dimakan langsung untuk batuk, luka bakar, dan nyeri lambung. Biji salasih dicampur air lalu diminum untuk sariawan, sedangkan daun manggala dimasak dan dimakan untuk kurang darah. Rimpang langkong cukup digosokkan ke kulit yang terkena panu atau jerawat.

Mengapa darah tinggi paling banyak obatnya

Dari 46 keluhan yang tercatat, tidak ada yang punya ramuan sebanyak tekanan darah tinggi. Para peneliti menyebut sebelas jenis tumbuhan untuk keluhan itu, antara lain nangka belanda, angkaras, barinang, bawang dayak, maringkunyit, lingkodok, pandan wangi, payambung nyawa, dan ube. Keluhan lain jauh lebih sedikit pilihannya, misalnya cacar yang diobati dengan air kalapa dan rebusan kulit kayu sarikant.

Naskah itu menerangkan tumpukan pilihan tersebut lewat beban penyakitnya. Tekanan darah tinggi disebut sebagai pemicu penyakit jantung, pembuluh darah otak, dan ginjal, serta salah satu penyakit tidak menular yang paling umum. Para peneliti mengutip angka bahwa hanya sekitar 9 persen pengidapnya di Indonesia yang mendapat pengobatan memadai. Mengendalikannya butuh biaya besar. Karena itu, tulis mereka, orang lebih suka memakai ramuan tumbuhan.

Di antara semua pilihan itu, maringkunyit dianggap yang paling ampuh dan paling cepat menurunkan tekanan darah, dan para peneliti menyebutnya salah satu tumbuhan obat khas orang Kanayatn Ahe di Sumiak. Tumbuhan berkayu ini merambat sampai 40 meter dengan garis tengah batang sekitar 5 sentimeter. Pemakaiannya mudah. Akarnya dikeringkan dulu, kemudian diseduh, dan rasanya pahit. Bahan itu gampang didapat, tahan disimpan lama, dan dipakai pula untuk sakit perut.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Warisan leluhur yang membelokkan khasiat

Di titik inilah sirih dan bawang dayak dari awal tulisan mendapat penjelasannya. Naskah menyandingkan Sumiak dengan catatan dari tempat lain. Bawang dayak, yang di Sumiak juga disebut la’ma, dipakai warga Kayu Tanam sebagai obat kanker payudara. Sirih, yang di Sumiak bernama karake, dipakai orang Dayak Jangkang untuk mata kabur dan orang Dayak Ngaju untuk meroyan. Tumbuhannya tidak berubah. Yang berubah adalah orang yang mewarisi cara memakainya.

“Perbedaan pemakaian tumbuhan sebagai obat terjadi karena pengetahuan masyarakat di tiap etnis dan daerah berbeda, yang disebabkan oleh pewarisan dari leluhur mereka dan keyakinan yang berbeda,” tulis Reni Patiola, Syamswisna, dan Hayatul Fajri dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dengan kata lain, khasiat yang dicatat di sebuah kampung adalah khasiat menurut ingatan kampung itu, yang diturunkan dari orang tua kepada anak tanpa pernah dicocokkan dengan kampung sebelah.

Yang membuatnya rumit, sebagian hal justru sama di banyak tempat. Jumlah 42 jenis di Sumiak hampir kembar dengan 43 jenis yang dicatat riset terdahulu pada orang Dayak Jangkang di Sanggau, tetapi jauh di atas 25 jenis pada orang Dayak Desa di Sintang. Keluarga Zingiberaceae juga diandalkan orang Jangkang dan orang Lampung. Pembagian kerja ramuannya pun serupa di Sintang: ditumbuk dan dioleskan untuk sakit luar, direbus dan diminum untuk sakit dalam.

Tumbuhan obat di tiga komunitas DayakKanayatn Ahe, Sumiak: Jenis tumbuhan +42; Jangkang, Sanggau: Jenis tumbuhan +43; Dayak Desa, Sintang: Jenis tumbuhan +25.Tumbuhan obat di tiga komunitas DayakJenis yang tercatat dipakai sebagai obat10203040500Kanayatn Ahe, Sumiak42Jangkang, Sanggau43Dayak Desa, Sintang25Angka Jangkang dan Dayak Desa berasal dari riset terdahulu yangdirujuk naskah.
Sumber: Reni Patiola, Syamswisna, dan Hayatul Fajri, Ethnobotany of Traditional Medicinal Plants by the Dayak Kanayatn Ahe Ethnic in Sumiak Hamlet, Landak Regency, West Kalimantan, Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9(11), 2023. Grafik: Cekricek.id

Taras, obat yang habis karena kayunya

Tidak semua tumbuhan dalam daftar itu masih mudah dicari. Taras, yang bijinya direbus dan diminum untuk penyakit jantung dan kaki bengkak, kini sulit ditemukan di Sumiak. Kelangkaan itu, menurut para peneliti, membuat penanganan penyakit tersebut tidak optimal, di tengah sarana, tenaga kesehatan, dan dana yang juga kurang. Di sini mekanismenya berbalik: obat tidak hilang karena dilupakan, tetapi karena tumbuhannya habis.

Informan menuturkan bahwa pada masa lampau, ketika leluhur mereka sebagian besar menganut animisme, taras dipakai sebagai tempat memuja roh. Lambat laun orang memakainya untuk bahan rumah, perabot, dan kapal. Kayunya tahan dalam keadaan apa pun dan sangat awet sehingga dikenal sebagai kayu besi, harganya tinggi, dan ditebang dalam jumlah besar tanpa ditanam kembali. Para peneliti berharap pemerintah dan masyarakat bersama-sama melindungi tumbuhan itu.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Di mana catatan ini berhenti

Daftar dari Sumiak adalah catatan tentang apa yang dipakai dan dipercaya warga satu dusun, bukan bukti bahwa ramuan itu menyembuhkan. Tidak satu pun khasiat dalam daftar diuji oleh para peneliti, dan keterangan tentang kandungan kimia tumbuhan diambil dari pustaka lain. Naskah juga tidak menyebut berapa orang yang diwawancarai. Temuan ini karenanya tidak bisa dipakai untuk mewakili seluruh orang Dayak Kanayatn, apalagi untuk menakar keampuhan sebuah ramuan.

Ada pula beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah. Tumbuhan untuk tekanan darah tinggi disebut berjumlah sebelas, tetapi daftar nama yang mengikutinya memuat dua belas. Cocor bebek masuk daftar itu, padahal tabel tidak mencantumkan tekanan darah tinggi pada barisnya, sedangkan tepo tonsan yang di tabel dipakai untuk keluhan itu justru tidak disebut. Buah Garcinia mangostana bernama siku di tabel dan sukun di badan tulisan.

Hitungannya pun tidak selalu genap. Naskah menyebut lima macam perawakan tumbuhan, tetapi hanya empat yang diberi persentase, dan jumlahnya baru 93 persen. Simpulan menempelkan angka 14 persen pada 31 famili, padahal di bagian hasil angka itu milik Zingiberaceae. Nama kelompoknya sendiri ditulis dengan tiga ejaan, dan maringkunyit di tabel tertulis maringkuyit.

Sirih yang sama, ingatan yang berbeda

Maka sirih yang berganti khasiat itu bukan teka-teki tentang daunnya. Ia memperlihatkan bagaimana pengetahuan obat bekerja di kampung-kampung yang tidak saling mencatat. Setiap kelompok menerima dari leluhurnya sendiri sebuah daftar tentang tumbuhan mana untuk sakit apa, lalu meneruskannya secara lisan. Daftar itu bisa bertemu di banyak titik, seperti rimpang dari pekarangan dan air rebusan, tetapi tidak harus sepakat tentang penyakit yang dituju.

Di Sumiak, daftar itu kini punya nama ilmiah untuk 42 jenis tumbuhan, dari karake yang direbus untuk batuk sampai taras yang bijinya makin sulit dicari. Naskah ini tidak menjawab kampung mana yang benar tentang sirih, dan memang tidak bermaksud begitu. Ia hanya memastikan bahwa jawaban orang Kanayatn Ahe, yang selama ini cuma hidup dalam ucapan, sekarang tertulis.

Bagikan

Baca Juga

Tanpa Kulkas di Kantor, Pegawai Tamale Ghana Makan dari Jalanan
Tanaman Obat Suku Osing, dari Sirih Nginang sampai Daun Dadap
Suku Yali Membuat Panah dan Obat Malaria dari Satu Pohon
Daging Ternak Mati Dibagi Lewat Brandu, Jalur Antraks ke Manusia
Menu Kantin Rumah Sakit Poznań Dikuasai Daging, Nabati Tersisih
Cegah Obesitas di Sekolah Putri Riyadh Terganjal Kantin dan Panas