- Di Timur, kelompok terbesar, yakni 43,97 persen, sudah dititipkan sebelum berumur tiga tahun.
- Di Barat hanya 5,87 persen, atau 85 orang, yang dititipkan sebelum umur tiga tahun.
- Di Barat, mereka yang dititipkan sebelum umur tiga tahun mencatat skor gabungan tertinggi, 6,07.
- Pada orang Jerman Timur tidak ditemukan hubungan apa pun antara penitipan dini dan beban psikologis.
- Keterangan tentang masa kecil diperoleh dari ingatan responden sendiri, yang bisa keliru atau malah kosong.
Daftar Isi
Anak kecil paling baik diasuh ibunya sendiri di rumah, dan menitipkannya terlalu dini kepada orang lain akan meninggalkan bekas yang terbawa sampai dewasa; begitulah keyakinan yang lama dipegang banyak orang dan, menurut sebuah naskah dari Jerman, masih diperdebatkan dengan penuh emosi sampai sekarang. Namun, negeri itu pernah terbelah menjadi dua negara dengan dua cara mengasuh yang berseberangan, dan ketika anak-anak dari kedua belahan itu sudah dewasa lalu ditanyai tentang keadaan batin mereka, keyakinan tadi hanya bertahan, itu pun dengan goyah, di satu belahan saja.
Pertanyaan itu diajukan L. Kriechel, M. Beutel, V. Clemens, dan E. Brähler, para peneliti dari University Medical Center of the Johannes Gutenberg University Mainz, Federal Institute for Population Research di Wiesbaden, University of Ulm, dan University of Leipzig Medical Center. Artikel mereka, Early care in childhood and psychological burden among East and West German adults, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 724 tahun 2026.
Bahannya jawaban 1.796 orang dewasa Jerman dalam sebuah survei tahun 2020, yang 1.448 di antaranya dibesarkan dan masih tinggal di Barat, sedangkan 348 lainnya di Timur. Yang ditanyakan kepada mereka sederhana saja, yakni siapa yang terutama mengasuh mereka sebelum berumur tiga tahun, dan siapa pula sesudahnya sampai mereka masuk sekolah.
Dua negara, dua jawaban tentang siapa yang mengasuh
Selama Jerman terbelah, soal siapa yang semestinya menjaga anak sebelum masuk sekolah dijawab dengan cara yang nyaris bertolak belakang. Republik Demokratik Jerman di Timur mendorong penitipan anak di luar keluarga dan meminta para ibu terlibat penuh di pasar kerja, sedangkan di Republik Federal Jerman di Barat keluarga justru diberi insentif bila ibu mengasuh sendiri anak prasekolahnya. Hukum, susunan dunia kerja, dan tunjangan sosial yang berbeda itu, tulis para peneliti, melahirkan sikap dan kebiasaan mengasuh yang berbeda pula.
Angkanya memperlihatkan seberapa lebar jurang itu. Pada 1988, delapan dari sepuluh anak Jerman Timur berusia di bawah tiga tahun dititipkan di tempat penitipan bayi, yang di sana disebut crèche, sementara di Barat hanya 3 persen anak seusia itu yang mengalaminya.
Untuk anak yang lebih besar jaraknya menyempit tetapi tidak hilang, sebab 94 persen anak Timur dan 60 persen anak Barat berusia di atas dua tahun sudah masuk taman kanak-kanak. Di Barat, masuk penitipan sebelum umur tiga tahun juga sulit karena tempatnya memang langka, dan peluangnya lebih besar di kota.
Cara Timur itu tidak luput dari kecaman. Ada penulis yang menyebut sistem penitipan Jerman Timur sebagai salah satu capaian terbesar negara itu, tetapi ada pula yang menuduhnya miskin kasih sayang kepada anak, dan seorang penulis lain yang dirujuk naskah ini beranggapan anak-anak di sana dipisahkan dari orang tuanya terlalu dini. Para pengasuh Jerman Timur, menurut riset yang dikutip, diajari mengutamakan pergaulan antaranak ketimbang kelekatan mereka sendiri dengan anak, sehingga asuhan emosional di penitipan bayi dinilai terabaikan.
Perbedaan itu belum juga lenyap setelah kedua negara bersatu kembali. Pada 2023, sebanyak 32,7 persen anak di bawah tiga tahun di Barat mengikuti penitipan, sedangkan di Timur angkanya 54,2 persen, lebih dari separuh. Sikap orang pun masih terbelah: sebuah studi yang dirujuk menunjukkan orang Jerman Barat menganggap ayah dan kakek-nenek sebagai pengasuh terbaik kedua dan ketiga bagi anak kecil sesudah ibu, sementara orang Jerman Timur menaruh penitipan bayi di urutan kedua, baru kemudian ayah.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Masa kecil yang lumrah di Timur, langka di Barat
Jejak dua kebiasaan itu terbaca jelas pada ingatan para responden tentang masa kecil mereka sendiri. Di Timur, kelompok terbesar, yakni 43,97 persen, sudah dititipkan sebelum berumur tiga tahun, disusul 30,46 persen yang baru dititipkan antara umur tiga dan enam tahun, dan hanya 25,57 persen yang sepenuhnya diasuh keluarga sampai masuk sekolah. Di Barat susunannya terbalik: 47,17 persen dititipkan pada umur tiga sampai enam tahun, 46,96 persen diasuh keluarga saja, dan hanya 5,87 persen, atau 85 orang, yang dititipkan sebelum umur tiga tahun.
Justru kelompok kecil di Barat itulah yang menjadi pusat persoalan, sebab mereka tumbuh dengan cara yang menyimpang dari kebiasaan di sekelilingnya. Naskah ini mencatat bahwa pada masa itu ibu yang bekerja, ibu yang lebih terdidik, dan ibu tunggal di Jerman Barat lebih mungkin mengandalkan penitipan bagi anaknya yang belum berumur tiga tahun. Ketika disurvei, mereka yang dulu dititipkan sejak dini itu merupakan kelompok termuda, dan lebih jarang tinggal serumah dengan pasangan: 47,06 persen, dibanding 61,62 persen pada mereka yang dulu diasuh keluarga saja.
Beban batin yang berbeda hanya di satu belahan
Beban psikologis para responden diukur dari tiga jenis gejala, yaitu depresi, kecemasan, dan keluhan fisik yang berakar pada tekanan batin, masing-masing dengan skor nol sampai 24 dan skor gabungan nol sampai 72. Secara umum orang Jerman Timur melaporkan beban yang lebih ringan, dengan rata-rata skor gabungan 1,77 berbanding 4,32 pada orang Jerman Barat. Mereka juga lebih jarang melaporkan pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, dengan rata-rata 0,40 pengalaman dari sepuluh jenis yang ditanyakan, sedangkan di Barat 1,16.
Di Barat, mereka yang dititipkan sebelum umur tiga tahun mencatat skor gabungan tertinggi, 6,07, lebih tinggi daripada 4,70 pada mereka yang diasuh keluarga saja dan 3,71 pada mereka yang dititipkan antara umur tiga dan enam tahun. Skor depresi kelompok itu 2,51 dan skor kecemasannya 2,07, sedangkan pada kelompok yang masuk penitipan lebih lambat masing-masing hanya 1,40 dan 1,22. Sebaliknya, orang Barat yang dititipkan pada umur tiga sampai enam tahun malah melaporkan keluhan fisik lebih ringan daripada yang diasuh keluarga saja.
Justru sebaliknya yang tampak di Timur. Di sana, mereka yang dititipkan sebelum umur tiga tahun adalah kelompok dengan skor gabungan terendah, 1,61, sedikit di bawah 1,67 pada yang diasuh keluarga saja dan 2,08 pada yang dititipkan lebih lambat. Skor depresi ketiga kelompok nyaris kembar, yakni 0,82, 0,80, dan 0,81, dan satu-satunya perbedaan yang bermakna secara statistik di Timur ada pada keluhan fisik, yang lebih ringan pada mereka yang dititipkan paling dini.
Gambaran itu tidak banyak berubah sesudah para peneliti memperhitungkan pengalaman buruk masa kecil, umur, jenis kelamin, pendidikan, status berpasangan, penghasilan rumah tangga, dan bulan ketika survei dijawab. Orang Jerman Barat yang dititipkan sebelum umur tiga tahun tetap cenderung melaporkan depresi, kecemasan, dan beban gabungan yang lebih berat daripada mereka yang diasuh keluarga, meski kecenderungan itu oleh para penulisnya sendiri disebut hanya bermakna secara marginal. Pada orang Jerman Timur tidak ditemukan hubungan apa pun, dan perbedaan antara kedua belahan itulah yang secara statistik paling kokoh.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Bukan penitipannya, melainkan menyimpang dari yang lumrah
Di situlah persoalannya berbelok. “Temuan kami menunjukkan bahwa penitipan anak di luar keluarga sebelum usia tiga tahun pada dirinya sendiri tidak merugikan dalam jangka panjang,” tulis L. Kriechel, M. Beutel, V. Clemens, dan E. Brähler dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyimpulkannya dari kenyataan bahwa di Timur tidak ada hubungan yang berarti, sehingga beban lebih berat pada sebagian orang Barat semestinya bukan berasal dari penitipan itu, melainkan dari alasan di balik keputusan keluarga menyimpang dari kebiasaan yang begitu luas.
Penjelasan pertama yang mereka tawarkan adalah soal kelumrahan. Riset yang dirujuk menunjukkan ikatan ibu dan anak lebih aman bila ibu memandang penitipan secara positif dan terikat pada pekerjaannya, dan anak memetik manfaat bila sikap ibu terhadap bekerja selaras dengan keadaannya. Di tempat penitipan sudah menjadi hal biasa, kemungkinan ibu bersikap positif terhadapnya lebih besar. Timur menjadikan penitipan dini sebagai hal biasa, sedangkan di Barat ia jauh lebih jarang, dan menurut para peneliti itu bisa menjadi salah satu sebab perbedaan tadi.
Penjelasan kedua menyangkut siapa yang dulu menitipkan anak. Pada masa lalu, menurut riset yang dikutip, rumah tangga miskin hanya sanggup membayar penitipan bermutu rendah, sedangkan di Timur negara yang membayar, sehingga penyaringan semacam itu kecil kemungkinannya. Namun, para peneliti sendiri mengakui dugaan ini tidak cocok untuk semua orang, sebab anak-anak Barat yang dititipkan dini juga lebih sering punya ibu yang lebih terdidik. Susunan rumah tangga pada masa kecil, misalnya dibesarkan ibu tunggal, mereka sebut sebagai penentu lain yang patut diperhitungkan.
Ingatan orang dewasa dan hal-hal yang tak tercatat
Semua itu masih berupa dugaan, dan para penulis tidak menyembunyikannya. “Karena datanya bersifat potong lintang, hubungan sebab-akibat antara pengasuhan dini dan beban psikologis pada masa dewasa tidak dapat dipastikan,” tulis mereka. Keterangan tentang masa kecil pun diperoleh dari ingatan responden sendiri, yang bisa keliru atau malah kosong, sementara data tidak memuat keadaan ekonomi orang tua, mutu tempat penitipan, umur persis saat pertama kali dititipkan, ataupun mutu hubungan dengan para pengasuh.
Batas lainnya terletak pada jumlah orang. Hanya 85 responden Barat yang dititipkan sebelum umur tiga tahun, dan seluruh responden Timur berjumlah 348, sehingga daya uji analisisnya terbatas. Sebanyak 26 orang yang dulu dititipkan dengan menginap, mingguan atau musiman, dikeluarkan dari hitungan karena terlalu sedikit, padahal bentuk penitipan jangka panjang itu, menurut riset yang dirujuk, menghambat perkembangan anak.
Survei juga berlangsung ketika Covid-19 mulai menyebar dan karantina wilayah pertama diberlakukan di Jerman, dan responden bulan Februari melaporkan tekanan batin lebih tinggi daripada responden Maret dan April. Para peneliti memasukkan bulan wawancara ke dalam perhitungan, tetapi mengakui tidak dapat memperhitungkan keadaan pandemi di tempat tinggal tiap responden.
Ada beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah. Badan tulisan menyebut skor depresi orang Jerman Timur 0,85, padahal tabelnya mencantumkan 0,81, dan penghasilan rumah tangga orang Timur tertulis dengan angka yang kehilangan satu digit dibanding tabel. Ringkasan artikel juga menyebut penitipan sehari penuh, sementara bagian lain menjelaskan bahwa pembedaan menurut lama waktu harian di penitipan dilepas karena kelompoknya menjadi terlalu kecil.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Perdebatan yang belum selesai di Barat
Temuan ini tidak berdiri sendirian. Sebuah studi terdahulu atas 162 mahasiswa di dua kota Jerman tidak menemukan perbedaan skor kecemasan dan depresi, baik antara kelompok pengasuhan maupun antara orang Timur dan Barat, dan riset lain atas mereka yang lahir dan dibesarkan di Jerman Timur juga tidak menemukan perbedaan menurut umur pertama kali dititipkan. Bagian Timur dari naskah Kriechel dan rekan-rekannya mengulang hasil itu, sedangkan bagian Baratnya menambahkan sesuatu yang belum pernah diperiksa dengan sampel sebesar ini.
Bagi para peneliti, maknanya menjangkau orang tua dan pembuat kebijakan sekaligus. Penitipan sehari penuh bagi anak kecil masih diperdebatkan di Jerman Barat, dan akibatnya terutama para ibu mengurangi jam kerja untuk mengasuh. Sebagian besar negara bagian baru menanggung biaya penitipan sejak anak berumur tiga tahun, dan keluarga kerap melaporkan tidak ada tempat bagi anak yang lebih kecil. Bila penitipan makin dianggap lumrah, tulis mereka, perhatian akan beralih ke hal yang paling menentukan, yaitu mutu pengasuhan orang tua, dan subsidi bagi semua anak patut dipertimbangkan.
Maka keyakinan lama tentang anak yang dititipkan terlalu dini itu tidak dibantah habis, tetapi dipindahkan tempatnya: dari gedung penitipan ke masyarakat di sekelilingnya, yang menentukan apakah sebuah keputusan keluarga terasa wajar atau ganjil. Hanya saja, naskah ini berhenti tepat di ambang penjelasannya sendiri. Apakah beban yang lebih berat pada 85 orang Jerman Barat itu lahir dari keluarga yang terpaksa menitipkan, dari tempat penitipan yang kurang bermutu, atau dari kebiasaan sekitar yang memandang mereka berbeda, dan mungkinkah ketiganya dipisahkan dengan bahan yang hanya berupa ingatan?















