Tanaman Obat Suku Osing, dari Sirih Nginang sampai Daun Dadap

A A

Ilustrasi keranjang anyaman berisi buah sirih, irisan pinang kering, dan kapur, bahan menginang [Foto: 06Ivonne/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dari obrolan dengan warga, ia mendaftar 38 tumbuhan yang sering dipakai orang Osing sebagai obat.
  • Daun sirih dan kunyit direbus bersamaan, kadang ditambah daun beluntas, lalu airnya dipakai untuk membilas.
  • Ramuan ini biasanya diberikan kepada bayi dan anak-anak.
  • Gambir hadir dalam uraian nginang, namun tidak ada dalam daftar 38 tumbuhan.
Daftar Isi
  1. Kemiren, Kemiri, Aliyan
  2. Rempah di dapur
  3. Cacap dan urang aring
  4. Bawang merah untuk anak
  5. Sirih, kunyit, dadap
  6. Dukun beranak yang belum ditemui

Pinang, sirih, gambir, dan kapur. Empat bahan itu disiapkan perempuan dewasa Osing di Banyuwangi sebelum nginang, mengunyah sirih, seperti halnya laki-laki menyiapkan rokoknya. Kebiasaan itu turun dari ibu ke anak perempuan. Mereka percaya mulut dan gigi ikut terawat karenanya. Buah pinang, yang di sana disebut jambe, bahkan dikunyah langsung untuk memperkuat gigi.

Kebiasaan itu tercatat dalam tulisan Hendra Febriyanto, Merawat Tradisi Mempertahankan Eksistensi: Studi Etnobotani Tanaman Obat Suku Osing Kabupaten Banyuwangi, yang dimuat Jurnal Biosense volume 5 nomor 2, tahun 2022. Febriyanto berasal dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Dari obrolan dengan warga, ia mendaftar 38 tumbuhan yang sering dipakai orang Osing sebagai obat.

Daftar itu panjang dan akrab. Isinya bukan tumbuhan langka dari hutan jauh, melainkan adas, alang-alang, asam jawa, bawang, kelapa, pisang, dan ketimun. Keluhannya pun keluhan sehari-hari: batuk, demam, flu, nyeri haid, keputihan, rambut rontok, sakit gigi. Beberapa di antaranya menyentuh penyakit dalam, seperti diabetes, sakit kuning, dan tekanan darah tinggi.

Kemiren, Kemiri, Aliyan

Tiga desa menjadi tempat daftar itu dihimpun. Desa Kemiren berada di Kecamatan Glagah, Desa Kemiri di Kecamatan Singojuruh, dan Desa Aliyan di Kecamatan Rogojampi. Ketiganya dipilih karena banyak orang Osing menetap di sana. Selama empat minggu, warga ditanya tentang tumbuhan yang biasa mereka pakai ketika sakit.

Orang Osing disebut naskah sebagai penduduk asli Banyuwangi. Dalam keseharian, mereka digambarkan masih menjaga warisan leluhur, baik dalam upacara adat, makanan, maupun cara menjaga kesehatan. Mereka memegang keyakinan tentang keseimbangan alam: manusia harus bisa hidup berdampingan dengan lingkungannya. Tanaman hadir dalam upacara sebagai lambang kehidupan, dan hadir pula di rumah sebagai obat.

Dari mana tanaman itu diambil, Febriyanto menjawabnya singkat. “Tanaman tersebut biasa ditemukan secara liar serta ada yang memang ditanam oleh masyarakat,” tulisnya dalam naskah itu. Warga, menurut catatannya, percaya obat dari tumbuhan lebih sedikit efek sampingnya dibandingkan obat sintetik. Mereka memakainya karena khasiat, karena mudah didapat, dan karena kebiasaan.

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Rempah di dapur

Dari desa, daftar itu masuk ke dapur. Batuk adalah contoh yang paling ramai. Orang Osing merebus daging buah asam jawa, adas, delima, jahe, kencur, atau mengkudu. Bahan itu diseduh dengan air panas atau direbus, lalu airnya diminum selagi hangat. Naskah menyebut tanaman-tanaman itu membantu mengencerkan dan mengeluarkan dahak, dengan merujuk sejumlah kajian lain.

Rimpang paling sering muncul di antara bumbu itu. Jahe direbus untuk sakit kepala, batuk, perut kembung, dan melancarkan air susu ibu. Kencur dipakai untuk radang, flu pada bayi, masuk angin, dan diare; kadang direbus, kadang ditumbuk menjadi obat gosok. Kunyit, yang disebut kunir, direbus dan diminum untuk diabetes serta nyeri haid. Temulawak diminum untuk menambah nafsu makan.

Bumbu lain punya tugasnya sendiri. Bawang putih dihaluskan lalu dioleskan untuk mengeluarkan duri dan mengobati cantengan, atau dicampur bahan lain dan diminum untuk flu serta perut kembung. Lengkuas, laos, diparut dan diambil air perasannya untuk rematik dan panu. Cengkih cukup dikunyah dan diisap airnya ketika lambung bermasalah. Daun salam direbus untuk diare dan mag.

Buah-buahan ikut masuk hitungan. Air kelapa diminum ketika seseorang keracunan atau panas dalam. Ketimun diparut dan air saringannya diminum untuk tekanan darah tinggi dan demam; untuk jerawat, irisannya ditempelkan ke wajah. Sari jeruk nipis diminum bersama bahan lain untuk batuk, flu, amandel, dan sembelit. Daun dan buah jambu biji, jambu klutuk, direbus untuk diare.

Cacap dan urang aring

Dari dapur ke kamar mandi. Untuk rambut rontok, ketombe, dan rambut yang ingin dilebatkan serta dihitamkan, orang Osing memakai lidah buaya. Mereka menyebutnya cacap. Daunnya diambil langsung dari batang tanaman, lalu lendir yang keluar dioleskan ke rambut. Dalam daftar, lidah buaya dioleskan ke kepala setelah mandi sore.

Dua tanaman untuk rambut orang OsingLendir daun lidah buaya dioleskan ke rambut lebih dulu, lalu air rebusan daun urang aring dipakai untuk membilasnya.Dua tanaman untuk rambut orang OsingPerawatan rambut dalam catatan tiga desa di BanyuwangiLidah buayaUrang aringCacapUrang aringNama setempatDaunDaunBagian dipakaiLendir diolesDirebus, dibilasCaraLebih duluSesudahnyaUrutan
Sumber: Hendra Febriyanto, Merawat Tradisi Mempertahankan Eksistensi: Studi Etnobotani Tanaman Obat Suku Osing Kabupaten Banyuwangi, Jurnal Biosense, 5(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Urang aring datang sesudahnya. Daunnya direbus, dan air rebusan itu dipakai untuk membilas atau mencuci rambut setelah cacap dioleskan. Daftar yang sama mencatat urang aring untuk koreng di kepala. Naskah menambahkan keterangan dari kajian lain bahwa lendir lidah buaya mengandung saponin, zat yang mampu membersihkan dan melawan bakteri serta jamur.

Ada perawatan lain yang sama sederhananya. Bunga melati direndam dalam air, lalu air itu dipakai mencuci mata yang sakit. Daun mahkota dewa dihaluskan dan dioleskan pada kulit yang gatal. Biji atau daun jarak dihaluskan, lalu dioles dan ditempel di bagian tubuh yang pegal, lebam, atau berkoreng. Daun pegagan, kerok batok, dihaluskan dan ditempelkan ketika demam.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Bawang merah untuk anak

Lalu ke tubuh anak-anak. Ketika cuaca berubah dan demam atau masuk angin datang, orang Osing mengambil bawang merah dan kencur. Keduanya digeprek, ditambah minyak sayur atau minyak kelapa, kemudian dibalurkan ke seluruh tubuh. Ramuan ini biasanya diberikan kepada bayi dan anak-anak. Dalam daftar, bawang merah, bawang abang, juga digosokkan bersama minyak kayu putih.

Ramuan balur untuk anak yang demamRamuan balur untuk anak yang demamRamuan balur untuk anak yang demamCara warga Osing menghadapi perubahan cuacaBahanbawang merahdan kencurDigepreklalu diberiminyak kelapaDibalurke seluruh tubuhObatdemam, masukanginMinyak sayur juga dipakai sebagai campuran.
Sumber: Hendra Febriyanto, Merawat Tradisi Mempertahankan Eksistensi: Studi Etnobotani Tanaman Obat Suku Osing Kabupaten Banyuwangi, Jurnal Biosense, 5(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Febriyanto mengaitkan kebiasaan itu dengan kajian lain yang ia rujuk. Bawang merah dan kencur, tulisnya, mengandung flavonoid yang bersifat antiradang dan berfungsi sebagai antioksidan. Ia sendiri tidak menguji kandungan itu. Yang ia catat adalah kebiasaan warga, lalu ia sandingkan dengan temuan orang lain tentang tanaman yang sama.

Demam orang dewasa ditangani dengan bahan berbeda. Akar alang-alang direbus dan airnya diminum dua kali sehari. Daun beluntas, luntas, direbus bersama bahan lain. Daun katu direbus dan dimakan sebagai sayur. Mengkudu, yang disebut pace, dicampur bahan lain, diperas, direbus, kemudian diminum untuk batuk dan demam. Daun sambiloto direbus untuk demam, disentri, dan diabetes.

Sirih, kunyit, dadap

Bagian paling rinci dalam naskah adalah urusan perempuan. Untuk keputihan dan nyeri haid, orang Osing mengandalkan daun sirih, kunyit, dan beluntas. Daun sirih dan kunyit direbus bersamaan, kadang ditambah daun beluntas, lalu airnya dipakai untuk membilas. Sirih, yang disebut suruh, dalam daftar juga dicatat untuk alergi, mimisan, dan sakit gigi.

Angka yang menyertainya bukan angka dari Banyuwangi. Febriyanto mengutip kajian Mustika dan rekan pada 2014 terhadap mahasiswi keperawatan Poltekkes Denpasar, yang melaporkan perubahan keputihan turun 94,38 persen setelah memakai air rebusan sirih dan kunyit. Angka itu milik kajian tersebut. Di tiga desa Osing, tidak ada pengukuran serupa yang dilakukan.

Sesudah melahirkan, giliran daun dadap. Perempuan Osing yang demam pada masa nifas, atau ingin mencegahnya, menumbuk daun dadap serep sampai halus. Tumbukan itu lalu dibobokkan pada bagian tubuh yang terasa sakit. Ketika menyusui, mereka merebus daun katu atau memasaknya langsung sebagai lauk, karena dipercaya melancarkan air susu ibu. Jahe disebut untuk keperluan yang sama.

Kebiasaan nginang pun tidak dibiarkan tanpa catatan. Naskah menyebut sirih sebagai antiseptik alami, sedangkan gambir dan pinang mengandung antioksidan dan antibakteri. Namun Febriyanto juga mengutip Dwiputri, yang pada 2015 menulis bahwa menginang dapat membuat gusi turun sampai ke permukaan akar gigi. Akibatnya gigi lebih mudah terlepas. Keyakinan warga dan peringatan itu diletakkan berdampingan.

Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya

Dukun beranak yang belum ditemui

Ada rumah yang tidak sempat dimasuki. Febriyanto mengakui banyak ahli pengobatan, yang dikenal sebagai dukun beranak, belum diwawancarai karena pendeknya waktu pengambilan data. Padahal mereka, tulisnya, punya wawasan tentang pengobatan herbal tradisional. Ia berharap peneliti berikutnya memiliki data lengkap dukun beranak di tiga kecamatan itu.

Keterbatasan itu menentukan cara membaca daftar tadi. Tiga puluh delapan tumbuhan adalah yang sering disebut warga dalam empat minggu, bukan seluruh pengetahuan obat orang Osing. Naskah tidak menyebut berapa orang yang diwawancarai. Khasiat yang tercatat adalah apa yang dipercaya dan dipraktikkan warga; tidak ada pengujian terhadap satu pun ramuan.

Kekhawatiran yang mendorong pencatatan itu disebut terang. “Selama ini pengetahuan tentang hal tersebut hanya diwariskan secara lisan dan tidak terdokumentasi dengan baik,” tulis Febriyanto. Menurutnya, minat generasi muda untuk memakai dan mempelajari obat tradisional kurang. Kalau tidak dicatat, pengetahuan itu bisa terkikis dan hilang.

Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca sendiri. Enam tanaman batuk disebut berurutan, tetapi kalimat berikutnya menyebutnya kelima tanaman. Gambir hadir dalam uraian nginang, namun tidak ada dalam daftar 38 tumbuhan. Abstrak menjanjikan pembahasan upacara adat dan makna filosofis tanaman, sedangkan bagian hasil hanya memuat pemakaiannya sebagai obat. Tiga rujukan di badan naskah juga tidak muncul di daftar pustaka.

Maka pinang, sirih, gambir, dan kapur itu kini terbaca lain. Di tangan perempuan Osing, keempatnya adalah kebiasaan sehari-hari yang diwariskan lewat contoh dan ucapan. Di halaman jurnal, tiga di antaranya menjadi baris dalam sebuah daftar, dengan nama ilmiah dan cara pakainya. Satu sisanya, gambir, masih tertinggal di luar tabel.

Bagikan

Baca Juga

Suku Yali Membuat Panah dan Obat Malaria dari Satu Pohon
Daging Ternak Mati Dibagi Lewat Brandu, Jalur Antraks ke Manusia
Menu Kantin Rumah Sakit Poznań Dikuasai Daging, Nabati Tersisih
Cegah Obesitas di Sekolah Putri Riyadh Terganjal Kantin dan Panas
Polio di Turki Tampak Kecil di Catatan tapi Berat di Rumah
Tiap Tugas Berat Menambah Beban Batin Penjaga Pantai Jerman