- Sebagian besar kantor di Tamale tidak punya kantin, kulkas, microwave, atau ruang makan.
- Makanan jalanan dianggap enak dan praktis meski para pegawai cemas soal kesehatan.
- TZ harus diaduk tanpa henti selama 30 sampai 45 menit, dan itu menjadi penyedot waktu yang besar pada hari kerja.
- Sebagian besar pegawai tahu betul bahaya minuman manis, gorengan, dan garam berlebih.
Daftar Isi
- Sarapan yang hilang di antara berkas dan jam istirahat yang direbut rapat
- Bekal di laci sudah berbau sebelum tengah hari, maka gerbang kantor menjadi kantin
- Tiga kubus kaldu dalam sepanci sup dan lidah yang tidak lagi mengenal dawadawa
- Pesanan tiba di meja dalam dua puluh menit, sementara para ibu menawar waktu di dapur
- Mereka tahu mana yang sehat tetapi tetap membuka laci permen, dan naskahnya menyisakan catatan
Pukul 07.45 ia sudah duduk di mejanya, di sebuah kantor pemerintah di Tamale, Ghana utara. Niatnya sederhana, yaitu mencari sesuatu untuk dimakan pada pukul sembilan. Lalu telepon berdering. Ketika ia kembali ingat perutnya, jam sudah menunjuk pukul dua siang, dan sarapan itu hilang begitu saja di antara berkas.
Laki-laki 41 tahun itu salah satu dari 20 pegawai kantor yang kisah makannya dihimpun Kasim Abdulai, Ivan Addae-Mensah, Ahmed Alhassan, dan Paul Armah Aryee. Laporan mereka berjudul The sedentary foodscape: a qualitative case study of workday dietary practices and perceived drivers of food choice among office workers in Tamale, Northern Ghana, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel dalam proses terbit, sehingga volume dan nomornya belum tercantum. Namanya tidak disebut. Dalam naskah ia hanya dicatat sebagai P03.
Kisah P03 bukan soal orang yang malas makan. Abdulai dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa cara makan pegawai kantor di Tamale pada hari kerja dibentuk oleh kendala di sekeliling mereka, bukan oleh ketidaktahuan. Waktu yang sempit, kantor tanpa tempat menyimpan makanan, dan lidah yang sudah berubah bertemu di satu meja kerja.
Tamale adalah ibu kota Northern Region, berpenduduk sekitar 500.000 orang, dan termasuk kota yang tumbuh paling cepat di Afrika Barat. Supermarket, gerai cepat saji, dan layanan pesan-antar makanan muncul di samping pasar terbuka dan pedagang jalanan. Dulu makanan di wilayah ini bertumpu pada Tuo Zaafi atau TZ, alefu yang berupa bayam amaranth, dan ayoyo yang berupa daun jute. Pegawai kantornya kerap dipandang sebagai kalangan elite, sehingga sering luput dari program gizi.
Sarapan yang hilang di antara berkas dan jam istirahat yang direbut rapat
Mundur ke pagi hari. Bagi pegawai kantor Tamale, hari kerja dimulai jauh sebelum pukul delapan, terlebih bagi mereka yang berangkat dari pinggiran seperti Sagnerigu. Para penulis menyebut keadaan itu miskin waktu, dan menilainya sebagai pendorong paling merata dari cara makan para pegawai. Makan pagi, yang mereka sebut salah satu sendi budaya Ghana utara, terkikis sedikit demi sedikit.
Seorang pegawai bank berusia 36 tahun, yang dicatat sebagai P11, mengaku tidak lagi sarapan dengan teratur sejak mulai bekerja di kantornya lima tahun lalu. Tidak ada waktu, katanya, di antara mengantar anak dan berkejaran dengan jam masuk. Bagi pegawai perempuan yang juga mengurus keluarga, tekanan itu datang berlapis.
Jam makan siang pun tidak aman. Seorang pegawai administrasi universitas bercerita bahwa istirahatnya dijadwalkan pukul 13.00, tetapi atasannya memasang rapat evaluasi pukul 12.30. Begitu rapat usai, pedagang sudah berkemas atau makanannya sudah dingin. Maka ia tidak makan sama sekali. Jam istirahat yang sudah terjadwal, catat para penulis, kerap hilang ditelan rapat atau tenggat.
Yang masih sempat makan sering melakukannya di meja sambil mengetik. Seorang pegawai bank berusia 33 tahun menolak menyebutnya istirahat. “Itu bukan istirahat. Itu cuma mengisi bahan bakar,” kata partisipan yang dicatat penulis sebagai P02 itu, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris.
Ketika akhirnya makan, mereka memilih yang mengenyangkan. Seorang pegawai bank berusia 31 tahun ingin nasi dan ayam, bukan salad, karena salad tidak akan menahannya selama empat jam berikutnya. Seorang pegawai swasta tahu kacang-kacangan itu sehat, tetapi membuatnya mengantuk. Ia butuh tenaga cepat, walaupun berminyak.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Uang sesekali ikut berperan, meski bukan cerita yang dominan. Seorang ibu berusia 44 tahun mengatakan bahwa ia kadang ingin menyisihkan sedikit uang untuk makan malam anak-anak, sehingga ia melewatkan sarapan dan menunggu makan siang. Para penulis menandai hal ini sebagai sisi yang masih perlu diteliti lebih jauh.
Bekal di laci sudah berbau sebelum tengah hari, maka gerbang kantor menjadi kantin
Lalu mengapa tidak membawa bekal? Jawabannya ada di ruang kantor itu sendiri. Sebagian besar kantor di Tamale tidak punya kantin, kulkas, microwave, atau ruang makan. Kota ini panas sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata sekitar 28 derajat Celsius. Beberapa jam tanpa pendingin sudah cukup membuat masakan tradisional tidak aman dimakan.
Seorang pegawai bank berusia 27 tahun sebenarnya ingin sekali membawa makanan dari rumah. “Tetapi di mana saya akan menyimpannya? Kalau saya tinggalkan TZ saya di laci, menjelang tengah hari sudah berbau,” ujar partisipan yang dicatat sebagai P01. Seorang rekannya menambahkan bahwa di kantornya tidak ada microwave ataupun ketel untuk menghangatkan bekal.
Ada yang sudah mencoba meminta. Seorang pegawai negeri berusia 39 tahun bercerita bahwa ia dan rekan-rekannya mengajukan permohonan kulkas kepada pimpinan tiga tahun lalu. Tidak ada hasilnya. Sejak itu mereka, katanya, terpaksa membeli makanan di luar setiap hari.
Di luar, tepat di depan gerbang, pedagang sudah menunggu. Makanan jalanan dianggap enak dan praktis meski para pegawai cemas soal kesehatan. Seorang pegawai bank memuji waakye buatan ibu penjual di gerbang: panas, siap santap, dan ia tidak perlu merencanakan apa pun. Seorang pegawai swasta bahkan menilai masakan rumah membosankan setelah beberapa lama.
Tamale juga punya jembatan makanannya sendiri. Para pegawai menyebutnya yellow-yellow, yakni pengantar bermotor informal. Seorang pegawai bank cukup menelepon, lalu nasi goreng dan ayam diantar sampai meja resepsionis. Sejumlah kantor malah punya grup WhatsApp bersama pedagang langganan. Ketik pesanan, dan sepuluh menit kemudian makanan datang.
Abdulai dan ketiga rekannya merangkum bagian ini dalam satu kalimat berbahasa Inggris. “Jalanan dengan demikian menjadi bukan sekadar pilihan, melainkan kantin bawaan,” tulis mereka. Kekosongan yang ditinggalkan kantor diisi oleh pedagang di luar pagar.
Tiga kubus kaldu dalam sepanci sup dan lidah yang tidak lagi mengenal dawadawa
Potong ke dapur. Di sini para pegawai berkali-kali menyebut satu nama, yaitu Maggi. Mereka menggambarkan tarik-menarik antara bumbu lama seperti dawadawa dan ayoyo dengan kubus kaldu modern seperti Maggi dan Onga. Para penulis menamainya narasi Maggi, sebab cerita itu dipakai para pegawai untuk menjelaskan naiknya penyakit tidak menular.
Seorang pegawai negeri berusia 55 tahun mengenang kakek-kakeknya yang kuat karena dawadawa dan ayoyo. Kini, katanya, semua sudah diganti kubus Maggi dan rasa yang asli telah pergi. Seorang pegawai bank berusia 37 tahun lebih terus terang. Ibunya masih memakai dawadawa, tetapi ia sendiri merasa bumbu itu terlalu asam. Lidahnya sudah berubah.
Perubahan itu digambarkan seperti lingkaran yang sulit diputus. Seorang pegawai universitas berusia 47 tahun berkata bahwa sup tanpa tiga kubus Maggi tidak akan dimakan siapa pun, bahkan anak-anak menolak cara lama. Seorang pegawai swasta mencoba mengurangi garam, lalu merasa makanannya hambar seperti kardus. Pedagang, menurut para penulis, memanfaatkan ketergantungan itu dengan bumbu yang pekat.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Para pegawai sendiri yang mengaitkan rasa itu dengan penyakit. Seorang laki-laki berusia 52 tahun menyebut tekanan darah tinggi sebagai akibat Maggi dan minyak. Namun tahu belum tentu berubah. Seorang ibu disuruh dokternya berhenti memakai kubus kaldu. Ketika ia memasak tanpa kubus itu, suaminya memprotes masakannya, sehingga mereka kembali ke kebiasaan lama.
Pesanan tiba di meja dalam dua puluh menit, sementara para ibu menawar waktu di dapur
Telepon genggam memberi jalan keluar baru bagi pekerja yang terikat di meja. Layanan pesan-antar daring seperti Bolt Food dan pedagang berbasis WhatsApp dipakai luas, terutama oleh pegawai muda di bank dan perusahaan swasta. Seorang pegawai bank memesan pukul 12.30, dan pukul 12.50 makanan sudah di mejanya. Ia tidak kehilangan satu menit pun waktu kerja.
Kantong makanan itu ternyata juga berbicara. Menurut seorang pegawai swasta berusia 29 tahun, rekan-rekan melihat kantong dari KFC atau Pizza Hut dan membaca kedudukan pemesannya. Seorang pegawai negeri melihat garis pemisah yang sama dari sisi lain. Hanya para manajer yang rutin memakai aplikasi, sedangkan staf junior berjalan kaki ke pedagang jalanan.
Kemudahan itu ada harganya. Seorang pegawai universitas pernah menerima ayam yang kurang matang, tetapi tetap memakannya karena lapar dan sudah membayar. Seorang pegawai bank mengaku tidak pernah melihat dapur tempat pesanannya dimasak. Bisa saja kotor, katanya, tetapi rasa praktis selalu menang.
Di rumah, beban berpindah ke perempuan. Para penulis mencatat bahwa dalam rumah tangga Ghana utara perempuanlah yang terutama bertanggung jawab memasak. Pegawai perempuan pun memikul beban ganda. TZ harus diaduk tanpa henti selama 30 sampai 45 menit, dan itu menjadi penyedot waktu yang besar pada hari kerja.
Selepas pukul lima sore, seorang ibu pegawai bank merasa terlalu lelah untuk menggiling cabai atau mengaduk TZ. Ia membelikan anak-anaknya mi instan Indomie. Pegawai lain menghitung bahwa ia harus bangun pukul tiga dini hari bila ingin memasak cara lama sebelum berangkat. Ada pula yang mendahulukan anak, lalu hanya minum air dan berkata tidak lapar.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Dari situ lahir jalan tengah. Banyak pegawai perempuan memakai cara makan campuran: jajanan jalanan pada hari kerja dan masakan tradisional hanya pada hari Minggu. Sebagian membeli sup dari pedagang dan menanak nasi di rumah. Para penulis membacanya sebagai pertukaran yang diperhitungkan demi menjaga istirahat dan kesehatan jiwa, walau mereka tahu gizinya kalah.
Mereka tahu mana yang sehat tetapi tetap membuka laci permen, dan naskahnya menyisakan catatan
Semua itu bermuara pada satu jurang. Sebagian besar pegawai tahu betul bahaya minuman manis, gorengan, dan garam berlebih. Pengetahuan itu jarang menjadi tindakan. Seorang pegawai swasta membuka sebungkus biskuit setiap kali dibentak klien, dan ia sadar itu soal emosi, bukan lapar. Di kantornya ada laci penuh permen dan minuman bersoda.
Yang muda merasa masih punya waktu. Pegawai bank berusia 27 tahun tahu nasi goreng tidak baik, tetapi ia merasa sehat dan mengira masalah baru datang saat tua. Yang lain menyerah. Di mana pun di Tamale makanannya berminyak, kata seorang pegawai, jadi untuk apa melawan. Para penulis menyebut keadaan ini daya yang terhalang.
Di titik inilah kesimpulan mereka paling tegas. “Ketiadaan pendingin dasar di kantor-kantor di Tamale bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan penentu struktural pola makan,” tulis Abdulai, Addae-Mensah, Alhassan, dan Aryee dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka mengusulkan agar kulkas dan microwave diwajibkan di tempat kerja yang pegawainya lebih dari 20 orang.
Usulan lain menyusul dari enam tema tadi. Kantin bersubsidi yang menyajikan masakan utara seperti TZ dan alefu dengan bumbu olahan lebih sedikit. Jam istirahat yang lentur agar makan siang terlindungi. Pelatihan gizi sukarela bagi pedagang di sekitar perkantoran, serta label pilihan lebih sehat pada layanan seperti Bolt Food. Penitipan anak di tempat kerja ikut diusulkan untuk meringankan beban ganda pegawai perempuan.
Para penulis sendiri memasang batas. Dengan hanya 20 orang, temuan ini khas Tamale dan tidak bisa digeneralisasi secara statistik ke seluruh pegawai kantor Ghana. Semua cerita juga berasal dari pengakuan sendiri. Peserta mungkin melebih-lebihkan kesukaan mereka pada makanan tradisional sambil tetap bergantung pada pilihan modern.
Beberapa hal dalam naskah patut diperiksa pembaca. Ringkasannya menyebut peserta berasal dari bank, instansi pemerintah, dan lembaga pendidikan, sedangkan bagian hasil mencatat pula tiga orang dari perusahaan swasta. Angka kelebihan berat badan 32,9 persen dan obesitas 16,2 persen pada pegawai kantor Tamale dirujukkan ke pustaka yang judulnya membahas perawat dan bidan di Hohoe, Volta Region.
Ada pula selisih kecil soal TZ. Seorang peserta menyebut mengaduknya makan waktu dua jam, sedangkan para penulis menulis 30 sampai 45 menit. Uraian mereka juga menyebut keracunan makanan yang sesekali terjadi tanpa menyertakan kutipan peserta yang mengalaminya. Seorang peserta bernomor P16 juga dikutip tanpa keterangan usia dan jenis kelamin seperti peserta lain. Catatan semacam ini tidak mengubah arah temuan, tetapi layak diketahui.
Pukul tiga sore, kantor P03 panas. Dokter sudah memberitahunya bahwa gula darahnya tinggi, dan ia tahu minuman bersoda itu buruk. Tetapi pada jam seperti itu, katanya, hanya soda dingin yang membuatnya terjaga. Diabetes dipikirkan besok. Hari ini ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya.















