- Golongan rentan berisi 4,9 persen, atau 92.008 orang, kira-kira satu dari dua puluh pekerja di Finlandia.
- Pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun, 18,6 persen pekerja tergolong rentan dan 27,3 persen lagi kerja terbatas.
- Rasa terancam hampir tidak berbeda antara satu golongan kerja dan golongan lain, semuanya dalam rentang dua poin.
- Golongan rentan mencatat 37,5 persen perkiraan menganggur dalam lima tahun, berbanding 20,2 persen pada golongan standar.
Daftar Isi
Pada akhir 2013, Finlandia mencatat siapa saja yang bekerja. Catatan itu memuat 2.409.216 penerima upah berusia 20 sampai 64 tahun yang tinggal di negeri tersebut. Masing-masing punya sedikitnya satu hari kerja dan penghasilan dari upah sepanjang tahun itu. Dari tumpukan catatan resmi inilah sebuah ukuran baru disusun.
Ukuran itu dilaporkan Taina Leinonen, Laura Salonen, Theo Bodin, dan Svetlana Solovieva dalam artikel berjudul Assessing the performance of a novel Finnish register-based measure of precarious employment: affected employee groups and subjective and objective employment outcomes. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 pada 2026. Tiga penulisnya bekerja di Finnish Institute of Occupational Health di Helsinki, sedangkan Bodin berasal dari Karolinska Institutet di Stockholm.
Yang mereka ukur adalah kerja rentan, padanan untuk precarious employment. Naskah memakai istilah itu untuk keadaan ketika beberapa ciri buruk hubungan kerja menumpuk pada satu orang. Kontrak sementara atau kerja paruh waktu saja belum cukup. Keduanya baru dihitung rentan bila datang bersama ciri buruk lain, misalnya upah yang rendah.
Sebelum menghitung, para peneliti menyisihkan beberapa kelompok. Pelajar, wiraswasta, pensiunan, orang yang lama cuti sakit atau cuti mengasuh anak, serta pendatang baru tidak diikutkan. Ukuran umum ini dinilai tidak cocok untuk mereka. Sesudah penyisihan, tersisa 1.873.210 orang yang menjadi dasar seluruh hitungan.
Tiga tahun riwayat, lima catatan
Hitungan bertumpu pada riwayat kerja tahun 2013 dan dua tahun sebelumnya. Lima hal dicatat untuk tiap orang: pekerjaan yang terputus-putus, majikan yang banyak, kerja lewat agen penyalur tenaga, kerja yang kurang dari rekan sebaya, dan besarnya upah. Tiap ciri buruk diberi nilai minus. Upah tinggi diberi nilai plus dan bisa menghapus sebagian minus itu.
Dari 1.696.370 orang yang bisa dinilai, 10,9 persen punya pekerjaan terputus-putus. Sebanyak 3,1 persen bekerja pada tiga majikan atau lebih dalam setahun, dan 2,1 persen lagi melakukannya di tiga sektor atau lebih. Kerja lewat agen tercatat pada 1,3 persen. Upah di bawah 60 persen nilai tengah diterima 9,3 persen pekerja.
Kurang kerja dibaca dari upah per hari kerja, dibandingkan dengan rekan sepekerjaan, seusia, sejenis kelamin, dan sesektor. Sebanyak 7,5 persen menerima antara sepertiga dan dua pertiga nilai tengah rekannya. Sebanyak 1,7 persen bahkan di bawah sepertiga. Para peneliti memakainya sebagai penanda kerja paruh waktu atau kerja yang tidak teratur.
Akhir 2013: satu dari dua puluh pekerja
Hasil penjumlahan membagi pekerja ke dalam lima golongan. Sebanyak 26,9 persen masuk golongan berupah tinggi dan 33,1 persen golongan standar. Sebanyak 25,8 persen berada di bawah standar. Golongan rentan berisi 4,9 persen, atau 92.008 orang. Itu kira-kira satu dari dua puluh pekerja.
Golongan kelima lebih besar daripada golongan rentan. Sebanyak 9,4 persen, atau 176.840 orang, bekerja terlalu sedikit untuk bisa dinilai. Mereka menganggur lebih dari 180 hari, bekerja kurang dari 90 hari, atau tidak punya majikan pada tiap tahun dari tiga tahun itu. Naskah menyebut kelompok ini kerja terbatas.
Di dalam golongan rentan, hampir semua berupah di bawah 80 persen nilai tengah. Lebih dari 80 persen bahkan di bawah 60 persen. Sekitar 70 persen kurang kerja, dua pertiga punya pekerjaan terputus-putus, sepertiga bermajikan banyak, dan lebih dari 10 persen bekerja lewat agen. Sebanyak 63,5 persen memikul tiga ciri buruk atau lebih.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Tahun yang sama: usia, asal, dan dapur restoran
Catatan 2013 memperlihatkan usia sebagai pembeda paling tajam. Pada kelompok 20 sampai 24 tahun, 18,6 persen tergolong rentan dan 27,3 persen lagi kerja terbatas. Angka kerja rentan turun menjadi 6,2 persen pada usia 25 sampai 34 tahun. Pada usia 55 sampai 64 tahun, angkanya tinggal 2,8 persen.
Asal-usul memberi beda serupa. Kerja rentan tercatat pada 9,0 persen pekerja berlatar asing, berbanding 4,7 persen pada yang berlatar Finlandia. Kerja terbatas pada kelompok berlatar asing mencapai 20,5 persen. Menurut pendidikan, angkanya 6,9 persen pada lulusan dasar, 5,3 persen pada lulusan menengah, dan 3,3 persen pada lulusan tinggi.
Perempuan sedikit lebih banyak tercatat rentan, 5,3 persen berbanding 4,6 persen pada laki-laki. Kerja terbatas justru lebih banyak pada laki-laki, 10,3 persen berbanding 8,6 persen. Sektor swasta mencatat 5,9 persen kerja rentan, sektor publik 3,1 persen. Para penulis menduga banyaknya perempuan di sektor publik ikut mengurangi kerugian mereka.
Jenis pekerjaan ikut terbaca. Pekerja kasar tanpa keahlian mencatat 8,6 persen, pekerja kasar terampil 5,8 persen, dan pegawai kantoran tingkat atas 3,4 persen. Riwayat menganggur 2009 sampai 2013 memberi urutan yang sama. Angkanya 2,9 persen pada yang tidak pernah menganggur dan 10,4 persen pada yang menganggur lebih dari 365 hari.
Daftar pekerjaan dengan lebih dari 10 persen pekerja rentan dibuka oleh berbagai profesi budaya. Namun, jumlah orangnya kecil. Di antara pekerjaan yang besar, naskah menyebut asisten guru, pelayan restoran, petugas konter makanan, sopir mobil, taksi, dan van, petugas keamanan, pembantu dapur, serta juru masak.
Tidak semua pekerjaan dalam satu rumpun bernasib sama. Polisi dan sipir penjara, guru pendidikan khusus, penyelia toko, serta kondektur mencatat pekerja rentan sekitar 3 persen atau kurang. Padahal, rumpun besarnya termasuk seperempat teratas. Masing-masing pekerjaan itu berisi sedikitnya 500 orang.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
September dan Oktober 2013: rasa terancam
Pada September dan Oktober 2013, Statistics Finland mewawancarai pekerja tentang mutu kehidupan kerja. Sekitar 7.000 penerima upah dipilih, dan 69 persen menjawab. Mereka ditanya apakah ancaman pemecatan atau ancaman menganggur membayangi pekerjaannya. Jawaban ya pada salah satunya dicatat sebagai rasa terancam.
Jawaban itu dirata-ratakan per kelompok pekerjaan, lalu ditautkan pada catatan resmi tiap orang. Hasilnya, 24,4 persen pekerja tergolong merasa terancam. Di sinilah ukuran baru itu memberi hasil yang tidak searah dengan dugaan. Rasa terancam hampir tidak berbeda antara satu golongan kerja dan golongan lain.
Angka terendah, 23,8 persen, ada pada golongan standar. Angka tertinggi, 25,8 persen, justru ada pada golongan berupah tinggi. Golongan rentan mencatat 24,4 persen, golongan di bawah standar 24,1 persen, dan kerja terbatas 24,9 persen. Seluruh selisih berada dalam rentang dua poin persentase.
Rasa terancam ternyata tersebar ke banyak jenjang, termasuk manajer, profesional, dan teknisi. Pekerjaan jasa dan penjualan, tempat kerja rentan paling banyak, tidak masuk seperempat teratas. Para penulis menduga, di pekerjaan yang lazim tidak standar, kerja rentan tidak terasa menyimpang. Restrukturisasi dan pemutusan kerja yang berulang juga menyentuh banyak jenis pekerjaan.
Kesimpulan itu mereka tulis terang. “Mereka yang digolongkan bekerja rentan berdasarkan ciri objektif hubungan kerjanya tidak selalu memandang pekerjaannya tidak aman,” tulis Leinonen, peneliti Finnish Institute of Occupational Health, bersama tiga rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
2014 sampai 2018: hari-hari tanpa pekerjaan
Sesudah 2013, catatan resmi diikuti lima tahun, dari 2014 sampai 2018. Menganggur dihitung bila melebihi 30 hari, sebab jeda sekitar sebulan bisa berarti sekadar pindah kerja. Sebanyak 24,4 persen pekerja mengalaminya. Mereka yang menganggur mencatat rata-rata 479 hari selama lima tahun itu.
Golongan kerja kini memberi beda yang jelas. Pada golongan standar, 20,2 persen diperkirakan menganggur dalam lima tahun itu. Pada golongan berupah tinggi angkanya 19,1 persen, dan pada golongan di bawah standar 26,8 persen. Golongan rentan mencatat 37,5 persen. Kerja terbatas mencatat 46,3 persen.
Lamanya menganggur mengikuti urutan yang hampir sama. Golongan standar mencatat 407 hari dan golongan berupah tinggi 420 hari. Golongan di bawah standar 444 hari, golongan rentan 496 hari, dan kerja terbatas 631 hari. Angka-angka itu sudah memperhitungkan usia, jenis kelamin, asal, pendidikan, dan riwayat menganggur.
Riwayat menganggur tidak cukup menjelaskan beda tersebut. Hasil serupa muncul pada orang yang sama sekali tidak menganggur selama 2009 sampai 2013. Naskah juga merujuk sebuah studi Swedia yang menemukan anak muda dengan kerja rentan lebih berisiko menganggur lama pada usia paruh baya.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Sesudah hitungan: batas dan angka yang berselisih
Ukuran ini diturunkan dari ukuran yang lebih dulu dibuat di Swedia. Dengan ukuran serupa, kerja rentan di Swedia pada 2012 tercatat 13 sampai 14 persen. Para penulis menyebut versi Finlandia lebih ketat dalam menilai pekerjaan terputus-putus. Bila memakai batasan Swedia dan mengeluarkan kerja terbatas, angka Finlandia menjadi sekitar 7 persen.
Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Ukuran ini tidak memuat soal hak dan perlindungan pekerja, yang sulit dibaca dari catatan resmi. Kontrak sementara berturut-turut pada majikan yang sama tidak tertangkap. Tidak diketahui pula apakah orang berganti majikan atau bekerja sedikit atas kemauan sendiri.
Rasa terancam pun hanya tersedia sebagai rata-rata kelompok pekerjaan, bukan jawaban tiap orang. Pekerja dengan posisi lemah mungkin lebih jarang ikut wawancara. Lima ciri diukur pada rentang waktu berbeda, sehingga belum tentu dialami bersamaan. Pekerja musiman yang bekerja kurang dari 90 hari setahun juga tidak terjangkau.
Beberapa angka dalam naskah bisa dicocokkan sendiri oleh pembaca. Teks hasil menyebut perkiraan menganggur 38,0 persen untuk golongan rentan, 47,3 persen untuk kerja terbatas, dan 18,6 persen untuk berupah tinggi. Tabelnya mencatat 37,5, 46,3, dan 19,1 persen. Artikel ini memakai angka tabel. Jumlah orang yang diikuti pun tertulis 1.798.882 di teks dan 1.797.882 di tabel.
Ukuran itu baru diterapkan pada satu tahun, yakni 2013. Menurut para penulis, catatan resmi memungkinkan penerapannya sejak 2008 sampai tahun terakhir yang tersedia. Titik terakhir yang tercatat dalam naskah adalah 2018, ujung lima tahun pengamatan.















