- Itu berarti kira-kira tiga dari empat pekerja remaja yang didata.
- Sebanyak 223 remaja, atau 33 persen, memainkan kartu gosok setiap minggu.
- Sebanyak 523 remaja menyebut salah satu orang tuanya memainkan permainan untung-untungan.
- Lalu ada 185 remaja, lebih dari seperempat, yang mengaku mencuri untuk berjudi.
- Makin besar dukungan sosial yang dirasakan, makin rendah skor itu.
Daftar Isi
Pada 1 April 2024 pendataan dimulai di Şanlıurfa dan Diyarbakır. Dua kota itu terletak di tenggara Türkiye. Yang didatangi adalah remaja yang sudah bekerja, sebagian di toko dan bengkel, sebagian di jalan dan taman. Pendataan berakhir pada 31 Desember 2024 dengan 671 nama remaja tercatat.
Hasilnya ditulis Mehmet Emin Düken, Özge Karakaya Suzan, dan Meltem Günaydın. Artikel mereka berjudul Problem gambling among working youth in Southeast Türkiye: predictors and psychological consequences. Naskah itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1093 pada 2026. Düken mengajar keperawatan kesehatan anak di Harran University, Şanlıurfa. Karakaya Suzan bekerja di bidang yang sama di Sakarya University. Günaydın bertugas di bagian psikiatri anak dan remaja Başakşehir Çam and Sakura City Hospital, Istanbul.
Temuan pokoknya berat. Sebanyak 515 dari 671 remaja itu, atau 76,8 persen, tergolong penjudi patologis menurut alat penapis yang dipakai. Itu berarti kira-kira tiga dari empat pekerja remaja yang didata. Hanya 156 remaja, atau 23,2 persen, berada di luar golongan tersebut.
Sebelum 2024: bertahun-tahun bekerja
Kehidupan kerja para remaja itu dimulai jauh sebelum pendataan. Mereka sudah bekerja rata-rata enam tahun, dengan rentang dua sampai 13 tahun. Usia mereka saat didata 14 sampai 19 tahun, rata-rata 16 tahun. Sebanyak 393 orang laki-laki dan 278 orang perempuan.
Tempat kerja mereka beragam. Naskah menyebut toko roti, swalayan, penjual sayur, penjahit, tukang cukur, kafe, toko perlengkapan jahit, dan bengkel otomotif. Sebagian lain mengemis di jalan dan taman. Jam kerja mereka rata-rata 7,63 jam sehari, dengan rentang empat sampai 12 jam.
Rumah yang mereka tinggalkan setiap pagi juga tercatat. Ibu dari 110 remaja sudah meninggal, begitu pula ayah dari 105 remaja. Kira-kira tiga dari sepuluh ibu dan ayah buta huruf. Jumlah saudara kandung rata-rata 6,59 orang, dengan angka tertinggi 14 orang.
Kebiasaan harian lain ikut dihitung. Sebanyak 523 remaja, atau 77,9 persen, merokok dengan rata-rata 18 batang sehari. Hampir 44 persen mengisap nargile, rata-rata 16 kali sebulan. Mereka memakai ponsel pintar rata-rata 4,33 jam sehari dan tidur 7,74 jam.
Para penulis menempatkan angka itu dalam keadaan wilayahnya. Pendapatan rumah tangga di tenggara Türkiye lebih rendah daripada di wilayah barat. Jumlah anak yang banyak dan ekonomi yang lemah, tulis mereka, menaikkan jumlah pekerja anak di kawasan itu.
Baca juga Adu Ayam Talang Mamak: Perintah Tuhan yang Bergeser Jadi Judi
Sepanjang hidup: taruhan yang pernah dicoba
Daftar pertanyaan lalu mundur ke seluruh umur mereka. Jawaban pertama seragam. Tidak seorang pun dari 671 remaja pernah bermain kartu, melempar koin, bermain dadu, atau bermain bingo dengan uang. Bentuk judi lama itu kosong dari catatan.
Bentuk lain justru penuh. Sebanyak 523 remaja pernah memasang iddaa, permainan taruhan sepak bola resmi di Türkiye. Jumlah yang sama, 523 remaja, pernah berjudi lewat internet. Kartu gosok pernah dimainkan 520 remaja, atau 77,5 persen.
Urutan berikutnya masih tinggi. Rummikub dengan taruhan uang pernah dimainkan 463 remaja, atau 69 persen. Lotre nasional pernah dibeli 396 remaja, pacuan kuda pernah dipasangi 355 remaja, dan biliar atau boling pernah dijadikan taruhan oleh 348 remaja. Lotto angka pernah dibeli 298 remaja.
Kartu gosok dan lotre nasional adalah permainan yang sah. Para penulis tidak menganggapnya ringan. “Ini menunjukkan bahwa permainan untung-untungan yang legal pun berpotensi menimbulkan kecanduan dan menjadi pintu masuk, terutama bagi remaja,” tulis Düken dan dua rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.
Dua belas bulan terakhir: taruhan tiap minggu
Pertanyaan kemudian menyempit ke 12 bulan terakhir. Di sini terlihat siapa yang bertaruh rutin. Sebanyak 223 remaja, atau 33 persen, memainkan kartu gosok setiap minggu. Iddaa dipasang setiap minggu oleh 217 remaja, kira-kira satu dari tiga orang.
Taruhan biliar atau boling dilakukan seminggu sekali oleh 171 remaja, atau 25 persen. Judi di internet dimainkan tiap minggu oleh 152 remaja. Rummikub menyusul dengan 122 remaja, pacuan kuda 112 remaja, dan lotto angka 72 remaja.
Angka-angka itu tidak bisa dijumlahkan. Seorang remaja dapat tercatat pada beberapa jenis taruhan sekaligus. Para penulis menyebut tumpang-tindih semacam itu umum terjadi pada kelompok ini. Polanya adalah berjudi di banyak jenis, bukan setia pada satu permainan.
Seberapa sering mereka bertaruh juga ditanyakan langsung. Sebanyak 68 remaja menjawab selalu, dan 183 remaja menjawab hampir setiap waktu. Jawaban kadang-kadang datang dari 272 remaja. Sisanya, 148 remaja atau 22,1 persen, menjawab tidak pernah.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Hari demi hari: ayah, utang, dan uang taruhan
Judi tidak mereka temui pertama kali di jalan. Sebanyak 523 remaja menyebut salah satu orang tuanya memainkan permainan untung-untungan. Pada 510 remaja, orang itu adalah ayah. Hanya 13 remaja yang menyebut ayah dan ibunya sama-sama bermain.
Penilaian para remaja atas orang tuanya tegas. Sebanyak 476 remaja, atau 70,9 persen, menganggap orang tuanya terlalu banyak berjudi. Dari jumlah itu, 464 remaja menunjuk ayah. Para penulis membaca angka tersebut sebagai tanda bahwa kebiasaan orang tua dapat menaikkan risiko judi pada anaknya.
Uang taruhan dicari dari beberapa arah. Sebanyak 523 remaja meminjam dari teman, dan 165 remaja meminjam dari kerabat. Lalu ada 185 remaja, lebih dari seperempat, yang mengaku mencuri untuk berjudi. Para penulis menyebut pinjaman dan pencurian itu sebagai perilaku berisiko.
Jumlah uangnya ikut dicatat. Taruhan terbesar dalam sehari rata-rata 1.102 lira Türkiye. Nilai tengahnya 1.100 lira, dan angka tertinggi yang dilaporkan 3.000 lira. Semua itu dipertaruhkan oleh remaja yang bekerja di toko, bengkel, dan jalan.
Saat diukur: murung, cemas, dan sedikit sandaran
Pada masa pendataan yang sama, suasana hati para remaja ikut diukur. Skor gejala depresi mereka rata-rata 11,34, sedikit di bawah ambang 12. Skor gejala cemas rata-rata 10,95, hampir menyentuh ambang 11. Keduanya berada tepat di tepi batas.
Ukuran kesulitan yang lebih luas menunjukkan hasil yang lebih berat. Skor kesulitan total mereka rata-rata 24,19. Rentang 17 sampai 40 pada ukuran itu digolongkan tidak normal. Masalah emosi, perilaku, perhatian, dan hubungan dengan teman sebaya sama-sama bernilai sekitar enam dari sepuluh.
Dukungan dari keluarga, teman, dan orang dekat juga dinilai. Skornya rata-rata 45,99 pada rentang 12 sampai 84. Nilai tengahnya 41. Makin tinggi skor itu, makin besar dukungan yang dirasakan remaja dari sekelilingnya. Tiga ukuran itu lalu disandingkan dengan skor judi. Makin berat gejala depresi dan cemas, makin tinggi skor judi. Makin besar dukungan sosial yang dirasakan, makin rendah skor itu. Ketiganya bersama-sama menjelaskan 60,2 persen perbedaan skor judi di antara para remaja.
Hitungan kedua memasukkan kebiasaan sehari-hari. Usia, jumlah saudara, lama tidur, jumlah rokok, nargile, besarnya taruhan, dan masalah emosi serta perilaku menjelaskan 87,3 persen perbedaan skor judi. Semua itu dicatat pada satu waktu. Karena itu hubungannya belum dapat dibaca sebagai sebab dan akibat.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Sesudah angka terkumpul: peringatan para penulis
Setelah hitungan selesai, para penulis sendiri menahan pembacanya. “Prevalensi judi patologis yang ditemukan dalam penelitian ini (76,8 persen) jauh lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan penelitian berbasis populasi pada remaja di seluruh dunia dan di Türkiye, sehingga perlu ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.
Pembandingnya mereka sebut. Perkiraan dunia untuk judi bermasalah pada remaja berkisar 0,2 sampai 12,3 persen. Survei di sekolah dan kampus Türkiye juga melaporkan angka yang jauh lebih rendah. Jarak itu mereka kaitkan dengan siapa yang didata dan cara mendatanya.
Keterbatasan pertama ada pada cara merekrut. Peserta dicari berantai, dari satu remaja ke kenalannya. Menurut para penulis, cara itu dapat mengumpulkan remaja dengan lingkungan dan kebiasaan serupa, sehingga angka judi tampak lebih besar. Temuan ini hanya berlaku bagi pekerja remaja miskin di kota.
Keterbatasan kedua ada pada alat penapisnya. Alat itu peka terhadap seringnya orang bertaruh, terlebih bila judi dianggap biasa di keluarga dan pergaulan. Pada kelompok berisiko tinggi, kepekaan itu dapat menggolongkan lebih banyak remaja sebagai penjudi patologis.
Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Remaja buta huruf disebut tidak diikutkan, tetapi tabel pertama mencatat 120 remaja buta huruf. Angka 523 muncul sama persis untuk perokok, pemain iddaa, penjudi internet, anak dari orang tua penjudi, dan peminjam uang teman. Angka 60,2 persen di teks tertulis 0,609 di tabel.
Saran para penulis menutup naskah. Mereka mengusulkan program berjenjang: pelatihan keterampilan sosial di sekolah, terapi bagi remaja berisiko tinggi, dan terapi keluarga yang menyentuh kebiasaan orang tua. Mereka juga meminta kebijakan yang mengurangi pekerja anak dan menopang keluarga miskin.
Catatan itu berhenti pada 31 Desember 2024. Sampai hari itu, 515 dari 671 pekerja remaja di Şanlıurfa dan Diyarbakır tergolong penjudi patologis. Apa yang terjadi pada mereka sesudahnya tidak tercatat dalam naskah.















