Adu Ayam Talang Mamak: Perintah Tuhan yang Bergeser Jadi Judi

A A

Deretan keranjang bambu berisi ayam aduan di tepi jalan Besakih, Bali [Foto: CEphoto, Uwe Aranas/Wikimedia Commons CC BY-SA 3.0]

  • Adu ayam dimaknai orang Talang Mamak sebagai perintah Tuhan dan pengalih perhatian jin saat gawai
  • Pemenang berulang dijuluki bujang juara dan bisa menjadi tokoh berpengaruh di komunitas
  • Ayam yang kalah disumbangkan, tetapi peserta dari luar membawa aturan luar dan perjudian
  • Besaran taruhan ditulis tiga kali dengan rentang berbeda dan tanpa satu pun informan bernama
Daftar Isi
  1. Yang Diperintahkan, Bukan yang Dibolehkan
  2. Identitas yang Dipertaruhkan di Gelanggang
  3. Uang yang Masuk lewat Pintu yang Sama
  4. Ketika Aturan Adat Hilang dari Arena
  5. Angka yang Berubah Tiga Kali

Adu ayam adalah judi, dan judi adalah penyakit sosial yang tinggal menunggu dilarang, begitu kira-kira anggapan yang paling gampang dipegang siapa pun yang mendengar dua ekor ayam dipasangi pisau kecil di kaki lalu dilepas untuk saling membunuh. Namun di Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, anggapan itu langsung patah, sebab bagi masyarakat Talang Mamak adu ayam justru bagian yang tidak boleh ditinggalkan dari upacara pernikahan, kematian, dan kelahiran anak.

Pertautan yang ganjil itu ditelaah Indah Wulandari dan Selvi Kasman dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang dalam The Meaning of The Cockfighting Tradition Among the Talang Mamak Tribe in Rantau Langsat Village, Indragiri Hulu, yang terbit di JSRET (Journal of Scientific, Research, Education, and Technology) volume 3 nomor 3, tahun 2024. Naskahnya berbahasa Inggris, dan yang ia kejar bukan benar-salahnya adu ayam, melainkan makna yang diberikan orang Talang Mamak kepada permainan itu, serta lapisan sosial yang tumbuh darinya.

Talang Mamak, dalam uraian kedua penulis, adalah suku pedalaman yang tersebar di sejumlah wilayah Indragiri Hulu, yang disebut sebagai Melayu tua, suku pertama yang datang ke Indragiri dan pemilik kebudayaan paling lama di sana. Mereka menganggap diri Melayu dan memeluk Islam, tetapi dalam hidup sehari-hari tetap terikat kuat pada tradisi dan upacara yang diwarisi turun-temurun, yang mereka sendiri namai Islam Langkah Lama, dan di dalam kerangka keyakinan itulah adu ayam mendapat tempatnya.

Yang Diperintahkan, Bukan yang Dibolehkan

Kalau adu ayam sekadar hiburan, ia mestinya boleh ditiadakan ketika sebuah keluarga sedang berkabung, atau ketika biaya gawai sudah terlalu berat, dan tak seorang pun akan merasa bersalah. Justru sebaliknya yang dicatat paper, sebab bagi orang Talang Mamak adu ayam dimaknai sebagai tradisi yang diperintahkan Tuhan, sehingga ia dihormati dan dijunjung, bukan sekadar diizinkan, dan pemaknaan inilah yang membuat permainan itu bertahan di setiap upacara adat sampai hari ini.

Ada lapisan kepercayaan lain yang lebih spesifik lagi, yang menurut paper diyakini turun-temurun, yakni bahwa adu ayam adalah prosesi untuk mengalihkan perhatian jin agar makhluk itu tidak mengganggu jalannya upacara gawai. Dengan begitu, dua ayam yang saling menyerang di arena bukan tontonan yang berdiri sendiri, melainkan semacam tirai yang dipasang di depan upacara, dan ketegangan yang kita tonton di gelanggang justru bekerja untuk ketenangan di rumah pengantin.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Kedua penulis membaca lapisan itu dengan kacamata Clifford Geertz, yang mereka kutip lewat Tafsir Kebudayaan, bahwa kebudayaan adalah sistem simbol yang harus dibaca, diterjemahkan, dan ditafsirkan, sehingga ayam, taji, dan arena bukan benda melainkan tanda. Mereka juga meminjam Victor Turner, yang bagi mereka menyebut rite sebagai wujud keyakinan keagamaan, dan rite itu, dalam empat perannya, dapat meredam konflik, membatasi perpecahan, menyatukan dua prinsip yang bertentangan, serta memberi kekuatan baru untuk menjalani hidup sehari-hari.

Identitas yang Dipertaruhkan di Gelanggang

Namun makna religius hanyalah separuh cerita, sebab paper juga menempatkan adu ayam sebagai identitas, sesuatu yang membedakan orang Talang Mamak dari kelompok lain dan sekaligus mengikat mereka satu sama lain. Permainan itu, tulis mereka, mencerminkan nilai keberanian, kekuatan, dan kecakapan bertarung yang dihargai masyarakat, menjadi jalan untuk mengajarkan nilai budaya kepada generasi muda, dan bahkan menambah daya tarik Talang Mamak di mata masyarakat luar yang memandang mereka dari kejauhan.

Di sinilah paper mulai bergerak dari makna ke lapisan, dengan meminjam Max Weber yang membagi stratifikasi ke dalam dimensi sosial, politik, dan ekonomi. Pada dimensi sosial, seorang pelaku adu ayam yang tekun merawat dan melatih ayamnya, dan pandai membaca kelemahan ayam lawan, akan terus menang, dan kemenangan berulang itu mengangkat statusnya di antara sesama penyabung sampai ia dihormati dan dijuluki bujang juara, sebuah gelar yang dalam naskah aslinya berbunyi champion bachelor.

Empat lapis makna adu ayam Talang MamakKartu ringkas: tiga upacara, tiga stratifikasi, empat fungsi, satu disfungsi.Empat lapis makna adu ayam Talang MamakCara paper menyusun makna adu ayam di Rantau Langsat3upacaranikah, mati, lahir3stratifikasisosial, politik,ekonomi4fungsikumpul, solider,hibur, uang1disfungsiperjudianJalan risetnyaGeertz: simbol dibacaWeber: tiga lapisanMerton: fungsi dandisfungsiEmpat fungsi: ajang berkumpul, solidaritas, hiburan, ekonomi. Angkaadalah jumlah butir yang diuraikan paper, bukan hasil penghitunganlapangan. Tiga nama di bawah adalah kerangka teori yang dipakaipenulis.
Sumber: Indah Wulandari dan Selvi Kasman, The Meaning of The Cockfighting Tradition Among the Talang Mamak Tribe in Rantau Langsat Village, Indragiri Hulu, JSRET (Journal of Scientific, Research, Education, and Technology), 3(3), 2024. Grafik: Cekricek.id

Pada dimensi politik, kehormatan yang sama berubah menjadi pengaruh, sebab orang yang ayamnya berulang kali menang bisa menjadi tokoh penting yang didengar dalam urusan komunitas, dan di sekeliling pemilik ayam, penyabung, dan penggemar tumbuh jaringan yang, menurut paper, dapat berwujud aliansi atau persaingan, dan dapat menggerakkan dukungan untuk atau melawan tokoh tertentu. Ayam yang menang di gelanggang, dengan kata lain, ikut menentukan siapa yang berbicara paling keras di luar gelanggang.

Uang yang Masuk lewat Pintu yang Sama

Pada dimensi ekonomi, taruhan dan penjualan ayam aduan menjadi sumber pendapatan bagi sebagian orang Talang Mamak, dan di sini paper menuliskan angka yang cukup mencengangkan untuk sebuah desa, yakni taruhan yang dapat mencapai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Mereka yang cukup kaya untuk memasang taruhan tinggi atau membeli ayam bermutu, dan mampu membiayai perawatan rutin, pakan khusus, serta obat-obatan, punya keunggulan dan pengaruh lebih besar, dan dari situlah lapisan antara yang mampu dan tidak mampu terbentuk.

Di situlah persoalannya, sebab pintu yang memasukkan kehormatan ternyata sama dengan pintu yang memasukkan uang, dan paper tidak berpura-pura bahwa keduanya bisa dipisahkan. Dengan kerangka Robert K. Merton tentang fungsi dan disfungsi, kedua penulis mendaftar empat fungsi adu ayam, yaitu ajang berkumpul, penguat solidaritas, hiburan, dan fungsi ekonomi, lalu menempatkan satu disfungsi yang tumbuh dari fungsi terakhir itu sendiri, yakni perjudian.

Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80

Fungsi berkumpul itu, menurut paper, bukan hal kecil bagi suku yang tersebar di beberapa wilayah Indragiri Hulu, sebab adu ayam yang difasilitasi pemilik gawai menjadi alasan mereka berada di satu tempat pada satu waktu, dan masyarakat pun ikut membantu secara moral maupun materiel agar gawai itu berhasil. Di arena, pengetahuan tentang cara memelihara ayam dan teknik bertarung dipertukarkan antara yang ahli dan yang sekadar gemar, sehingga gelanggang sekaligus menjadi ruang belajar.

Yang paling menyentuh dari uraian solidaritas itu adalah sebuah kebiasaan kecil yang dicatat sebagai fungsi manifes. “Tradisi adu ayam memiliki fungsi manifes, yaitu meningkatkan rasa solidaritas masyarakat Talang Mamak dengan saling membantu lewat menyumbangkan ayam yang kalah dalam permainan,” tulis Indah Wulandari dan Selvi Kasman dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Ayam yang kalah, yang di banyak tempat tinggal bangkai, di sini berubah menjadi pemberian.

Ketika Aturan Adat Hilang dari Arena

Kutipan itulah poros yang membelokkan arah, sebab tepat sesudah menunjukkan betapa hangatnya arena, paper mengakui bahwa arena yang sama telah bergeser menjadi tempat berjudi, dan pergeseran itu, menurut mereka, punya sebab yang bisa ditunjuk. “Faktor yang menggeser fungsi adu ayam adalah hilangnya aturan adat dalam pelaksanaan sabung dan masuknya budaya luar,” tulis kedua penulis, yang dalam naskah aslinya menyebut peserta dari luar sebagai pemicu utama.

Penjelasannya terdengar sederhana namun getir, sebab peserta dari luar Talang Mamak yang berdatangan tidak mengenal aturan adat, sementara peserta dari dalam menuntut aturan adat ditegakkan, dan karena jumlah yang dari luar begitu banyak, aturan pun berubah mengikuti aturan luar. Adu ayam yang semula hanya digelar pada upacara pernikahan, kematian, dan kelahiran, kini oleh sebagian pelakunya dijadikan pengisi waktu kosong pada hari libur dan musim kemarau, dengan harapan mendapat uang dalam sekejap.

Adu ayam sebagai adat dan sebagai judiPerbandingan adu ayam sebagai rite adat dan sebagai arena judi.Adu ayam sebagai adat dan sebagai judiDua wajah satu permainan di Rantau Langsat menurut paperSebagai rite adatSebagai arena judiUpacara adatLibur, kemarauWaktuTalang MamakBanyak dari luarPesertaAturan adatAturan luarAturanDekat TuhanUang sekejapTujuanDisumbangkanKehilangan uangAyam kalahFungsiDisfungsiMertonUpacara adat yang dimaksud: pernikahan, kematian, kelahiran anak.Kolom kiri dari uraian makna dan fungsi; kolom kanan dari uraiandisfungsi. Paper menyebut pergeseran terjadi karena hilangnya aturanadat dan masuknya peserta dari luar Talang Mamak.
Sumber: Indah Wulandari dan Selvi Kasman, The Meaning of The Cockfighting Tradition Among the Talang Mamak Tribe in Rantau Langsat Village, Indragiri Hulu, JSRET (Journal of Scientific, Research, Education, and Technology), 3(3), 2024. Grafik: Cekricek.id

Paper tidak menutup mata bahwa perjudian itu pun menghidupkan orang di pinggir arena, yakni pedagang air mineral, kopi, dan rokok, peternak ayam aduan, serta pemilik gelanggang, sebagaimana mereka kutip dari penelitian Firmanto tentang sabung ayam di tempat lain. Namun dampak yang paling langsung, tulis mereka, tetaplah kehilangan uang dalam jumlah besar, karena peluang menang biasanya lebih kecil daripada peluang kalah, dan di titik ini fungsi ekonomi dan disfungsi perjudian nyaris tidak bisa lagi dibedakan.

Angka yang Berubah Tiga Kali

Pembaca yang teliti akan menemukan sejumlah hal yang layak diperiksa sendiri di naskah ini, dan yang paling mudah dicek adalah besaran taruhan, yang ditulis tiga kali dengan tiga rentang berbeda: ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah pada bagian stratifikasi ekonomi, ratusan ribu hingga jutaan rupiah pada bagian fungsi ekonomi, lalu lima puluh ribu hingga puluhan juta rupiah pada paragraf berikutnya. Angka-angka itu pun tidak diikat pada satu pun informan Rantau Langsat, dan sebagian dirujuk ke penelitian Firmanto di desa lain.

Ada pula soal yang lebih mendasar, sebab abstrak dan bagian metode menyebut wawancara sebagai salah satu teknik, tetapi dari awal sampai akhir naskah tidak ada satu pun informan bernama yang dikutip, sehingga suara orang Talang Mamak sendiri tidak pernah terdengar langsung. Nama kecamatan ditulis dua cara, Batang Gansal dan Batang Gangsal, rujukan Ritzer bertahun 2010 di badan naskah tetapi 2007 di daftar pustaka, sementara Agustar 2022 dikutip di badan namun tidak muncul di daftar pustaka.

Baca juga Dua Fabel Solok Selatan Membicarakan Cara Memegang Kuasa

Keterbatasan itu perlu dipegang erat sebelum menarik kesimpulan, sebab kajian ini kualitatif di satu desa, tanpa angka jumlah peserta, jumlah ayam, maupun frekuensi gelanggang, sehingga yang ia tawarkan adalah tafsir, bukan ukuran, dan tafsir tentang Rantau Langsat belum tentu berlaku bagi kelompok Talang Mamak lain yang tersebar di Indragiri Hulu. Bahkan kesimpulannya yang menyebut praktik ini dipengaruhi kebiasaan, pendidikan terbatas, dan kekerabatan tidak dijabarkan lagi di badan naskah.

Yang tersisa, setelah semua lapisan itu dibuka, adalah sebuah permainan yang oleh penduduknya dimaknai sebagai perintah Tuhan dan tirai bagi jin, yang mengangkat pemenangnya menjadi bujang juara, yang mengubah ayam kalah menjadi sumbangan, dan yang pada saat bersamaan menelan uang orang-orang yang datang dari luar dengan aturan mereka sendiri. Kalau aturan adat sudah hilang dari arena, seperti yang dicatat paper, masihkah yang berlangsung di Rantau Langsat itu rite yang sama, atau hanya gelanggang yang kebetulan memakai nama lama?

Bagikan

Baca Juga

Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal
Busana Petani Batobo Kuansing Dijahit Jadi Gaya Art of Beat
Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Tongkonan Toraja sebagai Kurikulum Hidup Tanpa Suara Warga
Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan