- Tidak pasti, kacau, atau tidak stabil mendapat skor 0,14 dan menjadi perasaan paling menonjol.
- Olahraga mendapat skor 0,55, tertinggi di antara semua jawaban yang dilaporkan.
- Beban dan tekanan tugas mendapat skor 0,23 dan menempati urutan pertama di semua kelompok.
- Sistem pendukung yang kuat mendapat skor 0,35 dan menjadi jawaban teratas di semua kelompok.
- Jawaban teratas untuk kampus adalah layanan kesehatan jiwa dan layanan kesehatan, dengan skor 0,21.
Daftar Isi
Mahasiswa Penn paling sering menyebut satu perasaan: tidak pasti. Kata itu muncul bersama kacau dan tidak stabil ketika mereka diminta menggambarkan iklim politik Amerika Serikat selama empat bulan terakhir. Cemas menyusul tepat di belakangnya, dan tempat mereka bersandar adalah teman dan keluarga.
Temuan itu ditulis Jessica Chen, Anne Song, Jacqueline Kent-Marvick, Hao Tong, Giulia Porcari, Omaris Caceres, dan Shimrit Keddem. Artikel mereka berjudul The impact of political climate on student health and wellbeing: a qualitative study. BMC Public Health memuatnya pada volume 26, nomor artikel 2436, tahun 2026.
Sebanyak 73 mahasiswa University of Pennsylvania ikut serta pada Juni dan Juli 2025. Mereka diminta menyebut kata atau frasa pendek yang pertama terlintas untuk enam pertanyaan. Jawaban yang disebut lebih awal dan lebih sering mendapat skor lebih tinggi.
Para penulis mengingatkan cara membaca skor itu. Angkanya hanya bermakna bila dibandingkan dengan jawaban lain dalam pertanyaan yang sama. Yang dibaca adalah urutannya, bukan besar angkanya, sehingga skor 0,14 pun bisa menjadi yang tertinggi.
Lima Perasaan Teratas
Tidak pasti, kacau, atau tidak stabil mendapat skor 0,14. Cemas, khawatir, atau merasa “buruk” mendapat 0,13. Hanya dua jawaban itu yang ditandai para penulis sebagai paling menonjol untuk pertanyaan tentang perasaan.
Tiga perasaan lain mengikuti di bawahnya dan melengkapi lima besar. Marah, agresif, atau bermusuhan mendapat skor 0,09. Takut, merasa celaka, atau ngeri mendapat 0,08, sedangkan stres, berat, atau tegang mendapat 0,07.
Para penulis menyebut gambaran ini sejalan dengan riset sesudah pemilu 2016 dan 2020 yang mereka kutip. Pada riset-riset itu, mahasiswa juga melaporkan stres, marah, dan takut. Gejolak politik, tulis mereka, tetap menjadi latar yang menonjol dalam cara peserta memandang kesejahteraannya.
Beda Antarkelompok
Urutan itu tidak sama di semua kelompok. Rasa tidak pasti paling menonjol pada mahasiswa pascasarjana, mahasiswa kulit putih, dan warga negara Amerika Serikat. Cemas dan khawatir paling menonjol pada mahasiswa sarjana, mahasiswa bukan kulit putih, dan mahasiswa internasional.
Para penulis membaca perbedaan itu dengan hati-hati. Menurut mereka, peserta mengaitkan keadaan sosial politik dengan kekhawatiran soal identitas dan rasa rentan. Perbandingan antarkelompok ini mereka sebut deskriptif dan bersifat penjajakan.
Peserta berusia 18 sampai 38 tahun, dengan usia tengah 25 tahun. Sebanyak 47 orang atau 64 persen adalah perempuan. Mahasiswa pascasarjana mencapai 59 persen, dan mahasiswa internasional 15 orang atau 21 persen.
Latar mereka beragam. Dari sisi ras, 29 orang atau 40 persen menyebut diri Asia dan 24 orang atau 33 persen kulit putih. Tujuh orang multiras, enam orang kulit hitam atau Afrika-Amerika, dan lima orang Timur Tengah atau Afrika Utara. Tujuh orang atau 10 persen menyebut diri Hispanik atau Latino.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Olahraga Jadi Andalan
Untuk menjaga badan, satu jawaban jauh mengungguli yang lain. Olahraga mendapat skor 0,55, tertinggi di antara semua jawaban yang dilaporkan. Mengatur makan berada di urutan kedua dengan skor 0,18.
Sesudah itu skornya turun tajam. Tidur dan istirahat mendapat 0,04, sama dengan minum air yang cukup, sedangkan kebersihan diri atau merawat diri mendapat 0,03. Olahraga menonjol di semua kelompok, tetapi mahasiswa internasional mendahulukan minum air ketika hampir semua kelompok lain menaruh pengaturan makan di tempat kedua.
Tempat ketiga pada pertanyaan soal badan lebih beragam lagi. Warga negara Amerika Serikat, perempuan, dan mahasiswa bukan kulit putih menyebut tidur dan istirahat. Mahasiswa kulit putih dan laki-laki menyebut kebersihan diri, sedangkan mahasiswa sarjana menyebut waktu di luar ruangan.
Teman Penjaga Pikiran
Untuk menjaga pikiran, mahasiswa bersandar pada orang lain. Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang mendukung mereka mendapat skor 0,16. Berbicara dengan orang-orang itu mendapat skor yang sama, dan keduanya ditandai paling menonjol.
Terapi atau obat berada di urutan ketiga dengan skor 0,08. Membuat batas antara kerja, kuliah, dan hidup pribadi mendapat 0,07. Tidur dan istirahat, yang juga muncul pada pertanyaan soal badan, mendapat 0,06.
Mahasiswa internasional, laki-laki, bukan kulit putih, dan sarjana lebih menonjolkan berbicara dengan teman. Warga negara Amerika Serikat, perempuan, dan mahasiswa pascasarjana lebih menekankan terapi atau obat. Mahasiswa sarjana menaruh latihan perhatian penuh atau mindfulness di urutan ketiga.
Para penulis menghubungkan temuan ini dengan riset terdahulu yang mereka kutip. Riset itu menyebut keterhubungan sosial dapat meredam dampak stres pada kesehatan jiwa mahasiswa. Hubungan sosial yang kuat, tulis mereka, adalah siasat lain yang menonjol di kalangan peserta.
Kuliah Tetap Terberat
Penghalang terbesar untuk hidup sehat bukan politik. Beban dan tekanan tugas mendapat skor 0,23 dan menempati urutan pertama di semua kelompok. Hanya jawaban itu yang ditandai paling menonjol pada pertanyaan tentang apa yang menyulitkan mereka.
Kesehatan jiwa, cemas, dan stres berada di urutan kedua dengan skor 0,12. Tekanan keuangan dan kekhawatiran ekonomi mendapat 0,11. Banjir berita mendapat 0,09, sedangkan dampak iklim politik baru muncul di urutan kelima dengan 0,07.
Urutan kedua berbeda antarkelompok. Kesehatan jiwa dan stres menempatinya pada mahasiswa internasional, kulit putih, sarjana, dan pascasarjana. Tekanan keuangan menempatinya pada warga negara Amerika Serikat, perempuan, dan mahasiswa bukan kulit putih, sedangkan laki-laki menyebut waktu yang terbatas atau terbuang.
Para penulis melihat ketegangan yang nyata antara tuntutan akademik dan kesehatan jiwa. Tekanan keuangan dan banjir berita mereka baca sebagai tekanan yang lebih luas, dari struktur dan dari media. Keduanya, tulis mereka, mencirikan masa sekarang.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Yang Memudahkan Sehat
Yang memudahkan hidup sehat kembali soal orang. Sistem pendukung yang kuat mendapat skor 0,35 dan menjadi jawaban teratas di semua kelompok. Akses ke makanan bergizi dan sarana kebugaran menyusul dengan skor 0,12, lalu jadwal yang lentur atau waktu luang dengan 0,11.
Dua jawaban lain berada jauh di bawahnya. Keteraturan, batas, atau kesengajaan dalam mengatur hari mendapat skor 0,06. Kedekatan tempat tinggal dengan kebutuhan pokok mendapat 0,05, dan itu melengkapi lima jawaban teratas untuk pertanyaan ini.
Urutan kedua kembali terbelah. Laki-laki, mahasiswa sarjana, serta mahasiswa kulit putih dan bukan kulit putih memilih akses gizi dan kebugaran. Warga negara Amerika Serikat, perempuan, dan mahasiswa pascasarjana memilih jadwal lentur dan waktu luang.
Satu jawaban pada pertanyaan ini menonjol justru karena kosongnya. Mahasiswa internasional menaruh jawaban “tidak ada” sebagai pemudah kedua. Para penulis mencatat hanya kelompok itu yang menjawab demikian.
Permintaan kepada Kampus
Pertanyaan terakhir menanyakan apa yang bisa dilakukan universitas. Jawaban teratas adalah layanan kesehatan jiwa dan layanan kesehatan, dengan skor 0,21. Komunikasi yang terbuka menyusul dengan skor 0,12.
Akses pangan mendapat 0,09, dan dilibatkan dalam percakapan mendapat skor yang sama. Keempat jawaban itu ditandai paling menonjol. Promosi layanan yang sudah ada berada di urutan kelima dengan 0,06.
Mahasiswa internasional lagi-lagi berbeda. Usul teratas mereka adalah perbaikan pengajaran, dan mereka menonjolkan keinginan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Laki-laki mendahulukan akses pangan, sedangkan sebagian besar kelompok lain menganggap komunikasi terbuka penting.
Para penulis mencatat bahwa kampus ini kaya sumber daya, tetapi rasa tidak pasti dan cemas tetap menonjol. “Ketidakstabilan politik dialami sebagai beban psikologis oleh para peserta penelitian ini,” tulis Jessica Chen dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mereka menunjuk tiga arah bagi kampus. Memperkuat keterhubungan sosial, membiasakan mahasiswa mencari bantuan, dan menanggapi stres sosial politik secara terang. Ketiganya mereka sebut sebagai peluang untuk menjaga kesehatan mahasiswa pada masa ini.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Batas dan Kejanggalan
Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya. Hanya satu universitas di kota besar yang diteliti. Peserta ditemui di tempat ramai kampus pada musim panas, ketika hanya sebagian mahasiswa ada di sana.
Akibatnya, mahasiswa internasional dan atlet mahasiswa mungkin terwakili berlebihan. Kelompok kecil seperti mahasiswa internasional juga harus dibaca hati-hati. Jawaban dikumpulkan pada bulan-bulan awal masa yang sangat terbelah, sehingga hasilnya bisa mencerminkan reaksi sesaat.
Kelompok yang kecil juga membuat para penulis tidak bisa menelaah identitas yang bertumpuk, misalnya gabungan ras dan gender. Mereka meminta temuan ini dibaca sebagai gambaran penjajakan pada satu waktu. Temuan itu bukan taksiran yang berlaku untuk semua mahasiswa.
Beberapa hal kecil dalam naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Pada pertanyaan soal menjaga pikiran, mahasiswa bukan kulit putih disebut di dua kelompok yang dipertentangkan sekaligus. Nama universitas ditulis terang di ringkasan, tetapi disamarkan di badan naskah.
Ringkasan juga memuat angka 24 dalam kurung yang lepas di tengah bagian metode. Angka itu sama dengan nomor rujukan perangkat lunak di daftar pustaka. Kalimat terakhir simpulan memuat kata may dua kali berturut-turut.
Kata pertama yang keluar dari mahasiswa Penn adalah tidak pasti. Yang paling menolong mereka, menurut jawaban mereka sendiri, adalah orang-orang di sekitar: teman untuk diajak bicara dan waktu yang dihabiskan bersama.















