- Hanya sekitar separuh pembelot yang pernah sakit di sana memakai layanan kesehatan resmi.
- Dari 218 pembelot, 144 memilih berbagi biaya dan 69 memilih tanpa bayar sama sekali.
- Semua kelompok pembelot jauh lebih sering menyatakan tidak punya pilihan.
- Survei ini memotret satu waktu saja, sehingga perubahan pandangan tidak terekam.
Daftar Isi
- Tiga sistem kesehatan yang dilewati sebelum sampai ke kursi dokter gigi di Korea Selatan
- Semua kelompok pembelot meminta asuransi menanggung lebih banyak biaya gigi
- Hampir tak ada yang mau membayar penuh, dan lama tinggal tidak melunakkan sikap itu
- Jawaban tidak punya pilihan muncul sekitar enam kali lebih sering pada pembelot
- Batas yang dipasang peneliti sendiri dan beberapa hal yang patut diperiksa pembaca
Pertanyaannya terdengar seperti undangan untuk bermimpi. Kalau Korea suatu hari bersatu lagi, sistem kesehatan macam apa yang semestinya dipakai? Ada tiga jawaban yang tersedia. Banyak pembelot Korea Utara yang kini tinggal di Korea Selatan memilih jawaban ketiga, yang paling sunyi: tidak punya pilihan.
Jawaban itu tercatat dalam survei terhadap 1.018 orang, terdiri atas 800 warga kelahiran Korea Selatan dan 218 pembelot Korea Utara. Eun-Jeong Kim dan Dong-Hun Han melaporkannya dalam Post-reunification dental health system preferences associated with multi-stage migration: evidence from North Korean defectors, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel dalam proses terbit, sehingga volume dan nomornya belum tercantum. Yang mereka tanyakan sebetulnya urusan gigi.
Di soal gigi itulah para pembelot justru bersuara lantang. Mereka ingin asuransi menanggung porsi biaya yang lebih besar dan pasien membayar lebih sedikit dari kantong sendiri. Soal nama sistemnya, banyak yang tidak memilih. Kim dan Han mengaitkan kedua sikap itu dengan perjalanan yang sama: dari Korea Utara, melewati negara transit, sampai ke Korea Selatan.
Tiga sistem kesehatan yang dilewati sebelum sampai ke kursi dokter gigi di Korea Selatan
Mundur ke titik berangkat. Korea Utara secara resmi menganut layanan kesehatan gratis untuk semua. Dalam praktiknya, tulis kedua peneliti dengan merujuk laporan terdahulu, sistem itu hanya gratis di atas kertas karena pembayaran tidak resmi meluas akibat kekurangan sumber daya. Hanya sekitar separuh pembelot yang pernah sakit di sana memakai layanan kesehatan resmi. Kekurangan obat dan sempitnya uang menjadi penghalangnya.
Lalu negara transit. Pada masa ini, menurut naskah, pembelot umumnya tidak punya status hukum yang tetap dan tidak punya jalan resmi ke sistem kesehatan mana pun. Kim dan Han menyebutnya masa tersingkir dari layanan kesehatan. Sebanyak 106 responden pembelot menjalaninya kurang dari setahun, sedangkan 112 lainnya setahun atau lebih.
Sesampai di Korea Selatan, pintunya terbuka lebar di atas kertas. Undang-undang tentang perlindungan dan dukungan pemukiman bagi penduduk yang melarikan diri dari Korea Utara mengakui mereka sebagai warga negara sejak tiba. Mereka berhak ikut National Health Insurance dengan syarat hukum yang sama seperti warga kelahiran setempat. Tidak ada masa tunggu, dan mereka tidak digolongkan sebagai migran asing.
Jalannya ternyata bertahap. Mula-mula mereka ditampung di pusat pemukiman Hanawon, lalu di Hana Center di berbagai daerah, dengan pemeriksaan kesehatan dan rujukan yang disubsidi pemerintah. Pada tahun-tahun awal banyak yang masuk program Medical Aid, bantuan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang pembebasan biayanya lebih luas, termasuk untuk gigi. Begitu ekonomi membaik, mereka pindah ke asuransi biasa.
Di situlah tagihan gigi mulai terasa. Dalam National Health Insurance, yang sudah mencakup seluruh penduduk sejak 1989, manfaat gigi relatif terbatas. Sebagian besar tindakan restoratif dan prostetik hanya ditanggung sebagian atau tidak ditanggung sama sekali, sehingga pasien membayar banyak dari kantong sendiri. Bagi pembelot, tulis para peneliti, ini bukan latar kebijakan yang abstrak. Ini kenyataan keuangan yang mereka alami.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Semua kelompok pembelot meminta asuransi menanggung lebih banyak biaya gigi
Pertanyaan pertama memberi angka sebagai pijakan. Responden diberi tahu bahwa saat ini sekitar 30 persen dari seluruh belanja gigi di Korea Selatan ditanggung asuransi gigi. Lalu mereka ditanya, bila tanggungan itu diperluas setelah penyatuan, berapa persen yang semestinya ditanggung. Pilihannya bertingkat sepuluh, dari nol sampai seratus persen.
Jawaban para pembelot condong ke atas. Dibandingkan warga kelahiran Korea Selatan, keempat kelompok pembelot lebih cenderung memilih tanggungan yang lebih luas, dengan rasio odds antara 2,0 dan 3,1. Angka satu berarti sama dengan warga kelahiran setempat. Perbedaan itu bertahan setelah jenis kelamin, usia, dan status sosial yang dirasakan sendiri ikut diperhitungkan.
Puncaknya ada pada kelompok yang singgah sebentar di negara transit tetapi sudah lama tinggal di Korea Selatan, yaitu sekitar 16,7 tahun atau lebih. Rasio mereka 3,136. Kim dan Han menafsirkan bahwa orang yang cepat masuk ke sistem Korea Selatan mungkin paling merasakan jarak antara harapan terhadap lembaga dan beban biaya yang sebenarnya. Tiga kelompok lain berada di angka 2,008, 2,418, dan 2,586.
Lama tinggal ikut bicara. Pembelot yang sudah lama menetap menunjukkan rasio 2,740, lebih tinggi daripada yang belum lama, 2,138. Para peneliti membacanya sebagai tanda bahwa makin panjang seseorang berhadapan dengan mahalnya biaya gigi di Korea Selatan, makin kuat permintaannya akan tanggungan yang lebih luas. Itu tafsir atas hubungan dua hal, bukan bukti sebab dan akibat.
Hampir tak ada yang mau membayar penuh, dan lama tinggal tidak melunakkan sikap itu
Pertanyaan kedua menyentuh dompet lebih langsung. Perawatan gigi di Korea Utara resminya gratis, sedangkan di Korea Selatan pasien membayar sebagian menurut jenis perawatan. Kalau Korea bersatu, bagaimana perawatan gigi di Korea Utara semestinya dibiayai? Dari 218 pembelot, 144 memilih berbagi biaya dan 69 memilih tanpa bayar sama sekali. Hanya lima orang yang memilih bayar penuh.
Itu berarti kira-kira dua dari tiga pembelot memilih jalan tengah, dan hampir sepertiga meminta gratis. Pilihan tanpa bayar paling menonjol pada kelompok yang singgah sebentar dan belum lama tinggal, yakni 25 orang. Pada 76 orang yang lama di negara transit dan lama pula di Korea Selatan, sebagian besar memilih berbagi biaya, walau cukup banyak yang tetap mendukung tanpa bayar.
Dibandingkan warga kelahiran Korea Selatan, pembelot lebih cenderung memilih beban yang lebih ringan. Rasio tertinggi, 3,062, kembali muncul pada kelompok singgah sebentar dan tinggal lama, disusul 2,971 pada kelompok singgah sebentar dan tinggal belum lama. Yang menarik perhatian peneliti, sikap itu tidak melunak seiring waktu. Baik yang baru maupun yang lama menetap sama-sama berada di kisaran 2,5 sampai 3,0.
Temuan itu sebagian berseberangan dengan penelitian terdahulu, yang mendapati bahwa makin lama tinggal di Korea Selatan, makin baik pemanfaatan layanan dan makin akrab orang dengan sistemnya. Kim dan Han menawarkan penjelasan. Hasil ini, tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu, menyiratkan bahwa “di sektor berbiaya tinggi seperti perawatan gigi, beban keuangan mungkin melampaui pengaruh akulturasi”.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Jawaban tidak punya pilihan muncul sekitar enam kali lebih sering pada pembelot
Kembali ke pertanyaan pembuka. Tiga jawaban tersedia: National Health Insurance model Korea Selatan, sistem gabungan yang mendamaikan sistem Selatan dan Utara, atau tidak punya pilihan. Antara dua sistem pertama, pembelot dan warga kelahiran Korea Selatan tidak berbeda secara bermakna. Lama singgah dan lama tinggal tidak mengubahnya.
Perbedaannya ada pada jawaban ketiga. Semua kelompok pembelot jauh lebih sering menyatakan tidak punya pilihan. Pada kelompok singgah sebentar dan tinggal belum lama, kemungkinannya kira-kira 6,83 kali warga kelahiran Korea Selatan. Kelompok yang lama singgah dan lama tinggal nyaris sama, 6,812. Dua kelompok lain mencatat 3,395 dan 4,330.
Mudah menganggapnya tanda tidak tahu atau tidak peduli. Kedua peneliti menolak bacaan semudah itu. “Pola ini tidak dapat begitu saja ditafsirkan sebagai kurangnya informasi atau ketidakpedulian,” tulis Kim dan Han. Menurut mereka, jawaban itu bisa mencerminkan identitas campuran dari migrasi yang panjang dan berlapis, yaitu orang yang enggan melebur ke dalam satu model lembaga dan lebih mementingkan hasil nyata.
Hasil nyata itu sudah mereka sebut di dua pertanyaan sebelumnya: tanggungan lebih luas dan beban lebih ringan. Bagi kelompok yang lama singgah, peneliti menambahkan satu kemungkinan lain. Masa transit yang panjang, menurut penelitian yang mereka rujuk, kerap berkaitan dengan trauma, peminggiran sosial, serta risiko depresi dan gangguan stres pascatrauma. Pengalaman semacam itu bisa membuat orang menarik diri dari lembaga dan enggan menyatakan pilihan kuat.
Tetapi mereka sendiri mengakui jawaban itu bermakna ganda. Responden mungkin kurang akrab dengan pilihan yang disodorkan, ragu terhadap masa depan yang masih pengandaian, merasa urusan ini jauh dari hidupnya, atau segan menyatakan pilihan yang peka secara politik. Penelitian ini, tulis keduanya, tidak mampu membedakan kemungkinan-kemungkinan itu.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Batas yang dipasang peneliti sendiri dan beberapa hal yang patut diperiksa pembaca
Dari situ Kim dan Han menarik pelajaran untuk hari penyatuan. Memperluas begitu saja National Health Insurance yang sekarang bisa tidak sejalan dengan keinginan penduduk asal Korea Utara, dan berpotensi memperuncing ketegangan sosial serta ketimpangan kesehatan pada tahap awal. Perlindungan keuangan untuk perawatan gigi, menurut mereka, layak dipertimbangkan apa pun model lembaga yang kelak dipilih.
Untuk masa kini mereka mengusulkan kebijakan bertahap. Pada tahun-tahun awal pemukiman, bantuan keuangan langsung untuk perawatan gigi bisa didahulukan. Bagi yang sudah lama menetap, arahnya bergeser ke peningkatan pemahaman kesehatan gigi dan kebiasaan pencegahan. Kebutuhan gigi yang tak terpenuhi, tegas mereka, bukan kelalaian pribadi, melainkan akibat pertemuan beban penyakit yang tinggi dengan hambatan biaya.
Daftar keterbatasannya panjang. Survei ini memotret satu waktu saja, sehingga perubahan pandangan tidak terekam. Pembelot dijaring berantai lewat organisasi keagamaan dan jaringan komunitas, dan semua responden tinggal di kawasan metropolitan Seoul. Mereka mengisi kuesioner dengan didampingi pewawancara, sedangkan warga kelahiran Korea Selatan mengisinya sendiri secara daring. Keadaan gigi responden tidak ditanyakan, dan pilihan bayar lebih ringan disodorkan tanpa menyebut konsekuensi seperti iuran atau pajak yang lebih tinggi.
Usia juga timpang. Tidak ada responden kelahiran Korea Selatan yang berusia 61 tahun ke atas, padahal cukup banyak pembelot berada di kelompok usia itu. Ketika analisis dibatasi pada usia 21 sampai 60 tahun, arahnya serupa tetapi beberapa angkanya mengecil. Karena itu besaran pasti tiap rasio, kata penulisnya, perlu dibaca dengan hati-hati.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Pertanyaan survei menyebut asuransi menanggung sekitar 30 persen belanja gigi, sedangkan bagian lain naskah menulis 35,7 persen. Ringkasan menyebut kelompok lama singgah dan lama tinggal paling sering tidak punya pilihan, padahal tabel menempatkan kelompok singgah sebentar dan tinggal belum lama sedikit di atasnya, 6,829 berbanding 6,812.
Uraian hasil juga menulis semua kelompok pembelot berbeda bermakna dalam soal bayar dari kantong sendiri. Tabelnya mencatat satu kelompok, yang lama singgah dan belum lama tinggal, dengan rasio 1,664 dan nilai p 0,237, yang berarti tidak bermakna. Di bagian metode tersisa pula satu kalimat lepas yang tampaknya catatan penyuntingan. Semua itu tidak membalik arah temuan.
Pertanyaan tentang Korea yang bersatu itu belum punya jawaban. Yang sudah ada adalah 218 orang yang pernah hidup di bawah sistem gratis di atas kertas, lalu tanpa sistem sama sekali, lalu di bawah asuransi yang tagihan giginya besar. Ditanya nama sistem idamannya, banyak dari mereka tidak memilih. Ditanya soal biaya, mereka menjawab jelas.















