Berbagi Biaya, Sampah Botol Plastik Tak Terangkut Bisa Nol Persen

A A

Hilyatun Nuha memaparkan disertasi model daur ulang sampah botol PET dalam sidang promosi doktor di ITS. [Foto: ITS]

  • Sekitar 88,17 persen sampah plastik di Pulau Jawa berakhir di TPA tanpa didaur ulang.
  • Skema kolaborasi menekan sampah PET tak terangkut dari 21 persen menjadi nol persen.
  • Biaya lingkungan turun dari Rp1,813 miliar menjadi Rp0,182 miliar dalam model riset ITS.

Cekricek.id — Sekitar 88,17 persen sampah plastik di Pulau Jawa masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) tanpa didaur ulang. Sebuah riset doktoral di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menunjukkan kunci perbaikannya ada pada pembagian biaya antara bank sampah dan dinas lingkungan.

Riset itu disusun Dr Hilyatun Nuha ST MT, lulusan Program Doktor Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS yang juga dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Ia menyoroti sampah plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) dari botol minuman, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis ITS, Selasa (13/10/2026).

Menurut Hilya, sapaan akrabnya, sampah botol PET sebenarnya berpotensi besar menopang rantai pasok berkelanjutan dan ekonomi sirkular. “Masalah penumpukan ini dipicu oleh lemahnya integrasi pengumpulan dari skala rumah tangga,” terangnya.

Tiga Skema Dibandingkan

Hilya merancang model reverse logistics network berbasis kolaborasi dan membandingkan tiga skema pemodelan matematika. Skema pertama adalah model konvensional, skema kedua mengintegrasikan masyarakat dan pemerintah, sedangkan skema ketiga mengajak para kolektor sampah berkolaborasi lewat konsep endogenous cost sharing.

“Kebaharuan skema ketiga terletak pada pembagian biaya simpan antara bank sampah dan dinas lingkungan,” paparnya.

Baca juga: Pirolisis Sampah Plastik: LDPE 62 Persen, PET 9 Persen

Pada skema integrasi tanpa kolaborasi, sampah PET yang tak terangkut masih sekitar 21 persen. Pada skema kolaborasi, angka itu turun menjadi nol persen.

“Penerapan skema kolaborasi ini juga memangkas biaya lingkungan dari Rp 1,813 miliar menjadi Rp 0,182 miliar,” tambahnya.

Baca juga: Mahasiswa UMM Buat Mesin Daur Ulang Plastik Kampung Biru

Riset yang dibimbing Prof Nurhadi Siswanto ST MSIE PhD dan Dr Eng Erwin Widodo ST MEng ini telah terbit di jurnal internasional Supply Chain Analytics terbitan Elsevier. Model matematikanya dibangun dengan perangkat lunak yang mudah diakses. “Seluruh proses optimasi kami jalankan menggunakan perangkat lunak yang bisa diakses siapa saja,” bebernya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan memperbanyak fasilitas pengumpulan sampah terpadu serta memberikan insentif langsung bagi industri daur ulang.

Baca juga: Teknologi Inovatif KKP: Memanfaatkan ATM Sampah untuk Daur Ulang Botol Plastik

Bagikan

Baca Juga

Bank Diminta Ubah Sikap Petugas Saat Layani Nasabah Disabilitas
Tempat Sampah Buatan UGM Memilah Sendiri dan Catat Merek Kemasan
Antibiotik Tidak Mengobati Influenza A, Dokter ITS Ingatkan Warga
Baterai BMSense Buatan ITS Laporkan Suhu dan Tegangan Sendiri
Karung Jagung di Gudang Demini Kini Punya Nama dan Tanggal
Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen Lewat Proses Hidrotermal