Plastik Jadi Setara Solar, BRIN Gandeng Kampus Olah Sampah Desa

A A

Mendiktisaintek Brian Yuliarto bersama jajaran BRIN membahas teknologi pengolahan sampah di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta. [Foto: Humas Kemdiktisaintek]

  • Kemdiktisaintek dan BRIN siapkan proyek percontohan pengolahan sampah di desa.
  • Mahasiswa akan dilibatkan dalam sosialisasi dan pendampingan.
  • Mesin Faspol 5.0 BRIN ubah plastik jadi Petasol setara solar, sudah di 80 titik.

Cekricek.id — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersiap membawa teknologi pengolahan sampah hasil riset ke desa-desa, dengan melibatkan mahasiswa sebagai pendamping masyarakat. Rencana itu dibahas Mendiktisaintek Brian Yuliarto bersama Kepala BRIN Arif Satria di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Brian menyatakan kementeriannya mendukung penuh program pengelolaan sampah yang kini berstatus proyek strategis nasional. Ia melihat mahasiswa bisa mengambil peran dalam sosialisasi dan pendampingan agar program tidak berhenti di tengah jalan.

“Mungkin bagian sosialisasi dan pendampingan dapat melibatkan mahasiswa, karena diharapkan program ini bisa berjalan kontinu, kita berharap bisa mendukung yang sudah dijalankan oleh BRIN,” kata Brian, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis Kemdiktisaintek, Senin (26/10/2026).

Kedua lembaga membahas pilihan teknologi untuk berbagai skala, mulai dari pengolahan sampah organik menjadi kompos dan biogas hingga pengolahan plastik tertentu melalui pirolisis. Brian juga menyiapkan proyek percontohan di sejumlah daerah untuk menguji kecocokan teknologi dengan kondisi lapangan.

“Nanti kita bikin tim kecil. Kita pilih desanya mana. Habis itu mana yang mau kita implementasikan,” ujarnya.

Baca juga: Mendiktisaintek Brian: Riset Kampus Jangan Berhenti di Publikasi

Sudah Dipakai di 80 Titik

Arif Satria memaparkan teknologi pengolahan sampah tingkat rumah tangga berbiaya murah yang sudah diterapkan di sejumlah kota. “Misalnya kemarin beberapa kota, Semarang, Bandung banyak yang melakukan. Ada Lahsamor, ada komposter aerob statis, ada biogas dari sampah dapur,” jelasnya.

Untuk skala desa, BRIN menawarkan mesin Fast Pyrolysis generasi kelima (Faspol 5.0) yang mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar cair bernama Petasol. Menurut Arif, bahan bakar itu sudah dicoba pada perahu nelayan.

“Ini yang menghasilkan bahan bakar setara solar. Saya sudah memasukkan ke perahu nelayan, sudah jalan serta sudah diterapkan di 80 titik di Indonesia,” kata Arif.

Baca juga: Mesin Undip Ubah 200 Kg Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Cair

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Cuk Supriyadi Ali Nandar menjelaskan, Petasol dihasilkan lewat proses pirolisis yang mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif berkarakter setara solar. Selain perahu nelayan, Petasol juga sudah diuji pada alat pertanian.

Pertemuan itu juga menyinggung pengomposan berkapasitas besar, insinerator, dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif. Pemilihan teknologi, menurut Kemdiktisaintek, perlu menimbang jenis dan volume sampah, kapasitas olah, perawatan, biaya operasional, serta kesiapan lahan dan pembiayaan bersama pemerintah daerah.

Baca juga: Pirolisis Sampah Plastik: LDPE 62 Persen, PET 9 Persen

Bagikan

Baca Juga

Mendiktisaintek Brian: Riset Kampus Jangan Berhenti di Publikasi
Wamendiktisaintek: Lulusan Kini Dinilai Masyarakat, Bukan Dosen
Rektor Unej: Efisiensi Masih Berlaku, Anggaran Jangan Copy Paste
Berbagi Biaya, Sampah Botol Plastik Tak Terangkut Bisa Nol Persen
Tempat Sampah Buatan UGM Memilah Sendiri dan Catat Merek Kemasan
Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus