Wamendiktisaintek: Lulusan Kini Dinilai Masyarakat, Bukan Dosen

A A

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menyampaikan sambutan dalam agendanya di Malang, Minggu (18/10/2026). [Foto: Kemdiktisaintek]

  • Sekitar 1,03 juta penganggur pada Mei 2026 adalah lulusan perguruan tinggi
  • Porsinya naik menjadi 14,31 persen dari 12,37 persen pada November 2025
  • Fauzan: lulusan tidak lagi dinilai dosen, tetapi oleh masyarakat

Cekricek.id — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan meminta perguruan tinggi memastikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menghasilkan manfaat nyata, termasuk lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Pesan itu ia sampaikan dalam dua agenda di Malang, yakni Dies Natalis ke-72 Universitas Negeri Malang (UM) serta Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-X Universitas Islam Raden Rahmat (Unira), Minggu (18/10/2026).

Di hadapan wisudawan Unira, Fauzan mengingatkan bahwa tantangan setelah lulus jauh lebih kompleks. “Kampus yang akan Saudara masuki selanjutnya lebih rumit. Kalau sebelumnya dinamika berpikir ada di seputar mata kuliah, sekarang Saudara akan masuk kampus kehidupan. Di sini, Saudara tidak akan dinilai oleh seorang dosen, tetapi oleh masyarakat,” kata Fauzan, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis Kemdiktisaintek, Senin (19/10/2026).

Baca juga: Guru Besar UGM: Penganggur Lulusan Perguruan Tinggi Tembus 1,03 Juta Orang

Kemdiktisaintek mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat pengangguran nasional 2026 sebesar 4,65 persen atau sekitar 7,28 juta orang. Pada Mei 2026, sekitar 1,03 juta penganggur merupakan lulusan pendidikan tinggi jenjang D4, S1, S2, dan S3. Kelompok ini mencakup 14,31 persen dari total penganggur, naik dari 12,37 persen pada November 2025. Di Jawa Timur, tingkat pengangguran tercatat 3,42 persen.

Gedung Megah Harus Disertai Kontribusi

Dalam orasi ilmiah di Dies Natalis UM, Fauzan menekankan perguruan tinggi perlu mengevaluasi sejauh mana kepakaran dosen, hasil penelitian, dan sumber daya kampus telah menjawab kebutuhan masyarakat sekitar. Menurut dia, kampus dengan gedung megah, banyak guru besar, dan reputasi akademik yang baik perlu diikuti kontribusi yang dirasakan masyarakat, termasuk kelompok yang masih menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.

Ia juga menyoroti kesenjangan antara kompetensi lulusan dan tuntutan dunia kerja, serta antara hasil penelitian dan pemanfaatannya oleh industri. Untuk menjembatani kesenjangan itu, kampus diminta memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan industri, serta membuat pembelajaran lebih adaptif.

Baca juga: Lapangan Kerja Menyempit, Investasi Asing Disebut Padat Modal

Rektor UM Hariyono menyampaikan bahwa UM mencatat 164 guru besar dan 579 dosen bergelar doktor pada 2026. Jumlah program studinya bertambah dari 114 pada 2023 menjadi 154, dengan 105 program studi berakreditasi unggul.

Kepada wisudawan, Fauzan berpesan agar tidak membatasi diri pada pencarian pekerjaan semata, melainkan mengenali keunggulan masing-masing, terus belajar, dan membangun karakter agar mampu beradaptasi. Ia juga menilai kegiatan seperti wisuda dapat digelar di wilayah yang membutuhkan penguatan ekonomi agar ikut menggerakkan usaha lokal.

Baca juga: Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus

Bagikan

Baca Juga

Rektor Unej: Efisiensi Masih Berlaku, Anggaran Jangan Copy Paste
Lapangan Kerja Menyempit, Investasi Asing Disebut Padat Modal
Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Pendidikan Tinggi Menekan Pengangguran, Lebih Kuat Jangka Panjang
Stres Kerja Pegawai Pertanian Kirkuk dan Butir yang Hilang
Unsoed Wisuda 2.447 Lulusan, 57,6 Persen Raih Cumlaude