- Sebagian lulusan perguruan tinggi kini berebut pekerjaan yang dulu diisi lulusan sekolah menengah.
- Otomatisasi dan lesunya industri padat karya seperti tekstil mempersempit kesempatan kerja.
- Investasi asing yang padat modal menyerap sedikit pekerja setelah perusahaan beroperasi.
Cekricek.id — Jutaan lulusan baru masuk pasar kerja setiap tahun, tetapi industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja justru tidak cukup tumbuh. Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai otomatisasi dan investasi asing yang padat modal ikut mempersempit kesempatan kerja.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Prof Dr R Agus Sartono MBA, menyebut persaingan kerja kini begitu ketat sehingga sebagian lulusan perguruan tinggi harus berebut pekerjaan yang dulu diisi lulusan sekolah menengah. Pandangan itu ia sampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Kamis (15/10/2026).
Salah satu penyebabnya adalah otomatisasi. Ia mencontohkan layanan pelanggan dan perbankan yang makin banyak beralih ke mesin dan layanan daring. “Memang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang bergantikan dengan mesin,” ujar Agus.
Penyebab lain adalah perlambatan industrialisasi. Industri tekstil harus bersaing dengan produk impor, sementara industri rokok menghadapi kampanye pengendalian konsumsi, padahal keduanya menyerap banyak pekerja. “Jadi industri-industri yang menyerap kerja yang cukup besar ini, tidak cukup tumbuh untuk menampung sumber daya manusia yang besar,” jelasnya.
Investasi Besar, Pekerja Sedikit
Agus juga menyoroti karakter investasi asing yang masuk ke Indonesia. Investasi padat modal bisa melibatkan pembangunan besar, tetapi kebutuhan tenaga kerjanya jauh lebih sedikit setelah perusahaan beroperasi. “Jadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital intensive,” ungkapnya.
Menurutnya, lapangan kerja dan daya beli saling terkait. “Kalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?” paparnya.
Baca juga: Guru Besar UGM: Penganggur Lulusan Perguruan Tinggi Tembus 1,03 Juta Orang
Karena itu, Agus mendorong penguatan ekonomi daerah dan pasar domestik, misalnya lewat usaha kecil di desa, agar penciptaan kerja tidak hanya bergantung pada investor asing atau industri berskala besar. Ia menegaskan pendekatan ini tidak berarti mengesampingkan investasi asing.
Baca juga: UU Ketenagakerjaan Baru Diminta Lindungi Pengemudi Ojek dan Kurir
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung berlebihan pada kecerdasan buatan, karena dunia kerja membutuhkan kemampuan berpikir kritis. “Tidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu,” tuturnya.
Baca juga: Pendidikan Tinggi Menekan Pengangguran, Lebih Kuat Jangka Panjang















