- Kenaikan satu persen angka partisipasi pendidikan tinggi memangkas pengangguran 0,035 poin persentase pada periode berjalan.
- Pada rentang panjang koefisien pendidikan tinggi menjadi -0,130 dengan galat baku 0,013 dan tetap signifikan.
- Konsumsi akhir pemerintah bertanda positif di kedua rentang, 0,137 pada rentang pendek dan 0,503 pada rentang panjang.
- Panelnya mencakup 54 negara berpendapatan menengah sepanjang 1999 sampai 2022 dengan 568 pasangan negara-tahun.
- Tabel uji ketakbiasan menulis koefisien Sistem GMM 0,707, sedangkan tabel jangka pendek menulis 0,728.
Daftar Isi
- Lima Puluh Empat Negara Diikuti 24 Tahun, 568 Pasangan yang Terpakai
- Empat Penaksir Diadu sebelum Satu Koefisien Dibaca
- Rentang Pendek Menempatkan Pendidikan Tinggi pada 0,035 Poin
- Rentang Panjang Menaikkan Angka yang Sama Menjadi 0,130 Poin
- Inflasi dan Pertumbuhan PDB per Kapita Bergerak ke Arah yang Sama
- Konsumsi Pemerintah Berdiri di Sisi Berlawanan pada Dua Rentang
Cekricek.id — Kenaikan satu persen angka partisipasi pendidikan tinggi memangkas tingkat pengangguran 0,035 poin persentase pada periode berjalan, lalu 0,130 poin setelah seluruh penyesuaian dinamis selesai. Dua angka itu keluar dari satu persamaan yang sama, ditaksir atas 54 negara berpendapatan menengah sepanjang 1999 sampai 2022.
Penelitian itu dikerjakan Tangguh Pratysto, Mohamad Egi Destiartono, dan Anim Kafabih, ketiganya dari Departemen Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro, Jawa Tengah. Naskahnya berjudul Does tertiary education alleviate unemployment in middle-income countries? Insights from a dynamic panel data dan terbit di Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan Volume 27 Nomor 1, April 2026, halaman 1 sampai 14. Naskah diterima 4 Desember 2025 dan disetujui 13 Maret 2026.
Model yang dipakai memasangkan pengangguran periode berjalan dengan pengangguran satu periode sebelumnya, lalu menambahkan empat variabel penjelas: angka partisipasi pendidikan tinggi, pertumbuhan PDB per kapita, inflasi indeks harga konsumen, dan konsumsi akhir pemerintah sebagai persen PDB. Setiap variabel karena itu memperoleh dua koefisien, satu untuk rentang pendek dan satu untuk rentang panjang.
Persoalan yang dipotret penulis juga punya dua bentuk. Sebagian lulusan mengalami ketidakcocokan vertikal, yaitu berpendidikan lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan yang dijalani. Sebagian lain mengalami ketidakcocokan horizontal, yang oleh penulis disebut lebih bermasalah, yaitu keterampilan yang tidak diminta pemberi kerja. Keduanya kerap berujung pada pekerjaan di sektor informal atau pekerjaan berkeluaran rendah.
Lima Puluh Empat Negara Diikuti 24 Tahun, 568 Pasangan yang Terpakai
Panelnya mencakup 54 negara yang berada dalam golongan berpendapatan menengah versi Bank Dunia sepanjang periode contoh. Datanya tahunan, dari 1999 sampai 2022, dan seluruhnya bersumber dari World Development Indicators terbitan Bank Dunia. Titik awal 1999 dipilih karena tepat sesudah krisis keuangan Asia 1998, sedangkan ujung 2022 dipakai untuk menangkap pola pemulihan dan keadaan makroekonomi mutakhir.
Pilihan pada golongan berpendapatan menengah ikut dijelaskan. Kelompok ini sedang mengalami perubahan struktural yang cepat, penduduk mudanya memasuki pasar kerja secara massal, investasi pada pendidikan tinggi kerap kurang, dan sektor informalnya dominan. Gabungan itu, menurut penulis, membuat risiko dan potensi imbal hasil dari penguatan modal manusia sama-sama besar.
Pemilihan panel besar juga dipakai penulis untuk menandai jarak dengan kepustakaan sebelumnya. Kajian terdahulu tentang hubungan pendidikan dan pengangguran, tulis mereka, lebih banyak menyoroti negara berpendapatan tinggi, memakai konteks satu negara, atau memakai pendekatan ekonometrik statis, sementara bukti panel dinamis dari kumpulan besar negara berpendapatan menengah pada masa sesudah krisis keuangan relatif sedikit.
Tingkat pengangguran rata-rata 10,548 persen dengan simpangan baku 8,371 persen, terendah 0,249 persen dan tertinggi 57,000 persen. Angka partisipasi pendidikan tinggi rata-rata 40,137 persen dengan simpangan baku 21,861 persen, terendah 0,213 persen dan tertinggi 125,764 persen. Naskah mengaitkan sebaran pengangguran dengan ragam antarnegara dan antarwaktu, dan mengaitkan sebaran pendidikan tinggi dengan partisipasi yang naik cepat di banyak negara berkembang.
Baca juga 4,8 Juta Penganggur Muda, Dosen UGM Soroti Perlindungan Sosial
Jumlah amatan tiap variabel tidak sama. Pertumbuhan PDB per kapita memiliki 1.283 amatan, inflasi 1.143, konsumsi pemerintah 1.119, pengangguran 898, dan angka partisipasi pendidikan tinggi 822. Taksirannya sendiri berjalan di atas panel tak seimbang berisi 568 pasangan negara-tahun, dengan alasan ketersediaan data dua variabel yang dianalisis.
Empat Penaksir Diadu sebelum Satu Koefisien Dibaca
Sebelum koefisien dibaca, naskah mengadu empat penaksir pada satu angka yang sama: koefisien pengangguran satu periode sebelumnya. Metode efek tetap menghasilkan 0,694, beda pertama GMM 0,559, metode efek umum 0,952, dan Sistem GMM 0,707. Naskah menyimpulkan beda pertama GMM mengandung bias ke bawah, sedangkan Sistem GMM jatuh di antara efek tetap dan efek umum sehingga bebas dari bias ke bawah maupun ke atas.
Dua uji menyertai pilihan itu. Uji Sargan pada Sistem GMM memberi nilai khi-kuadrat 31,022 dengan nilai p di atas 1,000, dan uji Arellano-Bond ordo kedua memberi nilai z −1,455 dengan nilai p 0,146. Naskah membaca keduanya sebagai tanda model yang sahih dan konsisten, lalu memakai penaksir itu untuk seluruh angka berikutnya.
Prosedurnya dijalankan dua tahap, dengan galat baku yang dikoreksi agar bias matriks ragam-peragam pada contoh kecil tidak terbawa. Kesahihan instrumen diuji dengan uji Hansen untuk pembatasan yang berlebih, uji Arellano-Bond untuk korelasi serial ordo kedua, dan uji difference-in-Hansen untuk himpunan bagian instrumen terpilih. Penaksir itu, tulis penulis, juga tahan terhadap keragaman tak teramati, kebergantungan lintas unit, dan heteroskedastisitas.
Rentang Pendek Menempatkan Pendidikan Tinggi pada 0,035 Poin
Taksiran rentang pendek menaruh pendidikan tinggi pada koefisien −0,035 dengan galat baku 0,002, signifikan pada taraf 1 persen. Koefisien pengangguran satu periode sebelumnya tercatat 0,728 dengan galat baku 0,028; kenaikan 1 persen pengangguran periode lalu menaikkan pengangguran periode berjalan 0,728 persen. Jumlah amatan pada tabel itu 568, dengan 54 negara dan 24 tahun.
“Efek langsung ini mungkin berasal dari kelayakan kerja yang membaik dan pencocokan pekerjaan yang lebih cepat bagi lulusan baru yang memasuki pasar kerja,” tulis Tangguh Pratysto, Mohamad Egi Destiartono, dan Anim Kafabih pada bagian Hasil dan Pembahasan halaman 6. Kalimat itu menemani koefisien rentang pendek, bukan koefisien rentang panjang.

Naskah menerjemahkan rentang pendek sebagai tanggapan langsung atau transisional terhadap perubahan variabel penjelas dalam satu periode. Rentang panjang mewakili hubungan keseimbangan setelah seluruh penyesuaian dinamis terjadi, termasuk dampak penuh variabel bergantung yang ditunda. Variabel bergantung yang ditunda itu dimasukkan untuk menangkap inersia tingkat pengangguran, sementara efek tetap dipakai mengendalikan keragaman antarnegara yang tidak berubah menurut waktu.
Rentang Panjang Menaikkan Angka yang Sama Menjadi 0,130 Poin
Pada rentang panjang koefisien pendidikan tinggi menjadi −0,130 dengan galat baku 0,013, tetap signifikan pada taraf 1 persen. Naskah menghitung koefisien rentang panjang sebagai koefisien rentang pendek dibagi satu dikurangi koefisien pengangguran periode sebelumnya, sehingga efeknya membesar ketika kegigihan pengangguran tinggi.
Sisi ini memperoleh penjelasan yang berbeda. “Investasi berkelanjutan pada pendidikan tinggi mengakumulasi modal manusia dari waktu ke waktu, yang membawa perbaikan struktural pada efisiensi pasar kerja, keselarasan keterampilan, dan kapasitas penciptaan lapangan kerja,” tulis ketiganya pada bagian Hasil dan Pembahasan halaman 8.
Baca juga Efek Teknologi pada Penyerapan Tenaga Kerja Lewat Investasi
Inflasi dan Pertumbuhan PDB per Kapita Bergerak ke Arah yang Sama
Inflasi indeks harga konsumen tercatat −0,041 pada rentang pendek dan −0,152 pada rentang panjang. Naskah menempatkan keduanya pada kurva Phillips: kenaikan 1 persen inflasi menurunkan pengangguran 0,041 poin persentase pada rentang pendek, dan inflasi yang terkendali dapat menopang pengangguran keseimbangan yang lebih rendah selama tidak berubah menjadi ketidakstabilan.
Pertumbuhan PDB per kapita mengikuti pola serupa, dari −0,074 ke −0,272. Naskah menyandarkannya pada hukum Okun: pertumbuhan keluaran jangka pendek langsung menyerap tenaga kerja yang menganggur, sedangkan pertumbuhan yang berlanjut memperluas kapasitas produktif dan menciptakan kesempatan kerja yang lebih permanen pada keseimbangan.
Konsumsi Pemerintah Berdiri di Sisi Berlawanan pada Dua Rentang
Satu variabel bergerak ke arah sebaliknya di kedua rentang. Konsumsi akhir pemerintah tercatat 0,137 pada rentang pendek dan 0,503 pada rentang panjang, dua-duanya bertanda positif dan signifikan pada taraf 1 persen. Koefisien rentang pendeknya dibaca naskah sebagai isyarat crowding out yang langsung atau alokasi belanja yang tidak efisien sehingga membatasi penciptaan kerja oleh swasta.
“Efek konsumsi pemerintah terhadap pengangguran yang jauh lebih besar, 0,503, menunjukkan bahwa konsumsi pemerintah yang tinggi dan berkepanjangan dapat menggeser investasi swasta secara struktural dan menghambat permintaan tenaga kerja jangka panjang,” tulis Pratysto, Destiartono, dan Kafabih pada halaman 8.
Tabel terakhir naskah memuat satu angka tunggal: kecepatan konvergensi pengangguran 0,31698. Penulis membacanya sebagai penurunan pengangguran secara agregat di 54 negara berpendapatan menengah sebesar 31,698 persen per tahun, dengan syarat pemerintah negara-negara itu menjalankan empat hal sekaligus.
Baca juga Dana Desa Menaikkan Harapan Hidup, Bukan Lama Sekolah
Batas kerja itu dicatat penulis di bagian simpulan. Negara-negara yang dibandingkan berbeda dalam ketersediaan data pengangguran, sedangkan definisi nasional dan metode pengukurannya juga dapat berbeda. “Keterbatasan ini menghalangi kami menggeneralisasi temuan ke seluruh populasi negara berpendapatan menengah bawah,” tulis ketiganya pada halaman 10.
Beberapa angka di dalam naskah tidak saling cocok. Tabel uji ketakbiasan menulis koefisien pengangguran periode sebelumnya versi Sistem GMM sebesar 0,707, sedangkan tabel taksiran rentang pendek menulis 0,728 untuk variabel yang sama. Uji Sargan beda pertama GMM ditulis 33,456 pada tabel dan 32,170 pada teks, dan nilai z Arellano-Bond untuk penaksir yang sama ditulis −1,455 pada tabel dan −1,461 pada teks.
Penomoran tabelnya juga melompat dari Tabel 1 ke Tabel 3 tanpa Tabel 2. Judul dan abstrak menyebut negara berpendapatan menengah, sementara simpulan dua kali menyebut negara berpendapatan menengah bawah. Abstrak menulis penurunan 0,035 persen dan 0,130 persen, sedangkan pembahasannya menulis poin persentase untuk dua angka yang sama.
Empat syarat yang menyertai proyeksi konvergensi itu ditulis berurutan: mutu dan jumlah lulusan pendidikan tinggi dinaikkan, pertumbuhan ekonomi per kapita didorong, sasaran inflasi dijaga agar daya beli terpelihara, dan belanja konsumsi pemerintah dikurangi. Tiga syarat pertama menunjuk variabel yang koefisiennya bertanda negatif di kedua rentang, syarat keempat menunjuk satu-satunya variabel yang bertanda positif. Naskah menutup dengan permintaan agar dana untuk pendidikan tinggi justru ditambah.















