- Kerja rentan perempuan bertanda -7,3690 terhadap pertumbuhan PDB, wirausaha perempuan 7,1179.
- Rasio partisipasi kerja perempuan terhadap laki-laki bertanda -0,2704 dengan nilai p 0,097.
- Uji Granger kerja rentan ke PDB 174,322, sedangkan PDB ke kerja rentan hanya 0,042.
- Guncangan kerja rentan menurunkan PDB sekitar 0,30 pada periode kedua lalu memudar.
- Datanya hanya mencakup Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura pada 2000 sampai 2023.
Daftar Isi
- Hanya Empat Negara ASEAN yang Datanya Tersedia Sepanjang 2000 sampai 2023
- Kerja Rentan Menekan PDB, Wirausaha Perempuan Mengangkatnya
- Rasio Partisipasi Kerja Perempuan Bergerak Lemah pada Persamaan PDB
- Guncangan Kerja Rentan Menekan PDB Dua Periode lalu Mereda
- Pertumbuhan PDB Tidak Menggerakkan Balik Pasar Kerja Perempuan
- Abstrak dan Bagian Respons Impuls Menyebut Arah yang Berbeda
Cekricek.id — Singapura dan Indonesia masuk ke dalam satu kumpulan data yang sama, bersama Thailand dan Malaysia, ketika partisipasi kerja perempuan di Asia Tenggara diuji terhadap pertumbuhan ekonomi sepanjang 2000 sampai 2023. Hasil taksirannya tidak seragam. Kerja rentan perempuan tercatat berkoefisien −7,3690 terhadap pertumbuhan PDB, sedangkan wirausaha perempuan berkoefisien 7,1179, dan keduanya signifikan pada taraf 1 persen.
Penelitian itu ditulis Ecky Imamul Muttaqin, Maya Widyasari, Sulthonul Aulia, dan Fauziyah Adzimatinur. Keempatnya berasal dari Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Internasional Indonesia. Penulis kelima, Jia Qi Cheong, berasal dari Faculty of Economics and Management, University of Teknologi MARA Sri Iskandar, Malaysia. Muttaqin juga tercatat pada Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Naskahnya berjudul Dynamic linkages between woman labor participation and economic growth in ASEAN. Artikel itu terbit di Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan Volume 27 Nomor 1, April 2026, halaman 142 sampai 163. Naskah itu diterima pada 20 Januari 2026, direvisi pada 28 Februari 2026, dan disetujui pada 30 April 2026.
Hanya Empat Negara ASEAN yang Datanya Tersedia Sepanjang 2000 sampai 2023
Datanya diambil dari World Development Indicators terbitan Bank Dunia untuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura pada 2000 sampai 2023. Penulisnya menuliskan batas itu secara terbuka: data yang tersedia hanya ada pada keempat negara tersebut, sehingga penelitian menghadapi kendala untuk mengakomodasi seluruh negara ASEAN. Keempatnya dinilai mewakili bukti lintas negara yang lebih luas karena berkedudukan sebagai pelaku ekonomi besar di Asia Tenggara.
Empat peubah dipakai dalam model. PDB diukur sebagai laju pertumbuhan tahunan atas harga konstan 2015. Kerja rentan perempuan, berkode VEF, adalah pekerja keluarga penyumbang tenaga dan pekerja berusaha sendiri sebagai persentase total pekerja perempuan. Wirausaha perempuan mencakup pemberi kerja, pekerja berusaha sendiri, anggota koperasi produsen, dan pekerja keluarga. Rasio partisipasi kerja perempuan terhadap laki-laki diperoleh dengan membagi tingkat partisipasi perempuan dengan tingkat partisipasi laki-laki lalu dikalikan seratus.
Uji akar unit memberi hasil yang berbeda antarpeubah. PDB sudah stasioner pada tingkat, dengan statistik Im-Pesaran-Shin −3,943 dan Levin-Lin-Chu −3,380. Kerja rentan perempuan baru stasioner setelah pembedaan pertama, dengan angka −3,113 pada uji Im-Pesaran-Shin. Rasio partisipasi kerja perempuan mencapai −2,575 pada pembedaan pertama. Dari hasil itu penulisnya memilih tiga peubah yang dinilai paling stabil.
Model yang dipakai adalah Panel Vector Autoregression yang ditaksir dengan Generalised Method of Moments. Seluruh peubah karena itu diperlakukan sebagai endogen, dan umpan balik antarvariabel ikut tertangkap. Panjang lag optimal jatuh pada satu, dengan MBIC −156,2356, MAIC −49,69925, dan MQIC −91,91222. Uji stabilitas menunjukkan seluruh modulus nilai eigen matriks pendamping kurang dari satu dan berada di dalam lingkaran satuan.
Baca juga Pekerja Informal 80,24 Juta, Terlindungi Hanya 6,5 Juta
Kerja Rentan Menekan PDB, Wirausaha Perempuan Mengangkatnya
Tabel taksiran PVAR GMM memuat empat persamaan, masing-masing dengan satu lag. Pada persamaan PDB, lag PDB sendiri bertanda positif 0,1849 dengan galat baku 0,0491 dan nilai z 3,77. Kerja rentan perempuan bertanda −7,3690 dengan galat baku 0,5581 dan nilai z −13,20. Wirausaha perempuan bertanda 7,1179 dengan galat baku 0,5005 dan nilai z 14,22. Rasio partisipasi kerja perempuan bertanda −0,2704 dengan nilai p 0,097.
Tanda dua koefisien terbesar itu berlawanan, sedangkan besarannya hampir setara. Penulisnya membaca susunan tersebut sebagai sistem yang tidak setangkup. Kondisi pasar kerja perempuan berpengaruh besar terhadap kinerja ekonomi. Pengaruh sebaliknya, dari pertumbuhan ekonomi ke hasil kerja perempuan, tercatat jauh lebih terbatas. Arah positif wirausaha perempuan sejalan dengan hasil Kuldasheva dan Ahmad (2025) di kawasan Asia Tengah.
Naskah ini memberi catatan penyeimbang untuk sisi wirausaha. “Ini menunjukkan bahwa kegiatan kewirausahaan perempuan dapat berperan sebagai pendorong penting pertumbuhan ekonomi, terutama pada lingkungan dengan peluang kerja formal yang terbatas,” tulis Ecky Imamul Muttaqin dan kawan-kawan pada bagian pembahasan halaman 155. Kalimat berikutnya di halaman yang sama meminta kehati-hatian menafsirkan hasil itu, karena guncangan wirausaha berkaitan dengan kenaikan sementara kerja rentan.
Rasio Partisipasi Kerja Perempuan Bergerak Lemah pada Persamaan PDB
Rasio perempuan terhadap laki-laki menempati posisi yang berbeda dari dua peubah lainnya. Koefisiennya negatif tetapi lemah secara statistik. Pada bagian simpulan halaman 157, penulisnya menulis bahwa rasio itu “memiliki pengaruh negatif tetapi lemah secara statistik, yang menunjukkan bahwa mutu, dan bukan jumlah, partisipasi kerja perempuan merupakan penentu utama hasil pertumbuhan.”

Kerja rentan dan wirausaha perempuan sendiri saling menarik. Naskah ini mencatat hubungan dua arah di antara keduanya. Kenaikan kerja rentan mendorong perempuan berwirausaha sebagai siasat bertahan. Usaha berskala kecil yang tidak menentu, sebaliknya, dapat menambah kerentanan. Penulisnya menyebut pola tersebut sebagai perangkap informalitas, keadaan ketika perempuan berpindah-pindah di antara pekerjaan bermutu rendah tanpa beranjak ke kegiatan yang lebih produktif dan formal.
Guncangan Kerja Rentan Menekan PDB Dua Periode lalu Mereda
Fungsi respons impuls disusun dengan dekomposisi Cholesky berurutan PDB, kerja rentan, wirausaha, lalu rasio partisipasi kerja perempuan. Guncangan satu simpangan baku pada kerja rentan perempuan menurunkan PDB sekitar 0,20 pada periode pertama. Penurunan itu menguat hingga sekitar 0,30 pada periode kedua, lalu menyusut bertahap menuju nol. Sekitar periode kelima, selang kepercayaan 95 persen sudah memuat nol.
Guncangan pada wirausaha perempuan memberi respons PDB sekitar −0,15 pada periode pertama dan mendekati −0,20 pada periode kedua, sebelum amplitudonya menurun. Guncangan PDB terhadap dirinya sendiri kuat pada periode-periode awal lalu cepat memudar. “Informalitas yang bertahan, keterampilan rendah, dan akumulasi modal yang terbatas menurunkan perolehan produktivitas jangka panjang, sehingga guncangan positif awal memudar ketika sistem kembali ke keseimbangan,” tulis para penulisnya pada halaman 155.
Baca juga Buruh Perempuan Pemetik Teh di Solok Selatan dan Mesin yang Datang pada 2021
Pertumbuhan PDB Tidak Menggerakkan Balik Pasar Kerja Perempuan
Uji kausalitas Granger memperlihatkan jarak yang lebar antara dua arah. Kerja rentan perempuan terhadap PDB menghasilkan chi-kuadrat 174,322 dan wirausaha perempuan terhadap PDB 202,214, keduanya dengan nilai p 0,000. Sebaliknya, PDB terhadap kerja rentan hanya 0,042, terhadap wirausaha 0,103, dan terhadap rasio partisipasi kerja perempuan 0,059, dengan nilai p berturut-turut 0,838, 0,749, dan 0,808.
Bagian pembahasan menyimpulkan arah itu dengan satu kalimat pendek. “Ini menyiratkan bahwa pembangunan ekonomi saja tidak dapat memperbaiki ketimpangan gender dan segmentasi pasar kerja,” tulis Muttaqin dan kawan-kawan pada halaman 156. Hambatan struktural yang disebut naskah meliputi akses pendidikan, permodalan, pekerjaan formal, dan dukungan kelembagaan. Besaran koefisien kerja rentan di sampel ini juga jauh melampaui elastisitas jangka panjang −0,3 sampai −0,8 yang dilaporkan Yildirim dan Akinci (2021) untuk 17 negara berkembang.
Dekomposisi ragam galat ramalan menempatkan angka-angka itu pada proporsi yang lain. Pada horizon pertama, seluruh ragam PDB berasal dari guncangannya sendiri. Pada horizon 2 sampai 10, porsinya turun ke kisaran 82 sampai 83 persen. Guncangan wirausaha perempuan menyumbang sekitar 16 persen. Kerja rentan dan rasio partisipasi kerja perempuan masing-masing menyumbang di bawah 1 persen.
Pola yang paling mencolok justru ada pada wirausaha perempuan. Pada horizon pertama, 97,89 persen ragamnya dijelaskan guncangan kerja rentan, dan pada horizon 2 sampai 10 porsi itu masih 84 sampai 85 persen. Penulisnya mengaitkan angka tersebut dengan batasan identifikasi Cholesky sekaligus dengan tumpang tindih kedua kategori di negara berkembang, ketika perempuan yang berusaha sendiri dan pekerja keluarga sama-sama tergolong kerja rentan.
Abstrak dan Bagian Respons Impuls Menyebut Arah yang Berbeda
Ada ketidakcocokan yang terbaca langsung di naskah ini. Abstraknya menyebut guncangan pada wirausaha perempuan berdampak positif terhadap PDB dalam jangka pendek. Bagian fungsi respons impuls di halaman 152 menulis sebaliknya, yakni respons PDB sekitar −0,15 pada periode pertama dan mendekati −0,20 pada periode kedua. Dua kalimat itu berdiri di naskah yang sama.
Baca juga Banggar DPR Ingatkan Perlambatan Industri Pengolahan di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen
Ketidakcocokan lain menyangkut penamaan dan angka. Tabel definisi memakai kode SEMPLF untuk wirausaha perempuan, sedangkan tabel uji stasioneritas dan tabel taksiran memakai SEMPF. Tabel stasioneritas juga memuat WSF, UNEMF, dan LFPRF yang tidak didefinisikan di tabel variabel. Pada halaman 152 tertulis selang kepercayaan berimpit dengan nol di sekitar periode 45, sementara kalimat sebelumnya membahas periode pertama dan kedua. Kolom guncangan sendiri pada baris wirausaha perempuan di tabel dekomposisi ragam diisi angka milik kerja rentan.
Naskah menutup dengan daftar kebijakan: mendorong formalisasi, memperluas akses pendidikan dan sumber daya keuangan, serta membantu perpindahan perempuan ke sektor bernilai tambah lebih tinggi. Dua koefisien terbesarnya tetap hampir sama besar dengan tanda berlawanan, dan keduanya berasal dari kumpulan data yang sama. Cakupan data itu sendiri berhenti pada Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura.















