Banggar DPR Ingatkan Perlambatan Industri Pengolahan di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen

A A

Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mengapresiasi pertumbuhan ekonomi 5,29 persen namun mengingatkan perlambatan industri pengolahan, Jumat (7/8/2026). [Foto: Dokumentasi DPR RI]

Cekricek.id — Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengapresiasi pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pekan sebelumnya. Namun ia meminta pemerintah tidak lengah terhadap tanda-tanda perlambatan di sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak.

“Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian perekonomian global, kita bersyukur perekonomian nasional masih tumbuh 5,29 persen (yoy),” kata Said, Jumat (7/8/2026).

Faktor Musiman Jadi Pendorong Utama

Ia menjelaskan capaian tersebut banyak ditopang faktor musiman, mulai dari libur sekolah Juli yang mengerek sektor akomodasi hingga 10,6 persen, penerimaan peserta didik baru yang mendorong sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen, hingga musim kemarau ekstrem yang menaikkan konsumsi listrik dan gas sebesar 10,81 persen. Konsumsi rumah tangga tetap jadi penyangga utama dengan kontribusi 53,3 persen terhadap PDB, meski pertumbuhannya melambat menjadi 5,05 persen.

Industri Pengolahan dan Pertanian Melambat

Yang membuat Said waspada, sektor industri pengolahan justru melambat dari 5,04 persen pada triwulan I menjadi 4,52 persen pada triwulan II. Sektor pertanian mengalami pola serupa, turun dari 4,97 persen menjadi 3,8 persen.

“Pemerintah penting untuk mewaspadai hal ini, sebab industri pengolahan menyumbangkan 18,5 persen dari PDB,” ujar Said.

Pekerja Informal Paling Rentan

Said turut menyoroti struktur ketenagakerjaan yang belum banyak berubah. Data BPS Mei 2026 mencatat pekerja formal naik menjadi 60,31 juta orang atau 40,7 persen dari total angkatan kerja, sementara pekerja informal masih mendominasi dengan 87,88 juta jiwa atau 59,3 persen. Sebagian besar pekerja informal ini bergantung pada usaha mikro, kecil, dan menengah yang belakangan menjadi sasaran perluasan pembiayaan oleh regulator. Rasio gini nasional turut naik dari 0,363 menjadi 0,368, dengan kenaikan kesenjangan terbesar terjadi di kawasan perkotaan.

“Mereka yang bekerja di sektor formal relatif lebih berdaya tahan karena dukungan jaminan sosial,” kata Said. Ia berharap pemerintah menyiapkan program afirmasi bagi pekerja informal yang selama ini minim perlindungan.

“Saya berharap ada program afirmasi dari pemerintah untuk memberikan berbagai jaminan sosial, terkhusus ditujukan kepada para pekerja informal,” ujarnya.

Investasi barang modal pada triwulan II 2026 tumbuh 6,87 persen dan ekspor melonjak 4,13 persen, dua indikator yang tetap tumbuh positif meski kinerja positif sejumlah korporasi besar pada periode yang sama berjalan berdampingan dengan perlambatan di sektor riil yang justru menyerap tenaga kerja paling banyak.

Bagikan

Baca Juga

Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata
Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Lokakarya Limbah Kelapa Koto Baru Terbentur Minat Warga