Indeks Kesehatan Bank Syariah Lebih Stabil daripada Konvensional

A A

Pintu masuk kantor cabang Bank Negara Indonesia di pusat belanja Central Park, Jakarta. [Foto: SunDawn/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Bank umum konvensional dan bank umum syariah diukur memakai sebelas rasio yang sama, tetapi bobot terbesarnya berbeda.
  • Pada bank konvensional, bobot terbesar jatuh ke rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional.
  • Pada bank syariah, bobot terbesar jatuh ke rasio aset likuid.
  • Indeks kesehatan bank konvensional menyentuh nilai terendahnya, 0,24, pada Desember 2020.
  • Uji Granger menemukan hubungan dua arah pada bank konvensional dan satu arah pada bank syariah.
Daftar Isi
  1. Sebelas Rasio yang Sama Diolah Bulanan Sejak Januari 2016 sampai Desember 2024
  2. Dua Uji Kelayakan Memberi Nilai Lebih Tinggi kepada Data Bank Syariah
  3. Beban Operasional Memegang Bobot Terbesar di Indeks Kesehatan Bank Konvensional
  4. Rasio Aset Likuid Memegang Bobot Terbesar di Indeks Bank Umum Syariah
  5. Indeks Konvensional Turun ke 0,24 pada Desember 2020, Indeks Syariah Justru Naik
  6. Uji Granger Dua Arah pada Bank Konvensional dan Satu Arah pada Bank Syariah

Cekricek.id — Bank umum konvensional dan bank umum syariah di Indonesia diukur memakai sebelas rasio yang sama, tetapi indeks kesehatan bank yang dihasilkan menaruh bobot terbesar pada rasio yang berbeda. Pada bank konvensional, bobot terbesar jatuh ke rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional. Pada bank syariah, bobot terbesar jatuh ke rasio aset likuid.

Penelitian itu dikerjakan Yusita Octina Budiyanti dan Nasrudin Nasrudin, keduanya dari Politeknik Statistika STIS, Indonesia. Naskahnya berjudul Bank Soundness Index for Indonesia: The Generalized Dynamic Principal Component Analysis Approach dan terbit di Bulletin of Monetary Economics and Banking Volume 29 Nomor 2 tahun 2026, halaman 357 sampai 396. Naskah itu diterima pada 1 September 2025, direvisi pada 2 Februari 2026, dan disetujui pada 30 April 2026.

Indeks kesehatan bank yang dimaksud keduanya adalah satu angka gabungan dari banyak rasio, yang diusulkan sebagai instrumen peringatan dini di tingkat makro. Menurut naskahnya, penilaian kesehatan bank yang berlaku bersandar pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004, yang memberi peringkat komposit lalu menggolongkan sebuah bank sebagai sehat atau tidak sehat. Penilaian semacam itu dirancang untuk mengawasi bank satu per satu.

Karena dirancang untuk pengawasan per bank, menurut penulisnya penilaian tersebut kurang menangkap dinamika sistemik dan perubahan kondisi perbankan secara agregat dari waktu ke waktu. Dari titik itulah keduanya mengusulkan indeks kesehatan bank sebagai alat kuantitatif bagi bank sentral, yang merangkum banyak indikator sekaligus ke dalam satu ukuran gabungan.

Dua sistem perbankan itu berangkat dari dasar yang berlainan. Bank konvensional menetapkan harga produknya lewat suku bunga, sedangkan bank syariah memakai mekanisme bagi hasil antara bank dan nasabah serta melarang bunga karena dipandang riba. “Perbedaan prinsip dasar dan tujuan operasional ini berdampak pada perbedaan indikator yang membentuk indeks, sehingga memerlukan pendekatan pengukuran yang memberikan bobot berbeda pada setiap indikator pembentuk indeks,” tulis Budiyanti dan Nasrudin pada bagian pendahuluan, halaman 362.

Sebelas Rasio yang Sama Diolah Bulanan Sejak Januari 2016 sampai Desember 2024

Sebelas rasio itu diambil dari kumpulan inti Financial Soundness Indicators yang disusun Dana Moneter Internasional untuk bank konvensional, dan dari indikator Islamic Financial Services Board untuk bank syariah. Datanya bulanan, dari Januari 2016 sampai Desember 2024, berjumlah 108 pengamatan, dan seluruhnya bersumber dari Otoritas Jasa Keuangan. Naskah mencatat tidak ada nilai yang hilang pada rentang itu.

Tahun 2016 dipilih sebagai titik awal karena berlakunya Peraturan OJK Nomor 11/POJK.03/2016, yang kemudian diperbarui Peraturan Nomor 34/POJK.03/2016, dan mengubah cara menghitung Aset Tertimbang Menurut Risiko serta kewajiban penyediaan modal minimum. Pada tahun yang sama, kewenangan pengawasan dan penetapan standar permodalan berpindah dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan.

Baca juga Kamus Perbankan: Daftar Istilah Bank dan Artinya

Sebelas rasio itu dikelompokkan ke dalam lima kategori. Kecukupan modal diwakili RC dan TC, kualitas aset diwakili NPC dan NPL, profitabilitas diwakili ROA, ROE, NIM, dan EI, likuiditas diwakili LAR dan LAS, sedangkan risiko pasar diwakili NOP. Pada bank syariah, seluruh rasio yang memuat kredit bermasalah disesuaikan memakai konsep pembiayaan bermasalah, dan NIM diukur sebagai net operating margin.

Setiap rasio diberi arah hubungan dengan indeks. RC, TC, ROA, ROE, NIM, LAR, dan LAS bertanda positif, artinya nilai yang lebih tinggi menguatkan kesehatan bank. NPC, NPL, EI, dan NOP bertanda negatif, artinya nilai yang lebih tinggi justru memperburuknya. Seluruh rasio kemudian dinormalkan dengan metode minimum-maksimum ke rentang 0 sampai 1.

Metodenya bernama Generalized Dynamic Principal Component Analysis, disingkat GDPCA di naskah. Penulisnya menyebut tiga alasan pemilihannya: metode itu tidak menuntut data deret waktu bersifat stasioner, bekerja langsung di domain waktu, dan tidak mengandaikan data berdistribusi normal multivariat. Prosedur penyusunan indeksnya mengikuti panduan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi tahun 2008.

Dua Uji Kelayakan Memberi Nilai Lebih Tinggi kepada Data Bank Syariah

Sebelum komponen utama diekstraksi, kelayakan datanya diuji dua kali. Uji kebulatan Bartlett memulangkan statistik khi-kuadrat 2.333,42 untuk bank konvensional dan 2.464,34 untuk bank syariah, keduanya terhadap nilai kritis 73,31 dengan nilai p 0,00, pada 11 variabel dan 108 pengamatan. Matriks korelasinya karena itu dinyatakan bukan matriks identitas.

Uji kedua memakai ukuran Kaiser-Meyer-Olkin, yang ambang minimalnya 0,60. Nilai keseluruhan untuk bank konvensional tercatat 0,72 dan untuk bank syariah 0,85, yang oleh penulisnya disebut berada pada tingkat kecukupan sampel menengah sampai baik. Pada bank konvensional, nilai terendah 0,63 dipegang ROA, ROE, dan NIM, sedangkan nilai tertinggi 0,93 dipegang NPL.

Hanya rasio NPL yang nilai KMO-nya lebih tinggi di bank konvensionalRC: konvensional 0,68 dan syariah 0,83; TC: 0,67 dan 0,84; NPC: 0,82 dan 0,86; NPL/NPF: 0,93 dan 0,87; ROA: 0,63 dan 0,80; ROE: 0,63 dan 0,89; NIM/NOM: 0,63 dan 0,85; EI: 0,68 dan 0,95; LAR: 0,72 dan 0,77; LAS: 0,73 dan 0,78; NOP: 0,87 dan 0,96.Hanya rasio NPL yang nilai KMO-nya lebihtinggi di bank konvensionalUkuran kecukupan sampel Kaiser-Meyer-Olkin tiaprasio, ambang minimal 0,60Bank konvensionalBank syariah0,00,20,40,60,81,0RC0,680,83TC0,670,84NPC0,820,86NPL/NPF0,930,87ROA0,630,80ROE0,630,89NIM/NOM0,630,85EI0,680,95LAR0,720,77LAS0,730,78NOP0,870,96Nilai keseluruhan 0,72 untuk bank konvensional dan 0,85untuk bank syariah.
Sumber: Budiyanti dan Nasrudin (2026), Bulletin of Monetary Economics and Banking 29(2): 357–396. Grafik: Cekricek.id

Pada bank syariah, sebaran nilainya lebih rapat di atas: terendah 0,77 pada LAR dan tertinggi 0,96 pada NOP. NPL menjadi satu-satunya rasio yang nilai KMO-nya lebih tinggi di bank konvensional, 0,93 berbanding 0,87. Naskah menyatakan kedua kelompok data memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke analisis multivariat.

Korelasi antarrasio juga diperiksa lebih dulu. Pada bank konvensional, korelasi RC dengan TC tercatat 0,99, sedangkan NPL dengan LAR tercatat −0,87. Pada bank syariah, RC dengan TC juga 0,99 dan LAR dengan LAS 0,99. Naskah menyebut korelasi pada bank konvensional umumnya kuat, sementara pada bank syariah sebagian besar koefisiennya melampaui 0,5.

Beban Operasional Memegang Bobot Terbesar di Indeks Kesehatan Bank Konvensional

Untuk bank konvensional, tiga komponen utama pertama dipertahankan, dan panjang lag optimalnya dua, dipilih lewat kriteria informasi Akaike. Ragam yang dijelaskan komponen pertama naik dari 0,559 tanpa lag menjadi 0,808 pada satu lag dan 0,851 pada dua lag, lalu tidak berubah lagi ketika lag maksimum dinaikkan ke tiga.

Ragam komponen pertama naik saat lag ditambah, lalu berhentiBank konvensional tanpa lag: 0,559; satu lag: 0,808; dua lag: 0,851; tiga lag: 0,851. Bank syariah tanpa lag: 0,796; satu lag: 0,870.Ragam komponen pertama naik saat lagditambah, lalu berhentiProporsi ragam data yang dijelaskan komponen utamapertama, 11 rasio, 108 pengamatan bulanan0,00,20,40,60,81,0Bank konvensional, tanpa lag0,559Bank konvensional, satu lag0,808Bank konvensional, dua lag0,851Bank konvensional, tiga lag0,851Bank syariah, tanpa lag0,796Bank syariah, satu lag0,870Lag maksimum tiga pada bank konvensional dan lagmaksimum dua pada bank syariah memulangkan angka yangsama dengan baris di atasnya.
Sumber: Budiyanti dan Nasrudin (2026), Bulletin of Monetary Economics and Banking 29(2): 357–396. Grafik: Cekricek.id

Dengan dua lag, rasio yang paling besar sumbangannya ke indeks kesehatan bank konvensional berturut-turut adalah EI, NIM, ROE, dan ROA. Pola indeksnya dinyatakan sejalan dengan pergerakan EI, ROE, dan ROA. Bila indeks disusun dengan satu lag, rasio dominannya berganti menjadi NPL, LAR, ROA, LAS, dan ROE, tetapi pola indeksnya kurang mencerminkan gerak NPL, LAR, dan LAS.

Bobot besar pada lag pertama dan kedua dibaca penulisnya sebagai tanda bahwa informasi masa lalu ikut membentuk struktur komponen utama. Rasio seperti EI, NIM, ROE, dan ROA disebut tidak memengaruhi bank secara seketika, melainkan lewat proses penyesuaian yang berangsur.

Baca juga Pembiayaan UMKM Rp1.948,72 Triliun per Juni 2026, Perbankan Kuasai 82,44 Persen

Rasio Aset Likuid Memegang Bobot Terbesar di Indeks Bank Umum Syariah

Untuk bank syariah, jumlah komponen utama yang dipertahankan juga tiga, tetapi panjang lag optimalnya satu. Ragam yang dijelaskan komponen pertama naik dari 0,796 tanpa lag menjadi 0,870 pada satu lag, lalu tetap 0,870 ketika lag maksimum dinaikkan ke dua. Penambahan lag berikutnya dinyatakan tidak memberi informasi berarti.

Pada spesifikasi satu lag, sumbangan terbesar datang dari LAR dan LAS, dan gerak indeksnya dinyatakan berdekatan dengan gerak kedua rasio itu. Tanpa lag, sumbangan RC, TC, dan EI justru membesar. Penulisnya menerangkan pembesaran itu dipengaruhi proses pembobotan yang terimbas penggabungan tiga bank syariah oleh pemerintah, yaitu Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah.

Gedung kantor Bank Syariah Mandiri berlantai tiga di tepi jalan kota Denpasar, Bali
Gedung kantor Bank Syariah Mandiri berlantai tiga di tepi jalan kota Denpasar, Bali. [Foto: musnahterinjak/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)]

Karena itu, bobot yang dihasilkan tanpa lag dinilai kurang sejalan dengan dinamika kesehatan bank syariah yang sebenarnya. Perbedaan hasil antara dua sistem perbankan itu, menurut naskahnya, memperlihatkan bahwa prinsip yang berlainan memang mengubah struktur pembobotan dan perilaku dinamis indeks kesehatan bank masing-masing.

Indeks Konvensional Turun ke 0,24 pada Desember 2020, Indeks Syariah Justru Naik

Indeks kesehatan bank konvensional bergerak naik turun sepanjang periode pengamatan. Naskah mencatat pola musiman berulang pada 2016 sampai 2019, yaitu indeksnya cenderung menguat menjelang akhir tahun. Di dalam periode itu terdapat tren naik dari 2016 ke 2017, lalu fase penurunan dan gejolak pada 2018 yang dikaitkan dengan perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

Pola musiman itu memudar saat pandemi Covid-19. Indeks kesehatan bank konvensional menyentuh nilai terendahnya, 0,24, pada Desember 2020. Pembatasan jarak sosial menurunkan pendapatan usaha debitor perorangan maupun korporasi, kredit bermasalah naik, dan bank menjalankan restrukturisasi kredit besar-besaran berdasarkan Peraturan OJK Nomor 11/POJK.03/2020. Permintaan kredit ikut melambat karena perusahaan menunda keputusan investasi.

“Tekanan yang bertumpuk selama krisis Covid-19 ini menyebabkan penurunan besar pada profitabilitas bank, yang tertangkap jelas oleh BSI mengingat ketergantungannya yang kuat pada indikator profitabilitas seperti EI, NIM, ROE, dan ROA,” tulis Budiyanti dan Nasrudin pada bagian temuan utama, halaman 388. BSI adalah singkatan yang dipakai naskah untuk indeks kesehatan bank yang dibangunnya.

Setelah pandemi, indeks kesehatan bank konvensional menanjak sampai akhir 2023. Pada Februari 2024 indeksnya turun, yang dikaitkan naskah dengan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden, perlambatan permintaan kredit dari dunia usaha, dan gejolak nilai tukar rupiah akibat sentimen politik. Sejak Maret 2024 indeksnya kembali membaik.

Baca juga Kamus Ekonomi Syariah: Daftar Istilah dan Artinya

Indeks kesehatan bank syariah menempuh jalan yang lain. Naskah menyebut polanya relatif stabil: bahkan pada perang dagang 2018 dan pandemi Covid-19, indeksnya tidak turun tajam. Kenaikan menonjol pada 2021 dikaitkan dengan penggabungan tiga bank syariah tadi, yang memperbesar skala usaha serta memperkuat posisi permodalan dan likuiditas. Penurunan sesudahnya tidak dibaca penulisnya sebagai melemahnya ketahanan struktural, melainkan sebagai normalisasi setelah efek konsolidasi yang bersifat sekali jalan.

Indeksnya mulai menyerap biaya integrasi pascamerger, penyesuaian operasional, dan risiko kredit yang tertunda setelah program restrukturisasi Covid-19 berakhir. Naskah menahan diri untuk tidak menyimpulkan salah satu sistem lebih sehat. “Meskipun secara umum Indeks Kesehatan Bank untuk Bank Umum Syariah lebih stabil daripada Bank Umum Konvensional, hal ini tidak lantas berarti bank umum syariah menunjukkan kesehatan keuangan keseluruhan yang lebih kuat daripada bank umum konvensional,” tulis keduanya pada halaman 388.

Uji Granger Dua Arah pada Bank Konvensional dan Satu Arah pada Bank Syariah

Indeks itu lalu divalidasi terhadap dua indikator makrofinansial, yaitu rasio kredit terhadap PDB dan rasio dana pihak ketiga terhadap PDB. Pada bank konvensional dengan dua lag dan 34 pengamatan, keempat arah hubungan dinyatakan nyata: kredit ke indeks 4,8876 dengan peluang 0,0148, indeks ke kredit 5,64909 dengan peluang 0,0085, dana pihak ketiga ke indeks 4,22175 dengan peluang 0,0246, dan indeks ke dana pihak ketiga 3,83948 dengan peluang 0,0332.

Hubungan bank syariah dengan kredit tidak lolos ambang 0,05Kredit terhadap PDB ke indeks konvensional: 0,0148; indeks konvensional ke kredit terhadap PDB: 0,0085; dana pihak ketiga terhadap PDB ke indeks konvensional: 0,0246; indeks konvensional ke dana pihak ketiga terhadap PDB: 0,0332; kredit terhadap PDB ke indeks syariah: 0,5664; indeks syariah ke kredit terhadap PDB: 0,4340; dana pihak ketiga terhadap PDB ke indeks syariah: 0,0023; indeks syariah ke dana pihak ketiga terhadap PDB: 0,9523.Hubungan bank syariah dengan kredit tidaklolos ambang 0,05Peluang uji kausalitas Granger, dua lag untuk bankkonvensional dan tiga lag untuk bank syariah0,00,20,40,60,81,0ambang 0,05Kredit/PDB ke indeks konvensional0,0148Indeks konvensional ke kredit/PDB0,0085DPK/PDB ke indeks konvensional0,0246Indeks konvensional ke DPK/PDB0,0332Kredit/PDB ke indeks syariah0,5664Indeks syariah ke kredit/PDB0,4340DPK/PDB ke indeks syariah0,0023Indeks syariah ke DPK/PDB0,9523DPK adalah dana pihak ketiga. Peluang di bawah 0,05ditandai biru, di atasnya jingga.
Sumber: Budiyanti dan Nasrudin (2026), Bulletin of Monetary Economics and Banking 29(2): 357–396. Grafik: Cekricek.id

Pada bank syariah dengan tiga lag dan 33 pengamatan, hasilnya berbeda. Rasio kredit terhadap PDB tidak berhubungan kausal dengan indeksnya ke arah mana pun, dengan statistik F 0,68997 dan 0,94345 serta peluang 0,5664 dan 0,4340. Hanya rasio dana pihak ketiga terhadap PDB yang berpengaruh, dengan statistik F 6,30875 dan peluang 0,0023, sementara arah sebaliknya 0,11198 dengan peluang 0,9523.

“Hasilnya memastikan bahwa kesehatan keuangan bank syariah lebih kuat didorong oleh dinamika likuiditas dan aktivitas pendanaan daripada oleh ekspansi kredit,” tulis Budiyanti dan Nasrudin pada bagian validasi indeks, halaman 390. Pemilihan lag tiga periode dibaca keduanya sebagai tanda penyaluran kondisi makrofinansial ke perbankan syariah berlangsung tidak langsung.

Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan penelitian tersendiri. Yang paling mendekati adalah catatan penulisnya bahwa nilai indeks dalam penelitian ini berkisar antara 0 dan 1, tetapi nilai itu bisa lebih tinggi atau lebih rendah pada deret waktu berikutnya bergantung pada kondisi keuangan bank, sehingga agregasi di luar periode penelitian harus memakai nilai minimum dan maksimum periode penelitian.

Catatan lain menyangkut pencilan. Pencilan multivariat yang teridentifikasi tetap dipertahankan dalam analisis karena, menurut uji regresi logistik yang dilampirkan di apendiks, tidak ada satu pun rasio penjelas yang nyata secara statistik dalam menerangkan kemunculan pencilan tersebut.

Beberapa ketidakcocokan terbaca langsung di naskah. Tabel 5 mencantumkan statistik khi-kuadrat bank konvensional 2.333,42, sedangkan catatan kaki di halaman yang sama menyebut 2.360,23. Judul kecil di Tabel 7 tertulis analisis dengan lag maksimum nol pada keempat bloknya, padahal blok kedua sampai keempat memuat lag maksimum satu, dua, dan tiga. Keterangan Tabel 9, yang memuat uji kausalitas Granger, masih berisi penjelasan tentang komponen utama, AIC, dan ragam terjelaskan seperti pada tabel sebelumnya. Legenda Gambar 10 menyebut Bank Umum Konvensional dua kali, padahal gambar itu memuat indeks kedua sistem perbankan sekaligus.

Dua indeks itu berdiri berdampingan sampai akhir naskah. Indeks kesehatan bank konvensional bergerak lebih tajam mengikuti guncangan makro dan bersandar pada rasio profitabilitas, sedangkan indeks bank syariah bergerak lebih datar dan bersandar pada rasio likuiditas. Keduanya disusun dari sebelas rasio yang sama, dengan bobot dan panjang lag yang ditetapkan terpisah.

Bagikan

Baca Juga

Karbon Aset Negara dari Belanja Listrik Ditaksir 28,42 Juta Ton
Pembiayaan Angin Lepas Pantai Afrika Selatan Butuh Dana Publik
Lapangan Kerja Angin Lepas Pantai Setara 300.000 Tahun Kerja
Kandungan Lokal Angin Lepas Pantai, Bank Dunia Ingatkan Biaya
Desa Pulau Maringkik, Delapan Tahun dari Tertinggal ke Berkembang
Efisiensi Belanja Indonesia 2023 Ungguli India dan Tiongkok