- Dana desa memperoleh koefisien 2,17 dan dana bagi hasil cukai 1,93 pada persamaan indeks pembangunan manusia.
- Pada angka harapan hidup keduanya nyata, dengan koefisien 0,43 dan 0,50.
- Pada rata-rata lama sekolah keduanya tidak nyata, dengan koefisien 0,28 dan 0,14.
- Nilai terkecil peubah dana desa tercatat 0,000 dan tidak dijelaskan naskahnya.
- Dua persamaan berbeda tercatat memiliki daya jelas yang sama, yaitu 0,845324.
Cekricek.id — Dana desa menaikkan angka harapan hidup di Jawa Tengah, tetapi tidak menggerakkan rata-rata lama sekolah.
Dua angka dari satu tabel yang sama memisahkan keduanya: 0,43 pada umur harapan hidup, dan 0,28 pada lama sekolah yang tidak nyata.
Temuan itu ditulis Widhiya Syamsyifa dan Sri Runtiningsih, keduanya dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Semarang.
Naskahnya berjudul Do Village Funds and Tobacco Excise Revenue Sharing Improve Human Development?, terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 557 sampai 570.
Datanya panel 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah selama 2016 sampai 2023, seluruhnya 280 amatan.
Angkanya berasal dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.
Daftar Isi
Dana Desa dan Cukai Tembakau Diuji Bersamaan
Dua dana transfer diuji berdampingan dalam satu persamaan, bukan satu per satu.
Yang pertama dana desa, uang yang dikirim pemerintah pusat langsung ke rekening desa.
Yang kedua dana bagi hasil cukai hasil tembakau, bagian daerah atas cukai yang dipungut negara dari rokok.
Keduanya sama-sama transfer, keduanya sama-sama dibelanjakan pemerintah daerah, tetapi tujuan pemakaiannya berbeda.
Dana desa dipakai membangun jalan desa, sanitasi, layanan kesehatan, dan program pemberdayaan warga.
Dana bagi hasil cukai dipakai menopang layanan kesehatan, kesejahteraan pekerja, dan perlindungan sosial.
Jawa Tengah dipilih karena menerima keduanya dalam jumlah besar, dan karena di dalamnya ada daerah penghasil tembakau sekaligus industri rokok.
Meski begitu, jarak capaian pembangunan manusia antarkabupaten di provinsi itu tetap lebar, dan itulah yang hendak dijelaskan penelitian ini.
Indeks pembangunan manusia di 35 daerah tersebut terentang dari 63,98 sampai 84,99, dengan rata-rata 72,467.
Angka harapan hidupnya terentang dari 68,41 sampai 77,93 tahun, dengan rata-rata 74,872 tahun.
Rata-rata lama sekolahnya terentang dari 2,08 sampai 11,24 tahun, dengan rata-rata 7,815 tahun.
Tingkat pengangguran terbukanya terentang dari 1,76 sampai 9,97 persen, dengan rata-rata 5,077 persen.
Dana bagi hasil cukai bergerak di rentang yang jauh lebih sempit daripada dana desa, yaitu 15,548 sampai 19,289 pada satuan logaritmanya.
Pendapatan asli daerah bergerak di 18,726 sampai 21,765, sedangkan pengeluaran per kapita hanya di 13,327 sampai 14,688.
Artinya jarak antardaerah jauh lebih lebar pada dana yang diterima daripada pada uang yang dibelanjakan warganya.
Dua Angka Besar dan Tiga Angka Pendamping
Pilihan modelnya diuji lebih dulu. Uji Chow dan uji Hausman pada keempat persamaan sama-sama menunjuk model pengaruh tetap.
Model itu membiarkan tiap kabupaten punya tingkat awalnya sendiri, sehingga yang dibandingkan adalah perubahan di dalam satu daerah, bukan selisih antardaerah.
Pada persamaan indeks pembangunan manusia, dana desa memperoleh koefisien 2,17 dan dana bagi hasil cukai memperoleh 1,93.
Keduanya nyata pada taraf satu persen, dengan galat baku 0,323 dan 0,195.
Tiga peubah pendamping ikut masuk. Produk domestik regional bruto per kapita memperoleh 4,87, pendapatan asli daerah 0,57, dan tingkat pengangguran terbuka 0,16.
Kedua dana transfer itu masuk model dalam bentuk logaritma, bukan dalam rupiah.
Artinya yang dibandingkan bukan selisih sekian miliar rupiah, melainkan selisih berlipat: daerah yang dananya dua kali lipat dibandingkan daerah yang tidak.
Cara itu membuat koefisien 2,17 dan 1,93 tidak boleh dibaca sebagai tambahan poin indeks per rupiah yang dikirim.
Galat bakunya juga dihitung dengan cara yang tahan terhadap keragaman antardaerah, dan taraf nyatanya ditetapkan lima persen.
Sisa perhitungannya diperiksa lebih dulu, dan keempat persamaan disebut penulisnya tersebar merata di sekitar nol.
Perbandingan antara kedua dana itu sendiri konsisten di tiga persamaan: dana desa selalu lebih besar pada indeks dan pengeluaran, dana cukai selalu lebih besar pada umur.
Baca juga Program Keluarga Harapan Tak Menaikkan Nilai Kognitif Anak
Umur Bertambah, Lama Sekolah Tidak Bergerak
Indeks pembangunan manusia menggabungkan tiga hal: umur, sekolah, dan pengeluaran per kapita.
Ukuran itu dipakai penulisnya karena menimbang ketiganya sekaligus, bukan hanya pendapatan seperti ukuran berbasis produk domestik bruto.
Dengan ukuran itu, daerah yang pendapatannya naik tetapi umur dan sekolahnya tidak ikut naik akan tetap terbaca tertinggal.
Untuk menguji ketegaran temuannya, ketiga hal itu dipisah dan dijadikan peubah terikat sendiri-sendiri.
Hasilnya terbelah rapi. Pada angka harapan hidup, dana desa memperoleh 0,43 dan dana bagi hasil cukai memperoleh 0,50.
Keduanya nyata pada taraf satu persen, dengan galat baku 0,079 dan 0,048.
Pada rata-rata lama sekolah, dana desa memperoleh 0,28 dan dana bagi hasil cukai memperoleh 0,14.
Keduanya tidak nyata, dengan galat baku 0,263 dan 0,159 yang hampir sebesar koefisiennya sendiri.
Pada pengeluaran per kapita, keduanya kembali nyata dengan koefisien 0,27 dan 0,21.
Susunannya sama pada dua dimensi dan berbeda pada satu dimensi, dan itu berlaku untuk kedua dana sekaligus.
Penulisnya membaca perbedaan itu sebagai perbedaan jangka waktu, bukan perbedaan besaran dana.
Kesehatan dan pendapatan bergerak cepat karena puskesmas, sanitasi, dan bantuan sosial terasa dalam hitungan bulan.
Sekolah bergerak lambat karena bergantung pada besar anggaran pendidikan, mutu guru, sarana sekolah, dan keadaan ekonomi rumah tangga.

Pengangguran yang Naik Bersama Indeksnya
Satu hasil berjalan berlawanan dengan yang biasa diajarkan, dan penulisnya mengakuinya sendiri.
Tingkat pengangguran terbuka memperoleh koefisien positif 0,16 pada indeks pembangunan manusia, dan tetap positif pada dua persamaan lainnya.
Secara umum pengangguran yang tinggi dibaca sebagai kesejahteraan yang menurun, karena lebih sedikit orang yang bekerja.
Penulisnya menawarkan pembacaan lain: perbaikan pendidikan di Jawa Tengah berjalan lebih dulu daripada bertambahnya lapangan kerja formal.
Dalam keadaan seperti itu, indeks yang naik dan pengangguran yang naik bisa berjalan beriringan untuk sementara.
Pembacaan itu masuk akal, tetapi persamaan yang dicetak di naskahnya justru menuliskan tanda minus di depan peubah pengangguran.
Tabel hasilnya menulis tanda positif. Naskahnya tidak menjelaskan mana di antara keduanya yang dipakai saat menghitung.
Pada matriks korelasi, dana desa dan produk domestik regional bruto per kapita berkorelasi minus 0,63, korelasi terkuat di antara seluruh pasangan.
Penulisnya menilai angka itu masih di bawah ambang 0,80 yang dipakainya, sehingga persamaannya dianggap bebas dari saling-jelas antarpeubah.
Korelasi antara kedua dana transfer itu sendiri hanya 0,23, sehingga daerah yang banyak menerima dana desa belum tentu banyak menerima dana cukai.
Dana bagi hasil cukai berkorelasi minus 0,29 dengan pengangguran, sedangkan dana desa berkorelasi minus 0,27 dengan peubah yang sama.
Pendapatan asli daerah dan produk domestik regional bruto per kapita berkorelasi 0,41, satu-satunya pasangan positif yang cukup kuat di tabel itu.
Baca juga Pekerja Informal 80,24 Juta, Terlindungi Hanya 6,5 Juta
Dua Hal yang Belum Terjelaskan di Tabelnya
Dua catatan perlu dipegang pembaca, dan keduanya berada di tabel yang sama.
Yang pertama menyangkut dana desanya sendiri. Nilai terkecil peubah dana desa tercatat 0,000, sedangkan rata-ratanya 15,979.
Simpangan bakunya 7,288, jauh di atas simpangan baku peubah logaritma lain yang berkisar 0,252 sampai 0,665.
Naskahnya tidak menjelaskan dari mana nilai nol itu berasal, dan tidak menyebut perlakuan apa pun terhadapnya.
Naskahnya juga tidak menyebutkan satuan asal satu pun peubah yang dilogaritmakan.
Rata-rata logaritma produk domestik regional bruto per kapita tercatat 3,207, sedangkan rata-rata logaritma pendapatan asli daerah 19,687.
Selisih sebesar itu antara dua peubah yang sama-sama diukur dalam rupiah tidak diterangkan di bagian mana pun.
Yang kedua menyangkut ukuran daya jelasnya. Persamaan lama sekolah dan persamaan pengeluaran per kapita sama-sama tercatat 0,845324.
Keduanya memakai peubah terikat yang berbeda, sehingga angka yang sama sampai enam tempat desimal sulit dijelaskan.
Daya jelas persamaan indeks pembangunan manusia 0,980489, dan persamaan angka harapan hidup 0,993218.
Badan naskah juga menyebut uji ketegarannya menegaskan keajekan temuan utama.
Padahal pada persamaan lama sekolah, empat dari lima peubah penjelasnya tidak nyata secara statistik.
Satu peubah yang tersisa, yaitu produk domestik regional bruto per kapita, memperoleh 1,89 dan nyata pada taraf satu persen.
Penamaan peubahnya pun berpindah-pindah. Bagian awal menyebutnya pendapatan per kapita, bagian pembahasan menyebutnya pengeluaran per kapita.
Baca juga UMKM Sasirangan Banjarmasin dan Panah Regresi yang Terbalik
Dari sisi kesehatan dan pendapatan, kedua dana transfer itu bekerja, dan penelitian ini menyodorkan angka untuk keduanya.
Dari sisi pendidikan, keduanya belum terbaca, dan penelitian ini tidak memastikan apakah itu soal waktu atau soal sasaran.
Penulisnya menyarankan penajaman sasaran pada layanan kesehatan dan program penghasil pendapatan, karena di sanalah dampaknya paling terlihat.
Pendidikan disarankan ditopang pembiayaan yang lebih terstruktur dan berjangka panjang, di luar kedua dana transfer tersebut.
Yang belum terjawab adalah berapa lama jarak itu bertahan, dan pada tahun keberapa dana yang sama mulai terbaca di ruang kelas.















