- Nilai kognitif gabungan anak penerima PKH 0,050 simpangan baku di bawah pembandingnya dan tidak nyata.
- Penjodohan radius 0,01 menurunkan rata-rata bias antarpeubah dari 23,7 persen menjadi 1,2 persen.
- Rumah tangga penerima PKH yang punya sekurangnya satu buku 61,36 persen, bukan penerima 74,03 persen.
- Kesiapan sekolah versi pengasuh naik 0,142 poin pada keaksaraan dasar dengan nilai t 2,01.
- Selisih nilai kognitif menyempit dari 0,201 ke 0,147 simpangan baku pada anak yang pernah masuk TK atau RA.
Cekricek.id — Bantuan tunai bersyarat berhasil membuat anak dari rumah tangga miskin lebih sering duduk di kelas. Nilai ujian mereka tidak ikut bergerak.
Kejanggalan itu yang diperiksa sebuah penelitian baru tentang Program Keluarga Harapan. Sasarannya anak kelas awal sekolah dasar di desa miskin.
Penelitinya dua orang dari Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Eka Ayu Kusumaning Dewi Dillianti dan Riatu Mariatul Qibthiyyah.
Dillianti penulis korespondensinya. Tulisan keduanya berjudul Impact of the Family Hope Program on Cognitive Outcomes in Poor Rural Indonesia.
Naskahnya terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 1 tahun 2026, halaman 235 sampai 252. Diterima 1 Februari 2026 dan disetujui 10 Maret 2026.
Bahannya survei Early Childhood Education and Development tahun 2013. Surveinya dijalankan di 310 desa miskin pada sembilan kabupaten di sembilan provinsi.
Daftar Isi
Bagaimana Bantuan Diubah Menjadi Kehadiran di Sekolah
PKH bekerja lewat syarat, bukan lewat pemberian bebas. Rumah tangga penerima wajib memenuhi kewajiban tertentu supaya bantuannya tetap mengalir.
Untuk anak usia sekolah, syaratnya kehadiran. Anak wajib hadir sekurangnya 85 persen dari hari belajar efektif.
Karena itu jalur pengaruhnya bertahap. Uang masuk, hambatan biaya sekolah berkurang, anak lebih sering hadir, dan kehadiran itu diharapkan berubah menjadi kemampuan.
Sasarannya ditentukan lewat penapisan. Program memakai uji kelayakan berbasis pendekatan pendapatan, ditambah syarat keberadaan ibu hamil, anak kecil, dan anak usia sekolah.
Penapisan itu bekerja. Dari 11.183 anak usia 6 sampai 9 tahun dalam sampel, 603 anak atau 5,4 persen tinggal di rumah tangga penerima PKH.
Persoalannya, rumah tangga penerima memang berangkat dari titik yang lebih rendah. Kepala rumah tangganya bersekolah 5,799 tahun, sedangkan bukan penerima 7,650 tahun.
Selisihnya 1,851 tahun sekolah. Indeks kekayaan penerima juga lebih rendah, minus 0,578 berbanding 0,033.
Ibu bekerja lebih banyak di rumah tangga penerima, 52,8 persen berbanding 39,9 persen. Kepala rumah tangga perempuan juga lebih sering, 11,9 persen berbanding 7,9 persen.
Semua selisih itu nyata pada taraf 1 persen. Artinya dua kelompok ini tidak bisa dibandingkan mentah-mentah.
Yang membuatnya rumit, perbedaan itu justru menyangkut hal yang membentuk kemampuan anak. Pendidikan orang tua dan kekayaan rumah tangga termasuk di dalamnya.
Sania dan kawan-kawan pada 2019 dikutip untuk hal tersebut. Pendidikan orang tua, kekayaan, dan risiko gizi awal disebut berkaitan dengan jarak perkembangan kognitif anak.
Baca juga Pekerja Informal 80,24 Juta, Terlindungi Hanya 6,5 Juta
Cara Penjodohan Menyamakan Dua Kelompok Anak
Untuk mengatasi hal itu, penelitinya memakai penjodohan skor kecenderungan. Rosenbaum dan Rubin pada 1983 dikutip sebagai dasarnya.
Cara kerjanya berlapis. Seluruh ciri rumah tangga diringkas menjadi satu angka, yaitu peluang rumah tangga itu menerima PKH.
Angka itu dihitung lewat model logit. Peubah penjelasnya umur anak, jenis kelamin anak, pendidikan dan umur kepala rumah tangga, serta indeks kekayaan.
Tiga peubah lain ikut masuk. Status kerja ibu, jumlah anak dalam rumah tangga, dan pembeda wilayah barat atau timur Indonesia.
Hasil logitnya menunjukkan penapisan program berjalan. Indeks kekayaan yang lebih tinggi menurunkan peluang menerima PKH 43,9 persen.
Pendidikan kepala rumah tangga menurunkannya 5,1 persen. Sebaliknya, jumlah anak menaikkan peluang itu 51,7 persen.
Ibu yang bekerja menaikkan peluang 22,5 persen. Tinggal di wilayah barat menaikkannya 57,8 persen.
Modelnya dihitung atas 10.730 pengamatan. Pseudo-R kuadratnya 0,0703.
Sesudah skornya ada, anak penerima dijodohkan dengan anak bukan penerima yang skornya semirip mungkin. Delapan algoritma penjodohan dicoba.
Mutunya diuji lewat penyusutan bias. Sebelum dijodohkan, rata-rata bias terbakukan antarpeubah 23,7 persen dengan nilai tengah 14 persen.
Penjodohan radius berkaliper 0,01 memberi hasil terbaik. Rata-rata biasnya turun ke 1,2 persen dan nilai tengahnya ke 0,7 persen.
Penyusutan biasnya 94,94 persen. Seluruh peubah kendali akhirnya berimbang antara kelompok penerima dan pembanding.
Tiga algoritma lain gagal berimbang. Kernel berlebar pita 0,06 serta radius berkaliper 0,1 dan 0,05 masih menyisakan selisih nyata, sehingga hasilnya tidak dilaporkan.
Mengapa Kehadiran Tidak Berubah Menjadi Nilai
Sesudah kedua kelompok setara, dampaknya diukur. Hasilnya kecil, bertanda negatif, dan tidak nyata secara statistik.
Pada spesifikasi utama, nilai kognitif gabungan anak penerima 0,050 simpangan baku di bawah pembandingnya. Nilai t-nya minus 1,11.
Bahasa Indonesia terpaut 0,032 simpangan baku dengan nilai t minus 0,67. Matematika terpaut 0,046 dengan nilai t minus 1,03.
Penalaran abstrak terpaut 0,048 simpangan baku. Nilai t-nya minus 0,94.
Seluruh nilai t itu di bawah 1,645, ambang nyata pada taraf 10 persen. Pemeriksaan silang lewat algoritma lain memberi pola yang sama.
Karena itu penelitinya berpindah ke pertanyaan berikutnya. Bukan apakah PKH berpengaruh, melainkan di mana rantai pengaruhnya terputus.
Mata rantai pertama yang diperiksa rumah tangga. Kepemilikan buku dipakai sebagai penanda belanja rumah tangga untuk belajar.
Sebanyak 61,36 persen rumah tangga penerima punya sekurangnya satu buku. Pada bukan penerima angkanya 74,03 persen.
Jaraknya melebar pada jumlah yang lebih besar. Yang punya lebih dari sepuluh buku 3,48 persen berbanding 8,47 persen.
Yang punya lebih dari lima belas buku 1,49 persen berbanding 5,17 persen. Seluruh selisihnya nyata pada taraf 1 persen.
Penulisnya membaca itu sebagai urutan prioritas. Tambahan uang disebut lebih dulu habis untuk kebutuhan pokok, seragam, dan transportasi.
Mata rantai kedua sekolah. Wang dan kawan-kawan pada 2023 dikutip untuk peran sekolah yang membesar pada usia 6 sampai 9 tahun.
Kesembilan kabupaten sampel tergolong daerah tertinggal. Rata-rata ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium per sekolah di sana umumnya di bawah rata-rata provinsinya.

Guru pun lebih sedikit. Rata-rata nasional 10,11 guru per sekolah dasar, sementara Kulon Progo 8,10 dan Rembang 8,12.
Mata rantai ketiga gizi. Dampak PKH pada indeks massa tubuh anak 0,021 dan tidak nyata, dihitung atas 10.689 pengamatan.
Rata-rata indeks massa tubuh sampelnya 14,275. Angka itu masuk golongan kurang berat menurut ukuran Organisasi Kesehatan Dunia.
Baca juga Skor Konsentrasi Anak 2,33 ke 9,47 setelah Enam Sesi Panahan
Yang Tercatat Pengasuh, Bukan yang Terukur Tes
Satu kelompok hasil justru bergerak. Ukurannya Early Development Instrument, yang diisi pengasuh, bukan diujikan kepada anak.
Domain bahasa dan perkembangan kognitifnya naik 0,14 poin pada skala nol sampai sepuluh. Nilai t-nya 1,74, nyata pada taraf 10 persen.
Subdomain keaksaraan dasar naik 0,142 poin dengan nilai t 2,01. Angka itu nyata pada taraf 5 persen.
Keberhitungan dasar naik 0,143 poin dengan nilai t 1,76. Keaksaraan lanjutan naik 0,159 poin, tetapi nilai t-nya hanya 1,08.
Minat pada buku, angka, dan daya ingat naik 0,101 poin. Nilai t-nya 1,28 dan tidak nyata.
Bedanya dengan uji kognitif bukan hanya besarannya. Bedanya juga pada siapa yang menilai.
Nilai uji kognitif dikerjakan anak sendiri lewat tes Bahasa Indonesia, matematika, dan matriks progresif berwarna Raven. Hanya 38 butir yang ada di kedua versi tes yang dipakai.
Nilai Early Development Instrument diisi pengasuh. Rentangnya nol sampai sepuluh untuk setiap subdomain.
Rata-rata nilai instrumen itu tinggi di seluruh sampel, antara 8,390 dan 9,451. Artinya ruang untuk naik memang sempit.
Penulisnya membaca kenaikan itu sebagai kesiapan sekolah. Hambatan biaya masuk dan melanjutkan sekolah disebut berkurang lebih dulu.
Di Mana Penjelasan Itu Berhenti
Satu pemeriksaan tambahan menunjukkan jalan keluar. Anak dibagi menurut riwayat taman kanak-kanak atau raudatul athfal.
Pada anak yang tidak pernah masuk TK atau RA, nilai kognitif gabungan penerima 0,329 dan bukan penerima 0,531. Selisihnya 0,201 simpangan baku.
Pada anak yang pernah masuk, nilainya 0,876 berbanding 1,023. Selisihnya menyempit menjadi 0,147 simpangan baku.
Pola itu berjalan dua arah. Pendidikan anak usia dini menaikkan nilai rata-rata dan sekaligus mempersempit jarak antara penerima dan bukan penerima.
Penjelasannya berhenti di beberapa titik. Datanya lintas seksi, sehingga anak yang sama tidak bisa dilacak antarwaktu.
Datanya juga berumur. Survei yang dipakai tahun 2013, sedangkan data sarana sekolah pembandingnya tahun ajaran 2024/2025.
Penulisnya menyadari jarak itu. Kesenjangan sarana disebut kemungkinan lebih lebar pada 2013 daripada angka terbaru yang dipakai.
Ada pula satu ketidakcocokan tanda. Dampak pada indeks massa tubuh ditulis positif 0,021, tetapi nilai t-nya ditulis minus 0,31.
Jumlah anak penerima juga bergeser antartabel. Tabel ringkasan menyebut 603, sedangkan tabel penjodohan konsisten memakai 581 anak.
Selisih 22 anak itu tidak diterangkan. Naskahnya tidak menyebut alasan gugurnya pengamatan tersebut.
Baca juga Riset UGM: Suhu Naik Satu Derajat, Pendapatan UMKM Anjlok
Kejanggalan pembuka tulisan ini pun terjawab sebagian. Bantuan tunai memindahkan anak ke ruang kelas, tetapi yang menentukan nilai adalah apa yang menunggu di dalam ruang kelas itu.















