Cekricek.id — Arah panahnya terbalik di tabel hasil.
Judulnya menanyakan pengaruh ekonomi kreatif terhadap keberlangsungan UMKM Sasirangan. Tabel regresinya justru menempatkan ekonomi kreatif sebagai variabel terikat.
Penelitiannya dikerjakan Hikmahwati dan Nurul Mukhlisah. Keduanya dosen Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin.
Tulisannya dimuat Jurnal Economia Volume 22 Nomor 2 edisi Juni 2026, halaman 296 sampai 307. Naskahnya disetujui 19 Desember 2025.
Lokasinya Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Waktunya Maret sampai September 2024.
Latar besarnya disebut di pembuka. Ekonomi kreatif dinyatakan sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi berkelanjutan di banyak negara.
Di Indonesia namanya diatur undang-undang. Istilah resminya ekonomi kreatif, bukan industri kreatif seperti sebutan di luar negeri.
Definisinya bertumpu pada manusia. Ekonomi kreatif disebut mengandalkan gagasan, pengetahuan, keterampilan, dan bakat, bukan tenaga kerja semata.
Daftar Isi
Tiga Puluh Dua Perajin
Kain sasirangan dipilih karena dua hal. Ia warisan budaya setempat sekaligus penopang ekonomi daerah.
Jumlah pelakunya tidak banyak. Dinas Koperasi dan Perindustrian Kota Banjarmasin mencatat 32 UMKM Sasirangan terdaftar.
Karena sedikit, seluruhnya dijadikan sampel. Teknik itu disebut sensus, bukan pengambilan sebagian.
Hambatannya sudah dikenal lama. Harga bahan baku tinggi, pasokannya terbatas, modal kurang, dan tenaga terampil sedikit.
Tiga hambatan lain menyusul. Teknologi produksi belum optimal, strategi pemasaran belum berkembang, dan sisi kelembagaannya lemah.
Kain sasirangan punya ciri yang tidak dimiliki daerah lain. Cara pewarnaan dan motifnya khas, dan hampir seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan mengandalkannya.
Penulisnya menyebut satu celah penelitian. Kajian ekonomi kreatif di Indonesia selama ini terpusat di Jawa dan Sumatera.
Celah kedua menyangkut metodenya. Penelitian terdahulu tentang sasirangan lebih banyak memakai pendekatan kualitatif, sedangkan penelitian ini kuantitatif.
Baca juga Kerajinan Karawo Gorontalo
Angka 32 itu berasal dari pendataan 2022. Sumbernya Dinas Koperasi dan Perindustrian Kota Banjarmasin, dikutip untuk kondisi 2023.
Penulisnya juga menyinggung daya tahan usaha mikro. Banyak usaha baru disebut sulit bertahan karena berbagai sebab yang tidak dirinci.
Dua Variabel, Dua Belas Indikator
Variabel bebasnya perkembangan ekonomi kreatif. Indikatornya tujuh butir, diambil dari Hartomo dan Cahyadin.
Ketujuhnya produksi, pasar dan pemasaran, manajemen dan keuangan. Menyusul kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, lingkungan, dan kemitraan usaha.
Variabel terikatnya keberlangsungan usaha. Indikatornya empat, diambil dari Yunus dan rekan.
Keempatnya tercapainya titik impas, perluasan usaha, dan pertumbuhan produksi. Yang keempat kecepatan konfirmasi pesanan pelanggan.
Kuesionernya memakai skala Likert lima tingkat. Jawabannya dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju, diisi manual di lokasi usaha.
Butirnya 38 pernyataan. Dua puluh lima untuk ekonomi kreatif dan tiga belas untuk keberlangsungan usaha.
Uji kualitas datanya dilaporkan lolos. Korelasi Pearson tiap butir disebut melampaui r tabel dengan signifikansi 0,000.
Uji asumsi klasiknya juga dilaporkan lolos. Sebaran titik pada uji heteroskedastisitas disebut acak di atas dan di bawah angka nol.
Uji normalitasnya memakai Kolmogorov-Smirnov. Nilai signifikansinya 0,200, di atas ambang 0,05, sehingga datanya dinyatakan normal.
Tiga Angka untuk Satu Sampel
Di sinilah angka mulai berselisih. Metode menyebut populasi dan sampel 32 perajin.
Bagian hasil menyebut angka lain. Uji validitas disebut dilakukan pada 41 responden, dengan r tabel 0,308 untuk N sama dengan 41.
Tabel deskriptifnya memuat angka ketiga. Di sana N untuk ekonomi kreatif 41, sedangkan N untuk keberlangsungan usaha 74.
Tiga angka itu tidak dipertemukan. Tidak ada keterangan mengapa satu penelitian punya 32, 41, dan 74 responden sekaligus.
Tabel yang sama juga salah judul. Kepalanya tertulis Probit Regression, padahal isinya statistik deskriptif berupa N, minimum, maksimum, dan rata-rata.
Analisis probit tidak muncul di bagian mana pun. Yang dipakai regresi linier sederhana.
Baca juga Riset UGM: Suhu Naik Satu Derajat, Pendapatan UMKM Anjlok
Variabel yang Bertukar Tempat
Selisih terbesar ada di keterangan bawah tabel. Tabel koefisien determinasi menulis prediktornya keberlangsungan usaha UMKM Sasirangan.
Baris berikutnya menulis variabel terikatnya perkembangan ekonomi kreatif. Tabel koefisien mengulang keterangan yang sama.
Artinya regresi yang dijalankan berlawanan dengan hipotesisnya. Yang diuji pengaruh keberlangsungan usaha terhadap ekonomi kreatif, bukan sebaliknya.
Badan tulisan sempat mengikuti tabel. Di sana R kuadrat 0,114 dibaca sebagai 11,4 persen ragam ekonomi kreatif yang diterangkan keberlangsungan usaha.
Abstrak dan simpulannya menyebut arah kebalikannya. Keduanya menyatakan ekonomi kreatif berpengaruh terhadap keberlangsungan UMKM Sasirangan.
Dua bacaan itu tidak bisa berlaku bersamaan. Tulisan ini tidak menandai selisihnya di bagian mana pun.
Keberlangsungan usaha sendiri didefinisikan penulisnya. Yang dimaksud kemampuan usaha bertahan dari waktu ke waktu sambil menjaga nilai organisasinya.
Ukuran pertamanya titik impas. Tercapainya titik itu disebut penanda awal kestabilan keuangan sebuah usaha.
Ukuran kedua perluasan pasar. Masuknya usaha ke pasar baru disebut tanda usaha itu sedang tumbuh.
Ukuran ketiga pertumbuhan produksi. Bertambahnya jumlah produk disebut menandakan permintaan naik dan usaha sanggup memenuhinya.
Ukuran keempat kecepatan menjawab pesanan. Respons cepat disebut menaikkan kepuasan pelanggan dan mendorong pembelian ulang.
Uji yang mustahil bermakna juga dijalankan. Regresi linier sederhana hanya punya satu variabel bebas, sedangkan multikolinearitas adalah gejala antarvariabel bebas.
Hasilnya pun sesuai dugaan. Nilai toleransi 1,000 dan VIF 1,000, angka yang memang otomatis muncul.
Kalimat penjelasnya menyebut nama variabel yang asing. Yang tertulis variabel pengetahuan manajemen, istilah yang tidak dipakai di bagian lain artikel ini.
Cronbach alpha juga dilaporkan satu angka. Nilai 0,689 disebut berlaku untuk kedua variabel sekaligus.
Rujukan metodenya memakai gaya yang berbeda. Satu kalimat mengutip angka dalam kurung siku, padahal seluruh artikel memakai nama dan tahun.
Penelitian terdahulu disebut punya keterbatasan yang sama. Kebanyakan membahas ekonomi kreatif dan keberlangsungan usaha sebagai dua hal terpisah.
Sebagian lagi menyorot sektor kreatif nontradisional. Akibatnya bukti yang langsung menghubungkan keduanya pada UMKM berbasis budaya masih sedikit.
Aspek yang jarang diperiksa juga disebutkan. Di antaranya dukungan kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, faktor lingkungan, dan kemitraan usaha.
Penulisnya menempatkan temuan ini sebagai bahan kebijakan. Sasarannya memperkuat daya tahan UMKM sambil menjaga identitas budaya setempat.
Baca juga Valuasi Koleksi Museum Indonesia
Angka yang Tetap Berdiri
Di luar itu, hasil ujinya tetap bisa dibaca. Nilai t hitung 2,237 dengan signifikansi 0,031, di bawah ambang 0,05.
Nilai t tabelnya 1,683. Koefisien regresinya 0,230 dengan konstanta 77,131.
Nilai Durbin-Watson 1,586. Angka itu berada di rentang yang dianggap bebas autokorelasi.
Rata-rata jawaban responden juga dilaporkan. Ekonomi kreatif 3,5 dan keberlangsungan usaha 3,8 pada skala satu sampai lima.
Sisanya 88,6 persen tidak diterangkan model ini. Penulisnya menyebut faktor lain seperti strategi pemasaran, akses modal, dan transformasi digital.
Hikmahwati dan Mukhlisah menutup dengan saran kebijakan. Pemerintah kota diminta memperbaiki fasilitas, akses perbankan, pembinaan sumber daya manusia, dan kemitraan usaha.
Bahan baku dibahas sebagai penentu pertama. Bahan yang mudah didapat dan terjangkau disebut menurunkan biaya produksi sekaligus membuka ruang mencoba produk baru.
Pemasaran dibahas sebagai penentu kedua. Media sosial dan lokapasar disebut membuka jangkauan konsumen di dalam maupun luar negeri.
Manajemen dan keuangan jadi penentu ketiga. Yang disebut bukti badan usaha, struktur organisasi sederhana, pembukuan sistematis, dan status bankable.
Kebijakan pemerintah daerah masuk penentu keempat. Bentuknya pelatihan keterampilan teknis, kredit mikro berbunga rendah, dana hibah, dan pembiayaan lentur.
Ada pula insentif yang disebut di luar uang. Pemerintah kota disebut melindungi kekayaan intelektual serta menyediakan pusat kreatif dan inkubator usaha.
Kondisi ekonomi daerah jadi penentu kelima. Kestabilannya disebut memengaruhi penyerapan tenaga kerja dan penerimaan pajak daerah.
Yang Tak Diukur
Simpulannya menambah satu klaim baru. Kreativitas produk disebut bisa menaikkan daya tarik konsumen dan niat beli.
Keduanya tidak pernah diukur. Kuesionernya hanya mengukur ekonomi kreatif dan keberlangsungan usaha.
Angka pembuka artikel juga tidak berpasangan. Sumbangan ekonomi kreatif disebut 7,8 persen terhadap PDB nasional.
Judul sumber yang dirujuk menyebut satuan lain. Entri daftar pustakanya berjudul sumbangan Rp1.300 triliun terhadap PDB, bukan persentase.
Riwayat naskahnya pun menyisakan pertanyaan. Naskah diterima redaksi 5 September 2024, sedangkan pengumpulan datanya disebut sampai September 2024.
Nomor DOI-nya tidak cocok dengan nomor terbitan. Alamatnya memuat volume 22 nomor 1, sedangkan artikelnya terbit di nomor 2.
Satu kalimat definisi juga janggal. Ekonomi kreatif disebut dapat membuka sampai delapan lapangan kerja lewat karya kreatif perorangan.
Tiga puluh dua perajin itu tetap ada di Banjarmasin. Yang belum jelas adalah ke arah mana pengaruhnya berjalan.















