Daftar Isi
Cekricek.id — Sebuah talam kuningan bergaris tengah sekitar lima puluh sentimeter dan sebuah pertanyaan teologi yang sengaja disembunyikan di dalam melodi berada di panggung yang sama. Yang satu benda, yang satu gagasan. Yang satu ditabuh dengan telapak tangan sampai berdengung, yang satu dilemparkan grup lawan dan harus dijawab sebelum lagunya habis. Keduanya sama-sama menuntut satu syarat yang tidak bisa ditawar: harus ada dua orang di atas panggung, bukan satu. Kesenian itu bernama salawat dulang, dan di Minangkabau ia hidup persis karena syarat tersebut.
Dua orang tadi menyandang nama peran yang ganjil untuk sepasang lelaki dewasa: induak dan anak, ibu dan anak. Arnailis dan Yunaidi dari Program Studi Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, membedah pasangan itu dalam The Role of Mothers and Children in the Art of Salawat Dulang by the Sinar Barapi Group yang terbit di jurnal Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Volume 27 Nomor 1 tahun 2025. Bahannya wawancara, dokumentasi, dan telaah pustaka atas satu grup yang sudah lama dikenal, Grup Sinar Barapi di Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar.
Peta pembagian kerjanya rapi dan berpasangan. Induak menjadi pendakwah, anak menjadi pendakwah pendamping. Induak menjadi penyanyi utama, anak menjadi penyanyi pengiring. Induak memukul dulang sebagai pemusik, anak memukul dulang sebagai pengiring. Induak menyusun teks, anak menyusun sambungan teksnya. Induak menggubah lagu, anak menggubah bagian lagu yang belum digarap. Lima fungsi, dua orang, satu pertunjukan. Yang menarik bukan pembagiannya, melainkan kenyataan bahwa tidak satu pun dari lima fungsi itu sanggup berjalan kalau salah seorang tidak hadir.
Sipatuang Sirah dan Pasangannya

Istilah induak dan anak, menurut penelusuran kedua peneliti, mula-mula diperkenalkan J. Tungku Limapuluh dan Katik Rajo ke dalam kesenian ini. Dalam keterangan mereka, induak juga disebut “sipatuang sirah” atau capung merah, penanda bagi sosok yang memimpin setiap pertunjukan. Induak-lah yang menyampaikan teks utama dan mengarahkan anak agar menyimak pertanyaan grup lawan. Pertanyaan itu tidak pernah diajukan terang-terangan. Ia diselipkan ke dalam irama lagu cancang, sehingga hampir mustahil ditangkap orang yang tidak mengenal kesenian tersebut, sebagaimana dicatat Firdaus pada 2013.
Baca juga Kritik Modernitas dalam Mata dan Manusia Laut
Namanya boleh tunggal, tetapi kedudukannya tidak sepenuhnya kaku. Kedua peneliti mencatat bahwa sebutan sipatuang sirah kadang juga dilekatkan pada anak, dan kelenturan itu memperlihatkan bahwa batas peran di dalam salawat dulang tidak setegas daftar fungsi di atas kertas. Yang tetap adalah arah komandonya. Firdaus, yang diwawancarai penulis di Padang Panjang pada 3 Juli 2024, menyandingkan induak dengan lokomotif: mesin di depan yang menarik rangkaian gerbong, sementara gerbongnya adalah anak. Itu satu-satunya perbandingan yang dipakai untuk menerangkan hubungan tersebut.
Dua narasumber lain memberi nama yang berbeda untuk kedudukan yang sama. Ilham Malik, yang diwawancarai di Pariangan pada 8 Juni 2024, menyebut induak sebagai sopir, yakni orang yang bertanggung jawab menyetir jalannya pertunjukan dari awal sampai akhir. Jhon Cakra, seniman salawat dulang yang diwawancarai di Padang Panjang pada 11 Juni 2024, menyebutnya pemimpin yang mengawasi seluruh aspek pertunjukan dari pembuka sampai penutup. Sopir dan pemimpin, lokomotif dan mesin; tiga kata berbeda untuk satu beban yang sama.
Satu Menabuh, Satu Menyambut
Alat musiknya cuma satu jenis dan dipegang berdua. Dulang adalah talam besar dari campuran tembaga dan kuningan yang, kalau dipukul, mengeluarkan bunyi berdengung. Wilma Sriwulan mencatat ukurannya pada 2021: garis tengah kira-kira 50 sentimeter, bidang permukaan 43,5 sentimeter, kedalaman resonator 3 sentimeter, dan permukaan bingkai atas sekitar 3 sentimeter juga. Angka-angka itu kecil, tetapi menentukan warna bunyi yang keluar. Induak menabuh sebagai pemusik utama; anak menabuh untuk mengiringi. Alatnya sama, tugasnya berlainan.
Syarat kemampuannya pun berpasangan. Ada syarat dasar yang berlaku bagi keduanya: Saparudin Sutan Gindo, dalam wawancara dengan Wilma Sriwulan pada 17 Maret 1998, menyebut pelaku salawat dulang harus bersuara bagus serta berbakat dan terampil menyanyi. Di atas syarat itu, tuntutan bagi induak ditambah pengetahuan agama yang dalam, sebab dialah yang bertanggung jawab atas ajaran yang disampaikan dan atas jawaban bagi pertanyaan lawan. Bagi anak, tuntutannya digeser ke arah lain. Ia harus menguasai unsur musikal seperti nada, irama, tempo, dinamika, dan harmoni, sebab tanpa itu ia mustahil mengimbangi ketukan induak. Yang satu dituntut memimpin bunyi, yang satu dituntut menempel pada bunyi tersebut tanpa jeda. Anak juga harus hafal lagu sebanyak-banyaknya, karena induak bisa melempar lagu baru tanpa kesepakatan lebih dulu dan penampilan akan pincang bila sambutannya terlambat.
Baca juga Rokok, Cermin, dan Pil dalam Animasi Opal
Repertoarnya jauh lebih longgar daripada dugaan orang atas kesenian bernapas religi. Menurut Jhon Cakra, lagu yang kerap dibawakan Grup Sinar Barapi meliputi kasidah, lagu pop, lagu Minang, sampai dangdut. Liriknya sering diselipi kata-kata jenaka, dan frasa lagunya digubah dengan bahasa lucu yang memancing tawa penonton. Teksnya bahkan bisa disisipi potongan berbahasa Minang, Jawa, India, dan Cina. Bagi Jhon Cakra, justru gabungan itulah yang membuat salawat dulang menjadi salah satu pertunjukan tradisi paling lengkap: menghibur sekaligus menyampaikan ajaran Islam lewat lagu lama dan lagu yang sedang digemari.
Khotbah yang Panjang, Napas yang Pendek
Urutan pertunjukannya tidak boleh diacak. Empat bagian dijalankan berurutan: lagu khotbah yang memuat imbauan dan lagu khutbahnya, lagu batang beserta imbauannya, lagu yamolai yang terbagi dua, lalu lagu cancang yang berisi pengajuan pertanyaan, jawaban, hiburan, dan bagian penutup. Di bagian cancang itulah pertarungan sesungguhnya berlangsung. Grup lawan menyisipkan pertanyaan, dan mutu jawaban menjadi tolok ukur profesionalitas pelakunya. Kesalahan menangkap pertanyaan berakibat fatal, dan tugas menangkapnya justru ada di tangan anak, bukan induak. Anak menyimak, lalu meneruskannya kepada induak yang harus menjawab. Satu telinga dan satu mulut, dibagi ke dua tubuh.
Isi yang dinyanyikan bukan hiburan belaka. Tema yang dibawakan, sebagaimana dicatat Firdaus, bergerak dari kaji tubuh dan kaji jiwa, kalimah nan ampek, konsep La Ilaha Ilallah, kaji zikir, wahdatul wujud, martabat nan tujuah, insan kamil, tauhid, iman, Islam, sampai makna makrifat. Ditambah kisah Isra Mikraj, riwayat Nabi Ibrahim, kelahiran Nabi Muhammad, dan cerita para sahabat. Semuanya bermuara pada ajaran tasawuf. Pelakunya, menurut catatan Wilma Sriwulan pada 1999, umumnya orang yang menekuni ajaran Tarekat Syatariyah, dan bahasa pengantarnya bahasa Minangkabau.
Baca juga Ketoprak Laras Budoyo antara Gangsaran dan DJ
Karena teksnya panjang, tubuh manusia menjadi batas yang nyata. Ilham Malik menjelaskan bahwa anak melengkapi teks yang dinyanyikan induak justru karena teks salawat dulang terlalu panjang untuk satu napas, sehingga nyanyiannya harus bergantian. Di sisi penyusunan, bebannya juga dibagi. Induak menggarap teks dan menyiapkan jawaban dalam waktu sangat sempit, kira-kira satu jam sebelum penampilan lawan usai, dan hasilnya harus pas dengan irama lagu. Anak menyusun potongan teks pendukung dan membantu merumuskan jawaban atas pertanyaan tentang ajaran Tarekat Syatariyah.
Adat dan Syarak, Aua dan Tabiang
Untuk membaca hubungan itu, kedua peneliti meminjam teori fungsionalisme struktural. Emile Durkheim, sebagaimana dikutip Wallace, memandang masyarakat sebagai sistem yang seluruh bagiannya saling bergantung untuk menjaga keseimbangan; George Ritzer menegaskan bahwa tiap struktur harus menjalankan fungsi bagi bagian yang lain. Diterapkan pada panggung salawat dulang, rumusnya menjadi sederhana. Induak tidak bisa tampil tanpa anak, dan anak tidak bisa tampil tanpa induak. Bukan karena aturan panggung, melainkan karena tak satu pun dari lima fungsi tadi utuh kalau dikerjakan sendirian.
Kesimpulan itu ditutup dengan pepatah Minangkabau yang juga muncul di abstrak artikelnya, “simuncak mati tarambau kaladang, mambao ladiang lukolah pao, kaduonyo adaik jo sarak di Minangkabau, sarupo aua jo tabiang, sanda manyanda kaduonyo”. Maknanya, adat dan syarak di Minangkabau seumpama bambu dan tebing yang saling menyandarkan diri. Pepatah itu dipakai untuk menerangkan hubungan induak dan anak. Yang menopang dan yang ditopang tidak pernah benar-benar bisa ditentukan mana yang lebih penting.
Jangkauan kajiannya sendiri sempit, dan penulisnya menyatakannya sejak judul. Yang diperiksa hanya satu grup, di satu nagari, di satu kabupaten, lewat wawancara dan dokumentasi tanpa perbandingan dengan grup lain. Padahal di Minangkabau ada belasan grup lain, dari Kilek Barapi, Langkisau, Arjuna Minang, sampai Topan Singgalang. Apa yang berlaku di Pariangan belum tentu berlaku persis di tempat lain, dan artikelnya tidak mengklaim demikian. Pembagian lima fungsi itu adalah potret satu grup, bukan ukuran baku seluruh salawat dulang Minangkabau. Sinar Barapi dipilih karena paling ramai diundang, termasuk sampai ke Belanda, Belgia, dan Jepang.
Maka soalnya tidak selesai pada siapa yang memimpin. Induak memegang kendali struktur dan menanggung mutu ajaran yang disampaikan; anak memegang telinga, napas cadangan, dan ketukan yang menahan lagu agar tidak pincang. Yang satu di depan, yang satu menyangga dari belakang. Sebutan sipatuang sirah pun, ketika sesekali berpindah ke anak, memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang siapa yang lebih penting memang tidak pernah dijawab di panggung itu. Bambu dan tebing tidak pernah dipertandingkan.















