Cekricek.id — Seperangkat gamelan Jawa berlaras slendro dan pelog dan sebuah papan ketik organ elektrik dipakai dalam pertunjukan yang sama, di panggung yang sama, oleh kelompok yang sama di Desa Wedarijaksa, Kabupaten Pati. Yang satu berumur setua tradisi karawitan Jawa. Yang lain baru masuk beberapa tahun terakhir, bersama beduk, simbal, snare, dan musik DJ. Keduanya kini dianggap milik pertunjukan ketoprak yang sama.
Kelompok itu bernama Ketoprak Laras Budoyo. Didirikan pada 1990 oleh Alman Eko Darmo, lalu dikembangkan Nirwan Basuki, kelompok ini tumbuh sampai beranggota sekitar 80 orang. Abit Afandi Putra, Bayu Enggar Raditya, Didik Ari Setyawan, Dwi Wahyu Nugroho, dan Mahardika Dwi Saputra dari Institut Seni Indonesia Surakarta menelusuri perubahan musiknya dalam Perkembangan Garap Karawitan Ketoprak Laras Budoyo Wedarijaksa Kabupaten Pati, terbit di Jurnal Musik Etnik Vol. 5 No. 2 tahun 2025.
Kata kunci laporan itu satu: “garap”. Mengacu pada Rahayu Supanggah, garap tidak berhenti pada teknik menabuh atau menyusun bunyi, melainkan mencakup keseluruhan perilaku dalam menyajikan karawitan, termasuk kemampuan pengrawit menafsirkan materi, membaca suasana, dan menimbang kebutuhan dramatik satu adegan. Garap adalah tempat tradisi dan pembaruan bertemu atau bertabrakan, dan pada Laras Budoyo keduanya terjadi sekaligus.
Ketoprak sendiri berdiri di atas empat kaki. Yoeti menyebut kesenian ini terdiri atas seni musik, seni teater, seni tari, dan seni rupa yang saling melengkapi, sementara Fujiastuti menempatkannya sebagai drama berbahasa Jawa yang mengangkat kisah keseharian, legenda, dan cerita rakyat dengan iringan gamelan. Di antara keempat kaki itu, musiklah yang paling sering dianggap sekadar pengiring, padahal justru musik yang mengatur denyut dramatiknya; Soeroso menyebut karawitan sebagai ungkapan jiwa yang disusun ritmis lewat nada-nada slendro dan pelog, dan Martopangrawit memperluasnya ke seluruh bentuk seni suara vokal maupun instrumen yang dibangun dari kedua laras itu.
Daftar Isi
Gangsaran 2015 dan Budhalan Palapa 2024

Pada periode pertama, pertunjukan dibuka dengan Gangsaran Pelog Pathet Nem, dimainkan sesaat setelah petasan panggung dinyalakan. Pola tabuhannya repetitif, tegas, berenergi tinggi. Adegan perang memakai lancaran Serayu dengan ritme lebih cepat dan cengkok balungan yang mengalir. Ketika perang berubah menjadi perang keroyok, iringan kembali ke Gangsaran karena karakternya lebih agresif dan lebih langsung. Peralihan antaradegan diserahkan kepada Srepeg Mataram yang luwes. Pada periode kedua, susunannya bergeser. Pambuko disajikan lebih pendek tetapi lebih kaya warna, dan letaknya berpindah ke sesudah tari Gambyong. Adegan perang tidak lagi bertumpu pada Gangsaran melainkan pada Budhalan Palapa. Setiap peralihan di dalam adegan perang dekor memakai garap balungan ngetrack sehingga alur musikalnya terasa lebih tegang. Srepeg Mataram tetap dipertahankan untuk kagetan antaradegan, satu-satunya yang tidak diganggu.
Baca juga Delapan Puluh Tuturan dari Tiga Video English Speeches
Yang sama di antara keduanya adalah kerangka pertunjukannya. Bonangan tetap membuka sebagai salam kepada penonton. Uyon-uyon tetap mengisi jeda dan membentuk suasana sebelum adegan. Jejer keraton tetap menjadi tempat konflik utama dibangun, gandrungan tetap diiringi tembang macapat yang lirih, dagelan tetap menjadi wadah humor sekaligus kritik sosial. Sepuluh bagian itu tidak berubah urutannya sepanjang dua periode. Yang berbeda ada pada isi tiap bagian. Adegan Taman Sari pada periode kedua diisi lagu-lagu populer dalam tradisi ketoprak seperti Lali Janjine dan Ninggal Katresnan. Dagelan memakai Srampat, dan sesudah dagelan hingga menjelang penutup cerita iringan beralih ke sampak manyura. Rangka pertunjukan dipertahankan; perabot musikal di dalamnya diganti satu per satu tanpa mengubah letak dindingnya.
Cara kedua periode itu dibandingkan pun bertumpu pada dua sumber. Sumber pertama rekaman pertunjukan Laras Budoyo dari berbagai masa, ditonton berulang untuk melacak struktur garap, pola ritmis, pergantian adegan, dan peran instrumen kunci. Sumber kedua wawancara dengan pengrawit, pemain, dalang, dan pengelola kelompok. Yang pertama menunjukkan apa yang berubah pada bunyinya; yang kedua menjelaskan mengapa perubahan itu dipilih. Keduanya diperiksa berulang agar konsistensi dan pergeseran praktik musikal kelompok itu sama-sama terlihat.
Pak Tomo dan Wagiyono
Dua nama menandai dua periode itu. Penggarap pada periode pertama adalah Pak Tomo. Penggarap pada periode kedua adalah Wagiyono, pengendang kelompok tersebut, yang berusia 50 tahun ketika diwawancarai peneliti pada 5 April 2025. Keduanya bekerja pada kelompok yang sama, dengan penonton yang kurang lebih sama, dan menghasilkan bunyi yang jelas berbeda. Keadaan kerjanya juga berbeda. Pada masa Pak Tomo, rujukan tertulis maupun dokumentasi tentang iringan ketoprak belum sebanyak sekarang. Penggarapan bertumpu pada pengetahuan empirik dan pengalaman menonton pertunjukan ketoprak yang lazim di wilayah Kabupaten Pati. Tim penulis memberi catatan penting di sini: keseragaman garap pada masa itu bukan tanda kreativitas yang terbatas, melainkan akibat konteks rujukan yang memang bersandar pada praktik lapangan.
Baca juga Naskah 1789 dan Cara Jawa Menerima Tamu
Wagiyono bekerja dengan bekal yang lain. Menurut catatan wawancara di dalam laporan itu, ia memilih menggarap sendiri karena ingin menghadirkan pembaruan yang sekaligus menaikkan daya tarik pertunjukan di tengah selera penonton yang berubah. Latar belakangnya di dunia wayang kulit dan campur sari ikut menentukan arah pilihannya, dan dari sanalah pola garap wayang masuk ke bagian pembuka serta budhalan. Meski begitu, batas yang ia jaga jelas. Ladrang, lancaran, dan gangsaran tetap dipertahankan sebagai identitas musikal ketoprak klasik. Pembaruan diletakkan di atas fondasi itu, bukan menggantikannya. Tim peneliti menyimpulkan seluruh inovasi periode kedua tetap disusun dengan mempertahankan akar musikal tradisi Jawa, meski arah estetiknya bergerak tajam ke arah hiburan kontemporer.
Kenthongan dan Kendang Jaipong
Sarana garap periode pertama sepenuhnya gamelan Jawa, tanpa satu pun instrumen dari luar. Kendang mengontrol ritme, intensitas, dan perubahan suasana adegan. Demung menjaga kestabilan balungan. Satu alat tambahan dipakai bukan untuk bunyi melainkan untuk aba-aba, yaitu kenthongan atau keprak, penanda internal yang mengatur pergantian gending, memulai atau menghentikan iringan, dan memberi sinyal transisi adegan kepada seluruh pengrawit. Sarana garap periode kedua menambah lapisan baru di atasnya. Beduk, simbal, snare, keyboard, dan organ masuk ke dalam ansambel. Jalinan bonang dengan balungan dirancang lebih rumit. Pada adegan Taman Sari, penggarap memasukkan musik DJ, lagu dangdut, organ, dan kendang jaipong, sehingga suasananya menyerupai pertunjukan dangdut pantura. Tim penulis menyebut sentuhan itu membuat ketoprak tampil lebih hidup tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Baca juga Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria
Menariknya, kedua kelompok alat itu mengerjakan pekerjaan yang serupa. Keprak mengatur tensi lewat aba-aba tanpa nada; snare dan simbal mengatur tensi lewat aksen. Kendang tradisional menuntun perubahan suasana; kendang jaipong dan ketukan DJ menuntun perubahan tempo pada bagian selingan. Yang bergeser bukan fungsinya, melainkan perbendaharaan bunyi yang dipakai untuk memenuhi fungsi itu.
Pakem yang Dijaga dan Selera yang Berubah
Dua tarikan itu berjalan bersamaan di panggung Wedarijaksa. Satu tarikan datang dari pakem: struktur sepuluh bagian, laras slendro dan pelog, ladrang dan lancaran, tari Gambyong Pareanom yang dipilih karena geraknya luwes dan cocok dengan karakter ketoprak yang meriah namun tetap tradisional. Tarikan lain datang dari penonton yang terbiasa pada bunyi masa kini dan menuntut pertunjukan yang tidak terasa lamban. Keduanya bekerja pada penonton yang sama pula. Bagi penonton, karawitan menerjemahkan hal-hal yang tidak diucapkan dalam dialog: pergantian suasana, naiknya ketegangan, jeda sebelum sesuatu terjadi. Gangsaran melakukannya dengan tabuhan repetitif yang menekan, ketukan dangdut pantura melakukannya dengan tempo yang mengajak. Yang satu menuntut penonton mengikuti pertunjukan; yang lain menyesuaikan pertunjukan dengan kebiasaan mendengar penontonnya. Laporan itu mencatat keduanya berjalan di panggung yang sama tanpa saling meniadakan.
Laporan itu tidak menempatkan salah satunya sebagai pemenang. Yang dicatatnya adalah bahwa kelompok ini menjaga identitas tradisional sambil menyesuaikan bentuk musikalnya dengan tuntutan pertunjukan masa kini. Empat unsur pembentuk garap dipakai sebagai alat baca: materi garap, penggarap, sarana garap, dan penentu garap. Perubahan besar terjadi pada tiga unsur pertama, sementara kerangka pertunjukannya nyaris tidak bergerak.
Batas kajiannya perlu disebut. Yang diteliti satu kelompok di satu desa, dengan data dari rekaman pertunjukan, pustaka, dan wawancara dua narasumber pada hari yang sama, 5 April 2025. Periodisasinya pun tidak konsisten di dalam artikel: abstrak menyebut 2017–2019 dan 2019–2024, badan tulisan menyebut 2015–2017 dan 2017–2024, kesimpulan menyebut 2015–2024 dengan periode kedua sampai 2025. Penulisnya sendiri menyatakan karya itu masih jauh dari sempurna.
Karena itu temuan ini adalah potret satu kelompok, bukan peta ketoprak Jawa Tengah. Nirwan Basuki, pemimpin Laras Budoyo yang berusia 46 tahun saat diwawancarai, sudah menjaga kelompok ini tetap produktif sejak dikembangkannya pada 1990-an. Bunyi yang keluar dari panggungnya sekarang memuat gangsaran dan ketukan DJ dalam satu malam, dan keduanya sama-sama ditunggu penonton yang datang.














