Daftar Isi
Cekricek.id — Lambang kilometer dan singkatan otw berdiri di kolom komentar yang sama, berdempetan, tanpa ada yang merasa perlu menjelaskannya. Yang satu simbol baku yang ditetapkan lewat Sistem Internasional dan diajarkan sejak sekolah dasar. Yang lain kependekan bahasa Inggris yang dipungut pengguna media sosial dan tidak pernah diresmikan siapa pun. Keduanya sampai ke pembaca dengan kecepatan yang sama, dan keduanya, menurut kajian morfologi, lahir dari proses yang menyandang satu nama: abreviasi. Bedanya hanya terletak pada siapa yang menyusunnya dan siapa yang menyepakatinya.
Pertemuan itu yang dihimpun Nurul Maghfirah dan Siti Ainim Liusti dari Universitas Negeri Padang dalam artikel Analisis Bentuk Abreviasi dalam Kolom Komentar Akun TikTok @emilmario: Kajian Morfologi, dimuat jurnal Persona Vol. 5 No. 2 tahun 2026. Keduanya menyisir komentar pengguna di satu akun TikTok sepanjang 2024, mencatat setiap bentuk kata yang dipendekkan, lalu memilahnya menurut klasifikasi Harimurti Kridalaksana yang membagi abreviasi menjadi lima jenis: singkatan, pemenggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.
Alat kerjanya tidak istimewa. Peneliti membaca sendiri kolom komentar itu, mencatat temuannya, dan mendokumentasikan tangkapan layar lewat sebuah iPhone 12 mini. Hasil akhirnya 110 data. Singkatan mendominasi dengan 82 data, disusul pemenggalan 18 data, akronim 5 data, lalu kontraksi dan lambang huruf yang masing-masing hanya 3 data. Sebaran itu berat sebelah, dan kemiringannya sendiri yang kemudian menjadi temuan utama laporan tersebut. Empat dari lima jenis abreviasi terkumpul hanya di 28 data, sementara satu jenis menyapu sisanya.
Latar teorinya berasal dari dua arah yang jarang dipertemukan. Dari sisi bahasa, Kridalaksana mendefinisikan slang sebagai kosakata tidak baku yang dipakai secara informal dan umumnya terbatas pada kelompok atau periode tertentu. Dari sisi medianya, danah boyd pada 2014 menyebut media sosial bukan sekadar saluran komunikasi, melainkan ruang sosial tempat orang bergaul, mencari informasi, dan menunjukkan siapa dirinya. Kolom komentar berdiri di persilangan keduanya: ruang sosial yang bahannya kata.
Huruf Awal yang Dieja Satu-Satu

Jenis yang paling banyak dipakai justru yang paling sederhana pembentukannya. Singkatan dibuat dengan mengambil huruf awal setiap unsur sebuah frasa, lalu membacanya huruf demi huruf. Bentuk “otw” berasal dari frasa Inggris on the way, disusun dari huruf o, t, dan w, dan dilafalkan o-te-we, bukan dibaca sebagai satu kata utuh. Ia muncul di komentar sesingkat “otw coba”, dua kata yang menyampaikan seluruh maksud tanpa satu pun kalimat lengkap. Bentuk itu sudah demikian lazim sehingga dipakai juga di luar media sosial, dalam percakapan lisan maupun pesan singkat, oleh orang yang belum tentu tahu kepanjangannya.
Baca juga Mata Biru dan Merah di Poster Wayang Golek
Bentuk kedua yang dibedah datang dari perut aplikasinya sendiri. Singkatan “fyp” berasal dari For You Page, halaman rekomendasi TikTok yang menyusun tontonan berdasarkan kebiasaan penggunanya, dan dilafalkan ef-ye-pe. Dalam komentar “mood tergantung fyp”, tiga huruf itu memikul seluruh gagasan tentang algoritma tanpa perlu menyebutnya. Maghfirah dan Liusti mencatat kedua bentuk itu memperlihatkan betapa kuat pengaruh bahasa Inggris dalam ragam bahasa media sosial Indonesia. Keduanya juga menempatkan dua bentuk itu sebagai singkatan auditif, yakni pemendekan yang tetap dieja per huruf ketika diucapkan dan tidak pernah berubah menjadi kata.
Suku Kata yang Dilebur Jadi Kata Baru
Akronim bekerja dengan bahan yang mirip tetapi hasil yang berbeda. Kalau singkatan hanya mengambil huruf pertama dan menyerahkan pelafalannya kepada nama huruf, akronim mengambil suku kata dan menuntut hasilnya dibaca sebagai kata utuh. Bentuk “gercep” menahan unsur ger dari gerak dan cep dari cepat. Bentuk “baper” menahan unsur ba dari bawa dan per dari perasaan. Keduanya lahir sebagai satuan leksikal baru yang tidak lagi terasa sebagai potongan, dan keduanya bisa diberi imbuhan atau dipakai sebagai kata dasar tanpa terdengar janggal oleh penuturnya.
Baca juga Klenteng Tay Kak Sie Dirawat Uang Umat
Perbedaan itu berbanding lurus dengan jumlahnya. Singkatan ditemukan 82 kali, akronim hanya 5 kali dalam keseluruhan data. Menyusun singkatan tidak menuntut apa-apa selain memenggal huruf pertama, sementara menyusun akronim menuntut hasilnya enak diucapkan dan gampang diingat. Yang pertama bisa dibuat siapa saja di kolom komentar mana saja; yang kedua biasanya sudah lebih dulu beredar luas dan diterima bersama sebelum dipakai kembali oleh pengguna berikutnya. Selisih 77 data di antara keduanya, dalam pembacaan kedua peneliti, adalah selisih antara pemendekan yang murah dan pemendekan yang butuh kesepakatan.
Ekor Kata yang Dipotong Penggunanya
Pemenggalan menempati posisi kedua dengan 18 data. Prosesnya membuang sebagian leksem, umumnya bagian belakang, dan menyisakan penggal yang masih mudah dikenali. Bentuk “bro” berasal dari kata Inggris brother dan dipakai sebagai sapaan akrab kepada teman atau kepada laki-laki yang belum dikenal, seperti dalam komentar “bro sedang memasak”. Contoh kedua yang dicatat kedua peneliti berasal dari kata umpatan yang dipotong ekornya, dan tidak perlu ditulis ulang di sini untuk memahami mekanismenya. Prosesnya sama persis dengan yang berlaku pada bro, hanya bahannya yang berbeda, dan kehadirannya di kolom komentar memperlihatkan pemendekan bekerja pada seluruh lapisan kosakata, termasuk yang paling kasar.
Kontraksi berdiri sangat dekat dengan pemenggalan, tetapi memangkas dari arah yang berlawanan. Bentuk “gak” berasal dari enggak dengan membuang suku kata awal. Bentuk “udah” berasal dari sudah dengan membuang fonem pertama. Bentuk “emang” berasal dari memang dengan cara yang sama. Ketiganya sudah sedemikian lazim dalam percakapan lisan sehari-hari sehingga penggunanya kemungkinan besar tidak lagi merasa sedang memendekkan apa pun. Pemenggalan memotong ekor kata, kontraksi memotong kepalanya, dan keduanya sama-sama menyisakan bentuk yang tetap dikenali tanpa perlu dipulihkan lebih dulu ke bentuk asalnya.
Lambang yang Tidak Diciptakan Penggunanya
Kategori terakhir keluar dari pola. Empat jenis sebelumnya dibentuk dengan mengambil sebagian huruf dari kata asalnya, sedangkan lambang huruf tidak dibentuk oleh siapa pun yang menuliskannya. Ia simbol baku yang sudah lebih dulu disepakati untuk mewakili satuan atau konsep tertentu. Dalam data penelitian, bentuk cm dan km muncul sebagai lambang sentimeter dan kilometer di sebuah komentar tentang jarak, dan keduanya dibaca kedua peneliti sebagai satuan ukuran menurut Sistem Internasional. Huruf-hurufnya tidak dipilih oleh penulis komentar, melainkan diwarisi utuh dari kesepakatan yang jauh lebih tua daripada aplikasinya.
Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan
Satu lagi datang dari dunia perangkat. Bentuk TB dalam komentar tentang telepon genggam berkapasitas besar merupakan lambang terabyte, dengan huruf T mewakili tera dan huruf B mewakili byte. Ia dipakai persis seperti km dipakai, yaitu untuk menyampaikan besaran dalam ruang sesempit mungkin, dan sama sekali tidak terasa asing meski berdiri di antara kalimat yang seluruhnya tidak baku. Bedanya dengan otw atau gercep terletak pada asal-usulnya: yang satu diwarisi dari konvensi ilmiah dan teknis, yang lain diproduksi sendiri oleh penuturnya di ruang percakapan.
Dari dua asal-usul yang berbeda itu, keduanya bertemu pada kebutuhan yang sama. Maghfirah dan Liusti menutup laporannya dengan catatan bahwa temuan mereka “menunjukkan bahwa pengguna TikTok cenderung memanfaatkan bentuk pemendekan yang paling sederhana dan ekonomis” untuk menyampaikan pesan dalam komunikasi digital yang menuntut kecepatan dan kepraktisan. Klasifikasi Kridalaksana yang semula disusun untuk pemakaian bahasa baku, tulis keduanya, ternyata tetap bisa dipasang pada ragam bahasa yang jauh dari baku. Pemendekan, dengan kata lain, bukan gejala yang berhenti pada kamus; ia proses produktif yang terus bekerja mengikuti kebutuhan penuturnya di ruang mana pun mereka berbicara.
Keterbatasannya mereka sebut sendiri dan tidak sedikit. Data hanya diambil dari satu akun TikTok sepanjang satu tahun, sehingga sebaran 110 data itu tidak mewakili seluruh pemakaian abreviasi di platform tersebut, apalagi di seluruh media sosial. Akun yang berbeda menarik penonton yang berbeda, dan penonton yang berbeda membawa kosakata yang berbeda pula. Kajiannya juga berhenti pada proses pembentukan kata dan belum menyentuh fungsi pragmatik, makna kontekstual, maupun latar sosiolinguistik yang membuat seseorang memilih memendekkan kata tertentu dan membiarkan kata lain utuh.
Yang tersisa adalah dua cara memendekkan yang sama-sama sah dan sama-sama terbatas. Yang baku bertahan karena disepakati lembaga dan diajarkan di ruang kelas, tetapi jumlahnya di kolom komentar itu hanya tiga. Yang gaul menang telak dalam hitungan, tetapi umurnya bergantung pada berapa lama penuturnya masih menganggapnya berguna. Di satu komentar tentang jarak, keduanya bahkan berdiri dalam satu kalimat yang sama, ditulis oleh orang yang sama, dan tidak ada yang berhenti untuk memilih di antara keduanya.















