Tiga Kata Arab untuk Cinta di Dalam Al-Quran

A A

Ilustrasi halaman naskah berhuruf Arab dengan kaligrafi dan cap merah. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Benih yang Diam, Tindakan yang Tampak
  2. Kamus Arab Klasik dan Susunan Kata dalam Ayat
  3. Cinta yang Naik kepada Tuhan, Cinta yang Melebar ke Sesama
  4. Yang Terbaca di Meja Perpustakaan, Yang Belum Diuji di Luar

Cekricek.id — Sebutir biji tanaman dan sepasang suami istri yang baru menikah tampak tidak punya urusan satu sama lain, sampai keduanya muncul di belakang dua kata Arab yang di dalam terjemahan bahasa Indonesia sama-sama menyusut menjadi satu kata: cinta. Biji itu ada di akar kata hubb, dan menandai potensi yang belum tumbuh. Pasangan itu ada di ayat tempat kata mawaddah dipakai, dan menandai kasih sayang yang sudah menjelma perbuatan. Keduanya bukan sinonim. Yang satu menandai apa yang masih mungkin tumbuh, yang lain menandai apa yang sudah terjadi.

Perbedaan itulah yang dikejar Sitti Fatima, Hasnawiah, dan Baso Pallawagau dari Program Magister Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dalam Struktur Hierarkis dan Multidimensional Konsep Cinta dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Leksikal dan Kontekstual di Jurnal Ilmu Budaya Volume X Nomor 1 tahun 2026, mulai halaman 151. Ketiganya menolak anggapan bahwa cinta di dalam Al-Quran bisa diwakili satu padanan tunggal, dan menyebut penyederhanaan itu terjadi justru pada tahap penerjemahan ke bahasa Indonesia. Bahasa Al-Quran, tulis ketiganya, padat makna dan bekerja di dalam jaringan makna yang rumit, sehingga satu padanan selalu kurang.

Kajian tentang cinta di dalam Al-Quran sudah cukup ramai, tetapi menurut ketiganya masih berkutat pada pendekatan tematik dan deskriptif. Asep Sulhadi dan Zakaria Firdaus memetakan konsep cinta lewat tafsir tematik umum, sementara Abdul Aziz membandingkan tafsir al-Misbah dengan tafsir al-Azhar. Keduanya kuat di sisi teologis, tulis Sitti Fatima dan rekan-rekannya, tetapi belum turun ke medan makna setiap kata. Kebaruan yang mereka klaim justru di situ: menyusun ulang hubb, wudd, dan rahmah sebagai satu hierarki, bukan sebagai tiga istilah yang berdiri sendiri-sendiri.

Benih yang Diam, Tindakan yang Tampak

Ilustrasi benih yang mulai bertunas di atas tanah gembur.
Ilustrasi benih yang mulai bertunas di atas tanah gembur. [Foto: Pexels]

Hubb berasal dari akar habba-yuhibbu-hubban. Di dalam kamus Mu’jam al-Maqayis al-Lughah, kata itu membawa tiga arti sekaligus: sesuatu yang melekat dan tetap, biji dari sesuatu yang berbiji, serta sifat keterbatasan. Arti kedua yang paling banyak dipakai Sitti Fatima. Cinta dalam pengertian hubb adalah benih, yaitu potensi murni yang belum tumbuh dan bisa tumbuh ke mana saja tergantung diarahkan ke mana. Secara kontekstual, kata itu dipakai untuk cinta kepada Allah, kepada sesama manusia, dan juga kepada harta benda.

Justru karena bisa diarahkan ke mana saja, kata itu perlu dibatasi. Sitti Fatima, Hasnawiah, dan Baso Pallawagau menunjuk Surah Al-Baqarah ayat 165, tempat bentuk masdar hubban didahului kata asyaddu, bentuk perbandingan yang berarti lebih sangat. Susunan itu, menurut ketiganya, menegaskan intensitas paling tinggi secara kebahasaan: puncak cinta hanya boleh diarahkan kepada Allah, dan tidak boleh tumpang tindih dengan cinta yang duniawi. Batas itu ditarik oleh tata bahasanya sendiri, bukan hanya oleh tafsirnya. Bentuk masdar yang dipakai di ayat itu, menurut mereka, memang berfungsi menekankan kadar, bukan sekadar menyebut perbuatan mencintai.

Baca juga Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman

Wudd berjalan di jalur lain. Akarnya wadda-yawaddu-wud, dan turunannya yang paling dikenal adalah mawaddah, yang berarti mencintai dan menginginkan secara ikhlas. Kalau hubb adalah potensi yang diam di dalam, tulis tim itu, wudd adalah cinta yang sudah keluar menjadi perbuatan: kasih sayang yang lembut, keharmonisan yang bisa dilihat orang lain, energi pengikat pada awal sebuah hubungan. Istilah ini muncul dalam relasi suami istri, dan juga dalam salah satu nama Allah, Al-Wadud, yang mereka baca sebagai cinta yang aktif dan responsif.

Kamus Arab Klasik dan Susunan Kata dalam Ayat

Cara membacanya diambil dari Toshihiko Izutsu, yang merumuskan semantik Al-Quran sebagai dua langkah: mencari makna dasar sebuah kata di kamus, lalu mencari makna relasionalnya ketika kata itu bertemu kata lain di dalam ayat. Bagi Izutsu, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pintu untuk membaca pandangan dunia yang dibangun di baliknya. Di atas dua lapis itu, Sitti Fatima dan rekan-rekannya menambahkan lapis ketiga yang lebih abstrak, yaitu makna konseptual, tempat kata-kata berhenti berdiri sendiri dan menjadi bagian dari satu sistem gagasan.

Contoh kerja lapis kedua ada pada Surah Ar-Rum ayat 21. Di sana kata mawaddatan berdiri sebagai objek dari kata kerja yang berarti Dia menjadikan. Sitti Fatima, Hasnawiah, dan Baso Pallawagau menarik kesimpulan gramatikal dari posisi itu: mawaddah bukan perasaan pasif yang datang sendiri, melainkan sesuatu yang dijadikan, sebuah energi aktif yang memang diadakan supaya keharmonisan tampak secara nyata. Ayat yang sama, dibaca tanpa memperhatikan posisi kata itu, akan terdengar seperti sekadar melukiskan perasaan. Perbedaan semacam itu, tulis ketiganya, hanya kelihatan bila makna dasar dan makna relasional dibaca bersama-sama.

Istilah ketiga, rahmah, berakar dari rahima dan melahirkan banyak turunan seperti rahman, rahim, dan arham. Karena itu, tulis ketiganya, kasih sayang bukan hanya sifat Allah, melainkan juga nilai moral yang wajib diwujudkan manusia. Rahmah dibaca melampaui emosi: di dalamnya ada perlindungan, pengampunan, dan kepedulian yang justru bertahan ketika yang dicintai sedang lemah dan menyusahkan. Asep Sulhadi dan Zakaria Firdaus, yang mereka kutip, menegaskan cinta di dalam Al-Quran harus diletakkan dalam kerangka etis dan spiritual, bukan sekadar emosi.

Baca juga Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya

Perbedaan ketiganya bukan sekadar rasa yang berbeda kadar, melainkan medan makna yang memang berlainan dan bertingkat. Abdul Aziz, seperti dikutip di dalam artikel itu, menegaskan bahwa hubb saja sudah bernuansa berbeda di tangan dua penafsir yang berbeda, sehingga kekayaannya tidak bisa direduksi menjadi satu makna. Siti Masyitah Ibrahim menambahkan lapisan lain: cinta di dalam Al-Quran bertingkat sesuai maqam spiritual seseorang, mulai dari cinta yang duniawi sampai cinta yang ilahiah. Karena itu ketiga istilah tersebut mereka sebut tidak sinonim secara mutlak, melainkan menempati medan makna yang khas dan bertingkat.

Cinta yang Naik kepada Tuhan, Cinta yang Melebar ke Sesama

Dari tiga kata itu, Sitti Fatima dan rekan-rekannya menyusun sebuah bangunan bertingkat. Seyyed Hossein Nasr dipakai untuk lapis pertama: cinta adalah inti spiritual Islam dan jembatan transendental antara manusia dan Tuhan. Pada lapis ini ibadah berhenti menjadi beban kewajiban hukum dan berubah menjadi ekspresi kerinduan, sementara cinta menempati maqam tertinggi. Arah geraknya vertikal, dari hamba menuju penciptanya, dan disebut mengantar pada muraqabah, yaitu rasa selalu diawasi dan didekati sekaligus. Pada lapis ini pula, tulis tim penulis, cinta disebut sebagai sifat Allah yang mendahului seluruh ciptaan, bukan perasaan manusia yang diproyeksikan kepada-Nya.

Lapis kedua diambil dari Fazlur Rahman, dan arah geraknya berbalik menjadi mendatar. Cinta kepada Allah, menurut pembacaan itu, tidak boleh berhenti sebagai perasaan di dalam dada; ia harus berubah menjadi tindakan etis yang konkret terhadap sesama manusia dan terhadap alam. Rahmah pada tahap ini menjelma keadilan, kepedulian, dan bantuan bagi yang membutuhkan. Etika semacam itu, tulis tim penulis, menuntut seseorang melampaui kepentingan dirinya sendiri, sehingga cinta berfungsi sebagai perekat sosial. Cinta kepada sesama, dalam pembacaan itu, dipandang sebagai wujud iman, bukan tambahan yang bersifat sukarela.

Baca juga Sebelas Wajah Penantian dalam Lirik Didi Kempot

Lapis ketiga datang dari Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang menempatkan istilah-istilah Al-Quran, termasuk cinta, sebagai bagian dari satu sistem pengetahuan yang mengarahkan manusia pada pengenalan kebenaran. Dengan tiga lapis itu, tim penulis menyimpulkan konsep cinta di dalam Al-Quran sebagai “jaringan makna yang kompleks, sistemik, hierarkis, dan multidimensional”, yang menyambungkan kesadaran batin, aksi sosial, dan kebenaran intelektual sekaligus dalam satu kerangka pandangan dunia. Al-Wadud dan Ar-Rahman ditempatkan sebagai titik awal seluruh susunan itu, sumber tempat cinta bergerak turun sebelum kembali naik.

Yang Terbaca di Meja Perpustakaan, Yang Belum Diuji di Luar

Semua itu dikerjakan tanpa keluar dari perpustakaan. Sitti Fatima, Hasnawiah, dan Baso Pallawagau menyatakan penelitian mereka kualitatif deskriptif berjenis kepustakaan: data primernya ayat-ayat Al-Quran, data sekundernya kitab tafsir, kamus Arab klasik, dan jurnal ilmiah yang membahas konsep cinta. Tidak ada wawancara dan tidak ada pembaca yang diuji. Fokusnya pun dibatasi sendiri pada tiga hal: makna leksikal istilah cinta, makna kontekstualnya di dalam ayat, dan struktur konseptual yang terbentuk dari keduanya. Ketiganya menegaskan seluruh bahan itu diambil dari perpustakaan dan dokumen daring, bukan dari lapangan.

Batas itu penting dibaca bersama temuannya. Artikel tersebut tidak mengukur bagaimana umat Islam di Indonesia sebenarnya memahami kata cinta, tidak menghitung frekuensi kemunculan ketiga istilah di dalam mushaf, dan tidak menguji satu pun terjemahan Al-Quran berbahasa Indonesia secara sistematis. Yang ditunjukkannya adalah bahwa di dalam teks Arabnya, tiga kata itu menempati wilayah makna yang berlainan, dan penyempitan terjadi ketika ketiganya dialihbahasakan menjadi satu kata yang sama. Klaim tentang hierarki itu, dengan kata lain, berlaku pada teksnya dan belum diuji pada pembacanya.

Keberatan itu sendiri tidak sepenuhnya baru. Sitti Fatima dan rekan-rekannya berdiri di atas kerangka Izutsu yang sudah puluhan tahun dipakai orang untuk membaca kosakata Al-Quran, dan di atas para penafsir yang lebih dulu membedakan hubb dari mawaddah, termasuk mereka yang dikutip Abdul Aziz. Yang ditambahkan artikel ini adalah susunannya: ketiga kata itu ditata sebagai satu hierarki bertingkat, dari benih, ke tindakan, lalu ke perlindungan yang melingkupi semuanya. Susunan itulah yang mereka sebut sebagai kebaruan penelitian ini, sekaligus bagian yang paling mungkin diperdebatkan.

Maka yang tersisa adalah persoalan bahasa penerima. Sebuah biji yang belum tumbuh, sebuah tindakan yang bisa dilihat orang lain, dan sebuah perlindungan yang justru bertahan pada saat sulit — ketiganya, di dalam bahasa Indonesia, tetap akan dibaca sebagai satu kata yang sama. Yang bisa berubah hanya jumlah pertanyaan yang muncul di kepala pembaca ketika kata itu diucapkan. Tiga kata, satu terjemahan, dan sisanya bergantung pada siapa yang membacanya.

Bagikan

Baca Juga

Ahmad Luthfi: MTQ Nasional XXXI Jadi Cooling System
Kemenag Cetak Mushaf Braille dan Isyarat untuk Difabel
Al-Qur'an Salah Cetak, Ini Penjelasan Kemenag
Beda Dengan yang Lain, Mukjizat Nabi Muhammad Ini Masih Ada Hingga Sekarang
Begini Hidup Sehat Ala Al-Qur'an
Fungsi Al-Qur'an: Sebaik-baiknya Penjaga Seorang Hamba dari Perbuatan Dosa