Teater Potlot dan Riset Gambut Sebelum Naskah Ditulis

A A

Ilustrasi seorang penampil berdiri disorot lampu di panggung gelap sementara penampil lain berbaring di lantai. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sekelompok orang teater di Palembang menghabiskan waktu bertahun-tahun bukan di ruang latihan, melainkan di kawasan gambut yang berkali-kali terbakar. Mereka mendatangi titik-titik konflik lahan, mengikuti seminar restorasi, dan menyusun peta kecil situs peninggalan Sriwijaya yang berserak di sela kebun sawit dan akasia. Pekerjaan semacam itu biasanya dikerjakan lembaga swadaya masyarakat atau peneliti kampus. Yang mereka hasilkan pada akhirnya adalah sebuah pertunjukan.

Kelompok itu bernama Teater Potlot. Ia berdiri di Palembang pada 1984, lahir dari anak-anak muda karang taruna yang ingin memperluas wawasan lewat seni pertunjukan, dan sampai kini berdomisili di kawasan Trikora, Lorok Pakjo. Kegiatan awalnya sederhana dan sangat konvensional, yaitu membaca dan mempelajari naskah. Yang mereka baca antara lain Colonus dan Antigone karya Sophocles, lalu Lysistrata karya Aristophanes yang dipentaskan di Palembang dan Jambi pada kurun 1992 sampai 1994. Jarak antara meja baca naskah Yunani dan kawasan gambut yang terbakar itulah yang menjadi persoalan penelitian.

Perjalanan tersebut dibedah Fajar Eka Putra dari Program Pengkajian dan Penciptaan Seni Pascasarjana ISI Padangpanjang, Helvi Carnelis dari ActorIdea Creative Space Padangpanjang, dan Dede Pramayoza dari Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang. Laporan mereka, Dari Studi Drama Klasik ke Ekodramaturgi: Transformasi Teater Potlot Palembang dalam Pencarian Ekspresi Teater dan Lingkungan, terbit dalam Creativity and Research Theatre Journal Volume 7 Nomor 2 tahun 2025, halaman 45 sampai 59.

Daftar Isi
  1. Cara kelompok pembaca Sophocles berpindah ke kerja lapangan
  2. Bagaimana catatan lapangan berpindah ke atas panggung
  3. Mengapa diskusi seusai pentas dihitung sebagai bagian karya
  4. Di titik mana penjelasan ekodramaturgi berhenti

Cara kelompok pembaca Sophocles berpindah ke kerja lapangan

Ilustrasi hamparan lahan basah bergenang air dengan rerumputan rendah.
Ilustrasi hamparan lahan basah bergenang air dengan rerumputan rendah. [Foto: Pexels]

Perpindahan itu tidak terjadi sekaligus dan tidak diumumkan lewat manifesto. Penandanya adalah Hutan Geribik karya Conie Sema, yang dipentaskan keliling ke lima puluh desa konflik di Lampung pada tahun 2000. Sejak itu isu lingkungan berhenti menjadi latar dan mulai menjadi bahan utama. Conie Sema, yang memimpin kelompok tersebut sekaligus menyutradarai karya-karyanya, membawa Teater Potlot ke pementasan yang berangkat dari persoalan di sekitarnya, bukan dari naskah yang sudah tersedia di rak. Jejaknya bisa dibaca dari daftar produksi: Bonseras yang berkeliling Lampung, Jambi, dan Palembang pada 1993 sampai 1994, lalu Orang-Orang Barunta yang dipentaskan keliling kabupaten di Lampung pada 1999 bersama Teater Satu Lampung, keduanya dengan dukungan USAID. Konsekuensinya langsung terasa pada cara kerja: kalau bahan tidak ada di perpustakaan, bahan harus dicari sendiri.

Di situlah metodenya berubah paling jauh. Untuk menyiapkan Rawa Gambut, Conie Sema bersama Taufik Wijaya mendatangi sejumlah titik yang mengalami konflik lingkungan dan budaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mereka mendata dan mencatat hilangnya ekosistem rawa gambut di kawasan itu. Sebagian anggota mengikuti lokakarya, seminar, dan kajian ilmiah tentang degradasi lahan gambut, kebakaran, serta berbagai pilihan lanskap berkelanjutan. Keduanya bahkan menyusun peta-peta kecil peninggalan sejarah dan jejak penandaan Sriwijaya melalui artefak dan situs yang berserak di sekitar perkebunan sawit dan hutan tanaman industri akasia.

Baca juga Induak dan Anak, Dua Suara di Balik Salawat Dulang

Pengamatan mereka tidak berhenti di lapangan. Rombongan itu juga mengikuti dinamika kebijakan sesudah kebakaran besar tahun 2015, termasuk program restorasi yang dijalankan Badan Restorasi Gambut selama lima tahun terhitung sejak 2016 dengan melibatkan masyarakat lokal. Bahan pertunjukan dengan demikian disusun dari tiga lapis sekaligus: kondisi ekosistem, jejak sejarah kawasan, dan arah kebijakan negara. Ketiga lapis itu baru kemudian diterjemahkan menjadi naskah, bukan sebaliknya. Urutan inilah yang oleh tim peneliti disebut sebagai riset yang mendahului penciptaan. Dalam esainya yang terbit pada 2018, Conie Sema menuliskan keberatannya terhadap kecenderungan itu: setiap tahun pemerintah mengeluarkan izin pembukaan lahan ratusan ribu bahkan jutaan hektare, menurut dia hanya demi mengejar grafik investasi dari sektor perkebunan monokultur.

Bagaimana catatan lapangan berpindah ke atas panggung

Bentuk yang dipilih adalah realisme sosial. Dalam teater, pendekatan itu menggambarkan kehidupan masyarakat secara objektif dan apa adanya, khususnya dinamika sosial, ekonomi, dan politik di lingkungan sekitar, lalu menghadirkannya lewat karakter, dialog, dan konflik di atas panggung. Rawa Gambut memakai jalur tersebut untuk menampilkan konflik agraria dan dampak kebijakan ekonomi terhadap masyarakat adat serta petani kecil. Tokoh-tokoh yang muncul di panggung mewakili suara yang biasanya terpinggirkan dalam wacana pembangunan. Penonton diajak memahami dan merefleksikan, bukan sekadar menonton peristiwa yang jauh dari hidupnya. Kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan eksploitasi lingkungan adalah bahan baku yang lazim dipakai pendekatan ini, dan keempatnya tersedia berlimpah di kawasan gambut Sumatera Selatan.

Conie Sema menerangkan pilihan itu tanpa membungkusnya dengan istilah besar. “Drama Rawa Gambut Teater Potlot, yang saya tulis dan sutradarai adalah kenyataan realisme dalam teks teater. Saya menggunakan konsepsi realisme tersebut tidak berarti sebagai sebuah kesadaran teater, namun lebih kepada teknik yang bisa dilakukan untuk menyampaikan pesan dalam realitas pertunjukan,” katanya dalam wawancara yang dikutip tim peneliti. Realisme di sini karena itu berfungsi sebagai alat kerja, bukan sebagai aliran yang dianut. Ia dipilih, kata tim peneliti menyimpulkan wawancara itu, untuk membumikan isu sosial dan lingkungan supaya sampai kepada orang yang tidak terbiasa membaca laporan restorasi.

Alat itu dipakai supaya persoalan yang rumit bisa sampai kepada orang. Pelepasan karbon, izin konversi lahan, dan tata kelola bentang alam adalah bahan yang sulit dibicarakan tanpa membuat pendengarnya menyerah di tengah jalan, dan panggung menyediakan jalan pintas berupa orang yang mengalaminya. Dalam tulisannya di situs Mongabay pada 2017, Conie Sema menyebut Rawa Gambut lahir dari mengumpulkan banyak teks di kawasan gambut pesisir pantai timur Sumatera, tepatnya di beberapa titik yang mengalami konflik lingkungan dan budaya di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin.

Baca juga Tiga Milimeter yang Menentukan Nilai Kerajinan Bambu

Hasilnya tidak berhenti pada dialog. Tim peneliti mencatat bahwa karya Teater Potlot dengan pendekatan ekodramaturgi mewujud sebagai kumpulan tanda ekologis, yakni simbol yang dibawa lewat gerak, properti, kostum, bunyi, dan penataan ruang. Teater di sini diperlakukan sebagai arena lintas disiplin yang melibatkan ilmu pengetahuan, seni rupa, gerak, suara, sampai arsitektur ruang alam. Cara pandang itu menjelaskan mengapa survei lapangan dan peta artefak tadi tidak terbuang percuma: keduanya berubah menjadi bahan visual dan bunyi, bukan sekadar catatan latar belakang. Di baliknya ada keberatan yang lebih mendasar, yaitu kritik atas cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan tujuan segala pengelolaan lingkungan. Teater, dalam pembacaan tim peneliti, dipakai untuk menarik penonton keluar dari cara pandang tersebut.

Mengapa diskusi seusai pentas dihitung sebagai bagian karya

Rangkaian pentasnya dibuka di Gedung Taman Budaya Jakabaring, Palembang, pada 23 sampai 25 Maret 2017. Menurut laporan itu, penampilan perdana tersebut dirangkaikan dengan peringatan Hari Bumi dan perayaan kelahiran prasasti ekologi milik Kerajaan Sriwijaya. Sesudahnya Rawa Gambut berkeliling ke Palembang, Lampung, dan Jambi bersama Mongabay Indonesia sepanjang 2016 sampai 2018. Naskahnya memperoleh penghargaan dalam Festival Rawayan Award yang digelar Dewan Kesenian Indonesia pada 2017. Setiap pementasan di kota-kota itu melibatkan komunitas dan pegiat lingkungan setempat, sehingga rombongan yang datang ke gedung pertunjukan tidak seluruhnya terdiri atas penonton teater.

Yang membedakan rangkaian itu dari tur pertunjukan biasa adalah apa yang terjadi sesudah lampu panggung padam. Setiap pementasan selalu disusul sesi dialog, dan sesi itu digelar secara konsisten di setiap kota. Penonton, pelaku seni, dan narasumber dari berbagai latar bertukar pikiran mengenai persoalan ekologi yang baru saja mereka tonton. Diskusi tersebut bukan acara tambahan yang menempel di ujung jadwal. Ia bagian dari cara karya itu bekerja.

Mekanismenya sederhana kalau diurut. Pertunjukan menyediakan pengalaman bersama yang dialami semua orang di ruangan pada waktu yang sama, diskusi mengubah pengalaman itu menjadi percakapan, dan percakapan menarik pihak-pihak yang semula tidak saling terhubung ke dalam satu ruangan. Di sana bertemu lembaga swadaya masyarakat, akademisi, media, petani, pelajar, dan pemuda kawasan gambut. Dari jalur itulah Teater Potlot membangun jejaring yang oleh tim peneliti disebut sebagai keberhasilan sosial karya tersebut, terpisah dari keberhasilan artistiknya. Bentuk kegiatannya meluas menjadi lokakarya, diskusi publik, dan produksi bersama.

Baca juga Kedokteran Kerja dari Milan 1906 hingga Surabaya 2026

Taufik Wijaya, dramaturg pertunjukan itu, menempatkan kerja tersebut pada garis yang jauh lebih panjang. “Teater berfungsi sebagai media pembelajaran nilai kehidupan, seperti tercermin sejak peradaban Sriwijaya melalui Prasasti Talang Tuo tentang harmoni manusia dan alam,” katanya dalam wawancara pada 26 Oktober 2025. Ia menambahkan bahwa eksploitasi sumber daya alam demi ekonomi di Sumatera Selatan menimbulkan krisis ekologi berupa banjir, kebakaran hutan, pencemaran air, dan kerusakan lahan gambut. Prasasti Talang Tuo yang ia sebut adalah prasasti Sriwijaya, dan prasasti itulah yang dipakai kelompok tersebut sebagai rujukan tertua bagi gagasan mereka. Dalam wawancara terpisah dengan sebuah surat kabar cetak pada 2017, Taufik Wijaya menyebut kebakaran di lahan rawa gambut turut mengancam artefak budaya, termasuk situs permukiman masyarakat Kerajaan Sriwijaya di sepanjang Pantai Timur Sumatera Selatan. Menurut dia, kebakaran itu bukan semata peristiwa alam, melainkan akibat perilaku manusia yang tidak arif mengelola lahan gambut.

Di titik mana penjelasan ekodramaturgi berhenti

Ekodramaturgi adalah istilah yang dipakai tim peneliti sebagai kerangka analisis, yaitu teater yang mengintegrasikan isu ekologi ke dalam proses dramaturginya sejak tahap riset, bukan sebagai tema yang ditempelkan pada naskah jadi. Dengan kerangka itu, transformasi Teater Potlot dapat diurutkan rapi: dari kelompok studi naskah klasik, menjadi kelompok yang risetnya mendahului naskahnya, lalu menjadi kelompok yang jejaringnya lebih luas daripada panggungnya. Kerangka itu sendiri dirujuk tim peneliti antara lain dari kajian Lisa Woynarski tentang ekodramaturgi, teater, dan perubahan iklim yang terbit pada 2020. Yang tidak bisa dijawab kerangka tersebut adalah pertanyaan berikutnya.

Penelitian ini adalah studi kasus atas satu kelompok dan satu pertunjukan. Datanya dikumpulkan lewat studi dokumentasi, studi pustaka, dan wawancara, dengan Taufik Wijaya sebagai satu-satunya narasumber wawancara yang disebut namanya pada bagian metode. Tidak ada pengukuran atas apa yang terjadi pada penonton sesudah pentas, tidak ada perbandingan dengan kelompok teater lain yang menggarap isu serupa, dan tidak ada penelusuran apakah kebijakan gambut bergeser karena pertunjukan itu. Keberhasilan yang dilaporkan adalah keberhasilan membangun jejaring, bukan keberhasilan memulihkan gambut.

Perbedaan itu penting dijaga. Satu kelompok teater di Palembang yang berhasil mempertemukan aktivis, akademisi, dan warga dalam satu ruangan bukan bukti bahwa teater dapat menghentikan konversi lahan gambut. Ia bukti bahwa sebuah kelompok seni dapat mengubah cara kerjanya sendiri sampai survei lapangan menjadi syarat sebelum naskah ditulis, dan bahwa perubahan itu bertahan lebih dari dua dasawarsa. Satu kelompok di satu kota juga bukan gambaran teater Indonesia, sebagaimana satu pertunjukan bukan ukuran bagi seluruh karya yang mengangkat isu ekologi. Klaim yang lebih besar dari itu tidak ada di dalam laporannya, dan tim peneliti tidak berusaha menambahkannya.

Peta-peta kecil itu tetap ada. Artefak Sriwijaya yang mereka data masih berada di sela kebun sawit dan akasia, di kawasan yang menurut catatan pertunjukan itu sendiri hampir setiap tahun terbakar. Sejauh yang tercatat dalam laporan tersebut, yang berdiri di antara keduanya adalah sebuah pertunjukan yang berkeliling tiga kota, dan sebuah ruang diskusi yang dibuka setiap kali lampu panggung padam.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi kamus tebal terbuka memperlihatkan dua lajur lema.
Bengkel dan Bahagia, Dua Jalan Kata Serapan
Ilustrasi aktris berbusana merah berdiri di panggung gelap berkabut asap di hadapan penonton.
Ketika Wijasti Berhenti Menunduk di Atas Panggung
Ilustrasi seorang lelaki berkaus jingga menatap layar telepon pintar di ruangan bercahaya kebiruan yang temaram.
Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban
Bukit batu Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul ditumbuhi rumput dan sebatang pohon dengan kabut di kejauhan.
Kampung Pitu dan Pantangan Tujuh Kartu Keluarga
Ilustrasi seorang perempuan muda duduk di meja dekat jendela berdaun biru sambil menatap layar telepon pintarnya.
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Halaman naskah Jawa beriluminasi dengan bingkai hias bermotif kotak-kotak dan gambar pepohonan yang dilukis di bagian atas.
Dewi Kilisuci Hamil dalam Naskah Panji Jayakusuma