Dosen IPB Jelaskan Klaim Cat Rambut dan Risiko Kanker Payudara

A A

Ilustrasi proses pewarnaan rambut yang dibahas dosen IPB University. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University Samuel Stemi menyebut angka peningkatan risiko kanker payudara 60 persen pada pengguna cat rambut perlu dipahami secara hati-hati.

Penjelasan itu ia sampaikan melalui laman resmi IPB University, Senin (07/09/2026).

Angka itu berasal dari Sister Study yang melibatkan 46.709 perempuan.

“Angka ini harus dipahami secara hati-hati. Ini adalah peningkatan risiko relatif, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut akan terkena kanker payudara,” katanya.

“Selain itu, penelitian tersebut merupakan studi observasional sehingga menunjukkan hubungan (association), bukan membuktikan hubungan sebab-akibat,” ujarnya.

Peningkatan risiko relatif pada seluruh peserta penelitian tercatat 9 persen.

Baca juga pendampingan kesehatan yang digerakkan kampus

“Peserta studi tersebut sebetulnya tidak hanya Black/African-American saja, tapi ada juga perempuan White,” katanya.

“Pada perempuan White sekitar 7 persen, sedangkan pada perempuan Black sekitar 45 persen,” ujarnya.

Angka 60 persen muncul pada kelompok perempuan Black yang mengecat rambut setiap lima hingga delapan pekan.

Meta-analisis atas 14 penelitian dengan lebih dari 210.000 subjek menemukan peningkatan risiko sekitar 7 persen.

Baca juga kegiatan lain yang digelar IPB University

“Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen dengan peningkatan risiko kanker payudara pada kelompok tertentu, tetapi belum dapat disimpulkan bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker,” katanya.

“Jika seseorang sesekali mengecat rambut, tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ia harus takut akan terkena kanker payudara karena aktivitas tersebut,” ujarnya.

Baca juga layanan kesehatan yang dibawa kampus ke masyarakat

“Untuk penggunaan yang sangat sering dan berlangsung bertahun-tahun, terutama dengan produk permanen, masuk akal untuk mempertimbangkan pengurangan frekuensi,” katanya.

“Prinsipnya adalah don't panic, but minimize unnecessary exposure,” ucapnya.

Bagikan

Baca Juga

Beberapa umbi ubi jalar ungu segar tergeletak berdampingan di atas permukaan kayu
Beras Analog Ubi Ungu, Dikukus Dulu agar Warnanya Tak Pudar
Gelas bening berisi kopi dingin berlapis susu dengan es batu dan buih di permukaannya
Es Kopi Susu Kekinian dan Rasa yang Berubah Tiap Detik
Buah alpukat tumbuh di pohon, foto ilustrasi budi daya tanaman buah
Budi Daya Buah dalam Pot Dipelajari Peserta Sekolah IPB
Tegakan mangrove muda dan akar napas di hamparan lumpur pesisir
IPB Kaji Restorasi Mangrove Pantai Utara Jawa di Indramayu
Pemantauan Digital Mingguan Kurangi Kelelahan Pasien Kanker Payudara Metastatik, Uji Klinis 909 Pasien
Pemantauan Digital Mingguan Kurangi Kelelahan Pasien Kanker Payudara Metastatik, Uji Klinis 909 Pasien
Barang bukti sabu dalam kantong plastik klip yang diamankan polisi
Polsek Cileungsi Tangkap Pembeli Sabu Modus Tempel, Sempat Berdalih Beli Nasi Goreng