Cekricek.id — Kesehatan jiwa pascabencana menjadi materi pelatihan Universitas Brawijaya bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan itu berlangsung Selasa, 1 September 2026, di Ruteng, seperti dimuat dalam keterangan resmi Universitas Brawijaya, Sabtu (05/09/2026).
Tim Psikososial UB menggelarnya bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai dengan tajuk Workshop Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pascabencana.
Kegiatan bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan mengidentifikasi dan memberikan penanganan awal terhadap persoalan psikososial yang dialami penyintas bencana.
Muhammad Sunarto hadir sebagai salah satu pemateri, menyampaikan materi pertolongan pertama psikologis, skrining masalah psikososial, mekanisme rujukan, serta tindak lanjut bagi penyintas.
Sembilan puskesmas terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid. Untuk teman-teman di seluruh wilayah Flores, jadi bukan hanya Manggarai saja,” jelasnya.
Baca juga pembentukan kelompok siaga bencana di tingkat desa
Peserta di sekitar Manggarai mengikuti kegiatan secara luring, sedangkan tenaga kesehatan dari wilayah Flores lainnya bergabung secara daring.
Skrining Dilatih dari Anak Usia Tiga Tahun sampai Lansia
Salah satu fokus utama adalah kemampuan tenaga kesehatan melakukan penapisan masalah psikososial terhadap penyintas untuk berbagai kelompok usia.
Peserta diperkenalkan dengan kuesioner yang dapat membantu proses penapisan ketika mereka kembali memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Skrining-nya itu mulai dari anak usia tiga tahun sampai dengan usia enam tahun, kemudian anak usia sekolah, remaja, dewasa, dan lansia,” kata Sunarto.
Peserta juga mempraktikkan penapisan itu terhadap diri sendiri karena mereka pun merupakan penyintas bencana.
“Mereka langsung berpraktik kepada dirinya sendiri karena mereka juga adalah penyintas,” ungkapnya.
Baca juga langkah melindungi diri saat kasus penyakit melonjak
Selain penapisan, peserta menerima materi mengenai peran kluster kesehatan dalam penanganan bencana serta mekanisme rujukan dan tindak lanjut.
Pelatihan Digelar di Area Parkir karena Keterbatasan Fasilitas
Pelaksanaan di tengah kondisi pascabencana menghadirkan tantangan tersendiri karena kegiatan tidak dapat dilakukan di ruangan dengan fasilitas lengkap.
“Kita lakukan pertemuannya bukan di dalam gedung yang mewah atau bukan di dalam ruangan, tetapi kita di tempat parkir yang memang ada tertutup,” tuturnya.
Keterbatasan itu berdampak pada penggunaan fasilitas pendukung, sehingga tim menyesuaikan metode penyampaian materi dengan memanfaatkan Zoom dan modul.
Akses internet dan listrik di sejumlah wilayah Flores juga menjadi tantangan, dan menurut Sunarto persoalan itu sudah terjadi sebelum bencana.
Baca juga pelatihan relawan menangani warga terdampak bencana
Meski workshop berlangsung satu hari, Tim Psikososial UB tetap membuka ruang konsultasi daring bagi peserta yang menghadapi persoalan di lapangan.
“Walaupun kita nanti pulang, mereka tetap bisa menghubungi kami secara daring,” jelasnya.
Sunarto berharap tenaga kesehatan yang dilatih mampu mengidentifikasi persoalan psikososial pada penyintas sejak awal.
“Mereka diharapkan mampu juga melakukan rujukan yang tepat. Kapan harus merujuk, sehingga kondisi-kondisi yang kemungkinan nanti menjadi berat itu semakin minimal,” katanya.














