Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 1789, seseorang di Jawa menutup bagian pembuka sebuah naskah dengan sebaris sandi tahun. Bunyinya jati tunggal swara raja. Sandi itu menyimpan angka 1711 dalam penanggalan Jawa. Penyalinnya tidak mencantumkan nama. Katalog Universitas Leiden berkode LOr 2306, katalog naskah Jawa di Surakarta susunan Nancy Florida, dan katalog induk naskah Nusantara di Perpustakaan Nasional sama-sama mencatatnya sebagai karya tanpa pengarang.
Naskah itu Serat Jatiswara. Pipit Mugi Handayani, Priscila Fitriasih Limbong, dan Turita Indah Setyani dari Universitas Indonesia membacanya ulang dalam Negotiation of Javanese Culture in the Tradition of Respecting Guests in Serat Jatiswara. Kajian itu terbit di jurnal Diksi Volume 34 Nomor 1 tahun 2026, halaman 105 sampai 122. Yang mereka kejar bukan jalan ceritanya, melainkan tata cara tokoh-tokoh Jawa di dalamnya menerima tamu.
Korpusnya satu salinan saja. Naskah berkode RP 324.2, koleksi Museum Radya Pustaka di Surakarta. Dari sekitar 50 naskah Serat Jatiswara yang tercatat, salinan ini masuk resensi E. Isinya 26 pupuh, dipilah menjadi 22 episode. Episode pertama pembukaan, dua puluh episode berikutnya persinggahan di Jawa, episode terakhir kepulangan ke Campa.
1527: Majapahit Jatuh, Sastra Islam Jawa Tumbuh

Tahun 1527 menjadi penanda pertama. Serangan Raden Patah meruntuhkan kekuasaan raja Majapahit, sebagaimana dicatat sejarawan H.J. de Graaf. Hamka menimbang ulang sebabnya. Menurut dia, Majapahit sudah bermasalah dari dalam, sehingga keruntuhannya bukan semata karena kekuatan Islam dan serbuan Demak. Kesultanan Demak lalu berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Sesudah itu pengaruh Islam merembes ke hampir seluruh sisi kehidupan Jawa. Supomo menyebut periode itu Renaisans Jawa. Nancy Florida merevisinya pada 2023. Menurut Florida, sejumlah karya yang selama ini dianggap milik eksklusif Keraton Surakarta sebenarnya memperlihatkan watak Islamnya sendiri. Pada abad ke-18, penulisan kakawin bergeser menjadi serat, biasanya diprakarsai raja lalu dikerjakan pujangga istana.
Serat Jatiswara lahir dari gelombang itu. Genrenya disebut santri lelana: kisah santri yang berkelana, bersifat ensiklopedis, dan gemar memerikan satu tempat atau satu cabang pengetahuan secara panjang lebar. Serat Centhini, Serat Cebolek, dan Serat Asmarasupi berada di rak yang sama. Semuanya berpindah-pindah tempat dan menumpuk keterangan di sepanjang jalan.
1789: Sandi Tahun yang Menanggali Salinan
Jalan ceritanya lurus dari awal sampai akhir. Jatiswara, putra mahkota Kerajaan Campa, diperintah ayahnya, Aji Duta Samud, berangkat ke Jawa. Dua tugas dibawanya: menyamar sebagai saudagar dan mencari adiknya, Sajati, yang pergi tanpa pamit. Di sepanjang perjalanan ia menyebarkan ajaran Islam. Ia singgah dari satu pedukuhan ke pedukuhan lain dan bertemu pemilik atau pemimpin tiap tempat.
Baca juga Ketika Puisi Nizar Qabbani Pindah ke Instagram Reels
Sasarannya bukan istana. Naskah itu menempatkan hampir seluruh adegannya di desa, di pedukuhan kecil milik satu orang, lengkap dengan masjid, kolam, dan kebunnya. Yang direkam Serat Jatiswara adalah kehidupan orang Jawa pedesaan beserta cara berpikirnya, bukan kehidupan bangsawan Surakarta. Di dalam teks, Jatiswara selalu ditempatkan lebih tinggi. Wajahnya disebut tampan, pengetahuan agamanya luas, sikapnya tenang dan teguh. Tokoh-tokoh Jawa yang ia datangi berdiri di bawahnya. Pola itu berulang hampir di seluruh episode persinggahan, dan justru pengulangan itulah yang menjadi bahan utama ketiga peneliti.
Abad Ke-18: Delapan Langkah di Tiap Persinggahan
Urutannya nyaris tetap. Jatiswara tiba di sebuah pedukuhan. Tuan rumah menyambut. Jamuan dikeluarkan. Rebana ditabuh sambil orang bernyanyi. Sesudah itu pengetahuan agama dipersoalkan lewat tanya jawab. Menyusul bagian percintaan, lalu Jatiswara berpamitan meski selalu ditahan, dan akhirnya melanjutkan perjalanan. Delapan langkah itu berulang, dengan sedikit pergeseran urutan, di episode demi episode.
Sambutan pertama terekam pada halaman 305 alih aksara naskahnya. Nurwadat menyapa tamu yang baru tiba sambil diam-diam memujinya di dalam hati. Jatiswara menjawab pendek. Dalam terjemahan ketiga peneliti, jawabannya berbunyi “mohon percayalah, saya beristirahat di sini sebagai orang yang tidak punya rumah.” Kalimat merendah itu diucapkan seorang putra mahkota kepada tuan rumah pedesaan. Nurbuwat kemudian melapor kepada tetua pedukuhan, Ki Seh Wasiraga. Ia menyebut tamu itu wong mulana, orang alim, dan menggambarkannya sebagai orang muda berperangai halus seperti orang kota. Penilaian itu jatuh sebelum perdebatan agama dimulai. Bagi ketiga peneliti, urutan tersebut penting: pengakuan datang lebih dulu, pembuktian menyusul kemudian.
Perdebatan baru muncul pada halaman 287. Wasiraga bertanya tentang husadi jatineki, obat yang sejati. Jatiswara menjawab dengan perumpamaan rontal tanpa tulisan: orang yang tidak memahami inti ajaran akan tersesat dan tidak mengenali jalan ketika mati. Naskah itu mencatat Wasiraga tidak menjawab, terdiam, dan hatinya sedih, lalu Ki Wisaya diperintahkan menerima pesan tamunya.
Baca juga Rokok, Cermin, dan Pil dalam Animasi Opal
Latar ceritanya juga tertata. Pada halaman 304, satu pedukuhan digambarkan lewat masjid besar yang rapi, kolam di halaman depan, serta pohon delima dan manggis yang tumbuh di muka bangunan. Pagarnya disebut lurus dan tersusun. Gambaran semacam itu, tulis tim peneliti, bukan hiasan, melainkan tanda keseimbangan antara manusia, alam, dan yang ilahi.
Ada pula bagian yang berulang dan terasa berat dibaca hari ini. Di banyak persinggahan, perempuan di rumah tuan rumah digambarkan terpikat pada tamunya, dan pada beberapa episode seorang putri diserahkan sebagai hadiah perkawinan. Ketiga peneliti membaca bagian itu sebagai lapis pertama penundukan: kekaguman lebih dulu, penerimaan ajaran menyusul.
Adegan lain berjalan sebaliknya. Pada halaman 308, Nurwadat menawarkan sesuatu yang lebih dari jamuan. Dalam terjemahan tim itu, ia berkata “Kakang, jangan gundah, rumahmu tidak berbeda dengan rumahku; kalau engkau berkenan, satukanlah hati denganku.” Tangan tamunya lantas digandeng masuk ke dalam rumah. Ketiga peneliti menyebut adegan itu manunggal manah, penyatuan hati.
1995: Behrend Memilah Tujuh Resensi
Pada 1995, filolog T.E. Behrend menerbitkan kajian menyeluruh atas Serat Jatiswara. Ia menelusuri perubahan bentuk puisi Jawa antara 1600 dan 1903, lalu memilah naskah-naskah Jatiswara ke dalam tujuh resensi, A sampai G. Seluruh kisah Jatiswara terdiri atas 31 episode. Resensi E memuat 22 di antaranya dan tersusun paling lengkap secara kronologis. Behrend menandai sendiri batas kerjanya. Kajiannya, tulis dia, belum menyentuh sisi sosiologis teks, yakni bagaimana teks dipakai dan dinilai oleh masyarakat yang melahirkannya. Catatan itu dikutip ketiga peneliti sebagai pintu masuk pekerjaan mereka. Tujuh tahun kemudian, pada 2002, Sasono menyusun tesis atas naskah yang sama dengan meminjam strukturalisme Levi-Strauss untuk membaca konsep kekerabatan.
Baca juga Fandom Konser Selawat dan Kerja Para Penggemarnya
Daftar episodenya sendiri berupa deretan nama. Ki Saembong, Ki Wasiraga, Ajidarma, Ki Nurwadat, Ki Cahyacarmin, Ki Bujangga Adimulya, Ki Seh Amongraga, Ki Ragamana, Ni Dewi Ratna, Ki Mursida, Imam Ganjali, Seh Ajikarsa, Ki Purwajati, Ki Seh Candra, sampai perang melawan Pratokal. Tiap nama menandai satu persinggahan, dan tiap persinggahan mengulang pola yang sama.
2026: Gramsci Dibawa Masuk ke Pedukuhan
Ketiga peneliti memasang alat baca yang berbeda. Naskah dibedah lewat alur, tokoh, penokohan, dan latar. Tiap petikan dan tiap narasi diberi kode menurut kerangka hegemoni Antonio Gramsci: kepemimpinan intelektual, kekuasaan yang bersandar pada persetujuan, dan tanggapan pihak yang dipimpin. Hasilnya tiga temuan.
Pertama, penghormatan kepada tamu ditampilkan berulang sebagai adab. Kedua, hubungan antartokoh berbentuk dominasi dan subordinasi lewat pemuliaan Jatiswara. Ketiga, tokoh-tokoh Jawa bersikap akomodatif. Ketiganya, tulis tim itu, memperlihatkan ideologi budaya Jawa berupa harmonisasi, yang dijalankan melalui cara teks menyusun tokoh dan relasi sosial mereka.
Dominasi Jatiswara tidak dibangun dengan paksaan fisik. Yang bekerja adalah penguasaan wacana keagamaan. Wasiraga terdiam bukan sekadar karena kalah berdebat, melainkan karena menerima sesuatu yang ia anggap kebenaran baru. Dalam kerangka Gramsci, kata ketiga peneliti, keadaan seperti itu bernama konsensus: dominasi berubah menjadi hegemoni ketika pihak yang dipimpin ikut mengiyakan. Sisi Jawanya justru ada pada penerimaan. Tuan rumah membuka pintu, menyediakan tempat, dan menyebut rumahnya rumah tamu. Perjalanan Jatiswara mencari adiknya pun ditafsirkan tokoh bernama Ajikarsa sebagai bentuk kerinduan kepada Tuhan, dengan sesama manusia sebagai jalannya. Keseimbangan antara hubungan mendatar dan hubungan menegak itulah yang disebut para peneliti sebagai inti pandangan hidup Jawa dalam naskah tersebut.
Batasnya diakui sendiri oleh tim itu. Yang dibaca satu salinan, RP 324.2, dari satu resensi, dari sekitar 50 naskah yang tersebar dalam tujuh resensi. Analisisnya pun berhenti di dalam teks, pada alur, tokoh, dan latar, tanpa data tentang pembaca dan pendengarnya pada abad ke-18. Temuan ini karena itu berlaku bagi satu salinan Serat Jatiswara, bukan bagi seluruh sastra Jawa Islam.
Sandi tahun di bagian pembukanya tetap berbunyi jati tunggal swara raja. Angkanya 1711. Nama penulisnya belum pernah ditambahkan.














