Rokok, Cermin, dan Pil dalam Animasi Opal

A A

Ilustrasi asbak kaca penuh puntung rokok dan abu. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Lambang sudah lama menjadi perkakas sastra. Wellek mencatat pada 1970 bahwa simbol bertebaran di kesusastraan abad pertengahan dan tetap dipakai para penulis realis seperti Tolstoy, Flaubert, Balzac, dan Dickens. Jauh sebelum itu, pada 1944, White menyatakan bahwa seluruh perilaku manusia berakar pada penggunaan lambang. Yang berubah sesudahnya bukan kebiasaannya, melainkan tempat lambang itu dipasang dan siapa yang memasangnya. Pada 2020, sebuah animasi pendek meletakkannya di atas asbak berisi puntung rokok, di sebelah kaleng minuman yang penyok, di sudut sebuah meja yang tidak pernah dibereskan. Tidak ada satu pun manusia dalam bingkai pembuka itu, hanya barang-barang yang ditinggalkan begitu saja oleh seseorang.

Animasi itu berjudul Opal, karya Jack Stauber, dan berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Claire yang menyelidiki rumah aneh di seberang rumahnya. Tiga peneliti dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman, yaitu Zeta Sabila, Mia Fitria Agustina, dan Ririn Kurnia Trisnawati, membedahnya dalam artikel Three Distinct Human Behavior Symbols in Jack Stauber’s Opal (2020) yang dimuat jurnal Mozaik Humaniora volume 25 nomor 1 terbitan 2025. Yang mereka kejar bukan tokohnya, melainkan tiga benda mati yang terus muncul di sekitar tokoh: rokok, cermin, dan pil. Ketiganya hadir berulang kali dan selalu menempel pada satu orang dewasa yang sama.

Daftar Isi
  1. Reider 2005 dan Lambang yang Berhenti di Budaya
  2. Rokok, Puntung, dan Ketidakpedulian Sang Kakek
  3. Enoch 2006: Cermin dari Kolam yang Tenang
  4. Hager 2019 dan Pil yang Hanya Berupa Bayangan
  5. Batas Tafsir yang Diakui Sendiri

Reider 2005 dan Lambang yang Berhenti di Budaya

Ilustrasi tumpukan buku bersampul keras tua di atas meja.
Ilustrasi tumpukan buku bersampul keras tua di atas meja. [Foto: Pexels]

Sebelum ketiga benda itu diperiksa, ada rantai penelitian yang perlu diletakkan lebih dulu, dan rantai tersebut disebut sendiri oleh papernya. Reider pada 2005 membaca judul dan tokoh dalam Spirited Away keluaran 2001 sebagai lambang kekayaan tradisi Jepang, dan menunjukkan bahwa kepercayaan rakyat masih hidup di tengah yang serba modern. Gao pada 2021 menafsirkan tokoh, gambar, dan musik dalam film Ash is Purest White keluaran 2018 sebagai lambang hubungan antarmanusia di masyarakat Tiongkok. Dua-duanya memperlakukan lambang sebagai pintu menuju sebuah kebudayaan, dan keduanya berhenti di pintu itu tanpa melangkah ke perilaku orang per orang di dalamnya.

Di Indonesia, arah yang sama ditempuh Siregar pada 2022, yang memakai semiotika Roland Barthes untuk membaca tradisi Palang Pintu pada pernikahan Betawi dan menyimpulkan bahwa tradisi itu melambangkan ujian yang harus dilewati mempelai pria. Sementara Afidah, Agustina, dan Trisnawati pada 2022 memeriksa warna dalam Lore Olympus sebagai penanda watak, emosi, kekuatan, dan kelemahan tokoh. Empat penelitian, empat objek yang berbeda jauh satu sama lain, tetapi satu arah yang sama: lambang dibaca untuk menerangkan sebuah kebudayaan atau sebuah tokoh rekaan. Di luar deretan itu, ketiga peneliti menyebut kajian tentang penggambaran lambang sendiri masih terbatas jumlahnya.

Di titik itulah artikel ini memasang jarak. Menurut Zeta Sabila dan dua rekannya, penelitian terdahulu berhenti pada representasi budaya tertentu, sedangkan yang hendak mereka lihat adalah perilaku manusia. Pergeserannya tampak kecil di permukaan tetapi berbeda arah. Rokok tidak dibaca sebagai tanda kebudayaan tertentu, dan cermin tidak dibaca sebagai warisan estetika suatu zaman. Ketiga benda itu dibaca sebagai penanda watak tiga orang dewasa yang tinggal di satu rumah, dan yang bersama-sama menelantarkan seorang anak di dalamnya. Rapoport pada 1955 sudah menyebut bahwa orang menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dengan melihat lambang yang melekat padanya.

Baca juga Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh

Alat bedahnya semiotika Ferdinand de Saussure, yang membelah tanda menjadi dua bagian. Penanda adalah wujud yang bisa ditangkap indra, misalnya bentuk rokok yang dilihat mata. Petanda adalah gagasan yang muncul di kepala orang yang menerimanya, dan hanya ada di sana. Dalam pemakaian sehari-hari, gambar rokok menghasilkan petanda yang datar: benda tembakau yang dibakar lalu diisap. Yang menarik perhatian ketiga peneliti adalah petanda kedua, yang muncul bukan karena bendanya, melainkan karena cara benda itu dipasang di dalam ceritanya. Eco pada 1979 merumuskannya lebih luas lagi: semiotika mengurusi segala hal yang bisa diperlakukan sebagai tanda, termasuk bau, rasa, dan tindakan.

Metodenya kualitatif dan dituliskan apa adanya. Animasi ditonton berulang kali untuk menangkap alurnya, ditonton lagi sambil mencatat kemunculan tiap benda beserta tokoh yang menyertainya, lalu tangkapan layar dan dialog dikumpulkan dan dikelompokkan menurut objek. Bacaan pendukung dari jurnal dan buku dipakai untuk memperkuat tafsir yang dibangun. Tidak ada penonton yang diwawancarai dan tidak ada kuesioner yang disebarkan. Yang dianalisis adalah teks visual berikut dialognya, dibaca oleh tiga peneliti yang menuliskan sendiri dasar pembacaan mereka di dalam artikel. Cara kerja seperti ini membuat hasilnya bisa diperiksa ulang oleh pembaca lain, tetapi tidak membuatnya bisa diulang persis.

Rokok, Puntung, dan Ketidakpedulian Sang Kakek

Benda pertama yang muncul di layar adalah puntung rokok di asbak bersama kaleng minuman yang penyok. Sampah itu tidak dibuang, hanya ditinggalkan berserak di meja, dan ketiadaan tindakan itulah yang dicatat lebih dulu oleh peneliti. Pemiliknya kemudian ketahuan, yaitu sang kakek, yang meminta cucunya mengambilkan rokok lewat dialog yang pada menit ketiga lewat 49 detik berbunyi “Come here, I need you to bring me my cigarettes”. Dua puluh detik sebelumnya ia justru mengeluh sulit bernapas, lewat dialog pada menit ketiga lewat 29 detik yang mempertanyakan mengapa bernapas terdengar mudah di televisi.

Adegan berikutnya menunjukkan darah keluar dari mulutnya setelah batuk, tangannya mengusap darah itu, dan tisu bernoda darah tergeletak di dekat sebungkus rokok. Ketiga peneliti membaca gabungan tanda tersebut sebagai bukti bahwa kakek itu sadar dirinya sakit dan tetap meminta rokok. Petanda yang mereka tarik adalah ketidakpedulian, terhadap tubuhnya sendiri sekaligus terhadap ruangan tempat ia duduk. Rokok, dalam pembacaan ini, tidak melambangkan kematian dan tidak melambangkan kesepian, melainkan sikap seseorang terhadap akibat yang sebenarnya sudah ia ketahui betul. Gejala putus nikotin, yang menurut rujukan yang dipakai mencakup gelisah dan murung, ikut dipakai menjelaskan mengapa ruangan itu dibiarkan berantakan.

Enoch 2006: Cermin dari Kolam yang Tenang

Benda kedua punya sejarah paling panjang di antara ketiganya, dan artikel ini menelusurinya sebelum masuk ke layar. Enoch pada 2006 menyebut cermin paling awal kemungkinan besar berupa kolam air yang tenang serta wadah air dari batu atau tanah liat, asal-usul yang berdekatan dengan mitos Narcissus. Melchoir-Bonnet mencatat bagaimana cermin kaca kemudian menjadi barang mewah karena rumitnya meratakan dan melapisi kaca. Barnes pada 2024 menambahkan bahwa masyarakat Teotihuacan memandang cermin sebagai lambang kekuasaan dan kekerasan dalam ritual mereka, sementara masyarakat Tionghoa mengenal cermin Pa Kua yang dipercaya membawa perlindungan dan keberuntungan bagi pemakainya.

Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati

Dalam Opal, cermin tidak dipakai sekadar untuk berkaca. Sang ayah duduk dikelilingi cermin dengan wajah tertutup sebuah cermin besar yang dikaitkan ke kepalanya, sehingga yang terlihat penonton hanya pantulannya, dan ia berulang kali membetulkan letak cermin-cermin itu supaya pantulannya tetap bagus. Petanda yang ditarik adalah watak narsisistik. Dialog pada menit ketujuh lewat sembilan detik berbunyi “They turned me down, now I live my nightmare”, dan enam detik kemudian ia menyebut dirinya sedang duduk memperbaiki diri agar semua orang bisa menikmatinya. Satu perincian kecil memperkuat pembacaan itu: benda-benda di mejanya semula tampak seperti milik seorang perempuan, dan baru pada adegan berikutnya ketahuan milik siapa.

Pembacaan itu memuncak pada satu adegan menjelang akhir. Ketika kekerasan terhadap Claire berlangsung, sang ayah justru terlihat memegang telepon dan tampak menghubungi nomor darurat alih-alih menghentikannya. Ketiga peneliti membaca adegan tersebut sebagai gejala yang sama dan bukan pengecualian: bahkan pada saat itu, ia menempatkan dirinya sebagai tokoh yang menolong, bukan sebagai orang tua yang melindungi. Cermin, tulis mereka, bekerja sebagai alat tipu yang menciptakan wujud dangkal dari apa yang ingin dilihat seseorang tentang dirinya sendiri. Asal-usul kegemaran itu, menurut rujukan yang mereka pakai, kerap ditelusuri sampai ke masa kanak-kanak dan cara orang tua menanggapi keberhasilan anaknya.

Hager 2019 dan Pil yang Hanya Berupa Bayangan

Benda ketiga masuk lewat sejarah pengobatan. Hager pada 2019 membuka bukunya tentang sepuluh obat dengan tanaman candu, dan mengutip Dioscorides yang jauh sebelumnya sudah memperingatkan bahwa sedikit candu meredakan nyeri sementara terlalu sering diminum akan melukai dan membunuh. Dari peringatan berumur ribuan tahun itu artikel ini bergerak ke pengertian modern tentang penyalahgunaan obat, yaitu pemakaian atas kehendak sendiri dalam takaran yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain, sesuatu yang oleh rujukan yang dipakai disebut mengubah cara kerja otak dalam jangka panjang lewat lonjakan zat pengantar rasa senang yang menuntut diulang terus-menerus.

Di dalam animasi, pil berserak di tempat tidur dan sebagian masih berada dalam botolnya. Letaknya berbeda dari dua benda sebelumnya, yang tergeletak di meja. Namun yang paling diperhatikan ketiga peneliti justru ketiadaannya. Pada adegan sang ibu menyakiti Claire, pil tidak tampak sebagai benda; yang muncul hanya bayangannya di dinding. Bandingkan dengan kakek yang bungkus rokoknya terlihat jelas di lantai, dan dengan ayah yang bersentuhan langsung dengan cermin-cerminnya sepanjang adegan. Hanya pil yang hadir tanpa wujud, dan justru ketiadaan itu yang mereka jadikan pangkal tafsir berikutnya, bukan tumpukan pil di atas ranjang tadi.

Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga

Dari selisih itu ketiganya menarik pembacaan tentang gejala putus obat, yang menurut rujukan yang dipakai menimbulkan tekanan berat pada fungsi sosial penderitanya. Sang ibu digambarkan terbaring lemah dengan suara nyaris habis, lalu tiba-tiba bangkit menyerang. Dialog pada menit kesembilan lewat sepuluh detik berbunyi “You and I don’t live, Claire. We survive”, dan dua belas detik sesudahnya ia menyebut dirinya membutuhkan seorang anak perempuan untuk bersandar. Pil melambangkan penyalahgunaan, dan yang disalahgunakan di rumah itu bukan hanya obat. Anak yang seharusnya dirawat justru diperlakukan sebagai penawar oleh orang yang seharusnya merawatnya.

Batas Tafsir yang Diakui Sendiri

Kesimpulan yang ditarik ketiganya rapi: rokok melambangkan ketidakpedulian lewat sang kakek, cermin melambangkan narsisisme lewat sang ayah, pil melambangkan perilaku kasar lewat sang ibu, dan ketiganya menyangga tema penelantaran anak. Namun artikel yang sama memasang rambu di bagian awalnya. Tafsir atas sebuah lambang, tulis mereka, tidak bisa dinyatakan keliru karena penonton boleh memaknainya sesuka mereka, meskipun kebebasan itu berpotensi membuat maksud pembuat karya dan tangkapan penontonnya tidak pernah bertemu di satu titik. Rambu itu berlaku juga untuk pembacaan mereka sendiri, dan mereka tidak berpura-pura sebaliknya.

Rambu itu menjelaskan mengapa temuan ini tidak bisa dibawa terlalu jauh. Yang diperiksa satu animasi pendek karya satu orang, dibaca oleh tiga pembaca yang menuliskan dasar pembacaannya. Tidak ada pernyataan Jack Stauber tentang maksudnya, dan tidak ada penonton lain yang ditanyai. Ketiganya bahkan menutup artikel dengan menunjuk pintu ke arah sebaliknya: benda yang sama bisa diteliti sebagai lambang hal positif, rokok sebagai kemudaan, cermin sebagai keanggunan, pil sebagai kekuatan bertahan. Tafsir mereka, dengan kata lain, hanya satu dari sekian kemungkinan yang dibuka oleh benda yang sama, dan bukan pembacaan terakhir atas animasi tersebut.

Rantai yang bermula dari catatan Wellek tentang lambang di kesusastraan abad pertengahan berakhir, untuk sementara, di atas sebuah asbak di layar animasi. Perbedaannya bukan pada alatnya, sebab penanda dan petanda tetap bekerja seperti yang dijelaskan Saussure lebih dari seabad lalu. Yang bergeser adalah apa yang dicari orang di balik benda: bukan lagi kebudayaan yang melahirkannya, melainkan orang yang meninggalkannya di sana. Puntung rokok itu tidak pernah dibuang, dan justru kelalaian sekecil itulah keterangan yang sedang dicari sepanjang lima belas halaman.

Bagikan

Baca Juga

Ketika Madeline Berhenti Mencari Alice
Lirik Evakuasi Hindia dan Beban Jadi Figur Publik
Relief Candi Sukuh dan Jalan Ritual Peziarah
Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya
Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria
Tongkat, Wortel, dan Cara Kuasa Bekerja di Rumah Hasan